خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 49 | IndeX | Lanjut 51
بابُ فضلِ الحلقِ وجوازِ التقصيرِ
Bab: Keutamaan mencukur rambut (hulu) dan kebolehan memendekkannya.
Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ )) قَالُوا: وَالمُقَصِّرِينَ يا رَسُولَ اللَّهِ؟ قالَ: (( اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ )) قَالُوا: وَالمُقَصِّرِينَ يا رَسُولَ اللَّهِ؟ قالَ: (( وَالمُقَصِّرِينَ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya.”
Para sahabat berkata: “(Juga) orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya.”
Mereka berkata lagi: “(Juga) orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Dan (juga) orang-orang yang memendekkan rambutnya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib mencukur atau memendekkan rambut, dan mencukur lebih utama bagi laki-laki.
Kedua: Mencukur atau memendekkan rambut merupakan salah satu manasik haji dan umrah yang mulia.
Ketiga: Yang dimaksud mencukur atau memendekkan rambut adalah seluruh kepala, sebagaimana perbuatan Nabi ﷺ, dan selain itu tidak sah.
بابُ طوافِ الإفاضةِ والوداعِ
Bab Thawaf Ifadhah dan Wada‘
Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Satu:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: (( حَجَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فأَفَضْنَا يَوْمَ النَّحْرِ، فَحَاضَتْ صَفِيَّةُ، فأَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا مَا يُرِيدُ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِهِ، فَقُلْتُ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهَا حَائِضٌ، فقالَ: (( أَحَابِسَتُنَا هِيَ؟ )) قَالُوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَاضَتْ يَوْمَ النَّحْرِ، قالَ: (( اخْرُجُوا )) .
Diriwayatkan Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Kami berhaji bersama Nabi ﷺ, lalu kami melakukan ifadhah (thawaf ziarah) pada hari Nahr (10 Zulhijah). Ketika itu, Shafiyyah haid, dan Nabi ﷺ ingin melakukan apa yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya. Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia sedang haid.’ Nabi ﷺ pun bersabda: ‘Apakah dia akan menahan kita (tidak bisa berangkat)?’
Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, dia telah thawaf ifadhah pada hari Nahr.’ Maka beliau bersabda: ‘Kalau begitu, berangkatlah!’
في لفظٍ: قالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( عَقْرَى، حَلْقَى، أَطافَتْ يَوْمَ النَّحْرِ )) ؟ قِيلَ: نَعَمْ. قالَ: (( فَانْفِرِي )) .
Dalam satu lafaz lain:
Nabi ﷺ bersabda: ‘Celaka (Aqra halqa), apakah dia sudah thawaf pada hari Nahr?’
Dijawab: ‘Ya.’
Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, berangkatlah.’
Kosakata:
Lafadz (أَفَضْنَا): berasal dari kata fāḍa al-mā’ yang berarti “air mengalir”. Thawaf ziarah disebut thawaf al-ifādhah karena manusia melakukannya dengan berdesakan (mengalir banyak seperti air).
Lafadz (عَقْرَى، حَلْقَى): dua kata yang merupakan ungkapan seruan (bukan doa sungguhan) yang biasa diucapkan orang Arab tanpa maksud makna aslinya. Secara literal berarti “semoga mandul dan botak”, namun di sini hanya ungkapan spontan tanpa niat mendoakan.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Thawaf Ifadhah merupakan rukun haji yang tidak gugur dalam keadaan apa pun.
Kedua: Pemimpin jamaah haji (amirul hajj) harus menunggu wanita yang sedang haid sampai suci dan melakukan thawaf haji.
Ketiga: Thawaf Wada‘ tidak wajib bagi wanita yang haid, karena Nabi ﷺ tidak menjadikannya sebagai penghalang untuk meninggalkan Makkah.
Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Dua:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( أُمِرَ النَّاسُ أَن يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ، إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ المَرْأَةِ الحَائِضِ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Manusia diperintahkan agar akhir urusan mereka (sebelum meninggalkan Makkah) adalah (melakukan) thawaf di Baitullah, kecuali wanita yang sedang haid diberi keringanan.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib melakukan thawaf wada‘ (thawaf perpisahan) bagi setiap orang yang hendak keluar dari Makkah, baik ia seorang yang berhaji maupun bukan, ketika hendak bepergian.
Kedua: Wanita yang sedang haid tidak wajib melakukan thawaf wada‘, dan tidak ada kewajiban dam (denda) atasnya karena meninggalkannya.
Ketiga: Thawaf wada‘ hendaknya menjadi urusan terakhir seorang musafir sebelum meninggalkan Makkah.
بابُ وُجُوبِ المَبِيتِ بِمِنًى
Bab: Wajib Bermalam di Mina
Hadist ke Dua Ratus Empat Puluh Tiga:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( اسْتَأْذَنَ الْعَبَّاسُ بنُ عَبْدِ المُطَّلِبِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى، مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ، فَأَذِنَ لَهُ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Al-Abbas bin Abdul Muththalib meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk bermalam di Makkah pada malam-malam Mina karena tugasnya memberi minum (jamaah haji), maka beliau pun mengizinkannya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyrik.
Kedua: Diperbolehkan tidak bermalam di Mina bagi orang yang memiliki tugas khusus seperti para penyedia air minum bagi jamaah haji, demikian pula para penggembala dan orang yang memiliki keperluan mendesak (darurat).
Kembali 49 | IndeX | Lanjut 51
Tidak ada komentar:
Posting Komentar