Kamis, 14 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 11 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 10 | IndeX | Lanjut 12

 

 

Bab Mengqadha Shalat yang Terlewat dan Mengurutnya (membayar)

 

 

Hadis ke Lima Puluh Empat:

عنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ عُمَرَ بنَ الخطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ جَاءَ يَوْمَ الخَنْدَقِ، بَعْدَ مَا غَرَبَت الشَّمْسُ. فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ، وَقَالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حتَّى كَادَتِ الشَّمْسُ تَغْرُبُ. فقالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( واللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا )) قالَ: فَقُمْنَا إلى بُطْحَانَ، فَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ، وَتَوَضَّأْنَا لَهَا، فَصَلَّى الْعَصْرَ، بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا المَغْرِبَ )) .

Dari Jābir bin ʿAbdullāh raḍiyallāhu ʿanhu, bahwa ʿUmar bin Khaṭṭāb raḍiyallāhu ʿanhu datang pada hari Perang Khandaq setelah matahari terbenam. Ia terus mencela orang-orang kafir Quraisy dan berkata:

“Wahai Rasulullah, hampir saja aku tidak sempat shalat Ashar hingga matahari hampir terbenam.”

Maka Nabi ﷺ bersabda: “Demi Allah, aku pun belum shalat Ashar.”

ʿUmar berkata: “Lalu kami berdiri menuju (tempat) Bathḥān, beliau berwudu untuk shalat, dan kami pun berwudu untuknya. Kemudian beliau shalat Ashar setelah matahari terbenam, lalu shalat Maghrib setelahnya.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Wajib mengqadha shalat-shalat fardhu (wajib) yang terlewat dan wajib menyusunnya sesuai urutan.

Pada kejadian ini, shalat diakhirkan dari waktunya karena saat itu belum disyariatkan shalat khauf (khawatir/bahaya).

  

 

Bab Keutamaan Shalat Jumat dan Kewajibannya

  

Hadis ke Lima Puluh Lima:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً )) .

Dari ʿAbdullāh bin ʿUmar raḍiyallāhu ʿanhumā, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh tujuh derajat.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Hadis ini menjelaskan keutamaan shalat berjamaah dan bahwa shalat sendirian tetap sah.

Kedua: Hadis ini menunjukkan sedikitnya pahala shalat sendirian dibandingkan dengan shalat berjamaah.

 

 

Hadis ke Lima Puluh Enam:

عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا. وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ -لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ- لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فِإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَل المَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلَا يَزَالُ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ )) .

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ʿanhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan pahalanya dibandingkan shalat di dalam rumahnya atau didalam pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Hal itu karena apabila ia berwudhu lalu memperbagus wudhunya, kemudian keluar menuju masjid – dan yang mendorongnya keluar hanyalah shalat – maka setiap langkah yang ia ayunkan akan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Apabila ia telah shalat, para malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya, ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan ia tetap dianggap dalam keadaan shalat selama ia menunggu shalat.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Keutamaan shalat berjamaah di masjid dan berkurangnya pahala shalat sendirian.

Kedua: Shalat berjamaah bukan syarat sahnya shalat, sehingga shalat sendirian tetap sah.

Ketiga: Keutamaan dan pahala yang disebutkan dalam hadis ini bergantung pada memperbagus wudhu, menuju masjid dengan niat yang ikhlas untuk shalat, dan menunggu shalat berikutnya.

 

  

Hadis ke Lima Puluh Tujuh:

وعنه قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى المُنَافِقِينَ: صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ. وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهمَا لأَتَوْهُمَا ولوْ حَبْوًا. وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ، فَتُقَامَ. ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيوتَهُمْ بالنَّارِ )) .

Dan dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ʿanhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Sungguh aku pernah berniat untuk memerintahkan shalat ditegakkan, lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi bersama beberapa orang laki-laki membawa ikatan-ikatan kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak menghadiri shalat (berjamaah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki, sehingga siapa yang meninggalkannya berdosa.

Kedua: Keutamaan shalat Isya dan shalat Subuh.

Ketiga: Siapa yang beribadah dengan tujuan riya’ maka ia termasuk orang munafik.

 

Kembali 10 | IndeX | Lanjut 12

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar