Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 19 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 21
Isra' dan Mi'raj
Yang dimaksud dengan Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari Makkah al-Mukarramah ke Baitul Maqdis. Sedangkan yang dimaksud dengan Mi'raj adalah kenaikan beliau ﷺ ke alam atas (langit), yang terjadi dengan jasad beliau yang mulia dan ruh beliau yang suci.
Peristiwa Isra' disebutkan dalam Al-Qur’an melalui firman Allah Ta'ala:
في قوله تعالى : ﴿ سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾ [الإسراء : ١]
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra’: 1)
Adapun Mi'raj, sebagian ulama mengatakan bahwa ia disebutkan dalam Surah An-Najm, dari ayat ke-7 hingga ayat ke-18. Namun ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut bukanlah peristiwa Mi'raj.
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj. Sebagian mengatakan bahwa itu terjadi pada tahun Nabi ﷺ diangkat menjadi rasul. Ada pula yang mengatakan terjadi pada tahun kelima kenabian. Pendapat lain menyebutkan bahwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ada juga yang menyatakan tanggal 17 Ramadan tahun kedua belas kenabian. Pendapat lainnya menyebutkan bulan Muharram, dan ada yang mengatakan tanggal 17 Rabiul Awwal tahun keempat belas kenabian.
Adapun rincian kisahnya, maka berdasarkan ringkasan riwayat-riwayat yang shahih: Jibril 'alaihis salam datang dengan membawa Buraq — yaitu seekor hewan tunggangan yang ukurannya lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal (peranakan keledai dan kuda), yang menjejakkan kakinya sejauh mata memandang. Saat itu Nabi ﷺ berada di Masjidil Haram. Nabi ﷺ menaiki Buraq bersama Jibril hingga sampai di Baitul Maqdis, lalu beliau ﷺ mengikat Buraq pada cincin tempat para nabi biasa mengikat tunggangan mereka. Kemudian beliau masuk ke dalam masjid dan shalat dua rakaat, menjadi imam bagi para nabi.
Setelah itu, Jibril membawakan kepadanya sebuah bejana berisi khamr (arak) dan bejana lain berisi susu. Nabi ﷺ memilih susu, lalu Jibril berkata: "Engkau telah memilih fitrah. Engkau telah mendapat petunjuk dan umatmu juga akan mendapat petunjuk. Ketahuilah, seandainya engkau memilih khamr, niscaya umatmu akan tersesat."
Kemudian Nabi ﷺ naik dari Baitul Maqdis ke langit dunia. Jibril memintakan izin agar dibukakan pintu langit, lalu dibukakan untuk mereka. Di sana Nabi ﷺ melihat Adam, bapak seluruh manusia. Nabi ﷺ memberi salam kepadanya, dan Adam menjawab salam, menyambut Nabi ﷺ dengan hangat, serta mengakui kenabiannya. Di sebelah kanannya terdapat bayangan-bayangan (makhluk) — jika ia melihat ke arah mereka, ia tersenyum; mereka adalah ruh-ruh orang-orang yang berbahagia. Dan di sebelah kirinya juga terdapat bayangan-bayangan — jika ia melihat ke arah mereka, ia menangis; mereka adalah ruh-ruh orang-orang yang celaka.
Kemudian beliau naik ke langit kedua. Jibril meminta izin dan dibukakan untuk mereka. Di sana beliau ﷺ bertemu dengan dua orang sepupu, yaitu Yahya bin Zakariya dan Isa bin Maryam — 'alaihimassalam. Nabi ﷺ memberi salam kepada mereka, dan mereka menjawab salam, menyambut beliau dengan ramah, serta mengakui kenabiannya.
Lalu beliau naik ke langit ketiga. Di sana beliau ﷺ melihat Yusuf — 'alaihis salam — yang telah dianugerahi separuh dari seluruh keindahan (rupa). Nabi ﷺ memberi salam kepadanya, dan Yusuf membalas salam, menyambut beliau, serta mengakui kenabiannya.
Kemudian Nabi ﷺ naik ke langit keempat. Di sana beliau melihat Nabi Idris –‘alaihis salam–. Nabi ﷺ memberi salam kepadanya, lalu beliau menjawab salam, menyambutnya dengan ramah, dan mengakui kenabiannya.
Lalu Nabi ﷺ naik ke langit kelima, dan di sana beliau melihat Nabi Harun bin ‘Imran –‘alaihis salam–. Nabi ﷺ memberi salam kepadanya, dan Harun membalas salam, menyambutnya dengan hangat, serta mengakui kenabiannya.
Kemudian Nabi ﷺ naik ke langit keenam, dan beliau bertemu dengan Nabi Musa bin ‘Imran –‘alaihis salam–. Nabi ﷺ memberi salam, dan Musa menjawab salamnya, menyambutnya dengan baik, dan mengakui kenabiannya. Namun, setelah Nabi ﷺ melanjutkan perjalanan melewatinya, Musa menangis.
Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
Ia menjawab, “Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus setelahku, yang jumlah pengikutnya yang masuk surga lebih banyak daripada dari umatku.”
Kemudian Nabi ﷺ naik ke langit ketujuh. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim –‘alaihis salam–. Nabi ﷺ memberi salam kepadanya, lalu Ibrahim menjawab salam, menyambutnya dengan hangat, dan mengakui kenabiannya. Saat itu, Ibrahim bersandar pada Baitul Ma’mur — yaitu sebuah rumah (tempat ibadah) yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, dan mereka tidak kembali lagi ke sana (karena setiap hari digantikan oleh malaikat yang baru).
Lalu Nabi ﷺ diangkat ke Sidratul Muntaha (pohon tertinggi di ujung langit). Daun-daunnya seperti telinga gajah, dan buah-buahnya seperti kendi-kendi besar. Kemudian pohon itu diselimuti oleh kupu-kupu emas, dan diliputi oleh sesuatu dari urusan Allah yang begitu agung hingga keadaannya berubah, sehingga tidak ada satu pun makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena luar biasa indahnya.
Kemudian Nabi ﷺ naik untuk bertemu dengan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Agung. Maka beliau pun mendekat kepada-Nya, hingga jaraknya hanya dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Lalu Allah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan atas beliau dan umatnya lima puluh kali shalat dalam sehari semalam.
Kemudian Nabi ﷺ kembali, hingga beliau melewati Nabi Musa. Maka Musa bertanya, “Apa yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu?”
Beliau menjawab, “Lima puluh kali shalat.”
Musa berkata, “Umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.”
Maka Nabi ﷺ memandang kepada Jibril, dan Jibril memberi isyarat, “Ya, jika engkau mau.”
Lalu Nabi ﷺ kembali kepada Allah, dan Allah mengurangi sepuluh shalat. Ketika beliau kembali dan bertemu Musa, Musa kembali bertanya, dan Nabi ﷺ memberitahunya. Musa pun menyarankan kembali untuk meminta keringanan. Maka Nabi ﷺ terus bolak-balik antara Musa dan Allah ‘Azza wa Jalla, hingga akhirnya shalat tersebut dijadikan lima kali saja.
Kemudian beliau kembali melewati Musa. Musa masih menyarankan agar kembali lagi dan meminta keringanan. Namun Nabi ﷺ berkata:
“Sungguh, aku telah merasa malu kepada Tuhanku. Aku ridha dan menerima.”
Maka ketika beliau menjauh, terdengar seruan:
“Telah Aku tetapkan kewajiban-Ku dan Aku telah meringankan atas hamba-hamba-Ku. Ia tetap lima (shalat), tetapi pahalanya sama dengan lima puluh. Ketetapan-Ku tidak akan diubah.”
Kemudian Nabi ﷺ kembali ke Makkah pada malam itu juga. Ketika pagi datang, beliau memberitahu kaumnya tentang apa yang telah Allah perlihatkan kepadanya dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang agung. Maka penolakan mereka semakin menjadi-jadi, mereka menyakitinya dan meremehkannya lebih parah dari sebelumnya. Ada yang menepuk-nepuk tangannya (sebagai tanda mengejek), ada yang meletakkan tangannya di atas kepala karena takjub dan mengingkari, bahkan sebagian orang langsung bergegas menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan menceritakan kabar tersebut.
Mereka berkata, “Apakah kamu mempercayainya dalam hal ini?”
Abu Bakar menjawab:
“Jika dia (Muhammad) mengatakan demikian, maka dia benar.”
Mereka berkata, “Apakah kamu membenarkannya dalam hal seperti itu?”
Ia menjawab:
“Aku membenarkannya dalam perkara yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya dalam berita dari langit yang datang di pagi atau sore hari.”
Maka sejak saat itu Abu Bakar diberi gelar “Ash-Shiddiq” (yang membenarkan).
Orang-orang kafir pun berdiri untuk menguji Nabi ﷺ. Mereka meminta beliau agar menggambarkan Baitul Maqdis kepada mereka. Padahal sebelumnya beliau belum pernah melihatnya secara langsung. Maka Allah pun menampakkannya dengan jelas di hadapan beliau, hingga beliau dapat melihatnya langsung. Lalu beliau mulai menjelaskan kepada mereka tanda-tandanya, menggambarkannya pintu demi pintu, tempat demi tempat. Mereka tidak mampu membantahnya, bahkan mereka berkata, “Adapun gambaran itu, demi Allah, sungguh dia benar.”
Mereka juga bertanya kepadanya tentang kafilah dagang mereka yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syam (Suriah). Nabi ﷺ memberitahu mereka jumlah unta yang dibawa, keadaan rombongan, waktu kedatangan mereka, dan tentang unta yang berada di depan rombongan. Dan semuanya terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan. Namun orang-orang zalim tetap enggan beriman kecuali dalam kekafiran.
Pada pagi hari setelah peristiwa Isra', malaikat Jibril datang dan mengajarkan kepada Rasulullah ﷺ tata cara pelaksanaan shalat lima waktu dan waktu-waktunya. Sebelumnya, shalat yang diwajibkan hanyalah dua rakaat di waktu pagi dan dua rakaat di waktu malam.
Kembali ke bagian 19 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar