التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 5b | IndeX | Lanjut 6a
الباب الخامس
Bab kelima
في آداب حملة القرآن
Tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
[فصل] في المحافظة على القراءة بالليل.
[Sub bab] Tentang menjaga bacaan Al-Qur’an pada malam hari
ينبغي
أن يكون اعتناؤه بقراءة في الليل أكثر، قال الله تعالى: ﴿من أهل الكتاب
أمة قائمة يتلون آيات الله آناء الليل وهم يسجدون يؤمنون بالله واليوم
الآخر ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويسارعون في الخيرات وأولئك من
الصالحين﴾.
Hendaknya perhatian seseorang terhadap membaca Al-Qur’an di waktu malam lebih besar. Allah Ta‘ala berfirman:
“Di
antara Ahli Kitab ada suatu golongan yang teguh (menjalankan agama),
mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedang
mereka bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh
kepada yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera dalam
berbagai kebaikan. Mereka itulah termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.
Ali ‘Imran: 113–114)
وثبت في الصحيح عن رسول الله ﷺ : أنه قال: نعم الرجل عبد الله لو كان يصلي من الليل .
Dan telah tetap dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
“Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia melaksanakan salat malam.”
وفي الحديث الآخر من الصحيح أنه ﷺ قال: يا عبد الله لا تكن مثل فلان كان يقوم الليل ثم تركه .
Dan dalam hadis sahih yang lain beliau ﷺ bersabda:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan; dahulu ia biasa melaksanakan salat malam, kemudian ia meninggalkannya.”
وروى الطبراني وغيره عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن رسول الله ﷺ قال: شرف المؤمن قيام الليل .
Dan diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan selainnya, dari Sahl bin Sa‘d radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kemuliaan seorang mukmin adalah qiyamul lail (salat malam).”
والأحاديث والآثار في هذا كثيرة.
Dan hadis-hadis serta atsar (riwayat para salaf) tentang hal ini sangat banyak.
وقد
جاء عن أبي الأحوص الحبشي قال: إن كان الرجل ليطرق الفسطاط طروقا - أي
يأتيه ليلا - فيسمع لأهله دويا كدوي النحل، قال: فما بال هؤلاء يأمنون ما
كان أولئك يخافون؟!
Diriwayatkan dari Abu Al-Ahwash Al-Habasyi, ia berkata:
“Dahulu seseorang biasa mendatangi kemah pada malam hari — yakni datang pada waktu malam — lalu ia mendengar dari penghuninya suara lirih seperti dengungan lebah.”
Maksudnya: terdengar suara bacaan Al-Qur’an, zikir, dan ibadah mereka.
Lalu ia berkata:
“Mengapa orang-orang sekarang merasa aman dari sesuatu yang dahulu mereka takutkan?”
[Maksudnya:
generasi terdahulu begitu takut terhadap kelalaian, azab Allah, dan
kurangnya ibadah sehingga malam mereka dihidupkan dengan ibadah.
Sedangkan sebagian orang setelah mereka merasa aman lalu
bermalas-malasan]
وعن إبراهيم النخعي كان يقول: اقرؤوا وفي الليل ولو حلب شاة .
Dan dari Ibrahim An-Nakha‘i, beliau biasa berkata:
“Bacalah (Al-Qur’an) pada malam hari, walaupun hanya selama waktu memerah susu seekor kambing.”
[Maksudnya: jangan meninggalkan bacaan malam sama sekali, meskipun hanya sebentar]
وعن يزيد الرقاشي قال: إذا أنا نمت، ثم استيقظت، ثم نمت، فلا نامت عيناي.
Dan dari Yazid Ar-Raqasyi, beliau berkata:
“Jika aku tidur, lalu bangun, kemudian tidur lagi, maka semoga kedua mataku tidak tidur.”
قلت:
وإنما رجحت صلاة الليل، وقراءته لكونها أجمع للقلب، وأبعد عن الشاغلات
والملهيات والتصرف في الحاجات، وأصون عن الرياء وغيره من المحبطات مع ما
جاء الشرع به من إيجاد الخيرات في الليل. فإن الإسراء برسول الله ﷺ كان
ليلا.
Penulis berkata:
“Aku
katakan: sesungguhnya salat malam dan membaca Al-Qur’an pada malam hari
lebih diutamakan karena lebih menghimpun hati, lebih jauh dari berbagai
kesibukan, hal-hal yang melalaikan, dan urusan kebutuhan; serta lebih
terjaga dari riya’ dan hal-hal lain yang dapat menghapus pahala. Di
samping itu, syariat juga datang dengan anjuran memperbanyak amal
kebaikan pada malam hari. Karena sesungguhnya peristiwa Isra’ Rasulullah
ﷺ terjadi pada malam hari.”
وحديث: ينزل ربكم كل ليلة إلى سماء الدنيا حين يمضي شطر الليل فيقول: «هل من داع فأستجيب له» الحديث.
Dan terdapat hadis:
“Rabb
kalian turun setiap malam ke langit dunia ketika telah berlalu separuh
malam, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan
mengabulkannya…’” (lanjutan hadis)
وفي الحديث أن رسول الله ﷺ قال: في الليل ساعة يستجيب الله فيها الدعاء كل ليلة .
Dan dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pada malam hari terdapat suatu waktu, pada setiap malam, ketika Allah mengabulkan doa.”
وروى صاحب بهجة الأسرار بإسناده عن سليمان الأنماطي قال: رأيت علي بن أبي طالب رضي الله عنه في المنام يقول:
Dan penulis kitab Bahjatul Asrar meriwayatkan dengan sanadnya dari Sulaiman Al-Anmathi, ia berkata:
“Aku melihat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam mimpi, beliau berkata:
لولا الذين لهم ورد يقومونا، وآخرون لهم سرد يصومونا، لدككت أرضكم من تحتكم سحرا، لأنّكم قوم سوء لا تطيعونا.
Kalau bukan karena orang-orang yang memiliki wirid malam yang mereka tegakkan,
dan orang-orang lain yang terus-menerus berpuasa,
niscaya bumi kalian dihancurkan dari bawah kalian pada waktu sahur,
karena kalian adalah kaum yang buruk dan tidak menaati kami.”
واعلم
أن فضيلة القيام بالليل والقراءة فيه تحصل بالقليل والكثير، وكلما كثر كان
أفضل، إلا أن يستوعب الليل كله فإنه يكره الدوام عليه، وإلا أن يضر بنفسه.
Dan
ketahuilah bahwa keutamaan qiyamul lail (ibadah malam) dan membaca
Al-Qur’an pada malam hari dapat diperoleh dengan sedikit maupun banyak.
Semakin banyak, maka semakin utama. Akan tetapi, tidak dianjurkan untuk
terus-menerus menghabiskan seluruh malam dalam ibadah, kecuali jika
tidak menimbulkan mudarat bagi dirinya.
ومما
يدل على حصوله بالقليل حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما
قال: قال رسول الله ﷺ : «من قام بعشر آيات لم يكتب من الغافلين، ومن قام
بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المقسطين» رواه أبو
داود وغيره.
Dan di antara dalil bahwa keutamaan itu bisa diperoleh meskipun sedikit adalah hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa melaksanakan qiyam (ibadah malam) dengan membaca sepuluh ayat,
maka ia tidak dicatat termasuk orang-orang yang lalai. Barang siapa
melaksanakannya dengan seratus ayat, maka ia dicatat termasuk
orang-orang yang taat (qanitin). Dan barang siapa melaksanakannya dengan
seribu ayat, maka ia dicatat termasuk orang-orang yang memperoleh
pahala yang besar.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya)
وحكى الثعلبي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: من صلى بالليل ركعتين فقد بات لله ساجدا وقائما .
Dan Ats-Tsa‘labi menukil dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Barang siapa salat malam dua rakaat, maka sungguh ia telah bermalam dalam keadaan bersujud dan berdiri untuk Allah.”
[فصل] في الأمر بتعهد القرآن والتحذير من تعريضه للنسيان.
[Sub bab] Tentang perintah menjaga hafalan Al-Qur’an dan peringatan agar tidak membiarkannya hingga terlupa
ثبت
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال: «تعاهدوا هذا القرآن،
فوالذي نفس محمد بيده لهو أشد تفلّتا من الإبل في عقلها» رواه البخاري
ومسلم .
Telah sahih dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Jagalah
(ulangilah terus) Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di
tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih cepat lepas daripada unta dari
ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
وعن
ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله ﷺ قال: «إنما مثل صاحب القرآن كمثل
الإبل المعقّلة إن عاهد عليها أمسكها، وإن أطلقها ذهبت» رواه مسلم والبخاري
.
Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan
orang yang memiliki hafalan Al-Qur’an adalah seperti unta yang diikat;
jika ia terus menjaganya maka ia dapat mempertahankannya, dan jika ia
melepaskannya maka ia akan hilang.” (HR. Muslim dan Bukhari)
وعن
أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : «عرضت علَيَّ أجور أمّتي
حتى القذاة يخرجها الرجل من المسجد، وعرضت علي ذنوب أمّتي فلم أر ذنبا
أعظم من سورة من القرآن، أو آية أوتيها رجل ثم نسيها» رواه أبو داود
والترمذي ، وتكلم فيه.
Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah
diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku, sampai-sampai kotoran
kecil yang dikeluarkan seseorang dari masjid. Dan diperlihatkan pula
dosa-dosa umatku. Aku tidak melihat dosa yang lebih besar daripada
seseorang yang diberi satu surah dari Al-Qur’an atau satu ayat lalu ia
melupakannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan para ulama membicarakan
kualitas hadis ini)
وعن سعد بن عبادة عن النبي ﷺ قال: «من قرأ القرآن ثم نسيه لقي الله عز وجل يوم القيامة وهو أجذم» رواه أبو داود والترمذي .
Dan dari Sa‘ad bin ‘Ubadah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Barang
siapa membaca Al-Qur’an kemudian melupakannya, ia akan bertemu Allah
pada hari kiamat dalam keadaan ajdzam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
[Kata أجذم (ajdzam) secara bahasa berasal dari akar kata yang bermakna terputus atau terpotong. Dalam penggunaan bahasa Arab klasik, kata ini bisa dipakai untuk orang yang terputus tangannya, atau dipahami sebagai keadaan kurang, terhalang, atau kehilangan sesuatu]
[Maksudnya: kehilangan keutamaan dan kemuliaan yang semestinya diperoleh dari menjaga Al-Qur’an]
فيمن نام عن ورده
Tentang Orang yang Tidur hingga Terlewat Wiridnya
[فصل]
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : من نام عن حزْبه من
الليل أو عن شيء منه فقرأه ما بين صلاة الفجر، وصلاة الظهر، كتب له كأنّه
قرأه من الليل. رواه مسلم .
[Sub Bab] Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang
siapa tertidur sehingga terlewat hizb (bagian bacaan rutinnya) di malam
hari, atau sebagian darinya, lalu ia membacanya di antara salat Subuh
dan salat Zuhur, maka dicatat baginya seolah-olah ia membacanya pada
malam hari.” (HR. Muslim)
وعن
سليمان بن يسار قال: قال أبو أسيد رضي الله عنه: نمت البارحة عن وردي حتى
أصبحت، فلما أصبحت استرجعت، وكان وردي سورة البقرة، فرأيت في المنام كأن
بقرة تنطحني. رواه ابن أبي داود .
Dan dari Sulaiman bin Yasar berkata: Abu Usaid رضي الله عنه berkata:
“Tadi
malam aku tertidur sehingga terlewat wiridku sampai pagi. Ketika pagi
tiba aku mengucapkan istirja’ (إنا لله وإنا إليه راجعون). Biasanya
wiridku adalah Surah Al-Baqarah. Lalu aku melihat dalam mimpi
seakan-akan ada seekor sapi menandukku.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Dawud.
وروى ابن أبي الدنيا عن بعض حفاظ القرآن: أنه نام ليلة عن حزبه فأري في منامه كأن قائلا يقول له:
Dan Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari sebagian penghafal Al-Qur’an:
Bahwa
ia pernah tertidur pada suatu malam hingga meninggalkan hizb (bacaan
rutinnya), lalu dalam mimpinya ia melihat seakan ada seseorang berkata
kepadanya:
عجبت من جسم ومن صحة، ومن فتى نام إلى الفجر، والموت لا يؤمن خطفاته، في ظلم الليل إذا يسري
Aku heran pada tubuh yang kuat dan kesehatan yang ada,
juga pada seorang pemuda yang tidur hingga fajar.
Padahal kematian tidak aman dari datangnya secara tiba-tiba,
di gelapnya malam ketika ia berjalan menyusup.
Kembali 5b | IndeX | Lanjut 6a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar