Kamis, 16 Oktober 2025

Umdatul Ahkam : 51 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 50 | IndeX | Lanjut 52

 

 

بابُ جمعِ المغربِ والعشاءِ في مُزْدَلِفَةَ 

Bab: Menjamak Shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah



Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Empat:


عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ، لكُلِّ وَاحِدَةٍ منْهُمَا إِقَامَةٌ، وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا، وَلَا عَلَى أَثَرِ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا )) . 

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Nabi ﷺ menjamak antara shalat Maghrib dan Isya di Jam‘ (yakni Muzdalifah), untuk masing-masing shalat dengan satu kali iqamah. Beliau tidak melaksanakan shalat sunnah di antara keduanya dan tidak pula setelah keduanya.”


Kosakata:

Lafadz [جَمْعٍ] "Jam‘in" : dibaca dengan fathah pada huruf jim dan sukun pada huruf mim, yaitu Muzdalifah. Dinamakan Jam‘ karena manusia berkumpul di tempat itu.

Lafadz [لم يُسَبِّحْ بَيْنَهَا] "Lam yusabbih baynahuma": maksudnya, tidak melaksanakan shalat sunnah di antara kedua shalat tersebut.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disunnahkan menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan jamak ta’khir di Muzdalifah pada malamnya, sebagai bentuk keringanan dan kemudahan bagi jamaah haji.

Kedua: Setiap shalat dari keduanya dilaksanakan dengan satu kali iqamah.

Ketiga: Kedua shalat cukup dengan satu kali adzan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jabir yang sahih.

Keempat: Tidak disunnahkan melakukan shalat sunnah di antara kedua shalat tersebut maupun setelahnya, agar jamaah mendapat kemudahan dan waktu istirahat. 

 

 

بابُ المُحْرِمِ يَأْكُلُ منْ صيدِ الحلالِ؟ 

Bab: Apakah orang yang berihram boleh memakan hasil buruan orang yang tidak berihram?


Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Lima:


عنْ أبِي قتادةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ حَاجًّا، فَخَرَجُوا مَعَهُ، فَصَرَفَ طَائفَةً مِنْهُمْ، فِيهمْ أَبُو قَتَادَةَ، وَقَالَ: (( خُذُوا سَاحِلَ الْبَحْرِ، حتَّى نَلْتَقِيَ )) فأَخَذوا سَاحِلَ الْبَحْرِ، فَلَمَّا انْصرَفُوا أَحْرَمُوا كُلُّهُمْ، إِلَّا أَبَا قَتَادَةَ، فَلَمْ يُحْرِمْ فَبَيْنَمَا هُمْ يَسِيرونَ إِذْ رَأَوْا حُمُرَ وَحْشٍ فَحَمَلَ أَبُو قَتَادَةَ عَلى الْحُمُرِ فَعَقَرَ مِنْهَا أَتَانًا، فَنَزَلْنَا فأَكَلْنَا مِنْ لَحْمِهَا، ثُمَّ قُلْنَا: أَنأْكُلُ لَحْمَ صَيْدٍ، وَنَحْنُ مُحْرِمُونَ؟ فَحَمَلْنَا مَا بَقِيَ مِنْ لَحْمِهَا، فَأَدْرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ ذَلِكَ؟ قَالَ: مِنْكُمْ أَحَدٌ أَمَرَهُ أَنْ يَحْمِلَ عَلَيْهَا، أَو أَشَارَ إِلَيْهَا؟ قَالُوا: لَا، قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( فَكُلوا مَا بَقِيَ مِنْ لَحْمِهَا )) . 

Diriwayatkan Dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berangkat untuk berhaji, maka orang-orang pun berangkat bersamanya. Beliau kemudian menyuruh sebagian dari mereka untuk berpaling (melalui jalan lain), dan di antara mereka ada Abu Qatadah. Beliau bersabda:

“Ambillah jalan pesisir laut hingga kita bertemu kembali.”

Maka mereka pun mengambil jalan pesisir laut. Ketika mereka kembali, semuanya telah berihram kecuali Abu Qatadah. Saat mereka sedang berjalan, mereka melihat sekawanan keledai liar. Lalu Abu Qatadah mengejar dan menyembelih seekor betinanya. Kemudian kami turun dan memakan sebagian dagingnya. Setelah itu kami berkata:

“Apakah kita boleh memakan daging buruan ini sedangkan kita dalam keadaan ihram?”

Kami pun membawa sisa daging itu hingga bertemu Rasulullah ﷺ, lalu kami bertanya kepada beliau tentang hal itu. Beliau bersabda:

“Apakah di antara kalian ada yang memerintahkannya untuk berburu atau menunjuk ke arah hewan itu?”

Mereka menjawab: “Tidak.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“(Kalau begitu) makanlah sisa dagingnya.”


وفي روايَةٍ: (( هَلْ مَعَكُمْ مِنْهُ شَيْءٌ )) ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَنَاوَلْتُهُ الْعَضُدَ. فأَكَلَهَا. 

Dalam riwayat lain disebutkan:

Beliau bertanya, “Apakah kalian masih memiliki sisa dagingnya?”
Aku menjawab, “Ya.”

Lalu aku menyerahkan kepadanya bagian lengannya, dan beliau memakannya.


Kosakata:

Lafadz [حَاجًّا] "Ḥājjān" : maksudnya, pada saat itu beliau berangkat untuk ‘Umrah Hudaibiyah, namun disebut “haji” karena secara bahasa diperbolehkan penyebutan demikian.

Lafadz [حُمُرَ وَحْشٍ] "Ḥumur waḥsy": sejenis hewan buruan yang mirip keledai jinak, disebut demikian karena hidup liar.

Lafadz [أَتَانًا] "Atānan" ): betina dari keledai liar.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Barang siapa memiliki dua miqat (tempat memulai ihram), dekat dan jauh, maka boleh memulai ihram dari salah satunya.

Kedua: Boleh memakan daging keledai liar, karena termasuk hewan buruan yang halal dimakan.

Ketiga: Orang yang sedang ihram boleh memakan daging hasil buruan orang yang tidak ihram, selama buruan itu tidak diburu untuk dirinya (orang yang ihram).

Keempat: Orang yang sedang ihram tidak boleh berburu, dan tidak boleh membantu dalam perburuan dengan cara apa pun. 

 

 

Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Enam:


عن الصَّعْبِ بنِ جَثَّامةَ الليثيِّ، (( أَنَّهُ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِمَارًا وَحْشِيًّا، وَهُوَ بِالأَبْوَاءِ- أَو بِوَدَّانَ- فَرَدَّهُ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَأَى مَا في وَجْهِهِ، قَالَ: (( إِنَّا لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكَ، إِلَّا أَنَّا حُرُمٌ )) . 

Diriwayatkan Dari Ash-Sha‘b bin Jaththāmah al-Laytsī radhiyallahu ‘anhu,

bahwa ia pernah menghadiahkan kepada Nabi ﷺ seekor keledai liar ketika beliau berada di Al-Abwā’ — atau di Waddān — namun Nabi ﷺ menolak hadiah itu.

Ketika beliau melihat perubahan wajah (kesedihan) pada Ash-Sha‘b, beliau bersabda:

“Sesungguhnya kami tidak menolak hadiahmu, hanya saja kami sedang dalam keadaan ihram.”


وفي لفظِ مسلمٍ: رِجْلَ حِمَارٍ. 

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “(yang dihadiahkan) adalah sebagian kaki keledai liar.”

وفي لفظٍ: شِقَّ حِمَارٍ. 

Dalam riwayat lain: “Sebelah tubuh keledai liar.”

وفي لفظٍ: عَجُزَ حِمَارٍ. 

Dan dalam riwayat lain lagi: “Bagian belakang keledai liar.”

قالَ المُصَنِّفُ: وَجْهُ هذا الحديثِ: أنَّهُ ظنَّ أنَّهُ صِيدَ لِأَجْلِهِ، والْمُحْرِمُ لَا يَأْكُلُ ما صِيدَ لِأَجْلِهِ 

Keterangan dari penulis:

Maksud hadis ini adalah bahwa Nabi ﷺ mengira hewan itu diburu khusus untuk beliau, sedangkan orang yang sedang ihram tidak boleh memakan hasil buruan yang diburu untuknya.


Kosakata:

Lafadz [الأَبْوَاءُ وَوَدَّانُ] "Al-Abwā’ dan Waddān" : dua tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Lafadz [حُرُمٌ] "Ḥurum" : dengan dhammah pada huruf ḥā’ dan rā’, artinya sedang berihram.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Nabi ﷺ menerima hadiah sebagai bentuk menghargai dan melunakkan hati pemberinya.

Kedua: Boleh menolak hadiah jika ada halangan syar‘i untuk menerimanya, dan hendaknya menjelaskan alasan penolakan tersebut kepada pemberinya.

Ketiga: Haram bagi orang yang sedang ihram memakan hasil buruan orang yang tidak ihram jika buruan itu dikhususkan atau diburu untuk dirinya. Dengan penjelasan ini, tidak terjadi pertentangan antara hadis ini dan hadis sebelumnya (hadist Abu Qatadah), karena dalam hadis Abu Qatadah buruan tersebut tidak diburu untuk orang yang ihram, sedangkan dalam hadis ini diburu untuk beliau ﷺ. Maka, tidak ada kontradiksi dalam sabda Nabi ﷺ — dan Allah-lah yang Maha Mengetahui. 

 

Kembali 50 | IndeX | Lanjut 52

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar