Selasa, 20 Mei 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 21

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 20 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 22

 

 Menawarkan Islam kepada Kabilah dan Individu

 

Sejak Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan, menjadi kebiasaannya untuk keluar pada musim haji, pada hari-hari pasar orang Arab, menuju tempat-tempat tinggal kabilah-kabilah, lalu mengajak mereka kepada Islam.

Pasar-pasar Arab yang paling terkenal di masa Jahiliah dan yang paling dekat dengan Mekah ada tiga: 'Ukaz, Majinnah, dan Dzu al-Majaz. 'Ukaz adalah sebuah desa yang terletak antara Nakhlah dan Thaif. Mereka mengadakan pasar di sana mulai awal bulan Dzulqa’dah hingga tanggal dua puluh, kemudian berpindah ke Majinnah, dan mengadakan pasar di sana hingga akhir bulan Dzulqa’dah. Tempat ini berada di lembah Marr az-Zahran [مر الظهران], di bagian bawah kota Mekah. Adapun Dzu al-Majaz, letaknya di belakang Jabal ‘Arafah — yaitu di belakang Jabal Rahmah — dan mereka mengadakan pasar di sana dari awal Dzulhijjah hingga tanggal delapan, kemudian mereka fokus menjalankan manasik (ritual) haji.

Di antara kabilah-kabilah yang didatangi oleh Rasulullah ﷺ, yang beliau ajak kepada Islam serta menawarkan diri beliau agar mereka melindungi dan menolongnya, adalah: Bani ‘Āmir bin Ṣa‘ṣa‘ah, Bani Muḥārib bin Khuṣafah, Bani Fazārah, Ghassān, Murrah, Bani Ḥanīfah, Bani Sulaym, Bani ‘Abs, Bani Naṣr, Bani al-Bakkā’, Kindah, Kalb, Bani al-Ḥārith bin Ka‘b, ‘Udhrah, dan al-Ḥaḍramiyyīn. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menerima seruannya.

Mereka berbeda-beda dalam cara menolak ajakan beliau. Di antara mereka ada yang menolak dengan cara yang baik, ada pula yang menetapkan syarat bahwa kepemimpinan harus diberikan kepadanya setelah beliau wafat, ada yang berkata: “Keluargamu dan kaummu sendiri lebih tahu tentang dirimu, karena itu mereka tidak mengikutimu,” dan ada pula yang menolak dengan kasar. Yang paling buruk penolakannya adalah Bani Ḥanīfah, yakni kaum Musailamah al-Kadhdhab (si pendusta).

 

Orang-orang beriman dari Luar Mekah :

Allah menakdirkan bahwa ada sejumlah orang yang beriman dari luar Mekah pada masa ketika dakwah di Mekah sedang berada di tahap paling sulit. Mereka laksana nyala harapan yang bersinar dalam kegelapan keputusasaan. Di antara mereka:

1. Suwaid bin aṣ-Ṣhāmit: 

Ia adalah seorang penyair yang cerdas dari penduduk Yatsrib, dijuluki “al-Kāmil” karena kemuliaan dan puisinya. Ia datang ke Mekah untuk berhaji atau berumrah. Rasulullah ﷺ mengajaknya kepada Islam. Suwaid pun menanggapi dengan menyampaikan Hikmah Luqman. Maka Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur'an kepadanya, lalu ia masuk Islam dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah perkataan yang indah.” Ia terbunuh dalam suatu pertempuran antara suku Aus dan Khazraj sebelum hari Bu‘āts.

#Hari Bu‘āts adalah hari terjadinya pertempuran besar antara dua suku utama di Yatsrib (Madinah), yaitu suku Aus dan suku Khazraj, yang berlangsung sekitar 3 tahun sebelum Hijrah Nabi Muhammad ﷺ.

2. Iyas bin Mu‘adh

Ia adalah seorang pemuda dari penduduk Yatsrib. Ia datang ke Mekah pada awal tahun ke-11 dari kenabian, sebagai bagian dari rombongan suku Aus yang mencari persekutuan dengan kaum Quraisy untuk melawan suku Khazraj. Maka datanglah Rasulullah ﷺ kepada mereka dan mengajak mereka kepada Islam serta membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Iyas berkata, “Demi Allah, ini lebih baik dari apa yang kalian cari.” Maka Abu al-Haysar — salah satu anggota rombongan — melemparkan debu tanah haram ke wajah Iyas sambil berkata, “Tinggalkan kami, kami datang bukan untuk ini!” Maka Iyas pun diam. Namun tak lama setelah mereka kembali ke Yatsrib, Iyas wafat. Saat menjelang kematiannya, ia terus mengucapkan takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih. Kaumnya tidak meragukan bahwa ia wafat dalam keadaan Muslim.

3. Abu Dzarr al-Ghifari :

Ia mendengar berita tentang diutusnya Nabi ﷺ melalui kabar keislaman Suwaid bin al-Ṣāmit dan Iyas bin Mu‘adh. Maka ia mengutus saudaranya ke Mekah untuk mencari informasi. Saudaranya pergi lalu kembali, tetapi tidak membawa keterangan yang memuaskan. Maka Abu Dzarr sendiri pergi ke Mekah dan tinggal di Masjidil Haram. Ia berada di sana selama kurang lebih sebulan, hanya meminum air Zamzam yang menjadi makanan dan minumannya, dan ia tidak bertanya kepada siapa pun tentang Nabi ﷺ karena takut ketahuan.

Kemudian ‘Ali – semoga Allah meridainya – menemaninya hingga mempertemukannya dengan Nabi ﷺ. Abu Dzarr meminta Nabi ﷺ menjelaskan Islam kepadanya. Maka Nabi ﷺ menyampaikan Islam kepadanya, dan ia langsung masuk Islam saat itu juga.

Setelah itu, ia pergi ke Masjidil Haram dan berseru, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Maka kaum Quraisy menyerangnya dan memukulnya hingga hampir mati. Abbas menyelamatkannya.

Keesokan harinya, Abu Dzarr kembali melakukan hal yang sama dan kembali diserang serta dipukuli seperti hari sebelumnya, dan Abbas pun kembali menyelamatkannya.

Abu Dzarr pun kembali ke tempat tinggal kaumnya, Bani Ghifar. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, ia pun ikut hijrah ke sana.

4. Ṭufayl bin ‘Amr ad-Dawsī

Ia adalah seorang penyair yang cerdas dan pemimpin kabilah Daus di daerah Yaman. Ia datang ke Mekah pada tahun ke-11 dari kenabian. Penduduk Mekah menyambutnya dan memperingatkannya agar berhati-hati terhadap Nabi ﷺ, hingga ia menyumpal telinganya dengan kapas saat datang ke Masjidil Haram agar tidak mendengar sesuatu pun dari beliau ﷺ.

Ketika Nabi ﷺ sedang berdiri shalat di dekat Ka‘bah, tanpa sengaja sebagian bacaan beliau terdengar oleh Ṭufayl. Ia pun terkesan, dan berkata dalam hati:

"Aku ini orang cerdas dan penyair. Tidak akan tersembunyi bagiku mana yang baik dan mana yang buruk. Apa yang menghalangiku untuk mendengarkan sendiri apa yang dikatakan orang ini? Jika itu baik, akan kuterima; dan jika buruk, akan kutinggalkan."

Ketika Nabi ﷺ selesai shalat dan kembali ke rumahnya, Ṭufayl mengikutinya hingga masuk ke dalam rumah. Ia menceritakan apa yang dialaminya dan memohon kepada Nabi ﷺ agar memperkenalkan ajaran beliau. Nabi ﷺ pun menyampaikan Islam kepadanya dan membacakan Al-Qur'an. Ṭufayl langsung masuk Islam dan bersaksi dengan syahadat kebenaran.

Ia berkata, “Aku adalah orang yang ditaati di kalangan kaumku. Aku akan kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Maka doakanlah agar Allah memberiku suatu tanda.” Nabi ﷺ mendoakannya. Ketika ia mendekati tempat kaumnya, wajahnya bercahaya seperti lampu. Ia pun berdoa agar cahaya itu tidak berada di wajahnya, lalu cahaya itu berpindah ke ujung cambuknya.

Setelah ia sampai ke kaumnya, ia mulai berdakwah kepada mereka. Maka ayahnya dan istrinya masuk Islam, sedangkan kaumnya secara umum masih lambat menerima dakwahnya. Namun, ketika Ṭufayl hijrah ke Madinah setelah Perjanjian Hudaibiyah, ia membawa serta sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga dari kaumnya yang telah memeluk Islam.

5. Ḍhimād al-Azdī : 

Ia berasal dari suku Azd Shanū’ah di Yaman. Ia dikenal sebagai seorang peruqyah yang mengobati orang-orang yang dianggap terkena gangguan jin, gila, atau kerasukan setan.

Ia datang ke Mekah dan mendengar para pemuda bodoh (dari kaum Quraisy) mengatakan bahwa Muhammad adalah orang gila. Maka ia pun datang untuk menawarkan rukyah (pengobatan) kepada Nabi ﷺ.

Namun, Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Amma ba‘du (adapun selanjutnya)..."

Ḍhimād meminta agar kalimat itu diulang hingga tiga kali. Setelah mendengarnya, ia berkata:

"Aku telah mendengar perkataan para dukun, para penyihir, dan para penyair — tapi aku belum pernah mendengar sesuatu seperti ucapanmu ini. Sungguh, ucapanmu ini telah mencapai kedalaman samudra! Ulurkan tanganmu, aku ingin berbaiat kepadamu untuk masuk Islam."

"Berikan tanganmu, aku akan membaiatmu untuk masuk Islam." Maka dia pun membaiatnya".

 

Islam di Madinah : 

6. Enam orang yang berbahagia dari penduduk Yatsrib, semuanya berasal dari suku Khazraj, yaitu:

  • As‘ad bin Zurārah
  • ‘Awf bin al-Ḥārith bin Rifā‘ah (juga dikenal sebagai ‘Awf bin ‘Afrā’)
  • Rāfi‘ bin Mālik bin al-‘Ajlān
  • Quṭbah bin ‘Āmir bin Ḥadīdah
  • ‘Uqbah bin ‘Āmir bin Nābī
  • Jābir bin ‘Abdullāh bin Ri’āb

Mereka adalah orang-orang pertama dari Yatsrib yang menerima Islam, dan keislaman mereka menjadi awal tersebarnya dakwah Islam di Madinah.

Orang-orang ini datang untuk berhaji bersama rombongan yang datang pada tahun ke-11 dari kenabian. Penduduk Yatsrib sebelumnya sering mendengar dari orang-orang Yahudi — ketika mereka mengalami kekalahan dalam peperangan atau hal-hal semacam itu — perkataan seperti: "Seorang nabi akan segera diutus, waktunya sudah dekat. Kami akan membunuh kalian bersamanya sebagaimana kaum ‘Ād dan Iram dibinasakan."

Ketika mereka berada di ‘Aqabah Mina pada suatu malam, Rasulullah ﷺ melewati mereka saat mereka sedang berbincang-bincang. Ketika beliau mendengar suara mereka, beliau mendatangi mereka hingga menjumpai mereka, lalu bertanya:

"Siapa kalian?"

Mereka menjawab, "Sekelompok orang dari suku Khazraj."

Beliau bertanya, "Sekutu-sekutu orang Yahudi?" (maksudnya: sekutu dalam perjanjian)

Mereka menjawab, "Benar."

Beliau bersabda, "Maukah kalian duduk sejenak agar aku bisa berbicara dengan kalian?"

Mereka menjawab, "Tentu."

Maka mereka pun duduk bersama beliau. Nabi ﷺ menjelaskan kepada mereka hakikat Islam, membacakan Al-Qur'an, dan mengajak mereka kepada Allah – ‘Azza wa Jalla.

Lalu sebagian dari mereka berkata kepada yang lain:

"Demi Allah, ini benar-benar nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Maka jangan sampai mereka mendahului kalian untuk mengikutinya."

Mereka pun segera masuk Islam dan berkata:

"Kami telah meninggalkan kaum kami dalam keadaan penuh permusuhan dan kejahatan di antara mereka. Jika Allah menyatukan mereka di bawahmu, maka tak seorang pun yang akan lebih mulia darimu."

Mereka pun berjanji kepada Nabi ﷺ untuk menyeru kaumnya kepada agama beliau, dan untuk bertemu kembali dengannya pada musim haji berikutnya.

 

Kembali ke bagian 20 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 22

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar