خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
بابُ الحَيْضِ
Bab tentang Haid
Hadis ke Tiga Puluh Sembilan:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، أَنَّ فاطمةَ بِنْتَ أبِي حُبَيْشٍ سألَت النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقالَتْ: إنِّي أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلاةَ؟ فقالَ: (( لَا. إِنَّ ذلِكِ عِرْقٌ، ولَكَنْ دَعِي الصَّلاةَ قَدْرَ الأَيَّامِ التي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي )) .
Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā, bahwa Fathimah binti Abī Hubaisy pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, lalu ia berkata:
“Sesungguhnya aku mengalami istihādah (keluar darah terus-menerus), dan aku tidak suci (darinya). Apakah aku harus meninggalkan shalat?”
Beliau ﷺ menjawab: “Tidak. Itu hanyalah darah dari pembuluh darah. Namun, tinggalkanlah shalat selama jumlah hari yang biasa kamu alami haid, kemudian mandilah dan shalatlah.”
وفي روايَةٍ: (( وَلَيْسَ بالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَت الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي ))
Dan dalam riwayat lain:
“Itu bukanlah haid. Maka apabila datang waktu haidmu, tinggalkanlah shalat. Dan apabila telah berlalu (selesai) masa haidmu, maka bersihkanlah darah itu darimu dan shalatlah.”
Hadis ke Empat Puluh:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، أنَّ أمَّ حَبيبةَ اسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ. فَسَأَلَتْ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ؟ فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ، فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكلِّ صَلَاةٍ.
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, bahwa Ummu Habibah mengalami istihādah selama tujuh tahun. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hal itu. Maka beliau memerintahkannya untuk mandi, sehingga ia pun mandi untuk setiap salat.
#. Istihādah adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita di luar waktu haid (darah karena penyakit). Dalam hadis ini, Ummu Habibah tetap shalat dengan mandi setiap kali shalat sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti arahan Nabi ﷺ.
Kosakata:
Lafal [ذَلِكِ] dengan kasrah pada huruf kāf: ditujukan sebagai khithāb (sapaan) untuk wanita yang bertanya.
Lafal [عِرْقٌ] "irqun" : maksudnya urat darah yang pecah atau memancar (yakni darah istihādah berasal dari pecahnya pembuluh darah).
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bahwa darah istihādah bersifat terus-menerus, sedangkan darah haid memiliki waktu tertentu.
Kedua: Bahwa darah istihādah tidak menghalangi shalat dan ibadah-ibadah lainnya, berbeda dengan darah haid.
Ketiga: Bahwa wanita yang mengalami istihādah dan masih dapat membedakan kadar waktu kebiasaan haidnya, maka ia duduk (tidak shalat) selama masa haidnya itu. Setelah masa itu selesai, ia mandi dan melakukan ibadah-ibadah seperti biasa.
Keempat: Bahwa tidak wajib bagi wanita yang istihādah untuk mandi setiap kali hendak shalat.
Hadis ke Empat Puluh Satu:
وعنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلَانَا جُنُبٌ.
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Aku pernah mandi bersama Rasulullah ﷺ dari satu wadah air, kami berdua dalam keadaan junub."
وَكَانَ يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ.
"Dan beliau memerintahkanku untuk memakai kain penutup, lalu beliau menyentuhku sementara aku sedang haid."
وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ. فأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ.
"Dan beliau mengeluarkan kepalanya kepadaku ketika beliau sedang i‘tikaf, lalu aku mencucinya (rambut beliau) sementara aku sedang haid."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bolehnya menyentuh dan menikmati wanita haid selama tidak pada bagian kemaluannya (farji).
Kedua: Diperbolehkan bagi wanita haid untuk melakukan pekerjaan seperti mencuci rambut dan merawatnya.
Ketiga: Diperbolehkannya dua orang yang sedang junub mandi dari satu wadah air yang sama.
Hadis ke Empat Puluh Dua:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَّكِئُ في حِجْري، وَأَنَا حائِضٌ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ.
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ biasa bersandar di pangkuanku sementara aku sedang haid, lalu beliau membaca Al-Qur’an."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bolehnya membaca Al-Qur’an di pangkuan wanita yang sedang haid.
Kedua: Haram bagi wanita haid membaca Al-Qur’an.
#. Pada poin kedua menjelaskan bahwa wanita haid sendiri tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an—menurut sebagian ulama. Namun, masalah ini diperselisihkan oleh para ulama; sebagian membolehkan dengan syarat tertentu khususnya untuk berdo'a dan penghafal Al-Qur'an.
Hadis ke Empat Puluh Tiga:
عنْ مُعاذةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: سألتُ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، فقلتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فقالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ فقلتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ. فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ. وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضاءِ الصَّلَاةِ.
Dari Mu‘ādah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā: 'Mengapa wanita haid harus mengqadha (membayar) puasa, tetapi tidak mengqadha shalat?' Maka ‘Aisyah berkata: 'Apakah engkau seorang Harūriyyah?' Aku menjawab: 'Bukan, aku hanya bertanya.' Lalu ia berkata: 'Kami dahulu (para wanita di masa Nabi ﷺ) mengalami haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan untuk mengqadha salat.'"
#. Lafadz [تَقْضِي] "taqdhi" : mengqadha berarti menunaikan/membayar (hutang atau kewajiban) ibadah yang sebelumnya tertinggal karena uzur.
Kosakata:
Lafal [أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟] : Artinya: "Apakah engkau seorang Harūriyyah?"
→ Dinisbatkan kepada Harūrā’, sebuah daerah di Irak, tempat munculnya kelompok Khawarij yang ekstrem dan keras dalam urusan agama.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bahwa wanita haid wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya, tetapi tidak wajib mengqadha salat.
Kedua: Ditegurnya orang yang bertanya soal ilmu dengan cara yang bersifat perdebatan atau menyulitkan, bukan untuk mencari manfaat atau kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar