خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 19 | IndeX | Lanjut 21
بابُ سجودِ السَّهْوِ
Bab Sujud Sahwi
Hadist ke Seratus Satu:
عنْ محمَّدِ بنِ سِيرِينَ، عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: صَلَّى بِنَا رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَي الْعَشِيِّ -قالَ ابنُ سِيرِينَ: وسمَّاهَا أَبو هُرَيْرَةَ، ولكنْ نَسِيتُ أَنَا- قالَ: فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي المَسْجِدِ، فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كأنَّهُ غَضْبَانُ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرى، وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَخَرَجَت السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ المَسْجدِ، فَقَالُوا: قُصِرَتِ الصَّلاةُ؟ وفي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكلِّمَاهُ -وفي الْقَوْمِ رَجُلٌ في يَدَيْهِ طُولٌ، يُقَالُ لَهُ: ذُو الْيَدَيْنِ- قالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ! أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَتِ الصَّلاةُ؟ قالَ: (( لمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ )) فَقَالَ: (( أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَينِ؟ )) فقَالُوا: نَعَم. فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ، أَو أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَكبَّرَ، ثُمَّ كَبَّرَ وسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ، أَو أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ، فَرُبَّما سَأَلُوهُ، ثُمَّ سَلَّمَ؟ قالَ: فَنُبِّئْتُ: أنْ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قالَ: ثُمَّ سَلَّمَ.
Dari Muhammad bin Sīrīn, dari Abu Hurairah ra. berkata:
"Rasulullah ﷺ pernah shalat bersama salah satu kami waktu sore. Muhammad bin Sīrīn berkata: Abu Hurairah menyebutkan nama shalat itu, tetapi aku (Ibnu Sīrīn) lupa. Rasulullah ﷺ shalat bersama kami dua rakaat, kemudian salam. Lalu beliau berdiri menuju sebatang kayu yang melintang di masjid, lalu beliau bersandar kepadanya seakan-akan beliau sedang marah. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, menyilangkan jari-jarinya. Orang-orang yang cepat (ingin segera keluar) pun pergi melalui pintu-pintu masjid. Mereka berkata: ‘Apakah shalat ini dipendekkan?’
Di antara mereka ada Abu Bakar dan Umar, tetapi keduanya segan untuk berbicara kepada beliau. Di antara jamaah ada seorang laki-laki yang kedua tangannya panjang, dipanggil dengan sebutan Dzul Yadain. Ia berkata: ‘Wahai Rasulullah! Apakah engkau lupa, ataukah shalat memang dipendekkan?’
Beliau menjawab: ‘Aku tidak lupa, dan shalat tidak dipendekkan.’
Beliau bertanya: ‘Benarkah apa yang dikatakan Dzul Yadain?’
Mereka menjawab: ‘Ya.’
Maka beliau pun maju, lalu shalat kembali apa yang kurang, kemudian salam. Setelah itu beliau bertakbir lalu sujud seperti sujud biasa, atau bahkan lebih lama, lalu mengangkat kepalanya seraya bertakbir, kemudian kembali bertakbir dan sujud seperti sujudnya, atau lebih lama, lalu mengangkat kepalanya seraya bertakbir. Kadang mereka bertanya (kepada perawi): ‘Apakah kemudian beliau salam?’ Perawi berkata: Aku diberitahu bahwa Imran bin Husain berkata: ‘Kemudian beliau salam.’
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Salam sebelum menyempurnakan shalat karena lupa atau tidak tahu tidak membatalkan shalat, dan berbicara karena lupa atau tidak tahu di dalam shalat juga tidak membatalkan.
Kedua: Shalat yang kurang rakaatnya dapat dibangun kembali (dilanjutkan) di atas rakaat sebelumnya, meskipun jedanya lama, dan sujud sahwi hanya dilakukan sekali meski sebabnya banyak.
Ketiga: Gerakan orang yang lupa atau tidak tahu, meski banyak dan bukan dari gerakan shalat, tidak membatalkan shalat.
Keempat: Wajib sujud sahwi bagi orang yang lupa dalam shalat dengan menambah atau mengurangi bagian darinya.
Kelima: Lupa yang terjadi pada imam juga berlaku untuk makmum yang mengikutinya.
Keenam: Sujud sahwi dilakukan setelah salam, dan boleh juga dilakukan sebelum salam.
Hadist ke Seratus Dua:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ بُحَيْنَةَ -وكانَ مِنْ أصحابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِم الظُّهْرَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوليَيْنِ، وَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، حتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاةَ، وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ، كَبَّرَ- وَهُوَ جَالِسٌ- فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ سَلَّمَ.
Dari Abdullah bin Buhainah – ia adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ – bahwa Nabi ﷺ pernah shalat zhuhur bersama mereka. Pada dua rakaat pertama beliau berdiri (menuju rakaat ketiga) dan tidak duduk (untuk tasyahhud awal). Maka orang-orang pun berdiri bersama beliau.
Ketika beliau telah menyelesaikan shalat dan orang-orang menunggu salam beliau, maka beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, kemudian barulah beliau salam.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib melakukan sujud sahwi apabila terjadi kekurangan dalam shalat.
Kedua: Tasyahhud awal bukan termasuk rukun shalat, karena ia bisa diganti dengan sujud sahwi.
Ketiga: Pentingnya mengikuti imam, para sahabat tetap berdiri bersama Nabi ﷺ meskipun mereka tahu ada tasyahhud awal, dan Nabi ﷺ membenarkan mereka. Maka, kesalahan imam berlaku pula bagi makmum.
Keempat: Sujud sahwi pada kondisi seperti ini dilakukan sebelum salam, namun boleh juga dilakukan setelahnya. Dan tidak ada tasyahhud setelah sujud sahwi, tetapi langsung diakhiri dengan salam.
بابُ المُرُورِ بينَ يَدَي المُصَلِّي
Bab: Larangan Melintas di Depan Orang yang Sedang Shalat
Hadist ke Seratus Tiga:
عنْ أبِي جُهَيمٍ- عبدِ اللَّهِ بنِ الحارثِ بنِ الصِّمَّةِ- الأنصاريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( لوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَي المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِن الإِثْمِ؟ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ )) .
Dari Abu Juhaiym –‘Abdullah bin Harist bin Shimmah al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma– ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya orang yang melintas di depan orang yang sedang shalat tahu dosa (besar) yang menimpanya, niscaya ia berdiri (menunggu) selama empat puluh (waktu), itu lebih baik baginya daripada melintas di depannya.”
قالَ أبو النَّضْرِ: لَا أَدْرِي؟ قَالَ: (( أَرْبَعِينَ يَوْمًا، أوْ شَهْرًا، أوْ سَنَةً )) .
Abu Nadher berkata: “Aku tidak tahu, apakah beliau bersabda: empat puluh hari, atau empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Haram hukumnya melintas di depan orang yang sedang shalat bila ia tidak memiliki sutrah (pembatas), atau melintas di antara dia dan sutrahnya bila ia memiliki sutrah.
Kedua: Hendaknya orang yang shalat memilih tempat yang jauh dari jalur orang-orang lewat atau tempat yang pasti dilalui orang.
Ketiga: Perawi ragu tentang maksud “empat puluh”: apakah hari, bulan, atau tahun. Namun bukan jumlahnya yang dimaksud untuk dibatasi, melainkan sekadar penekanan betapa kerasnya larangan ini.
Hadist ke Seratus Empat:
عنْ أبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، قالَ: سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ: (( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيءٍ يَسْتُرُهُ مِن النَّاسِ، فأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ )) .
Dari Abu Sa‘id al-Khudri ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang dapat menjadi penghalang (sitrah) dari orang-orang, lalu ada seseorang yang ingin lewat di hadapannya, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika ia enggan (berhenti), maka lawanlah dia, karena sesungguhnya dia itu adalah setan.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disunnahkan menggunakan sitrah bagi orang yang shalat, dan hendaknya ia mendekat kepadanya, agar shalatnya terjaga dari kekurangan.
Kedua: Haram hukumnya melewati antara orang yang sedang shalat dan sitrahnya, karena perbuatan tersebut termasuk perbuatan setan.
Hadist ke Seratus Lima:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارِ أَتَانٍ -وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الاحْتِلَامَ -ورَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ، فَنَزَلْتُ فأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ، وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ )) .
Dari Abdullah bin ‘Abbas ra. ia berkata:
“Aku datang mengendarai seekor keledai betina, dan pada hari itu aku hampir mencapai usia baligh. Rasulullah ﷺ sedang shalat mengimami manusia di Mina tanpa ada dinding di hadapannya. Lalu aku melewati sebagian saf, kemudian aku turun dari keledai itu, melepaskannya agar ia bisa makan rumput, lalu aku masuk ke dalam saf, dan tidak seorang pun mengingkari perbuatanku itu.”
Kosakata:
Lafadz [الأتان] : keledai betina.
Lafadz [ناهزت الحلم] : hampir mencapai usia baligh.
Lafadz [ترتع] : merumput.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Lewatnya keledai di hadapan orang yang shalat tidak membatalkan shalat. Bahkan ada hadist riwayat Muslim: “Tidak ada sesuatu pun yang memutuskan shalat seseorang.”
Kedua: Imam Bukhari menjadikan hadis ini sebagai dalil dengan judul: “Sitrah imam adalah sitrah bagi
Hadist ke Seratus Enam:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِه، فإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ، وَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا، وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ )) .
Dari ‘Aisyah ra. ia berkata:
“Aku biasa tidur di hadapan Rasulullah ﷺ, sementara kedua kakiku berada di arah kiblat beliau. Apabila beliau hendak sujud, beliau menyentuhku lalu aku pun menekuk kakiku, dan apabila beliau bangkit aku meluruskannya kembali. Pada waktu itu rumah-rumah belum ada lampunya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Boleh ada orang tidur — sekalipun seorang wanita — di hadapan orang yang sedang shalat apabila ada kebutuhan, seperti karena sempitnya tempat.
Kedua: Menyentuh wanita tanpa penghalang tidak membatalkan wudhu, karena Nabi ﷺ menyentuh ‘Aisyah namun tidak membatalkan shalatnya. Akan tetapi, jika sentuhan disertai syahwat maka wudhu menjadi batal.
Ketiga: Gerakan kecil seperti ini dalam shalat tidak merusak shalat jika dilakukan karena kebutuhan.
Kembali 19 | IndeX | Lanjut 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar