Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 21 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 23
Bai'at Aqabah Pertama
# Bai'at = Berjanji
Ketika musim haji tahun berikutnya – yaitu tahun ke-12 dari kenabian – datanglah dua belas orang laki-laki. Sepuluh dari mereka berasal dari suku Khazraj, dan dua dari suku Aus. Adapun sepuluh orang dari suku Khazraj, lima di antaranya adalah orang-orang yang datang sebelumnya (pada pertemuan sebelumnya), selain Jabir bin Abdullah bin Ri'ab. Lima lainnya adalah:
- Mu'adz bin al-Harith (juga dikenal sebagai Mu'adz bin ‘Afra’),
- Dzakwan bin Abdul Qais,
- ‘Ubadah bin ash-Shamit,
- Yazid bin Ts'labah,
- al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadhlah.
Sedangkan dua orang dari suku Aus adalah:
Abu al-Haytham bin at-Tayyihan,
‘Uwain bin Sa‘idah.
Orang-orang tersebut bertemu dengan Rasulullah ﷺ di ‘Aqabah Mina. Beliau mengajarkan mereka tentang Islam, lalu bersabda kepada mereka:
"Mari, berba'iatlah kepadaku atas dasar bahwa kalian tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak kalian, tidak akan membuat-buat kebohongan yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, dan tidak akan mendurhakaiku dalam hal kebaikan (amar ma'ruf)."
"Barang siapa di antara kalian yang menepatinya, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Dan barang siapa yang melakukan salah satu dari hal tersebut, lalu ia dihukum di dunia, maka hukuman itu menjadi kafarat (penghapus dosa) baginya. Namun barang siapa yang melakukan sesuatu dari hal itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya diserahkan kepada Allah: jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya; dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya."
Maka mereka pun berbai'at kepada beliau atas dasar hal tersebut.
Dakwah Islam di Yatsrib
Ketika mereka kembali ke Yatsrib, Rasulullah ﷺ mengutus bersama mereka Muṣ‘ab bin ‘Umair ra. untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan memperdalam pemahaman agama. Muṣ‘ab bin ‘Umair tinggal di rumah Abu Umāmah As‘ad bin Zurārah, dan keduanya giat menyebarkan ajaran Islam.
Suatu ketika, saat mereka berada di kebun, Sā‘d bin Mu‘ādh, pemimpin suku Aus, berkata kepada sepupunya Usayd bin Ḥuḍayr:
"Tidakkah engkau pergi kepada dua orang itu yang datang untuk membodohi orang-orang lemah kita? Laranglah mereka!" Maka Usayd mengambil tombaknya dan pergi mendatangi mereka.
Ketika As‘ad melihatnya, ia berkata kepada Muṣ‘ab:
"Itu adalah pemimpin kaumnya. Dia datang kepadamu. Berlaku jujurlah kepada Allah dalam urusan ini."
Usayd datang dan berdiri di hadapan mereka, lalu berkata:
"Apa yang membawa kalian ke sini? Apakah kalian ingin membodohi orang-orang lemah kami? Tinggalkan kami jika kalian masih ingin hidup tenang!"
Muṣ‘ab menjawab:
"Maukah engkau duduk sebentar dan mendengarkan? Jika engkau menyukai apa yang engkau dengar, terimalah. Jika engkau membencinya, kami akan menghentikan apa yang tidak engkau sukai."
Usayd berkata:
"Kau adil."
Lalu ia menancapkan tombaknya dan duduk. Maka Muṣ‘ab mulai menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Al-Qur’an. Usayd pun terkesan dengan agama Islam, memeluknya, dan bersaksi dengan syahadat kebenaran.
Kemudian Usayd kembali dan mencari cara agar Sa‘d bin Mu‘ādh datang kepada keduanya. Ia berkata kepadanya:
"Aku telah berbicara dengan dua orang itu. Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu yang buruk pada mereka. Aku telah melarang mereka, dan mereka berkata: ‘Kami akan melakukan apa yang engkau suka.’ Lalu aku mendengar kabar bahwa Bani Ḥārithah keluar untuk membunuh As‘ad bin Zurārah karena dia adalah anak dari bibimu, dan mereka ingin mempermalukanmu."
Sa‘d pun marah dan pergi kepada mereka dalam keadaan geram. Maka Muṣ‘ab memperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan Usayd sebelumnya. Allah pun memberikan hidayah kepada Sa‘d, dan ia masuk Islam serta mengucapkan dua kalimat syahadat.
Kemudian ia kembali kepada kaumnya dan berkata:
"Wahai Bani ‘Abd al-Ashhal! Bagaimana kalian menilai posisiku di tengah kalian?"
Mereka menjawab: "Engkau pemimpin kami dan yang paling baik pendapatnya di antara kami."
Ia berkata: "Maka ketahuilah, kata-kata dari laki-laki dan perempuan kalian haram atas diriku (aku tak ingin bicara dengan kalian) hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Maka tidak ada seorang pun dari kalangan mereka – baik laki-laki maupun perempuan – yang tersisa pada malam itu kecuali mereka masuk Islam, kecuali satu orang bernama al-Uṣayrim, yang menunda keislamannya hingga hari Perang Uhud. Saat itu ia masuk Islam, lalu gugur sebagai syahid di jalan Allah sebelum sempat bersujud satu kali pun kepada Allah.
Muṣ‘ab bin ‘Umair kembali ke Mekah sebelum musim haji tiba, membawa kabar gembira berupa kemenangan yang luar biasa ini.
Kembali ke bagian 21 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar