خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 18 | IndeX | Lanjut 20
Hadist ke Sembilan Puluh Enam:
عنْ جُبيرِ بنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: سمعتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي المَغْرِبِ بِالطُّورِ
Dari Jubair bin Muṭ‘im رضي الله عنه berkata:
“Aku mendengar Nabi ﷺ membaca surat At-Ṭūr dalam salat Maghrib.”
Hadist ke Sembilan Puluh Tujuh:
عن البَرَاءِ بنِ عازِبٍ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ فِي سَفَرٍ، فَصَلَّى الْعِشَاءَ الآخِرَةَ، فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْن بـ {التِّينِ وَالزَّيْتُونِ} ، فَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا -أَو قِرَاءَةً- مِنْهُ .
Dari Al-Barā’ bin ‘Āzib رضي الله عنه berkata:
“Bahwa Nabi ﷺ sedang dalam suatu safar (perjalan), lalu beliau shalat ‘Isyā’ terakhir. Pada salah satu dari dua rakaatnya beliau membaca surat At-Tīn wa Az-Zaytūn. Aku tidak pernah mendengar seseorang yang suaranya –atau bacaannya– lebih indah daripada beliau.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Boleh memanjangkan bacaan dalam shalat Maghrib dan meringankannya dalam shalat ‘Isyā’, meskipun yang lebih utama adalah kebalikannya.
Kedua: Dianjurkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an, karena hal itu dapat menumbuhkan kekhusyukan dan menghadirkan hati.
Hadist ke Sembilan Puluh Delapan:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ. فَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ، فَيَخْتِمُ بِـ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوَا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فقالَ: سَلُوهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟ فَسَأَلُوهُ فقالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمنِ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَخْبِرُوهُ: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّهُ )) .
Dari ‘Āisyah رضي الله عنها:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengutus seorang laki-laki dalam sebuah ekspedisi kecil (sariyyah). Ia biasa membacakan shalat untuk para sahabatnya, lalu selalu menutup bacaannya dengan Qul Huwa Allāhu Aḥad (surat Al-Ikhlāṣ). Ketika mereka kembali, mereka pun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau bersabda: ‘Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukan hal itu?’ Lalu mereka bertanya kepadanya, ia menjawab: ‘Karena surat itu mengandung sifat Ar-Raḥmān (Allah Yang Maha Pengasih), dan aku senang untuk membacanya.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah Ta‘ālā mencintainya.’”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Keutamaan surat Al-Ikhlāṣ, karena di dalamnya terkandung sifat-sifat Allah yang Mahaindah.
Kedua: Terdapat perbedaan keutamaan pada ayat-ayat Al-Qur’an, sesuai dengan keistimewaan sifat-sifat kesempurnaan Allah Ta‘ālā yang terkandung di dalamnya.
Ketiga: Suatu amal akan semakin besar pahalanya bergantung pada niat baik yang menyertainya. Nabi ﷺ memerintahkan agar ditanyakan tujuan orang tersebut dalam mengulang-ulang surat itu.
Keempat: Barang siapa mencintai sifat-sifat Allah, maka Allah pun akan mencintainya.
Hadist ke Sembilan Puluh Sembilan:
عنْ جابرٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ لِمُعَاذٍ: (( فَلَوْلَا صَلَّيْتَ بـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} ، {وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا} ، {وَاللَّيْلِ إذَا يَغْشَى} ؟ فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الْكَبِيرُ، وَالضَّعِيفُ، وَذُو الْحَاجَةِ )) .
Dari Jābir رضي الله عنه:
Bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Mu‘ādz:
“Kenapa engkau tidak membaca dalam shalat dengan Sabbihis ma rabbikal a‘lā, Wash-shamsi wa ḍuḥāhā, dan Wal-layli idhā yaghshā? Sesungguhnya yang shalat di belakangmu ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai kebutuhan.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bacaan yang sedang/pertengahan dalam shalat adalah surat-surat seperti Al-A‘lā, Asy-Syams, dan Al-Layl serta yang semisalnya.
Kedua: Dianjurkan bagi imam untuk memperhatikan kondisi orang-orang lemah dan orang yang memiliki keperluan, dengan meringankan shalat ketika mereka bermakmum di belakangnya.
Ketiga: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya serta menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh kemudahan dan kelapangan.
Hadist ke Seratus:
عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وأَبَا بكرٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا: كانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاةَ بِـ: {الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} .
Dari Anas bin Mālik رضي الله عنه:
“Sesungguhnya Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar رضي الله عنهما memulai shalat dengan Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.”
وفي روايَةٍ: صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحيم} .
Dan dalam riwayat lain:
“Aku shalat bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsmān, maka aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.”
ولِمسلمٍ: صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعثْمانَ. فكانوا يَسْتَفْتِحُونَ الصَّلاةَ بـ {الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، لَا يَذْكَرُونَ: {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ} في أوَّلِ قِرَاءَةٍ، وَلَا آخِرِهَا )) .
Dalam riwayat Muslim:
“Aku shalat di belakang Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Utsmān, mereka semua memulai shalat dengan Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Mereka tidak menyebutkan Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm baik di awal bacaan maupun di akhirnya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bacaan Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dilakukan secara sirr (pelan), meskipun dalam shalat jahr (yang bacaannya dikeraskan). Dan Hal ini menunjukkan bahwa Basmalah bukan bagian dari surat Al-Fātiḥah, tetapi sebagai pembuka bacaan.
Kembali 18 | IndeX | Lanjut 20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar