الملخص في شرح كتاب التوحيد
Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid
Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Kembali 8e | IndeX | Lanjut 9a
باب ما جاء في الرّقي والتّمائم
Bab tentang keterangan yang datang mengenai ruqyah dan tamimah (jimat)
وعن سعيد بن جبير قال: من قطع تميمة من إنسان كان كعِدل رقبة. رواه وكيع. وله عن إبراهيم: كانوا يكرهون التّمائم كلّها من القرآن وغير القرآن.
Dari Sa‘id bin Jubair رحمه الله, beliau berkata:
“Barang siapa memotong (melepas) tamimah (jimat) dari seseorang, maka pahalanya seperti (pahala) memerdekakan seorang budak.” (Diriwayatkan oleh Waki‘)
Dan diriwayatkan pula oleh Waki‘ dari Ibrahim (An-Nakha‘i), beliau berkata:
“Mereka dahulu memakruhkan seluruh bentuk tamimah, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun selain Al-Qur’an.”
وكيع: هو: وكيع بن الجراح ثقة إمامٌ صاحب تصانيفَ مات سنة ١٩٧هـ.
Kata [وكيع] : Beliau adalah Waki‘ bin Al-Jarrah, seorang imam yang terpercaya (tsiqah), memiliki banyak karya tulis, dan wafat pada tahun 197 H.
إبراهيم: هو الإمام إبراهيم النخعي ثقة من كبار الفقهاء مات سنة ٩٦هـ.
Kata [إبراهيم] : Beliau adalah Imam Ibrahim An-Nakha‘i, seorang yang terpercaya (tsiqah), termasuk ulama besar dalam bidang fikih, wafat pada tahun 96 H.
كعدل رقبة: أي كان له مثل ثواب من أعتق رقبة.
Kata [كعدل رقبة] : Maksudnya orang yang memotong atau melepaskan jimat dari seseorang memperoleh pahala seperti pahala orang yang memerdekakan seorang budak.
وله: أي وروى وكيع أيضا.
Kata [وله] : Maksudnya Waki‘ juga meriwayatkan.
وكانوا: أي أصحاب عبد الله بن مسعود وهم منا سادات التابعين.
Kata [وكانوا] : Yaitu para sahabat (murid-murid) Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dan mereka termasuk tokoh-tokoh besar dari kalangan tabi‘in.
معنى الأثرين إجمالاً: الإخبار أن من أزال عن إنسان ما يعلِّقه على نفسه لدفع الآفات فله من الثواب مثل ثواب من أعتق رقبة من الرقّ؛ لأنّ هذا الإنسان صار بتعليق التمائم مستعبداً للشيطان فإذا قطعها عنه أزال عنه رِقَّ الشيطان. ويحكي إبراهيم النخعيّ عن بعض سادات التابعين أنّهم يعمِّمون المنع من تعليق التمائم ولو كانت مكتوباً فيها قرآنٌ فقط سدّاً للذريعة.
Makna secara global dari kedua riwayat ini : Atsar ini menjelaskan bahwa orang yang menghilangkan dari seseorang sesuatu yang ia gantungkan pada dirinya untuk menolak penyakit atau bahaya (yaitu tamimah/jimat), maka ia memperoleh pahala seperti pahala memerdekakan seorang budak dari perbudakan.
Sebab orang yang menggantungkan tamimah telah menjadi terikat dan tunduk kepada tipu daya setan, sehingga ketika tamimah itu dilepaskan darinya, seakan-akan ia telah dibebaskan dari perbudakan terhadap setan.
Dan Ibrahim An-Nakha‘i menukil pendapat sebagian tokoh besar tabi‘in bahwa mereka melarang penggunaan semua jenis tamimah, meskipun hanya berisi tulisan Al-Qur’an, sebagai bentuk menutup jalan (سدّ الذريعة) menuju perkara yang terlarang.
مناسبة الأثرين للباب ظاهرة: فإن فيهما حكاية المنع من تعليق التمائم مطلقاً عن هؤلاء الأجلاء من سادات التابعين.
Kesesuaian kedua riwayat dengan bab: Keterkaitannya sangat jelas, yaitu karena di dalam keduanya terdapat penukilan larangan menggantungkan tamimah secara mutlak dari para ulama besar dan tokoh tabi‘in tersebut.
ما يستفاد من الأثرين:
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua riwayat tersebut:
١- فضل قطع التمائم؛ لأنّ ذلك من إزالة المنكر وتخليص الناس من الشرك.
1. Keutamaan memotong atau melepaskan tamimah (jimat), Karena perbuatan itu termasuk menghilangkan kemungkaran dan membebaskan manusia dari kesyirikan.
٢- تحريم تعليق التمائم مطلقاً ولو كانت من القرآن عند جماعة من التابعين.
2. Haram menggantungkan tamimah secara mutlak, meskipun berupa ayat Al-Qur’an, menurut sekelompok ulama dari kalangan tabi‘in.
٣- حرص السلف على صيانة العقيدة عن الخرافات.
3. Besarnya perhatian generasi salaf dalam menjaga kemurnian akidah dari khurafat dan keyakinan yang tidak benar.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar