Jumat, 24 Oktober 2025

Umdatul Ahkam : 57 (Catatan Tentang Jual Beli)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 56 | IndeX | Lanjut 58

 

 

بَابُ الرِّبَا وَالصَّرْفِ

Bab Riba dan Pertukaran (Ṣarf)


Hadist ke Dua Ratus Enam Puluh Delapan:


عنْ عمرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا، إلَّا هَاءَ وَهَاءَ، والبُرُّ بِالبُرِّ رِبًا، إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ، وَالشَّعِيرُ بالشَّعِيرِ رِبًا، إلَّا هَاءَ وَهَاءَ )) .

Diriwayatkan Dari ‘Umar bin al-Khaṭṭāb r.a. berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“(Menukar) emas dengan perak adalah riba kecuali dilakukan ha’ wa ha’ (serah terima langsung).

(Menukar) gandum dengan gandum adalah riba kecuali dilakukan ha’ wa ha’.

(Menukar) jelai dengan jelai adalah riba kecuali dilakukan ha’ wa ha’.”

 

#. [الشَّعِيرُ] sejenis tanaman serealia yang bijinya mirip gandum (البرّ), tetapi ukurannya lebih kecil dan teksturnya lebih kasar.


Kosakata:

Lafadz [الوَرِق] : Dengan huruf wāw berharakat fatḥah dan rā’ kasrah, artinya perak.

Lafadz [هَاءَ وَهَاءَ] : Bentuk ucapan dalam bahasa Arab, yang paling masyhur dibaca panjang dengan huruf hamzah terbuka pada keduanya; maknanya adalah serah terima secara langsung (tunai di tempat akad).


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Haram hukumnya menukar emas dengan perak jika tidak dilakukan secara tunai dan serah terima di majelis akad. Namun jika terjadi serah terima langsung (taqābuḍ), maka hukumnya sah.

Kedua: Haram menukar gandum dengan gandum, dan jelai dengan jelai bila tidak dilakukan secara tunai di tempat akad. Adapun bila serah terima dilakukan langsung, maka pertukarannya sah. Majelis akad yang dimaksud adalah tempat terjadinya transaksi jual beli.



Hadist ke Dua Ratus Enam Puluh Sembilan:


عنْ أبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقَ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ )) .

Diriwayatkan Dari Abu Sa‘īd al-Khudrī r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dengan sama (takaran dan timbangannya), dan janganlah sebagian kalian melebihkan yang lain.

Dan janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dengan sama, dan janganlah sebagian kalian melebihkan yang lain.

Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang tidak ada (belum diserahkan) dengan yang sudah ada (tunai).”


وفي لفظٍ: (( إِلَّا يَدًا بِيَدٍ )) .

Dalam satu riwayat disebutkan: “Kecuali secara yadan bi-yad (tangan dengan tangan / serah terima langsung).”

وفي لفظٍ: (( إِلَّا وَزْنًا بِوَزْنٍ، مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ )) .

Dalam riwayat lain disebutkan: “Kecuali dengan timbangan yang sama, seimbang dan setara.”


Kosakata:

Lafadz [لا تُشِفُّوا بَعْضَهَا على بعضٍ] Dibaca dengan ḍammah pada huruf tā’, kasrah pada syīn, dan tasydid pada fā’, artinya: janganlah kalian melebihkan sebagian dari yang lain (yakni, jangan ada kelebihan dalam pertukaran sejenis).


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:


الأُولَى: النهيُ عنْ بيعِ الذهبِ بالذهبِ أو الفضَّةِ بالفضَّةِ، وفسادُ العقدِ إلَّا إذا تَمَاثَلَا بالوزنِ وَتَقَابَضَ المُتَعَاقِدَانِ بمجلسِ العقدِ.

Pertama: Larangan menjual emas dengan emas, atau perak dengan perak, kecuali dengan kadar dan timbangan yang sama, serta serah terima langsung di tempat akad (taqābuḍ fī al-majlis). Akad pertukaran tersebut batal (tidak sah) jika ada kelebihan pada salah satu pihak atau jika penyerahannya tidak langsung di majelis akad, karena termasuk riba faḍl (riba karena kelebihan) atau riba nasī’ah (riba karena penundaan).




Hadist ke Dua Ratus Tujuh Puluh:


عنْ أبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: جَاءَ بِلَالٌ إلى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ بَرْنِيٍّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مِنْ أَيْنَ هَذَا؟ )) قَالَ بِلَالٌ: كانَ عِنْدَنَا تَمْرٌ رَدِيءٌ، فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِنُطْعِمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ النَّبِيُّ عِنْدَ ذلِكَ: أَوْهِ، عَيْنُ الرِّبَا، عَيْنُ الرِّبَا، لَا تَفْعَلْ، ولَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أنْ تَشْتَرِيَ فَبِع التَّمْرَ بِبَيْعٍ آخَرَ، ثُمَّ اشْتَرِ بِهِ )) .

Diriwayatkan Dari Abu Sa‘īd al-Khudrī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

Bilāl datang kepada Nabi ﷺ membawa kurma barnī (jenis kurma yang baik). 

Maka Nabi ﷺ bertanya kepadanya : “Dari mana ini?”

Bilāl menjawab, “Kami memiliki kurma yang jelek, lalu aku menjual dua ṣā‘ (takaran) darinya dengan satu ṣā‘ kurma yang bagus, agar dapat kami hidangkan kepada Nabi ﷺ.”

Maka Nabi ﷺ bersabda : “Auh! Itu riba, itu riba! Jangan engkau lakukan!

Akan tetapi, jika engkau ingin membeli, maka juallah kurma yang jelek itu dengan transaksi lain terlebih dahulu, kemudian belilah (kurma yang bagus) dengan hasil jualannya.”


Kosakata:

Lafadz (بَرْنِيٍّ): Jenis kurma yang baik dari Madinah.

Lafadz (أَوْهِ): (dibaca dengan kasrah pada huruf hā’) adalah ungkapan rasa kaget, penyesalan, atau kesedihan.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Diharamkannya riba faḍl pada jual beli kurma — yaitu menjual sebagian kurma dengan yang lain secara tidak seimbang (berbeda takaran).

Kedua: Hadis ini menjadi dalil bolehnya menjual barang secara tunai kemudian membeli barang lain dengan harga berbeda secara tangguh (utang) — bukan untuk menikmati barangnya, tetapi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga (disebut masalah at-tarzuq).

Ketiga: Dibolehkan menikmati makanan, minuman, dan segala hal yang baik dan halal sebagai bentuk kenikmatan yang diizinkan oleh syariat.



Hadist ke Dua Ratus Tujuh Puluh Satu:


عنْ أبِي المِنْهالِ قالَ: (( سَأَلْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ، وَزَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ عَن الصَّرْفِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يقُولُ: هَذَا خَيْرٌ مِنِّي، وَكِلاهُما يَقُولُ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بالْوَرِقِ دَيْنًا )) .

Diriwayatkan Dari Abu al-Minhāl, ia berkata:

“Aku bertanya kepada al-Barā’ bin ‘Āzib dan Zaid bin Arqam tentang ṣarf (pertukaran uang). Maka masing-masing dari keduanya berkata, ‘Dia (yang lain) lebih tahu dariku.’

Keduanya sama-sama berkata:

Rasulullah ﷺ melarang jual beli emas dengan perak secara tangguh (tidak tunai).”


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Larangan menjual emas dengan perak atau perak dengan emas apabila salah satunya tidak hadir dalam majelis akad (yakni dilakukan secara tidak tunai). Diperbolehkan transaksi tersebut apabila dilakukan dengan serah terima langsung (taqābuḍ) di tempat akad.




Hadist ke Dua Ratus Tujuh Puluh Dua:


عنْ أبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْفِضَّةِ بالْفِضَّةِ، وَالذَّهَبِ بِالذَّهَبِ، إِلَّا سَوَاءً بِسَوَاءٍ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَشْتَرِيَ الْفِضَّةِ بِالذَّهَبِ كَيْفَ شِئْنَا، وَنَشْتَرِيَ الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْنَا، قَالَ: فَسَأَلَهُ رَجُلٌ، فقالَ: يَدًا بِيَدٍ؟ فقالَ: هَكَذَا سَمِعْتُ )) .

Diriwayatkan Dari Abu Bakrah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah ﷺ melarang (jual beli) perak dengan perak dan emas dengan emas, kecuali sama dengan sama (setara nilainya).

Dan beliau memerintahkan kepada kami untuk membeli perak dengan emas dengan cara apa pun yang kami kehendaki, dan membeli emas dengan perak dengan cara apa pun yang kami kehendaki.”

Lalu seseorang bertanya kepadanya: “Apakah harus tangan dengan tangan (tunai)?”

Ia menjawab: “Begitulah yang aku dengar (dari Rasulullah ﷺ).”


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Diharamkan menjual emas dengan emas atau perak dengan perak secara tidak seimbang (berlebih kurang), dan sah apabila sama takarannya serta dilakukan secara tunai dalam satu majelis akad.

Kedua: Dibolehkan menjual emas dengan perak dan sebaliknya, meskipun tidak sama nilainya, selama keduanya diserahterimakan langsung (tunai) di tempat akad. 

 

Kembali 56 | IndeX | Lanjut 58

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar