Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 28 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 30
Duel dan Pertempuran
Kemudian maju tiga orang dari para kesatria terbaik kaum musyrikin: 'Utbah dan Syaibah, dua bersaudara dari keluarga Rabi'ah, serta al-Walid bin 'Utbah. Mereka menantang kaum Muslimin untuk berduel. Maka keluarlah tiga pemuda dari kaum Anshar. Namun kaum musyrikin berkata, "Kami ingin orang-orang dari kerabat kami (yakni dari suku Quraisy)."
Lalu keluarlah 'Ubaidah bin al-Harits, Hamzah, dan 'Ali. Hamzah membunuh Syaibah, dan 'Ali membunuh al-Walid. Sedangkan antara 'Ubaidah dan 'Utbah terjadi saling tebasan pedang; masing-masing dari keduanya berhasil melukai lawannya dengan parah. Kemudian Hamzah dan 'Ali menyerang 'Utbah dan membunuhnya. Mereka lalu membawa 'Ubaidah yang kakinya telah terpotong. Ia meninggal dunia empat atau lima hari kemudian di daerah Shafra dalam perjalanan kembali ke Madinah.
Kaum musyrikin kecewa dengan hasil duel tersebut dan sangat marah. Mereka lalu menyerbu barisan kaum Muslimin dengan ganas, menyerang mereka seolah-olah dengan satu serangan serempak. Namun kaum Muslimin tetap teguh di tempat mereka, mempertahankan diri sambil berkata, “Ahad, Ahad (Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Esa).”
Rasulullah ﷺ sempat tertidur sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan bersabda : “Bergembiralah, wahai Abu Bakar! Pertolongan Allah telah datang kepadamu. Itu Jibril sedang memegang tali kekang kudanya, memimpinnya, dan pada ujung-ujungnya ada debu.”
— yakni debu menyelimuti bagian depan pasukan malaikat.
Pada hari itu, Allah telah menguatkan kaum Muslimin dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut (untuk membantu mereka).
Kemudian Rasulullah ﷺ maju dengan gagah berani, mengenakan baju-baju zirah, sambil membacakan firman Allah Ta‘ala:
سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ [القمر : ٤٥]
"Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan lari tunggang-langgang." (QS. Al-Qamar: 45)
Beliau mengambil segenggam kerikil, lalu melemparkannya ke arah wajah kaum musyrikin sambil berkata:
"Buruklah wajah-wajah itu!"
Tidak ada seorang pun dari kaum musyrikin melainkan kerikil itu mengenainya — mengenai kedua matanya dan hidungnya.
Tentang peristiwa ini, Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـكِنَّ اللّهَ رَمَى [الأنفال : ١٧]
"Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al-Anfal: 17)
Kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum Muslimin untuk menyerang kaum musyrikin, seraya bersabda: "Serbulah mereka!"
Beliau pun membakar semangat mereka untuk berperang.
Maka kaum Muslimin menyerbu dengan penuh semangat. Kegigihan mereka semakin bertambah karena kehadiran Rasulullah ﷺ di tengah-tengah mereka, yang juga ikut bertempur di barisan depan. Mereka mulai memporak-porandakan barisan musuh dan menebas leher-leher mereka.
Para malaikat pun turut membantu kaum Muslimin — mereka memukul bagian atas leher kaum musyrikin dan memotong setiap jari dan anggota tubuh mereka. Maka kepala seseorang bisa terpenggal tanpa diketahui siapa yang menebasnya, atau tangan seseorang terputus tanpa diketahui siapa yang memotongnya.
Akhirnya kekalahan pun menimpa kaum musyrikin, dan mereka melarikan diri. Kaum Muslimin lalu mengejar mereka, sebagian dibunuh dan sebagian ditawan.
Terbunuhnya Abu Jahl:
Abu Jahl berada di tengah-tengah sekelompok pasukan yang mengelilinginya dengan pedang dan tombak seperti pagar pelindung. Sementara itu, di antara barisan kaum Muslimin yang bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ada dua pemuda dari kaum Anshar yang keberadaan mereka membuat ‘Abdurrahman merasa tidak tenang. Salah seorang dari mereka berkata secara diam-diam kepadanya: “Wahai paman, tunjukkan padaku siapa Abu Jahl.”
Ia menjawab: “Apa yang akan kau lakukan dengannya?”
Pemuda itu berkata: “Aku diberitahu bahwa dia mencaci Rasulullah ﷺ. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya, aku tidak akan membiarkannya sampai salah satu dari kami mati.”
Pemuda yang satu lagi pun mengatakan hal yang serupa.
Ketika barisan pertempuran mulai pecah, ‘Abdurrahman melihat Abu Jahl sedang berjalan-jalan, lalu ia menunjukkannya kepada dua pemuda itu. Keduanya segera menyerangnya dengan pedang. Salah seorang dari mereka menebas kakinya hingga putus seperti biji kurma yang terlempar saat ditumbuk, dan yang lainnya melukainya dengan parah hingga ditinggalkan dalam keadaan sekarat.
Keduanya lalu kembali kepada Rasulullah ﷺ dan beliau bertanya: “Siapa di antara kalian yang membunuhnya?”
Masing-masing menjawab: “Saya yang membunuhnya.”
Beliau bertanya: “Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?”
Mereka menjawab: “Belum.”
Lalu Rasulullah ﷺ melihat kedua pedang itu dan bersabda: “Kalian berdua telah membunuhnya.”
Mereka adalah Mu‘ādz dan Mu‘awwidz, dua putra dari ‘Afra`. Mu‘awwidz gugur dalam pertempuran tersebut, sedangkan Mu‘ādz hidup hingga masa pemerintahan ‘Utsman. Rasulullah ﷺ memberikan kepada Mu‘ādz barang rampasan milik Abu Jahl.
Setelah pertempuran usai, orang-orang keluar mencari (mayat Abu Jahl). Lalu ‘Abdullah bin Mas‘ud menemukannya dalam keadaan masih bernyawa (sekarat). Ia meletakkan kakinya di atas leher Abu Jahl dan memegang janggutnya untuk memenggal kepalanya. Ia berkata: "Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah?"
Abu Jahl menjawab: "Dengan apa Dia menghinakanku? Bukankah tidak ada kehinaan bagi seseorang yang terbunuh oleh kaumnya?"
Lalu ia berkata: "Celakalah, kalau saja bukan seorang petani yang membunuhku!"
Kemudian ia bertanya: "Katakan padaku, milik siapa kemenangan hari ini?"
‘Abdullah menjawab: "Kemenangan bagi Allah dan Rasul-Nya."
Abu Jahl pun berkata: "Sungguh engkau telah naik ke tempat yang tinggi, wahai penggembala kambing!"
Lalu ‘Abdullah bin Mas‘ud memenggal kepalanya, kemudian membawanya kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Allahu Akbar! Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) sendirian. Inilah Fir‘aun dari umat ini."
Hari al-Furqān (Hari Pembeda):
Pertempuran ini adalah pertempuran antara kekufuran dan keimanan. Dalam pertempuran itu, seseorang memerangi pamannya, ayahnya, anaknya, saudaranya, bahkan pamannya dari pihak ibu dan kerabat terdekatnya.
Dalam pertempuran ini, ‘Umar bin al-Khattab – raḍiyallāhu ‘anhu – membunuh pamannya sendiri, al-‘Āṣ bin Hishām. Abu Bakar berhadapan dengan putranya sendiri, ‘Abdurrahman. Kaum Muslimin juga menawan al-‘Abbās, paman Rasulullah ﷺ.
Demikianlah, ikatan kekerabatan terputus dalam pertempuran ini. Allah meninggikan kalimat keimanan di atas kalimat kekufuran, dan memisahkan antara yang benar dan yang batil. Karena itu, hari tersebut dinamakan Yawmul-Furqān (Hari Pembeda), yaitu Hari Badar, yang terjadi pada tanggal 17 bulan Ramadan.
Korban dari kedua pihak:
Dalam pertempuran ini, empat belas orang dari kaum Muslimin gugur sebagai syuhada — enam dari kalangan Muhajirin (kaum yang hijrah dari Mekah), dan delapan dari kalangan Anshar (penduduk Madinah). Mereka dimakamkan di medan perang Badr, dan makam-makam mereka masih dikenal hingga kini.
Adapun dari pihak kaum musyrikin, tujuh puluh orang terbunuh, dan tujuh puluh lainnya ditawan. Kebanyakan dari mereka adalah para tokoh utama (pemuka Quraisy). Dari antara mereka, dua puluh empat orang yang termasuk para pembesar ditarik dan dilemparkan ke dalam sumur kotor di Badr.
Rasulullah ﷺ tinggal di Badr selama tiga hari. Ketika beliau bersiap untuk kembali (ke Madinah), beliau datang ke sumur itu dan berdiri di bibirnya, lalu memanggil mereka satu per satu dengan nama-nama mereka dan nama ayah-ayah mereka, seraya berkata:
"Wahai Fulan bin Fulan! Wahai Fulan bin Fulan! Apakah kalian senang jika kalian dulu menaati Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kami adalah benar. Maka apakah kalian juga telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kalian itu benar?"
Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, bagaimana engkau berbicara dengan jasad-jasad yang tidak memiliki roh?"
Maka beliau bersabda: "Kalian tidak lebih mendengar terhadap apa yang aku katakan daripada mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab."
Kabar Pertempuran di Mekah dan Madinah:
Berita kekalahan pun sampai ke Mekah melalui sisa-sisa pasukan musyrikin yang selamat. Allah telah menghinakan dan mempermalukan mereka, sampai-sampai mereka melarang adanya ratapan atas orang-orang yang terbunuh, agar kaum Muslimin tidak mencemooh mereka.
Di antara mereka adalah Al-Aswad bin al-Muthallib, yang kehilangan tiga orang putranya dalam pertempuran tersebut. Ia sangat ingin meratapi mereka. Suatu malam, ia mendengar suara tangisan seorang wanita, dan mengira bahwa larangan meratap telah dicabut. Maka ia mengutus pembantunya untuk mencari tahu.
Pembantunya kembali dan memberitahu bahwa wanita itu sedang menangisi unta yang hilang.
Maka al-Aswad pun tidak bisa menahan diri, lalu berkata:
Apakah dia menangis karena unta yang tersesat,
dan larut dalam kesedihan hingga tidak bisa tidur?
Janganlah engkau menangisi unta,
Tetapi tangisilah Badr, tempat di mana nasib gagal.
(Itu merupakan bagian dari bait-bait syair ratapan yang ia ucapkan untuk mengenang anak-anaknya).
Adapun penduduk Madinah, Rasulullah ﷺ mengutus kepada mereka dua pembawa kabar gembira: ‘Abdullah bin Rawāhah ke wilayah ‘Āliyah (wilayah atas), dan Zayd bin Hārithah ke wilayah Sāfalah (wilayah bawah).
Sebelumnya, orang-orang Yahudi telah menyebarkan isu-isu palsu dan menebar kepanikan di Madinah. Namun, ketika kabar kemenangan sampai, kegembiraan dan sukacita pun menyelimuti kota. Madinah bergemuruh dengan tahlil dan takbir, dan para tokoh kaum Muslimin segera berangkat menuju jalan Badr untuk mengucapkan selamat kepada Rasulullah ﷺ.
Kembalinya Rasulullah ﷺ ke Madinah:
Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan kembali ke Madinah, diiringi oleh kemenangan dari Allah, membawa harta rampasan perang dan para tawanan.
Ketika beliau sampai di dekat al-Ṣafra’, Allah menurunkan hukum pembagian harta rampasan perang (ghanimah). Maka beliau mengambil seperlima (khumus) dari rampasan, dan sisanya dibagikan secara merata kepada para prajurit yang ikut dalam perang.
Setibanya di al-Ṣafra’, beliau memerintahkan untuk mengeksekusi al-Naḍr bin al-Ḥārith, maka ‘Ali bin Abi Ṭālib memenggal lehernya.
Kemudian saat tiba di ‘Irq al-Ẓabyah, beliau memerintahkan agar ‘Uqbah bin Abi Mu‘ayṭ dibunuh. Maka ia dibunuh oleh ‘Āṣim bin Thābit al-Anṣārī, dan ada juga yang meriwayatkan bahwa yang membunuhnya adalah ‘Ali bin Abi Ṭālib.
Adapun para tokoh kaum Muslimin yang keluar untuk menyambut beliau ﷺ, mereka bertemu dengannya di tempat bernama al-Rawḥā’, kemudian mengiringinya hingga sampai di Madinah.
Beliau pun memasuki kota dalam keadaan menang dan dimuliakan, sehingga setiap musuh merasa gentar kepadanya. Banyak orang masuk Islam, dan ‘Abdullah bin Ubay beserta para pengikutnya menampakkan keislaman mereka (meskipun dengan kemunafikan).
Masalah Tawanan Perang:
Setelah Rasulullah ﷺ menetap (di Madinah usai Perang Badar), beliau bermusyawarah tentang nasib para tawanan.
Abu Bakar mengusulkan agar mereka ditebus dengan uang, sementara ‘Umar mengusulkan agar mereka dihukum mati. Maka Rasulullah ﷺ pun memutuskan untuk menerima tebusan dari mereka.
Tebusan itu berkisar antara tiga ribu hingga empat ribu dirham.
Bagi tawanan yang bisa membaca dan menulis, tebusannya adalah dengan mengajar sepuluh anak-anak Muslim.
Rasulullah ﷺ juga bersikap baik kepada sebagian tawanan dengan membebaskan mereka tanpa tebusan.
Zainab, putri Rasulullah ﷺ, mengirim tebusan untuk suaminya, Abu al-‘Āṣ, berupa uang dan sebuah kalung yang dulu milik Khadijah dan yang ia berikan kepada Zainab ketika menikah dengan Abu al-‘Āṣ.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat kalung itu, beliau sangat terharu. Maka beliau meminta izin kepada para sahabat untuk membebaskan Abu al-‘Āṣ tanpa tebusan, dan mereka pun menyetujuinya.
Rasulullah ﷺ kemudian membebaskan Abu al-‘Āṣ, dengan syarat bahwa ia harus membebaskan Zainab. Maka Abu al-‘Āṣ pun menepatinya, dan Zainab hijrah ke Madinah.
Wafatnya Ruqayyah binti Nabi ﷺ dan Pernikahan Ummu Kultsum dengan ‘Utsman:
Ruqayyah, putri Nabi ﷺ, sedang sakit ketika beliau berangkat ke Perang Badar. Ia adalah istri dari ‘Utsman bin ‘Affān – raḍiyallāhu ‘anhu. Maka Nabi ﷺ memerintahkan ‘Utsman untuk tinggal di Madinah dan merawat istrinya, dan Nabi ﷺ pun memberinya pahala dan bagian seperti orang yang ikut serta dalam Perang Badar.
Usāmah bin Zayd juga ditugaskan untuk menggantikan beliau menjaga Ruqayyah. Ruqayyah wafat sebelum Rasulullah ﷺ kembali dari Badar.
Usāmah berkata: "Kabar kemenangan sampai kepada kami saat kami baru saja selesai meratakan tanah di atas kubur Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ."
Setelah Rasulullah ﷺ kembali dan merasa tenang di Madinah, beliau menikahkan putrinya yang lain, yaitu Ummu Kultsūm, dengan ‘Utsman bin ‘Affān – raḍiyallāhu ‘anhu. Karena itulah, ‘Utsman mendapat julukan "Dzul-Nurayn" (pemilik dua cahaya), karena menikahi dua putri Nabi ﷺ.
Ummu Kultsum tinggal bersama ‘Utsman hingga wafat pada bulan Sya‘bān tahun ke-9 Hijriah, dan dimakamkan di Baqi‘ (pemakaman Madinah).
Kaum musyrikin dan para sekutu mereka sangat terganggu dan marah dengan kemenangan dan pertolongan Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin. Maka mereka mulai merancang berbagai tipu daya untuk menyakiti dan membalas dendam terhadap kaum Muslimin. Namun, Allah menggagalkan tipu daya mereka, dan menolong orang-orang beriman dengan karunia-Nya.
Bani Sulaim mulai menghimpun pasukan untuk menyerang Madinah, sekitar seminggu setelah kembalinya kaum Muslimin dari Perang Badar, atau pada bulan Muharram tahun ke-3 Hijriah.
Namun, kaum Muslimin menyerbu mereka lebih dahulu di tempat tinggal mereka, berhasil memperoleh harta rampasan perang, dan kembali ke Madinah dalam keadaan selamat.
Kemudian ‘Umayr bin Wahb al-Jumahī dan Ṣafwān bin Umayyah bersekongkol untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Maka ‘Umayr pun pergi ke Madinah dengan maksud melaksanakan rencana tersebut.
Namun, Nabi ﷺ menangkapnya, dan beliau memberitahu ‘Umayr tentang apa yang telah mereka rencanakan, meskipun tidak ada yang mengabarkannya.
Akhirnya, ‘Umayr bin Wahb pun masuk Islam.
Kembali ke bagian 28 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar