Rabu, 07 Mei 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 13

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 12 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 14

 

"Adapun Al-Walīd (bin Al-Mughirah), dahulu ia pernah mengalami goresan dari sebuah anak panah beberapa tahun sebelumnya, yang pada saat itu tampaknya bukanlah sesuatu yang serius.

Namun Jibril menunjuk ke bekas goresan tersebut, lalu (tiba-tiba) luka itu kambuh dan mengganggunya terus-menerus hingga menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun kemudian."

"Adapun Al-Aswad bin ‘Abd Yaghūth, Jibril menunjuk ke kepalanya, lalu timbul bisul-bisul di sana hingga ia meninggal karenanya.

Ada juga yang mengatakan: ia terkena racun panas (semacam penyakit atau sengatan).

Dan ada pula yang mengatakan: Jibril menunjuk ke perutnya, lalu perutnya membengkak dan membesar (karena dropsi atau infeksi), hingga akhirnya ia meninggal."

"Adapun Al-Aswad bin ‘Abdul-Muṭṭalib, ketika Rasulullah ﷺ merasa sangat terganggu oleh gangguannya, beliau pun berdoa terhadapnya, seraya berkata:

‘Ya Allah, butakanlah penglihatannya dan buatlah dia kehilangan anaknya.’

Maka Jibril melemparkan duri ke wajahnya hingga ia menjadi buta, dan melemparkan anaknya, Zam‘ah, hingga meninggal dunia."

"Adapun Al-Ḥārith bin Qays, ia terkena penyakit 'mā’ aṣ-ṣafrā’' (penyakit kuning atau gangguan empedu) di perutnya, hingga kotorannya keluar dari mulutnya, lalu ia pun meninggal karenanya."

"Adapun Al-‘Āṣ bin Wā’il, ia duduk di atas tanaman berduri (syabraqah), lalu salah satu durinya menancap di telapak kakinya. Racunnya menyebar hingga ke kepalanya, dan ia pun meninggal karenanya."

"Ini adalah gambaran kecil dari apa yang dialami Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin dari kaum Quraisy setelah beliau mendakwahkan Islam secara terang-terangan.

Dan Rasulullah ﷺ mengambil dua langkah dalam menghadapi situasi yang genting ini."

 

"Darul Arqam" atau "Rumah Al-Arqam"

*/ Darul Arqam merujuk pada rumah milik Al-Arqam bin Abi Al-Arqam di Mekah, yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempat rahasia untuk berdakwah pada masa awal kenabian, sebelum Islam disebarkan secara terbuka.

Langkah pertama: Nabi Muhammad ﷺ menjadikan Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam Al-Makhzumi sebagai pusat dakwah dan ibadah, serta tempat pembinaan (tarbiyah), karena rumah itu terletak di kaki Bukit Shafa, jauh dari penglihatan para penindas (kaum musyrik Quraisy). Di tempat itulah beliau berkumpul secara diam-diam bersama para sahabatnya, membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah (kebijaksanaan).

Dengan strategi ini, beliau berhasil melindungi para sahabatnya dari banyak peristiwa buruk yang dikhawatirkan akan terjadi seandainya mereka berkumpul secara terang-terangan.

Adapun beliau ﷺ sendiri tetap beribadah kepada Allah dan berdakwah secara terbuka di tengah-tengah kaum musyrik, tanpa gentar menghadapi kezaliman, permusuhan, ejekan, maupun penghinaan. Hal ini merupakan bagian dari hikmah Allah, agar dakwah Islam sampai kepada orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk mengingkari kebenaran setelah wahyu disampaikan. Dan agar tidak ada seorang pun yang kelak berkata pada hari kiamat:

قال : ﴿ مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ﴾ [المائدة : ١٩]

“Tidak pernah datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira maupun pemberi peringatan.” (QS. Al-Ma'idah: 19)

 

Hijrah ke Habasyah (Ethiopia)

Langkah kedua: Nabi Muhammad ﷺ menyarankan kepada kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah, setelah beliau memastikan bahwa Raja Najasyi adalah seorang raja yang adil, yang tidak seorang pun akan dizalimi di bawah kekuasaannya.

Pada bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian, rombongan pertama kaum Muslimin melakukan hijrah. Mereka berjumlah dua belas orang laki-laki dan empat orang wanita. Pemimpin mereka adalah Utsman bin Affan Al-Umawi – raḍiyallāhu ‘anhu –, yang pergi bersama istrinya Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ.

Keduanya merupakan keluarga pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Nabi Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalām.

Para sahabat tersebut berangkat secara diam-diam pada malam hari, menuju pelabuhan Syu‘aibah di sebelah selatan Jeddah.

Dan atas takdir Allah, mereka menemukan dua kapal dagang, lalu menaikinya hingga akhirnya tiba di Habasyah.

Adapun kaum Quraisy, ketika mengetahui kepergian mereka, mereka marah dan mengamuk, lalu bergegas mengejar mereka dengan maksud menangkap dan membawa mereka kembali ke Mekah, agar mereka dapat melanjutkan penyiksaan dan penganiayaan, serta memalingkan mereka dari agama Allah.

Namun, kaum Muslimin telah lebih dahulu sampai ke laut, sehingga Quraisy kembali dengan tangan hampa setelah hanya berhasil mencapai pantai.

 

Persetujuan (sementara) kaum musyrik terhadap kaum Muslimin dan sujud mereka saat (mendengar) Surah An-Najm :

Pada bulan Ramadan tahun ke-5 dari kenabian, yaitu sekitar dua bulan setelah hijrahnya kaum Muslimin, Rasulullah ﷺ keluar menuju Masjidil Haram. Saat itu, di sekitar Ka'bah berkumpul banyak orang Quraisy, termasuk para pemimpin dan tokoh-tokoh besar mereka.

Telah turun kepadanya Surah An-Najm, maka beliau berdiri di tengah mereka dan mulai membacakan surah tersebut secara tiba-tiba. Itu adalah ucapan paling menggetarkan yang pernah mereka dengar. Mereka takjub dengan keindahan dan kekuatan wahyu itu sampai benar-benar terpesona dan terdiam menyimaknya.

Ketika beliau sampai pada bagian akhir surah yang berisi peringatan-peringatan yang mengguncang hati, dan kemudian membaca ayat:

قال : ﴿ فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ﴾ [النجم : ٦٢]

"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia!"

Beliau pun sujud, dan semua orang ikut bersujud, tanpa mampu menahan diri mereka sendiri.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Mas‘ud – raḍiyallāhu ‘anhu – bahwa Nabi ﷺ membaca Surah An-Najm, lalu beliau sujud ketika membacanya. Maka tidak ada seorang pun dari kaum itu yang tidak ikut sujud, kecuali seorang laki-laki dari mereka yang mengambil segenggam kerikil atau tanah, lalu mengangkatnya ke wajahnya sambil berkata, “Cukuplah ini bagiku (sebagai bentuk sujud).”

Ibnu Mas‘ud berkata: Sungguh aku melihatnya kemudian terbunuh dalam keadaan kafir, dia adalah Umayyah bin Khalaf, yang terbunuh pada hari Perang Badar.

 

Kembalinya para muhajirin ke Mekah :

Berita ini sampai ke Habasyah, namun dengan berita yang berbeda dari kenyataan. Mereka diberitahu bahwa kaum Quraisy telah memeluk Islam. Maka, mereka pun kembali dengan penuh kegembiraan dan harapan menuju Mekah.

Namun, ketika mereka berada di luar Mekah, sekitar satu jam perjalanan, mereka akhirnya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Maka, sebagian dari mereka kembali lagi ke Habasyah, dan sebagian lagi masuk ke Mekah secara diam-diam atau dengan perlindungan dari salah satu orang Quraisy.

 

Hijrah Kedua ke Habasyah :

Penderitaan dan siksaan dari kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin semakin menjadi-jadi, sebagai bentuk penyesalan mereka karena pernah sujud bersama kaum Muslimin, dan balas dendam atas kabar yang mereka dengar mengenai baiknya perlakuan Raja Najasyi terhadap para muhajirin.

Maka, melihat situasi yang semakin keras ini, Rasulullah ﷺ menyarankan kepada para sahabatnya untuk kembali berhijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya.

Maka berhijrahlah sekitar delapan puluh dua atau delapan puluh tiga orang laki-laki, dan delapan belas orang perempuan.

Hijrah kedua ini lebih sulit daripada yang pertama, karena kaum Quraisy lebih waspada dan memantau setiap gerakan kaum Muslimin.

Namun, kaum Muslimin lebih cerdik, lebih bijak, dan lebih hati-hati daripada mereka. Sehingga, meskipun dengan segala upaya Quraisy, mereka tetap berhasil mencapai Habasyah.

 

Kembali ke bagian 12 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 14

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar