Minggu, 29 Juni 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 23

TARIKH KHULAFA


Kembali 22IndeX | Lanjut 24

 

 

Ibnu Sa’d dan lainnya meriwayatkan dari ‘Ā’isyah رضي الله عنها, ia berkata:

Ketika Abu Bakar sakit keras, aku membacakan bait syair ini sebagai ungkapan hatiku...

#. Lafadz [تمثلت بهذا البيت]: Maksudnya ‘Ā’isyah membaca atau mengutip sebuah bait syair sebagai bentuk ekspresi emosional menghadapi kondisi sang ayah.+

 

لعمرك ما يغني الثراء عن الفتى ، إذا حشرجت يوما وضاق بها الصدر

Demi umurmu, sungguh kekayaan takkan berguna bagi seorang pemuda,

Apabila suatu hari napasnya tersengal dan dadanya sesak (menjelang maut).


Maka Abu Bakar menyingkap wajahnya dan berkata:

'Bukan begitu (sebagaimana bait syair tadi), tetapi katakanlah: "Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dulu engkau selalu lari darinya." (QS. Qāf: 19)

Lihatlah dua kainku ini, cucilah, lalu kafanilah aku dengan keduanya, karena sesungguhnya yang hidup lebih butuh kepada yang baru daripada yang telah mati.'

 

Maka Abu Bakar menyingkap wajahnya dan berkata:

'Bukan begitu (sebagaimana bait syair tadi), tetapi katakanlah: "Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dulu engkau selalu lari darinya." (QS. Qāf: 19)

Lihatlah dua kainku ini, cucilah, lalu kafanilah aku dengan keduanya, karena sesungguhnya yang hidup lebih butuh kepada yang baru daripada yang telah mati.'

 

Abu Ya‘lā meriwayatkan dari ‘Ā’isyah رضي الله عنها, ia berkata:

'Aku masuk menemui Abu Bakar saat ia sedang dalam keadaan sekarat, lalu aku berkata…'

 

 من لا يزال دمعه مقنعا ، فإنه في مرة مدفوق

Barangsiapa air matanya terus tertahan,

maka suatu saat ia akan tumpah dalam sekali luapan

#. Lafadz [من لا يزال دمعه مقنعا]: Orang yang air matanya selalu tertahan (tidak menangis secara terbuka) — menggambarkan kesedihan yang dipendam.

#. Lafadz [فإنه في مرة مدفوق]: Maka pada suatu waktu ia akan meluapkannya sekaligus — yaitu ledakan emosi yang besar karena tak lagi mampu menahan.

 

Lalu Abu Bakar berkata:

'Janganlah engkau mengatakan (bait syair) itu, tetapi katakanlah:

"Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dahulu engkau selalu lari darinya." (QS. Qāf: 19)'

Kemudian ia berkata: 'Pada hari apa Rasulullah ﷺ wafat?'

Aku menjawab: 'Pada hari Senin.'

Ia berkata: 'Aku berharap (wafat) antara sekarang sampai malam nanti.'

Maka beliau pun wafat pada malam Selasa, dan dimakamkan sebelum fajar.

 

‘Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam Zawā’id az-Zuhd dari Bakr bin ‘Abdillah al-Muzani, ia berkata:

Ketika Abu Bakar didatangi oleh ajal (menjelang wafatnya), ‘Ā’isyah رضي الله عنها duduk di dekat kepalanya, lalu ia berkata...


وكل ذي إبل يوما سيوردها ، وكل ذي سلب لا بد مسلوب

Setiap pemilik unta, suatu hari pasti akan menggiringnya ke tempat minum,

dan setiap pemilik harta, pasti suatu saat akan kehilangan hartanya.

#. Lafadz [كل ذي إبل يوما سيوردها]: Menggambarkan bahwa setiap orang yang memiliki unta (simbol kekayaan atau kehidupan duniawi), pasti akan menggiringnya ke tempat minum, yang secara kiasan berarti: "setiap orang pasti akan menghadapi akhir perjalanannya (kematian), sebagaimana unta digiring ke tempat minum terakhir".

#. Lafadz [وكل ذي سلب لا بد مسلوب]: Artinya setiap orang yang memiliki kekayaan (barang rampasan, perhiasan, harta), pasti suatu saat akan menjadi orang yang kehilangan, yakni tidak membawa apa-apa saat mati.

 

Maka Abu Bakar memahaminya, lalu berkata:

'Bukan begitu, wahai putriku. Tetapi (yang benar) adalah sebagaimana firman Allah:

"Dan datanglah sakaratul maut dengan membawa kebenaran. Itulah yang dahulu engkau selalu lari darinya." (QS. Qāf: 19).’

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ā’isyah رضي الله عنها:

Bahwa ia mengutip bait syair ini saat Abu Bakar sedang menghadapi ajal (sakaratul maut)...

#. Lafadz [وأبو بكر يقضي]: Maksudnya, Abu Bakar sedang dalam keadaan sekarat atau menjelang wafat (sedang “mengembuskan napas terakhir”).

 

وأبيض يستسقى الغمام بوجهه ، ثمال اليتامى عصمة للأرامل

Seorang (lelaki) yang putih (mulia), awan dimintakan hujan karena wajahnya

Pelindung bagi anak-anak yatim, penjaga bagi para janda

#. Lafadz [وأبيض]: "Dan (seorang) yang putih” — kata putih di sini adalah kiasan untuk kemuliaan, keluhuran akhlak, dan kejernihan jiwa.

#. Lafadz [يستسقى الغمام بوجهه]: "Awan dimintakan hujan karena wajahnya" — maksudnya, karena keberkahannya dan kedudukannya di sisi Allah, doa pun terkabul, bahkan hujan diminta dengan keberkahan wajahnya. Ini adalah bentuk pujian tertinggi dalam syair Arab.

#. Lafadz [ثمال اليتامى]: "Penolong anak-anak yatim" — yaitu tempat berlindung, pengayom mereka.

#. Lafadz [عصمة للأرامل]: "Pelindung bagi para janda” — orang yang menjaga, mencukupi, dan memperhatikan mereka.

 

Maka Abu Bakar berkata:

'Itu (pujian) adalah untuk Rasulullah ﷺ.'

 

‘Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam Zawā’id az-Zuhd dari ‘Ubādah bin Qais, ia berkata:

Ketika Abu Bakar didatangi ajal, ia berkata kepada ‘Ā’isyah:

'Cucilah kedua kainku ini dan kafanilah aku dengannya. Sesungguhnya ayahmu ini hanyalah salah satu dari dua orang:

Entah ia akan diberi pakaian terbaik, atau dilucuti dengan pelucutan terburuk.'

#. Lafadz [أو مسلوب أسوأ السلب]: "Atau dilucuti dengan pelucutan terburuk" — yakni tercabutnya segala kemuliaan dan kehinaan yang mungkin menimpanya jika tidak selamat.

 

Ibnu Abī ad-Dunyā meriwayatkan dari Ibnu Abī Mulaykah:

Bahwa Abu Bakar berwasiat agar yang memandikannya adalah istrinya, Asmā’ binti ‘Umays, dan dibantu oleh ‘Abdurrahman bin Abi Bakar.

#. Lafadz [أن تغسله امرأته أسماء بنت عميس]: Beliau meminta agar dimandikan oleh istrinya sendiri, yaitu Asmā’ binti ‘Umays, yang juga dikenal sebagai istri Ja‘far bin Abi Thalib sebelumnya, lalu menikah dengan Abu Bakar.

 

Riwayat dari Sa‘īd bin al-Musayyib:

Bahwa ‘Umar رضي الله عنه menyolatkan jenazah Abu Bakar antara makam (Nabi ﷺ) dan mimbar, dan ia bertakbir atasnya sebanyak empat kali.

 

Riwayat dari ‘Urwah dan al-Qāsim bin Muhammad:

Bahwa Abu Bakar berwasiat kepada ‘Ā’isyah agar dimakamkan di sisi Rasulullah ﷺ. Maka ketika ia wafat, digalilah liang lahad untuknya, dan dijadikan kepalanya sejajar dengan kedua bahu Rasulullah ﷺ, serta dibuatkan liang lahad yang melekat pada makam Rasulullah ﷺ.

 

Riwayat dari Ibnu ‘Umar:

Yang turun ke liang lahat Abu Bakar adalah: ‘Umar, Ṭalḥah, ‘Utsmān, dan ‘Abdurraḥmān bin Abī Bakar.

Riwayat dari berbagai jalur:

Bahwa Abu Bakar dimakamkan pada malam hari.

 

Riwayat dari Sa‘īd bin al-Musayyib:

Ketika Abu Bakar wafat, Makkah pun gempar. Maka Abū Quḥāfah (ayah Abu Bakar) bertanya: 'Ada apa ini?' Mereka menjawab: 'Anakmu telah wafat.' Maka ia berkata: 'Itu adalah musibah yang besar. Siapa yang memegang urusan (kepemimpinan) setelahnya?' Mereka menjawab: 'Umar.' Ia berkata: 'Sahabatnya.'

 

Riwayat dari Mujāhid:

Bahwa Abu Quḥāfah menolak menerima warisan dari Abu Bakar dan mengembalikannya kepada anak-anak Abu Bakar. Abu Quḥāfah tidak hidup lama setelah wafatnya Abu Bakar, hanya sekitar enam bulan dan beberapa hari. Ia wafat pada bulan Muḥarram tahun 14 H, dalam usia 97 tahun.

 

Keterangan dari para ulama:

Tidak ada seorang pun yang pernah memegang kekhalifahan sementara ayahnya masih hidup selain Abu Bakar. Dan tidak ada seorang khalifah pun yang pernah diwarisi oleh ayahnya kecuali Abu Bakar.

 

Riwayat dari al-Ḥākim, dari Ibnu ‘Umar:

Abu Bakar memegang kekhalifahan selama dua tahun dan tujuh bulan.

Dalam Tārīkh Ibn ‘Asākir, dari al-Aṣma‘ī, bahwa Khafāf bin Nundabah as-Sulamī meratapi Abu Bakar رضي الله عنه:

ليس لحي فاعلمنه بقاء ، وكل دنيا أمرها للفناء ، والملك في الأقوام مستودع ، عارية والشرط فيه الأداء ، والمرء يسعى وله راصد ، تندبه العين ونار الصداء ، يهرم أو يقتل أو قهره ، يشكوه سقم ليس فيه شفاء ، إن أبا بكر هو الغيث إذ ، لم تزرع الجوزاء بقلا بماء ، تالله لا يدرك أيامه ، ذو مئزر ناش، ولا ذو رداء ، من يسع كي يدرك أيامه ، مجتهد الشد بأرض فضاء  

Ketahuilah, tak ada seorang pun yang hidup selamanya,

Segala urusan dunia pasti menuju kebinasaan.

Kekuasaan di tengah manusia hanyalah titipan,

Ia hanyalah pinjaman — dan syaratnya: harus dikembalikan.

Manusia terus berjalan, sementara ada yang mencatatnya,

Mata menangisinya, dan api kerinduan membakarnya.

Ia bisa menua, dibunuh, atau ditaklukkan,

Ia akan mengeluhkan penyakit yang tak ada kesembuhannya.

Sesungguhnya Abu Bakar adalah hujan penyejuk,

Saat bintang Jauzā’ tak menumbuhkan setetes pun tanaman.

Demi Allah, takkan ada yang sanggup menyamai harinya,

Baik orang yang mengenakan sarung kasar maupun jubah kebesaran.

Siapa pun yang berusaha mengejarnya,

Ia ibarat orang yang bersungguh-sungguh berlari di padang kosong.

 

Kembali 22IndeX | Lanjut 24

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar