Kamis, 09 Oktober 2025

Umdatul Ahkam : 46 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 45IndeX | Lanjut 47

 

 

بابُ التَّمَتُّعِ

Bab: Tamattu‘ (Haji Tamattu‘) 



Hadist ke Dua Ratus Dua Puluh Empat:

عنْ أبِي جَمْرةَ نَصْرِ بنِ عِمْرَانَ الضُّبَعيِّ قالَ: سَأَلْتُ ابنَ عبَّاسٍ عَنِ المُتْعَةِ؟ فأَمَرَنِي بِهَا، وَسَأَلْتُهُ عَنِ الهَدْيِ؟ فقالَ: فيها جَزُورٌ، أَو بَقَرَةٌ، أَو شَاةٌ، أَو شِرْكٌ في دَمٍ. قَالَ: وَكأنَّ نَاسًا كَرِهُوهَا، فَنِمْتُ، فَرَأَيْتُ فِي المَنَامِ كَأَنَّ إِنْسَانًا يُنَادِي: حَجٌ مَبْرُورٌ، وَمُتْعَةٌ مُتَقَبَّلةٌ، فَأَتَيْتُ ابنَ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما فَحَدَّثْتُهُ، فقالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، سُنَّةُ أبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. 

Diriwayatkan dari Abu Jamrah Nashr bin ‘Imran ad-Dubai‘i, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang tamattu‘ (yaitu menggabungkan umrah dan haji dalam satu perjalanan). Maka beliau memerintahkanku untuk melakukannya. Aku bertanya pula tentang hewan hadyu (kurban), maka beliau menjawab: ‘(Boleh) unta, sapi, kambing, atau ikut dalam bagian darah (bersekutu dalam kurban).’

Ia berkata: ‘Sebagian orang tampak tidak menyukainya, lalu aku tidur dan bermimpi seakan-akan ada seseorang berseru:

“Haji yang mabrur dan tamattu‘ yang diterima.”

Kemudian aku mendatangi Ibn Abbas dan menceritakan mimpi itu kepadanya. Maka beliau berkata:

‘Allahu Akbar! Itulah sunnah Abu al-Qasim ﷺ (Rasulullah ﷺ).’”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Bolehnya melaksanakan haji tamattu‘, yaitu melakukan umrah pada bulan-bulan haji, kemudian menghalalkan diri dari ihram dan mengambil ihram kembali untuk haji.

Kedua: Hewan hadyu (kurban) dapat berupa unta, sapi, kambing, atau bersekutu dalam penyembelihan hewan besar (unta/sapi).

Ketiga: Mimpi yang baik (ru’ya shalihah) dapat menjadi penguat (penghibur) terhadap sesuatu yang telah memiliki dasar hukum syar‘i.

Keempat: Gembira karena mendapatkan kebenaran merupakan sikap yang terpuji, sebagaimana ditunjukkan oleh reaksi Ibn Abbas. 

 

 

Hadist ke Dua Ratus Dua Puluh Lima:

عنْ حفصةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّها قالَتْ: (( يا رَسُولَ اللَّهِ، مَا شَأنُ النَّاسِ حَلُّوا مِن الْعُمْرَةِ، وَلَمْ تَحِلَّ أَنْتَ مِنْ عُمْرتِكَ؟ فقالَ: (( إنِّي لَبَّدْتُ رَأْسِي، وَقَلَّدْتُ هَدْيِي، فَلَا أَحِلُّ حتَّى أَنْحَرَ )) . 

Diriwayatkan dari Hafshah, istri Nabi ﷺ, bahwa ia berkata:

"Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang telah bertahallul dari umrahnya, sedangkan engkau belum bertahallul dari umrahmu?"

Beliau menjawab:

"Sesungguhnya aku telah melumuri (menyemir) kepalaku dan telah menggandeng hadyu (hewan kurban)ku, maka aku tidak akan bertahallul sebelum menyembelihnya."


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Bahwa Nabi ﷺ menunaikan haji dengan cara qirān (menggabungkan antara haji dan umrah dalam satu ihram).
الثَّانِيَةُ: اسْتِحْبَابُ سوقِ الهَدْيِ من الأماكنِ البعيدةِ. 
Kedua: Disunnahkan membawa hadyu (hewan kurban) dari tempat yang jauh.

Ketiga: Disunnahkan memberi tanda pada hewan hadyu dengan menggantungkan kalung di lehernya dari bahan yang tidak biasa digunakan, agar jelas bahwa itu hewan hadyu dan karenanya harus dihormati.

Keempat: Bahwa membawa hadyu mencegah orang yang ihram untuk bertahallul sebelum hewan tersebut disembelih pada hari Nahr (Iduladha). Jika seseorang tidak membawa hadyu, maka yang disyariatkan baginya adalah mengubah niat hajinya menjadi umrah (tamattu‘), kemudian bertahallul darinya, dan setelah itu berihram kembali untuk haji pada waktunya. 

 

 

Hadist ke Dua Ratus Dua Puluh Enam:

عنْ عِمْرَانَ بنِ حُصَينٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( نَزَلَتْ آيةُ المُتْعَةِ في كِتَابِ اللَّهِ، فَفَعَلْنَاهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَنْزِلْ قُرْآنٌ يُحَرِّمُهُ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا حتَّى مَاتَ، قَالَ رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ )) . 

Diriwayatkan dari ‘Imrān bin Ḥuṣain r.a. berkata:

"Ayat tentang mut‘ah (tamattu‘) diturunkan dalam Kitabullah (Al-Qur’an), maka kami pun melakukannya bersama Rasulullah ﷺ, dan tidak ada ayat Al-Qur’an yang turun untuk mengharamkannya, serta Rasulullah ﷺ tidak melarangnya hingga beliau wafat. Setelah itu, ada seorang laki-laki yang berpendapat menurut pikirannya sendiri sebagaimana yang ia kehendaki."


قالَ البخاريُّ: يقالُ: إنَّهُ عُمرُ. 

Al-Bukhari berkata: Dikatakan bahwa orang yang dimaksud itu adalah ‘Umar.


ولِمسلمٍ: (( نَزَلَتْ آيةُ المُتْعَةِ -يَعْنِي مُتْعَةَ الْحَجِّ- وَأَمَرَنَا بهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ لمَ تَنْزِلْ آيَةٌ تَنْسَخُ آيَةَ مُتْعَةِ الحَجِّ. وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حتَّى مَاتَ )) . 

Dalam riwayat Muslim:

"Telah turun ayat tentang mut‘ah —yakni mut‘ah haji (haji tamattu‘)— dan Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk melakukannya. Kemudian tidak ada ayat yang menasakh (menghapus) ayat tentang mut‘ah haji itu, dan Rasulullah ﷺ tidak melarangnya hingga beliau wafat."


وَلَهُمَا بِمَعْنَاهُ. 

Keduanya (al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan hadis dengan makna yang sama. 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disyariatkannya haji tamattu‘, dan hukum tersebut tetap berlaku serta tidak dihapus baik oleh Al-Qur’an maupun oleh sunnah Nabi ﷺ.

Kedua: Tidak boleh mengambil pendapat siapa pun yang bertentangan dengan nash dari Allah Ta‘ala atau Rasul-Nya ﷺ, sekalipun orang tersebut memiliki kedudukan tinggi. 

 

 

Hadist ke Dua Ratus Dua Puluh Tujuh:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( تَمَتَّعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في حَجَّةِ الْوَدَاعِ بِالْعُمْرَةِ إلى الحَجِّ، وَأَهْدَى فَسَاقَ مَعَه الهَدْيَ مِنْ ذِي الحُلَيْفَةِ، وَبَدَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَهَلَّ بِالْعُمْرَةِ، ثُمَّ أَهَلَّ بِالْحَجِّ، فَتَمَتَّعَ النَّاسُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعُمْرَةِ إلى الْحَجِّ، فَكَانَ مِن النَّاسِ مَنْ أَهْدَى، فَسَاقَ الهَدْيَ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُهْدِ، فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِلنَّاسِ: (( مَنْ كَانَ مِنْكُمْ أَهْدَى فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ مِنْ شَيءٍ حَرُمَ مِنْهُ حتَّى يَقْضِيَ حَجَّهُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْدَى فَلْيَطُفْ بِالبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَلَيُقَصِّرْ وَلْيُحْلِلْ، ثُمَّ ليُهِلَّ بِالْحَجِّ وَلْيُهْدِ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ هَدْيًا فَلْيَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ في الْحجِّ وَسَبْعَةً إِذَا رَجَعَ إلى أَهْلِهِ )) فَطَافَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حينَ قَدِمَ مَكَّةَ، وَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ أَوَّلَ شَيْءٍ، ثُمَّ خَبَّ ثَلَاثَةَ أَطْوَافٍ مِن السَّبْعِ، وَمَشَى أَرْبَعَةً، وَرَكَعَ حِينَ قَضى طَوَافَهُ بِالْبَيْتِ عِنْدَ المَقَامِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ فَانْصَرَفَ، فأَتَى الصَّفَا، فَطَافَ بَيْنَ الصَّفَا وَالمَرْوَةِ سَبْعَةَ أَطْوَافٍ، ثُمَّ لَمْ يَحْلِلْ مِنْ شَيْءٍ حَرُمَ مِنْهُ حتَّى قَضَى حَجَّهُ، وَنَحَرَ هَدْيَهُ يَوْمَ النَّحْرِ، وَأَفَاضَ فَطَافَ بِالْبَيتِ، ثُمَّ حَلَّ مِنْ كَلِّ شَيْءٍ حَرُمَ مِنْهُ، وَفَعَلَ مِثْلَ ما فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَهْدَى وَسَاقَ الهَدْيَ مِن النَّاسِ )) . 

Dari Abdullah bin ‘Umar r.a., ia berkata:

"Rasulullah ﷺ bertamattu‘ dalam Haji Wada‘ dengan menggabungkan umrah ke dalam haji. Beliau membawa hadyu (hewan kurban) dan menggiringnya dari Dzul Hulaifah. Rasulullah ﷺ memulai ihramnya dengan niat umrah, kemudian berniat untuk haji, maka beliau pun melakukan haji tamattu‘.

Orang-orang pun ikut bertamattu‘ bersama Rasulullah ﷺ, ada di antara mereka yang membawa hadyu dan menggiringnya dari Dzul Hulaifah, dan ada pula yang tidak membawa hadyu.

Ketika Nabi ﷺ tiba di Makkah, beliau bersabda kepada orang-orang:

'Siapa di antara kalian yang membawa hadyu, maka janganlah ia bertahallul dari sesuatu yang diharamkan hingga ia menyelesaikan hajinya. Dan siapa yang tidak membawa hadyu, maka hendaklah ia thawaf di Ka‘bah, kemudian antara Shafa dan Marwah, lalu memotong rambutnya dan bertahallul. Setelah itu hendaklah ia berihram kembali untuk haji dan membawa hadyu; dan siapa yang tidak mendapatkan hadyu, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari setelah kembali kepada keluarganya.’

Maka Rasulullah ﷺ thawaf di Ka‘bah ketika tiba di Makkah, menyentuh Hajar Aswad pertama kali, lalu berlari kecil (rāmāl) pada tiga putaran pertama dari tujuh putaran, dan berjalan pada empat putaran sisanya. Setelah selesai thawaf, beliau shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, lalu memberi salam, kemudian pergi ke Shafa dan melakukan sa‘i antara Shafa dan Marwah tujuh kali.

Beliau tidak bertahallul dari sesuatu yang diharamkan hingga selesai hajinya, menyembelih hadyunya pada hari Nahr (Iduladha), kemudian melakukan thawaf ifadah, dan setelah itu beliau telah halal dari segala sesuatu yang sebelumnya diharamkan.

Dan orang-orang yang membawa hadyu melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ.” 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Nabi ﷺ memulai ihram dengan niat tamattu‘, yaitu menggabungkan umrah dan haji — dan inilah yang disebut qirān.
الثَّانِيَةُ: اسْتِحْبَابُ سوقِ الهَدْيِ من الحِلِّ. 
Kedua: Disunnahkan membawa hadyu dari wilayah halal (di luar tanah haram).

Ketiga: Dibolehkan tiga jenis ibadah haji: tamattu‘, qirān, dan ifrād.

Keempat: Disyariatkan mengubah niat haji menjadi umrah (tamattu‘) bagi orang yang tidak membawa hadyu, sehingga ia boleh bertahallul setelah thawaf qudum dan sa‘i; adapun yang membawa hadyu, maka ia tetap dalam ihram hingga hari Nahr.

Kelima: Bagi yang tidak mampu menyediakan hadyu, maka wajib berpuasa sepuluh hari: tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari setelah kembali ke keluarganya.

Keenam: Disunnahkan thawaf qudum bagi selain orang yang bertamattu‘ yang tidak membawa hadyu.

Ketujuh: Disunnahkan menyentuh Hajar Aswad pada permulaan setiap putaran thawaf.

Kedelapan: Disunnahkan berlari kecil (rāmāl) pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran terakhir.

Kesembilan: Disunnahkan shalat dua rakaat thawaf di belakang maqam Ibrahim.

Kesepuluh: Disunnahkan melakukan sa‘i antara Shafa dan Marwah setelah thawaf qudum.

Kesebelas: Disunnahkan melakukan sa‘i segera setelah thawaf (tanpa jeda yang lama).

Kedua Belas: Tahallul pertama terjadi setelah melontar jumrah dan menyembelih hadyu.

Ketiga Belas: Tahallul sempurna terjadi setelah melakukan thawaf ifadah.

Keempat Belas: Hadis ini menjelaskan tata cara haji Nabi ﷺ, sebagaimana sabdanya: “Ambillah dariku manasik (tata cara) hajimu.” 

 

Kembali 45IndeX | Lanjut 47

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar