Jumat, 16 Mei 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 6

  TARIKH KHULAFA


Kembali 5IndeX | Lanjut 7

 

فصل

في علمه، وأنه أعلم الصحابة، وأذكاهم

Bab : Tentang keilmuannya, bahwa dia adalah sahabat Nabi yang paling berilmu dan paling cerdas


Imam an-Nawawi berkata dalam Tahdzib-nya — dan aku menyalinnya dari tulisannya: Para ulama kami berdalil tentang keluasan ilmu Abu Bakar dengan sabdanya — semoga Allah meridainya — dalam hadis yang sahih yang terdapat dalam Shahihain: “Demi Allah, aku benar-benar akan memerangi siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, seandainya mereka menahan tali unta (zakat) yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… sungguh aku akan memerangi mereka karena menahannya.


Dan Syaikh Abu Ishaq juga berdalil dengan hadis ini dan selainnya dalam Thabaqat-nya, bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling berilmu, karena seluruh sahabat ketika itu terdiam dan tidak memahami hikmah dalam masalah ini kecuali Abu Bakar. Lalu setelah bermusyawarah dan diskusi, akhirnya mereka menyadari bahwa pendapat Abu Bakar adalah yang benar, maka mereka pun kembali kepada pendapatnya.


Dan telah kami riwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau ditanya: Siapakah yang biasa memberikan fatwa kepada manusia di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Maka beliau menjawab:

Abu Bakar dan Umar — semoga Allah meridai keduanya — aku tidak mengetahui selain mereka berdua.


Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan manusia dan bersabda:

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah.

Maka Abu Bakar pun menangis dan berkata: "Bahkan kami menebusmu dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami.

Kami pun heran melihat tangisnya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan.

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lah hamba yang dimaksud itu, dan Abu Bakar adalah orang yang paling paham di antara kami.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (sahabat karib) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan dalam Islam dan kecintaannya. Tidaklah tersisa pintu (yang menghadap ke masjid) kecuali akan ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.

Ini adalah perkataan Imam An-Nawawi.


Dan Ibnu Katsir berkata:

Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur'an — maksudnya paling memahami maknanya — karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengangkatnya menjadi imam shalat bagi para sahabat, sementara beliau bersabda: 'Yang paling berhak menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling pandai membaca Kitabullah di antara mereka.'


Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Tidak sepantasnya bagi suatu kaum yang di antara mereka ada Abu Bakar, lalu yang menjadi imam bukan dia."


Dan meskipun demikian, beliau (Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu) adalah orang yang paling berilmu tentang sunnah di antara mereka. Para sahabat seringkali merujuk kepadanya dalam berbagai permasalahan yang di dalamnya beliau tampil menyampaikan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hanya beliau yang menghafalnya dan mengingatnya ketika dibutuhkan, sementara yang lain tidak memilikinya. Bagaimana mungkin tidak demikian, sementara beliau telah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak awal kenabian hingga wafatnya? Dan di samping itu, beliau adalah salah seorang hamba Allah yang paling cerdas dan paling bijaksana.


Hanya saja, tidak banyak hadis-hadis bersanad yang diriwayatkan darinya karena masa hidupnya yang singkat dan wafatnya yang cepat setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya umurnya lebih panjang, tentu akan banyak sekali hadis yang diriwayatkan darinya. Dan para perawi pada zamannya tidak pernah meninggalkan hadis yang didengarnya darinya kecuali mereka meriwayatkannya. Namun, para sahabat di zamannya tidak perlu meriwayatkan sesuatu darinya yang mereka sendiri juga mendengar dan meriwayatkannya langsung. Mereka hanya meriwayatkan darinya apa-apa yang mereka tidak miliki.


Abu al-Qasim al-Baghawi meriwayatkan dari Maimun bin Mihran, ia berkata: 'Apabila suatu perkara (perselisihan) datang kepada Abu Bakar, ia akan melihat terlebih dahulu ke dalam Kitabullah. Jika ia menemukan ketetapan hukum di dalamnya, maka ia akan memutuskan dengannya. Jika tidak ada di dalam Kitabullah, namun ia mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menetapkan sunnah dalam perkara tersebut, maka ia akan memutuskan dengannya. Jika masih sulit, ia akan keluar dan bertanya kepada kaum muslimin, seraya berkata: "Telah datang kepadaku perkara begini dan begini, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menetapkan hukum dalam perkara ini?" Maka bisa jadi berkumpullah beberapa orang yang masing-masing menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menetapkan hukum dalam perkara tersebut. Lalu Abu Bakar pun berkata: "Segala puji bagi Allah yang menjadikan di tengah kita orang-orang yang mengingat (meriwayatkan) dari Nabi kita." Jika masih sulit baginya untuk menemukan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan mengumpulkan para pemuka dan orang-orang terbaik dari kalangan sahabat, lalu bermusyawarah dengan mereka. Jika mereka sepakat atas suatu pendapat, maka ia pun memutuskan dengannya.'"


Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melakukan hal itu; jika ia kesulitan menemukan hukum dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia akan melihat apakah Abu Bakar ash-Shiddiq pernah memutuskan perkara serupa. Jika ia mendapati bahwa Abu Bakar pernah menetapkan hukum tentangnya, maka Umar akan menetapkan dengan keputusan yang sama. Namun jika tidak, ia akan mengumpulkan para tokoh kaum Muslimin. Apabila mereka sepakat atas suatu keputusan, maka Umar pun menetapkan keputusan berdasarkan kesepakatan itu.


Dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling mengetahui tentang nasab (silsilah keturunan) bangsa Arab, khususnya kabilah Quraisy.


Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ya’qub bin ‘Utbah, dari seorang Syaikh (tokoh) Anshar yang berkata: ‘Jubair bin Muth’im adalah orang Quraisy yang paling tahu tentang nasab Quraisy dan bangsa Arab seluruhnya. Ia biasa berkata: Aku mengambil ilmu nasab ini dari Abu Bakar ash-Shiddiq, karena Abu Bakar adalah orang Arab yang paling mengetahui nasab.’


Selain itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga sangat unggul dalam ilmu tafsir mimpi. Beliau telah menakwilkan mimpi sejak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.


Muhammad bin Sirin — yang disepakati sebagai tokoh terkemuka dalam ilmu ini — pernah berkata: ‘Abu Bakar adalah penakwil mimpi terbaik di umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.’ (Riwayat Ibnu Sa’d)


Ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaws dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Samurah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku diperintahkan untuk menyerahkan tafsir mimpi kepada Abu Bakar.’ Ibnu Katsir berkata: Hadis ini gharib (memiliki sanad yang lemah atau tidak dikenal). 


Dan Abu Bakar termasuk orang yang paling fasih lisannya dan paling pandai berkhutbah. Az-Zubair bin Bakkar berkata: Aku mendengar sebagian ulama berkata: ‘Para khatib (penceramah) dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.’


Akan datang penjelasan dalam hadis peristiwa Saqifah tentang ucapan Umar radhiyallahu ‘anhu: ‘Dan dia (Abu Bakar) adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan paling takut kepada-Nya.’


Akan disebutkan pula beberapa perkataan beliau dalam hal itu, dalam tafsir mimpi, serta cuplikan khutbah-khutbahnya dalam sebuah bab tersendiri.


Salah satu dalil bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling berilmu adalah peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Saat itu Umar bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang perjanjian tersebut dan berkata: ‘Mengapa kita menerima kerugian dalam urusan agama kita?’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya. Setelah itu Umar pergi menemui Abu Bakar dan bertanya hal yang sama seperti yang ia tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang persis sama dengan apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan yang lainnya.)


Selain itu, beliau adalah sahabat yang paling tajam pandangannya, paling sempurna akalnya. Tamam ar-Razi dalam Fawaid-nya dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jibril datang kepadaku dan berkata: Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk bermusyawarah dengan Abu Bakar.’


Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Abu Nu’aim, dan lainnya dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bermusyawarah dengan sejumlah sahabatnya, di antaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, dan Usaid bin Hudhair. Maka masing-masing dari mereka mengemukakan pendapatnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Bagaimana pendapatmu, wahai Mu’adz?’ Aku (Mu’adz) pun menjawab: ‘Aku sependapat dengan apa yang dikatakan Abu Bakar.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai di atas langit-Nya jika Abu Bakar melakukan kesalahan di bumi.’


Riwayat ini juga dibawakan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Musnad-nya dengan lafaz: ‘Sesungguhnya Allah membenci di langit bila Abu Bakar ash-Shiddiq melakukan kesalahan di bumi.’


Dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah membenci jika Abu Bakar melakukan kesalahan.’ Para perawinya adalah orang-orang yang terpercaya.

 

Kembali 5IndeX | Lanjut 7

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar