Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 24 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 26
Dalam Perjalanan Menuju Madinah:
Pada malam Senin, tanggal 1 Rabiul Awal tahun 1 Hijriah, datanglah penunjuk jalan, Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, membawa dua tunggangan ke Gua Tsur sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan. Maka berangkatlah Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar, ditemani oleh Amir bin Fuhairah. Penunjuk jalan itu membawa mereka ke arah selatan menuju Yaman agar semakin jauh dari kejaran musuh, kemudian berbelok ke barat menuju pesisir Laut Merah, lalu berbelok ke utara menyusuri tepi pantai, menempuh jalur yang sangat jarang dilalui orang.
Mereka terus berjalan sepanjang malam itu, dan siang harinya hingga setengah hari, sampai jalanan menjadi sepi. Nabi ﷺ pun beristirahat di bawah naungan sebuah batu besar. Abu Bakar pergi melihat sekeliling, lalu datanglah seorang penggembala. Abu Bakar meminta susu darinya, dan ketika Nabi ﷺ bangun, ia memberikan susu itu kepada beliau hingga puas, kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan.
Pada hari kedua, mereka melewati dua kemah milik Ummu Ma‘bad, yang berada di daerah al-Mushallal di sekitar Qudayd, kira-kira 130 kilometer dari Mekkah. Mereka bertanya kepadanya apakah ia memiliki sesuatu (makanan atau minuman), namun ia meminta maaf karena tidak memiliki apa-apa untuk dijamu dan mengatakan bahwa kambing-kambingnya sedang jauh di padang rumput. Di samping kemah itu terdapat seekor kambing yang tertinggal dari kawanan karena lemah, dan tidak ada setetes pun susu padanya. Rasulullah ﷺ meminta izin untuk memerahnya. Ketika beliau memerahnya, kambing itu mengeluarkan susu hingga memenuhi wadah besar yang biasanya dibawa sekelompok orang dengan susah payah. Beliau memberikan susu itu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia kenyang, lalu memberikannya kepada para sahabatnya hingga mereka semua puas, kemudian beliau pun minum. Setelah itu beliau memerah lagi dan memenuhi wadah tersebut, lalu meninggalkannya untuk Ummu Ma‘bad dan mereka melanjutkan perjalanan.
Suami Ummu Ma‘bad datang dan terheran-heran ketika melihat susu itu. Ia pun bertanya dari mana asalnya, lalu istrinya menceritakan kejadian tersebut. Ia menggambarkan Nabi ﷺ dengan sangat rinci, dari belahan rambutnya hingga ke kakinya, dari cara bicaranya hingga tingkah lakunya.
Abu Ma‘bad (suaminya) pun berkata: “Demi Allah, ini pasti orang Quraisy yang sedang dicari itu! Sungguh aku ingin sekali menyertainya, dan benar-benar akan aku lakukan jika aku mendapatkan jalan untuk itu.”
Pada hari ketiga, penduduk Mekkah mendengar suara yang menggema dari bagian bawah kota, kemudian bergerak ke atas hingga keluar dari bagian atasnya. Mereka mengikutinya tetapi tidak melihat sosok yang mengucapkannya. Suara itu melantunkan:
"Semoga Allah, Tuhan seluruh manusia, membalas sebaik-baiknya,
Dua orang sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma‘bad.
Mereka turun di tanah yang tandus dan berangkat darinya,
Beruntunglah orang yang menjadi sahabat Muhammad.
Wahai kaum Qushay! Sungguh Allah telah jauhkan dari kalian
Tingkah laku yang tiada tandingannya dan kemuliaan yang agung.
Berbahagialah Bani Ka‘b dengan tempat tinggal wanita mulianya,
Yang kini menjadi tempat mengintai bagi orang-orang beriman."
#.Catatan: Syair ini merupakan bagian dari tradisi lisan Arab untuk mengabadikan peristiwa penting, dan menggambarkan keagungan Rasulullah ﷺ serta keberuntungan orang-orang yang dekat dengannya.
Setelah Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar melewati daerah Qudayd, mereka dibuntuti oleh Suraqah bin Malik bin Ju‘shum al-Mudlijī, yang menaiki kudanya karena menginginkan hadiah yang dijanjikan oleh kaum Quraisy. Ketika ia mulai mendekati mereka, kudanya tiba-tiba tersandung hingga ia terjatuh dari punggungnya. Ia pun berdiri kembali dan melakukan undian (meramal) dengan anak panah (azlām), untuk mengetahui apakah pengejarannya akan membawa mudarat (membahayakan) atau tidak. Hasilnya menunjukkan isyarat yang tidak ia sukai. Namun, ia tetap mengabaikan hasil undian (ramalan) itu dan melanjutkan pengejaran.
Ketika ia sudah sangat dekat hingga bisa mendengar bacaan Rasulullah ﷺ—sementara Nabi tidak menoleh ke belakang, dan Abu Bakar terus-menerus menoleh—tiba-tiba kaki depan kudanya terbenam ke dalam tanah sampai ke lutut. Ia terjatuh lagi dari kudanya. Setelah ia memacu kudanya agar berdiri, kudanya pun bangkit, namun sulit untuk mengangkat kedua kakinya. Setelah berhasil berdiri tegak, bekas jejak kaki kudanya mengepulkan debu ke langit seperti asap. Ia kembali melakukan undian (ramalan) dengan azlām (anak panah), dan hasilnya tetap menunjukkan tanda yang tidak ia sukai. Rasa takut yang besar pun menyelimutinya, dan ia yakin bahwa urusan Nabi ﷺ pasti akan menang dan tersebar luas.
Ia lalu memanggil mereka dan meminta jaminan keselamatan. Mereka pun berhenti hingga ia menyusul mereka. Ia memberitahu Nabi ﷺ tentang apa yang direncanakan kaum Quraisy dan niat jahat orang-orang terhadap beliau berdua. Ia juga menawarkan bekal dan peralatan, tetapi Nabi ﷺ tidak mengambil apa pun darinya. Nabi ﷺ meminta agar ia merahasiakan keberadaan mereka dari orang-orang, dan Suraqah meminta agar Nabi ﷺ menuliskan surat jaminan keamanan untuknya. Maka beliau memerintahkan ‘Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya di atas selembar kulit (adem), lalu Suraqah kembali dan apabila ia bertemu orang-orang yang sedang mencari Nabi ﷺ, ia berkata: "Aku sudah memeriksa arah ini untuk kalian, tidak ada siapa-siapa, kalian tidak perlu mencari ke sini lagi" hingga ia menghalau mereka kembali.
Dalam perjalanan, Rasulullah ﷺ juga bertemu dengan Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami – raḍiyallāhu ‘anhu – bersama tujuh puluh penunggang kuda. Mereka semuanya masuk Islam, dan mereka melaksanakan shalat Isya berjamaah di belakang Rasulullah ﷺ.
Kemudian di lembah Reem – sebuah nama lembah – mereka bertemu dengan Az-Zubair bin al-‘Awwām, yang sedang dalam perjalanan pulang bersama rombongan kaum Muslimin dari Syam. Az-Zubair pun memberi mereka pakaian putih sebagai hadiah.
Singgah di Quba :
Pada hari Senin, tanggal 8 Rabiul Awwal tahun ke-14 kenabian, yaitu tahun pertama Hijriah, Rasulullah ﷺ singgah di Quba.
Ketika penduduk Madinah mendengar kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah berangkat meninggalkan Makkah, mereka setiap pagi keluar menuju dataran berbatu (al-Ḥarrah), menunggu kedatangannya, hingga panas matahari siang memaksa mereka kembali ke rumah. Suatu hari, setelah lama menunggu dan kembali ke rumah masing-masing, seorang Yahudi naik ke atas salah satu benteng milik kaumnya untuk suatu keperluan. Tiba-tiba ia melihat Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang tampak dari kejauhan berpakaian putih, berjalan seolah-olah tampak seperti fatamorgana karena cahaya matahari.
Orang Yahudi itu tidak dapat menahan diri, lalu berteriak dengan suara lantang:
“Wahai kaum Arab! Inilah keberuntungan kalian yang kalian nanti-nantikan!”
Maka kaum Muslimin segera mengambil senjata mereka. Suara hiruk pikuk dan takbir pun terdengar menggema sebagai bentuk kegembiraan atas kedatangan Rasulullah ﷺ. Mereka keluar menemuinya di kawasan belakang Al-Ḥarrah. Beliau kemudian mengarahkan mereka ke sisi kanan dan singgah di tengah-tengah Bani ‘Amr bin ‘Awf di Quba.
Ketika Rasulullah ﷺ sampai di Quba, beliau duduk dengan diam. Orang-orang Anshar yang belum pernah melihat beliau pun mulai menyambut Abu Bakar ra. dan menyangka bahwa dialah Rasulullah ﷺ, karena uban tampak jelas di rambutnya. Hingga ketika matahari mulai menyinari Nabi ﷺ, Abu Bakar pun berdiri menaungi beliau dengan selendangnya. Barulah orang-orang menyadari bahwa yang mereka sambut tadi bukan Nabi, dan mereka pun mengenali Rasulullah ﷺ.
Di Quba, Rasulullah ﷺ tinggal di rumah Kulthum bin al-Hadam—dan ada riwayat lain yang menyebutkan di rumah Sa‘d bin Khaythamah. Beliau tinggal di sana selama empat hari, dan selama itu beliau mendirikan Masjid Quba dan salat di dalamnya.
Ketika masuk hari kelima, hari Jumat, beliau berangkat atas perintah Allah, dengan Abu Bakar membonceng di belakangnya. Beliau mengutus seseorang kepada keluarga ibunya dari Bani an-Najjar, dan mereka pun datang menyambut beliau dengan pedang tergantung di leher mereka.
Beliau berjalan menuju Madinah bersama mereka yang mengelilinginya, hingga waktu salat Jumat tiba saat beliau berada di daerah Bani Salim bin ‘Awf. Maka beliau pun melaksanakan salat Jumat bersama mereka di sebuah lembah, dan jumlah mereka saat itu seratus orang.
Masuk ke Kota Madinah :
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Orang-orang pun berbondong-bondong keluar untuk menyambut beliau. Rumah-rumah dan jalan-jalan bergemuruh dengan lantunan tahmid (pujian kepada Allah) dan tasbih (penyucian-Nya). Para wanita, anak-anak, dan para budak perempuan keluar menyanyikan syair terkenal:
"Telah terbit bulan purnama atas kami,
Dari celah-celah bukit Wada‘,
Wajib bagi kami bersyukur,
Atas seruan kepada Allah,
Wahai yang diutus kepada kami,
Engkau datang membawa perkara yang ditaati."
Ketika Rasulullah ﷺ melewati rumah-rumah kaum Anshar, mereka masing-masing memegang tali kekang unta beliau dan berkata:
"Marilah singgah di tempat kami, kami memiliki kekuatan, persiapan, dan perlindungan."
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
"Biarkanlah jalannya, karena ia diperintah (oleh Allah)."
Saat unta tersebut sampai di lokasi masjid Nabawi sekarang, ia pun duduk (berhenti). Namun Rasulullah ﷺ tidak langsung turun dari punggungnya, hingga unta itu bangkit lagi dan berjalan sedikit. Lalu ia berbalik dan duduk kembali di tempat sebelumnya, maka Rasulullah ﷺ pun turun darinya.
Orang-orang pun mulai mendekat dan berbicara kepada beliau agar singgah di rumah mereka. Tapi Abu Ayyub al-Anshari ra. segera menyambut dan memasukkan barang-barang Rasulullah ﷺ ke rumahnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seseorang akan ikut bersama barang-barangnya."
Sedangkan As‘ad bin Zurārah memegang tali kekang unta Rasulullah ﷺ, dan unta itu berada bersamanya.
Para tokoh Anshar pun berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah Rasulullah ﷺ. Setiap malam, mereka mengirimkan nampan-nampan makanan kepada beliau, dan tak satu malam pun berlalu kecuali di depan pintu beliau terdapat tiga atau empat nampan makanan dari mereka.
Kembali ke bagian 24 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar