الملخص في شرح كتاب التوحيد
Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid
Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Kembali 6b | IndeX | Lanjut 6d
باب تفسير التوحيد وشهادة أن لا إله إلا الله
Bab Penjelasan tentang Tauhid dan Syahadat 'Lā ilāha illallāh'
(tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah)
وقوله
تعالى: ﴿ اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن
دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ
لِيَعْبُدُواْ إِلٰهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ
عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ [التوبة: ٣١].
Dan firman Allah Ta‘ala:
“Mereka menjadikan orang-orang alim (ahbar) dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)
[أَحْبَارَهُمْ (ahbārahum): para ulama atau tokoh agama dari kalangan Yahudi.]
[رُهْبَانَهُمْ (ruhbānahum): para rahib atau ahli ibadah dari kalangan Nasrani.]
[أَرْبَابًا
(arbāban): tuhan-tuhan, yaitu ditaati dalam perkara yang menyelisihi
perintah Allah sehingga ketaatan itu menyerupai menjadikan mereka
sebagai tandingan dalam hukum.]
اتّخذوا: أي جعل اليهود والنصارى.
Kata [اتّخذو] : maksudnya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi ulama dan rahib (pendeta).
أحبارهم: أي علماءهم.
Kata [أحبارهم] : maksudnya para ulama mereka.
[Kata
الأحبار adalah bentuk jamak dari حَبْر atau حِبْر yang digunakan untuk
menyebut orang alim, ulama, atau ahli ilmu agama, khususnya di kalangan
Yahudi.]
ورهبانهم: أي عبّادهم.
Kata [ورهبانهم] : maksudnya para ahli ibadah mereka.
[Kata
الرهبان adalah bentuk jamak dari راهب, yaitu orang yang tekun
beribadah, pendeta, atau rahib yang mengkhususkan diri dalam ibadah,
khususnya di kalangan Nasrani.]
أرباباً: أي مشرِّعين لهم يحلِّلون ويحرِّمون؛ لأن التشريع من خصائص الربّ فمن أطاع مخلوقاً فيه فقد اتّخذه رباً.
Kata
[أرباباً] : maksudnya sebagai pihak yang menetapkan syariat bagi
mereka; menghalalkan dan mengharamkan. Karena menetapkan hukum (tasyri‘)
termasuk kekhususan hak Allah sebagai Tuhan. Maka siapa yang menaati
makhluk dalam hal itu (dengan meyakini atau menerima hak membuat hukum
yang bertentangan dengan ketetapan Allah), berarti ia telah
menjadikannya sebagai Tuhan.
والمسيح ابن مريم: أي واتخذوا عيسى عليه السلام ربّاً بعبادتهم له.
Kata
[والمسيح ابن مريم] : maksudnya mereka juga menjadikan Nabi Isa ‘alaihis
salam sebagai tuhan dengan cara beribadah kepadanya.
سبحانه عمّا يشركون: أي تنزّه الله تعالى وتقدّس عن الشركاء والنُّظراء.
Kata
[سبحانه عمّا يشركون] : maksudnya Allah Ta‘ala Maha Suci dan Maha Tinggi
dari adanya sekutu-sekutu dan tandingan-tandingan (bagi-Nya).
المعنى
الإجمالي للآية: يخبر الله سبحانه عن اليهود والنصارى أنهم استنصحوا
الرجال من العلماء والعباد فأطاعوهم في تحليل ما حرّم الله وتحريم ما
أحلّه، فنزَّلوهم بذلك منزلة الربّ الذي من خصائصه التحليل والتحريم، كما
عبد النصارى عيسى وزعموا أنه ابنُ الله، فنبذوا كتاب الله الذي أمرهم فيه
بطاعته وحده وعبادته وحده –وهذا إخبار منه سبحانه يتضمّن إنكار ما فعلوه-
ولذلك نزَّه نفسه عمّا يتضمّنه هذا الفعل من الشرك به.
Makna ayat secara umum (global): Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka menjadikan manusia dari kalangan ulama dan ahli ibadah sebagai tempat menerima ketentuan agama, lalu mereka menaati mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan. Dengan perbuatan itu mereka menempatkan mereka pada kedudukan rabb, karena di antara kekhususan rububiyyah adalah hak menetapkan halal dan haram. Demikian pula orang-orang Nasrani beribadah kepada Nabi Isa ‘alaihis salam dan menganggap bahwa beliau adalah anak Allah.
Maka
mereka meninggalkan Kitab Allah yang memerintahkan mereka agar hanya
menaati Allah dan hanya beribadah kepada-Nya semata. Berita dari Allah
ini sekaligus mengandung pengingkaran dan kecaman terhadap perbuatan
mereka tersebut. Karena itu Allah menyucikan Diri-Nya dari apa yang
terkandung dalam perbuatan itu berupa perbuatan menyekutukan-Nya.
مناسبة
الآية للباب: أنّها دلّت على أنّ من معنى التوحيد وشهادة أن لا إله إلا
الله إفرادَ الله بالطاعة في تحليل ما أحلّ وتحريم ما حرّم، وأن من اتخذ
شخصاً من دون الله يحلل ما أحلّ ويحرّم ما حرَّم فهو مشرك.
Kesesuaian ayat dengan bab : Ayat ini menunjukkan bahwa termasuk makna tauhid dan persaksian “Lā ilāha illallāh” adalah mengkhususkan ketaatan kepada Allah dalam perkara menghalalkan apa yang Allah halalkan dan mengharamkan apa yang Allah haramkan.
Dan
bahwa siapa yang menjadikan seseorang selain Allah sebagai pihak yang
diikuti dalam menetapkan halal dan haram — dengan memberikan kepadanya
hak yang menjadi kekhususan Allah — maka ia telah terjatuh ke dalam
syirik.
ما يستفاد من الآية:
Pelajaran yang dapat diambil dari ayat tersebut:
١ - أن من معنى التوحيد وشهادة أن لا إله إلا الله طاعةَ الله في التحليل والتحريم.
1.
Bahwa termasuk makna tauhid dan persaksian “Lā ilāha illallāh” adalah
menaati Allah dalam perkara menghalalkan dan mengharamkan.
٢ - أن من أطاع مخلوقاً في تحليل الحرام وتحريم الحلال فقد اتّخذه شريكاً لله.
2.
Bahwa siapa yang menaati makhluk dalam menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal, maka ia telah menjadikannya sebagai sekutu bagi
Allah.
٣ - الردّ على النصارى في اعتقادهم في المسيح عليه السلام وبيانُ أنه عبدُ الله.
3. Bantahan terhadap keyakinan Nasrani tentang Al-Masih ‘alaihis salam dan penjelasan bahwa beliau adalah hamba Allah.
٤ - تنزيه الله عن الشرك.
4. Menyucikan Allah dari perbuatan syirik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar