الملخص في شرح كتاب التوحيد
Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid
Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Kembali 7b | IndeX | Lanjut 7d
باب من الشرك لبس الحلقة والخيط ونحوهما لرفع البلاء أو دفعه
Bab tentang termasuk perbuatan syirik: memakai gelang, benang (jimat), dan yang semisal keduanya untuk menghilangkan musibah atau menolak datangnya musibah
وله عن عقبة بن عامر مرفوعاً: «من تعلَّقَ تميمةً فلا أتمَّ الله له. ومن تعلّق وَدْعَة فلا وَدَعَ الله له» وفي رواية: «من تعلّق تميمة فقد أشرك» .
Dan dari beliau, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, secara marfū‘ (sampai kepada Nabi ﷺ):
“Barang siapa menggantungkan tamimah (jimat), maka semoga Allah tidak menyempurnakan (urusan atau harapannya). Dan barang siapa menggantungkan wada‘ah (kerang/jimat dari kulit kerang), maka semoga Allah tidak memberi ketenangan atau tidak membiarkannya dalam keadaan baik.”
Dan dalam riwayat lain:
“Barang siapa menggantungkan tamimah, maka sungguh ia telah berbuat syirik.”
[تميمة (tamīmah): sesuatu yang dipakai atau digantung dengan keyakinan dapat menolak bala, penyakit, atau mendatangkan manfaat, seperti jimat, gelang, benang, tulisan tertentu, dan semisalnya]
[ودعة (wada‘ah): kulit kerang atau benda yang dahulu dipakai sebagai penolak ‘ain (pandangan hasad) atau penolak bahaya]
عقبة بن عامر: هو عقبة بن عامر الجهنيّ صحابيّ مشهور، وكان فقيهاً فاضلاً وَلِيَ إمارة مصر لمعاوية ثلاث سنين، ومات قريباً من الستين.
Kata [عقبة بن عامر] : yaitu Uqbah ibn Amir al-Juhani, seorang sahabat Nabi ﷺ yang masyhur. Beliau termasuk orang yang faqih (mendalam ilmunya) dan memiliki keutamaan.
Beliau pernah menjadi gubernur Mesir selama tiga tahun pada masa Muawiyah I.
Dan beliau wafat sekitar tahun enam puluhan Hijriah (dekat tahun 60 H).
وله: أي وروى الإمام أحمد.
Kata [وله] : yakni: diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad
تعلَّق تميمة: أي علَّقها عليه أو على غيره معتقداً بها. والتميمة خرزات كانت العرب تعلّقها على أولادهم يتَّقون بها العين.
Kata [تعلَّق تميمة] : yaitu menggantungkannya pada dirinya sendiri atau pada orang lain dengan meyakini (adanya pengaruh/manfaat padanya). Dan tamimah adalah butiran-butiran (manik-manik/jimat) yang dahulu orang Arab menggantungkannya pada anak-anak mereka untuk melindungi diri dari ‘ain (pandangan yang menimbulkan mudarat).”
[تعلَّق (ta‘allaqa): memasang, menggantungkan, atau mengenakan]
[تميمة (tamīmah): benda yang dipakai atau digantung dengan keyakinan dapat menolak bahaya atau mendatangkan perlindungan]
[العين (‘ain): pandangan yang menimbulkan mudarat dengan izin Allah (sering diterjemahkan sebagai penyakit karena pandangan hasad atau mata jahat)]
فلا أتمّ الله له: دعاءٌ عليه بأن لا يتمّ الله أموره.
Kata [فلا أتمّ الله له] : yaitu doa atas orang tersebut agar Allah tidak menyempurnakan urusan-urusannya.
ودعة: الودعة شيءٌ يخرج من البحر يشبه الصدف يتّقون به العين.
Kata [ودعة] “Wada‘ah" : adalah sesuatu yang keluar dari laut, mirip dengan kerang, yang dahulu digunakan untuk melindungi diri dari ‘ain (pandangan yang menimbulkan mudarat).
[الودعة : sejenis kulit kerang atau benda laut yang dahulu dipakai sebagai jimat]
[يتّقون به العين : mereka meyakini benda itu dapat menolak pengaruh ‘ain (hasad/pandangan yang membahayakan)]
فلا ودَع الله له: أي لا جعله في دعة وسكون. أو لا خفَّف الله عنه ما يخافه.
Kata [فلا ودَع الله له] : maksudnya “semoga Allah tidak menjadikannya dalam keadaan tenang dan tenteram.” Atau “semoga Allah tidak meringankan darinya apa yang ia takutkan”.
وفي رواية: أي وروى الإمام أحمد من حديث آخر.
Kata [وفي رواية] : yaitu Imam Ahmad juga meriwayatkannya melalui hadis (jalur sanad) yang lain.
المعنى الإجماليّ للحديثين: أنّ النبي ﷺ يدعو على من استعمل التمائم يعتقد فيها دفع الضرر بأن يعكس الله قصده ولا يتمّ له أموره، كما أنه ﷺ يدعو على من استعمل الودع لنفس القصد السابق أن لا يتركه الله في راحة واطمئنان، بل يحرك عليه كلّ مؤذٍ – وهذا الدعاء يقصد منه التحذير من الفعل- كما أنّه يخبر ﷺ في الحديث الثاني أنّ هذا العمل شرك بالله.
Makna secara global dari kedua hadist ini : Bahwa Nabi ﷺ mendoakan keburukan atas orang yang menggunakan tamimah (jimat) dengan keyakinan bahwa jimat itu dapat menolak bahaya, yaitu agar Allah membalikkan maksud yang diinginkannya dan tidak menyempurnakan urusan-urusannya.
Sebagaimana Nabi ﷺ juga mendoakan keburukan atas orang yang menggunakan wada‘ah (kerang/jimat) dengan tujuan yang sama, yaitu agar Allah tidak membiarkannya berada dalam kenyamanan dan ketenteraman, bahkan membiarkan segala sesuatu yang menyakitkan mengganggunya — dan doa ini dimaksudkan sebagai peringatan keras dan bentuk pengingkaran terhadap perbuatan tersebut.
Kemudian Nabi ﷺ juga menjelaskan dalam hadis kedua bahwa perbuatan ini termasuk syirik kepada Allah.
مناسبة الحديثين للباب: أنّ فيهما دلالة على تحريم تعليق التمائم والودَع واعتباره شركاً؛ لما يقوم بقلب المعلِّق لها من الاعتماد على غير الله.
Kaitan kedua hadis dengan bab ini: bahwa di dalam keduanya terdapat dalil tentang haramnya menggantungkan tamimah (jimat) dan wada‘ (kerang/jimat) serta menganggap perbuatan itu sebagai syirik, karena di dalam hati orang yang menggantungkannya terdapat sikap bersandar dan bergantung kepada selain Allah.
[تعليق التمائم والودع : memakai atau menggantung jimat dan benda-benda yang diyakini dapat memberi perlindungan]
[الاعتماد على غير الله: menggantungkan hati dan kepercayaan kepada selain Allah dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya]
ما يستفاد من الحديثين:
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadis:
١- أنّ تعليق التمائم والودع من الشرك.
1. Bahwa menggantungkan tamimah (jimat) dan wada‘ (kerang/jimat) termasuk perbuatan syirik.
٢- أنّ من اعتمد على غير الله عامله الله بنقيض قصدِه.
2. Bahwa siapa yang bersandar kepada selain Allah, maka Allah akan memperlakukannya dengan kebalikan dari apa yang ia maksudkan.
٣- الدعاء على من علَّق التمائم والودَع بما يفوت عليه مقصوده ويعكس عليه مراده.
3. Mendoakan keburukan atas orang yang menggantungkan tamimah (jimat) dan wada‘ (kerang/jimat), berupa tidak tercapainya tujuan yang ia inginkan dan berbaliknya apa yang ia harapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar