Rabu, 20 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 13 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 12 | IndeX | Lanjut 14

 

 

بابُ استقبالِ القبلةِ

Bab Menghadap Kiblat

 

Hadist ke Enam Puluh Lima:

عن عبد اللهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ، حَيْثُ كانَ وَجْهُهُ، يُوْمِئُ بِرَأْسِهِ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa Rasulullah ﷺ biasa bertasbih (shalat sunnah) di atas punggung tunggangannya, ke arah mana pun wajahnya menghadap. Beliau memberi isyarat dengan kepalanya. Dan Ibnu Umar juga melakukan hal itu.

وفي روايَةٍ، كانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ.

Dan didalam riwayatnya: Beliau juga berwitir di atas untanya.

ولِمسلمٍ: غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْها الْمَكْتُوبَةَ.

Dan pada riwayat Muslim: Hanya saja beliau tidak melaksanakan shalat fardhu (wajib) di atasnya.

وللبخاريِّ: إِلَّا الْفَرَائِضَ.

Dan pada riwayat al-Bukhari: Kecuali shalat fardhu (wajib). 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Boleh melaksanakan shalat sunnah dalam perjalanan di atas kendaraan, berbeda dengan shalat fardhu yang tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat, seperti lari dari musuh atau banjir.

Kedua: Isyarat (gerakan kepala atau badan) bisa menggantikan rukuk dan sujud, dan arah shalat orang yang di atas kendaraan adalah arah tujuan perjalanannya, tidak wajib menghadap kiblat.

 

 

Hadist ke Enam Puluh Enam:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ، فقالَ: إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهَ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ، وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ، فَاسْتَقْبِلُوهَا، وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ، فَاسْتَدَارُوا إلى الكَعْبَةِ.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Ketika orang-orang berada di Quba sedang melaksanakan shalat Subuh, tiba-tiba datang seseorang lalu berkata:

“Sesungguhnya Nabi ﷺ tadi malam telah diturunkan Al-Qur’an kepadanya, dan beliau diperintahkan agar menghadap ke kiblat. Maka menghadaplah kalian ke arah kiblat.”

Saat itu wajah mereka sedang menghadap ke arah Syam, lalu mereka pun berbalik arah menghadap ke Ka’bah.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Kiblat pada awal hijrah adalah Baitul Maqdis, kemudian dipalingkan ke Ka’bah dan menetap di sana.

Kedua: Barang siapa shalat menghadap suatu arah, lalu ternyata salah ketika sedang shalat, maka ia berputar menghadap kiblat tanpa membatalkan shalatnya. Jika ia baru mengetahui setelah selesai shalat, maka shalatnya tetap sah selama sebelumnya ia sudah berusaha mencari arah kiblat.

Ketiga: Melakukan gerakan dalam shalat tidak merusaknya, meskipun banyak, apabila dilakukan untuk kepentingan shalat itu sendiri.

 

 

Hadist ke Enam Puluh Tujuh:

عنْ أنسِ بنِ سِيرِينَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: اسْتَقْبَلْنَا أَنَسًا حِينَ قَدِمَ مِن الشَّامِ، فَلَقِينَاهُ بِعَيْنِ التَّمْرِ، فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حِمَارٍ، وَوَجْهُهُ مِنْ ذَا الجَانِبِ- يعني: عنْ يَسَارِ القِبْلَةِ - فَقُلْتُ: رَأَيْتُكَ تُصَلِّي لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ؟ فقالَ: لَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ لَمْ أَفْعَلْهُ.

Dari Anas bin Sirin radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Kami menyambut Anas (bin Malik) ketika beliau datang dari Syam, lalu kami bertemu dengannya di daerah ‘Ain at-Tamr. Saat itu aku melihat beliau shalat di atas seekor keledai, dan wajahnya agak ke samping – maksudnya ke arah kiri dari kiblat.

Maka aku berkata: “Aku melihat engkau shalat tidak menghadap kiblat?”

Beliau menjawab: “Seandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melakukannya, niscaya aku tidak akan melakukannya.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Bolehnya melaksanakan shalat sunnah di atas kendaraan, dan kiblat orang yang shalat di atas kendaraan adalah arah yang ditujunya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. 

 

 

بابُ الصفوفِ

Bab: Shaf-shaf Shalat

 

Hadist ke Enam Puluh Delapan:

عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( سَوُّوا صُفُوفَكُمْ؛ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ )) .

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk bagian dari kesempurnaan shalat.”

Pelajaran yang dapat diambil hadist:

Pertama: Disyariatkan meluruskan shaf dalam shalat, dan itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat.

Kedua: Dimakruhkan bengkoknya shaf, karena hal itu mengurangi kesempurnaan shalat.

 

 

Hadist ke Enam Puluh Sembilan:

عن النُّعْمَانِ بنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، قالَ: سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ: (( لَتُسَوُّنَ صُفُوفَكُمْ، أَو لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وَجُوهِكُمْ )) .

Dari an-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh, kalian benar-benar akan meluruskan shaf-shaf kalian, atau Allah akan menyelisihkan wajah-wajah kalian.”

ولِمسلمٍ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا، حتَّى كأنَّمَا يُسَوِّي بِهْا القِدَاحَ، حتَّى رَأَى أَنْ قَدَ عَقَلْنَا عَنْهُ، ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا، فَقَامَ حتَّى كادَ أَنْ يُكَبِّرَ، فَرَأَى رَجُلًا بَادِيًا صَدْرُهُ فقالَ: (( عِبَادَ اللَّهِ، لتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَو لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وَجُوهِكُمْ )) .

Dan pada riwayat Muslim disebutkan:

Rasulullah ﷺ biasa meluruskan shaf kami, seakan-akan beliau meluruskannya seperti meluruskan batang panah, hingga beliau melihat bahwa kami telah benar-benar memahaminya.

Kemudian pada suatu hari beliau keluar (untuk shalat), lalu berdiri hampir hendak bertakbir, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki yang dadanya agak menonjol ke depan, maka beliau bersabda:

“Wahai hamba-hamba Allah, sungguh kalian akan benar-benar meluruskan shaf-shaf kalian, atau Allah akan menyelisihkan wajah-wajah kalian.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang melengkungkan shaf, dan menunjukkan murka Nabi ﷺ terhadap ketidakteraturan shaf.

Kedua: Balasan bagi orang yang menyelisihi aturan sejenis dengan perbuatannya, di mana Rasulullah ﷺ mengancam mereka yang membuat shaf tidak lurus dengan ancaman akan diselisihkan wajah-wajah mereka.

 

 

Hadist ke Tujuh Puluh:

عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ، فَأَكَلَ منْهُ. ثُمَّ قالَ: (( قُومُوا فَلْأُصَلِّ لَكُمْ )) ، قالَ أنسٌ: فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ، فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَفَفْتُ أَنَا وَاليَتِيمُ وَرَاءَهُ، وَالعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا، فَصَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah ﷺ untuk makan makanan yang telah ia buat. Maka beliau pun memakannya.

Kemudian beliau bersabda:

“Bangunlah, agar aku shalat untuk kalian.”

Anas berkata: Maka aku berdiri menuju sehelai tikar milik kami yang telah menghitam karena lama dipakai, lalu aku memercikinya dengan air. Maka Rasulullah ﷺ berdiri di atasnya, dan aku serta seorang anak yatim berbaris di belakang beliau, sedangkan perempuan tua (nenek Anas) berada di belakang kami.

Lalu beliau shalat bersama kami dua rakaat, kemudian beliau pergi.

ولِمسلمٍ: (( أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ , فأَقَامَني عَنْ يَمِينِهِ، وَأَقَامَ المَرْأَةَ خَلْفَنَا )) .

Dan pada riwayat Muslim:

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ salat bersamaku dan ibuku. Maka beliau mendirikanku di sebelah kanannya, dan mendirikan perempuan di belakang kami.”

#. Anak yatim yang dimaksud ada yang mengatakan bernama Dhumairah, kakek dari Husain bin Abdullah bin Dhumairah.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Posisi terbaik makmum adalah berada di belakang imam.

Kedua: Posisi shalat wanita adalah membuat satu shaf; jika lebih dari satu orang maka mereka berbaris sebagaimana laki-laki.

الثَّالِثَةُ: جَوَازُ الجماعةِ في النوافلِ المُطْلَقَةِ والمُقَيَّدَةِ ما لم تَكُنْ عادةً دائمةً، فلا يُشْرَعُ.

Ketiga: Dibolehkannya shalat berjamaah pada shalat sunnah, baik yang mutlak maupun yang muqayyad (keadaan tertentu), selama tidak dijadikan kebiasaan tetap.

Keempat: Disunnahkan memenuhi undangan terutama jika di dalamnya ada maslahat untuk melunakkan hati orang yang mengundang.



Hadist ke Tujuh Puluh Satu:

وعن ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِن اللَّيْلِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فأَخَذَ بِرَأْسِي، فأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah. Nabi ﷺ bangun untuk shalat malam, lalu aku berdiri di sebelah kirinya. Maka beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanannya.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: yang lebih utama bagi makmum yang sendirian adalah berdiri di sebelah kanan imam. Jika ia berdiri di sebelah kirinya, shalatnya tetap sah, karena Nabi ﷺ tidak membatalkan shalat Ibnu ‘Abbās.

Kedua: bahwa amalan yang disyariatkan dalam shalat tidak merusaknya, meskipun bukan dari jenis shalat itu sendiri.

Ketiga: sahnya shalat anak kecil yang belum baligh bersama orang yang baligh.

Keempat: tidak disyaratkan untuk sahnya shalat berjamaah bahwa imam harus berniat sebagai imam sebelum masuk shalat.

 

Kembali 12 | IndeX | Lanjut 14

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar