Senin, 15 Juni 2026

Kitab Attibyan : 04e

 

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 4dIndeX | Lanjut 5a

 

 

الباب الرابع

Bab keempat



 حرصه على العلم

Kesungguhannya dalam menuntut ilmu


[فصل] ومن آدابه المتأكدة أن يكون حريصا على التعلم  ، مواظبا عليه، في جميع الأوقات التي يتمكن منه فيها، ولا يقنع بالقليل مع تمكنه من الكثير، ولا يحمّل نفسه ما لا يطيق مخافة من الملل، وضياع ما حصل، وهذا يختلف باختلاف الناس والأحوال.

[Sub bab] Dan termasuk adab yang sangat ditekankan adalah hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat yang kuat dalam belajar, terus-menerus menjaganya, dan istiqamah di atasnya pada seluruh waktu yang ia mampu untuk belajar. Jangan merasa cukup dengan sedikit ilmu padahal mampu memperoleh lebih banyak. Namun, jangan pula membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak sanggup ia jalani karena khawatir akan menimbulkan kebosanan dan hilangnya ilmu yang sudah diperoleh. Dan hal ini berbeda-beda sesuai keadaan masing-masing orang dan kondisi yang ada.

وإذا جاء إلى مجلس الشيخ فلم يجده، انتظر ولازم بابه، ولا يفوّت وظيفته إلا أن يخاف كراهة الشيخ لذلك؛، بأن يعلم من حاله الإقراء في وقت بعينه، وأنه لا يقرئ في غيره.

Dan apabila seorang murid datang ke majelis gurunya lalu tidak mendapatinya, maka hendaknya ia menunggu dan tetap berada di depan pintunya, serta tidak meninggalkan jatah pelajarannya, kecuali jika ia khawatir gurunya tidak menyukai hal tersebut; yaitu apabila ia mengetahui dari kebiasaan gurunya bahwa beliau mengajar pada waktu tertentu dan tidak mengajar di selain waktu itu.

وإذا وجد الشيخ نائما، أو مشتغلا بمهم، لم يستأذن عليه، بل يصبر إلى استيقاظه، أو فراغه أو ينصرف، والصبر: أولى كما كان ابن عباس - رضي الله عنهما - وغيره يفعلون.

Dan apabila ia mendapati gurunya sedang tidur atau sedang sibuk dengan suatu urusan penting, maka jangan meminta izin untuk masuk menemuinya. Akan tetapi, hendaknya ia bersabar sampai guru itu bangun atau selesai dari urusannya, atau ia pulang. Dan bersabar (menunggu) itu lebih utama, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Abbas dan selain beliau.

وينبغي أن يأخذ نفسه بالاجتهاد في التحصيل في وقت الفراغ ، والنشاط، وقوة البدن، ونباهة الخاطر، وقلة الشاغلات، قبل عوارض البطالة، وارتفاع المنزلة. 

Dan hendaknya seorang penuntut ilmu mendorong dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu pada waktu luang, saat bersemangat, ketika badan masih kuat, pikiran masih tajam, dan sedikit kesibukan, sebelum datang penghalang-penghalang berupa kemalasan dan sebelum datang kedudukan (kesibukan karena posisi atau tanggung jawab yang lebih tinggi).

[النشاط → saat semangat dan energi masih baik, في التحصيل → dalam memperoleh ilmu]

فقد قال أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه : تفقهوا قبل أن تسودوا .

Karena sungguh Umar ibn al-Khattab berkata: ‘Pelajarilah ilmu (agama) sebelum kalian menjadi pemimpin (atau sebelum kalian memiliki kedudukan).’

معناه: اجتهدوا في كمال أهليتكم، وأنتم أتباع قبل أن تصيروا سادة؛ فإنكم إذا صرتم سادة متبوعين، امتنعتم من التعلم لارتفاع منزلتكم، وكثرة شغلكم.

Maknanya: bersungguh-sungguhlah untuk menyempurnakan kelayakan dan kemampuan kalian (dalam ilmu), ketika kalian masih menjadi pengikut, sebelum kalian menjadi pemimpin. Karena jika kalian telah menjadi pemimpin yang diikuti, kalian akan terhalang dari belajar disebabkan tingginya kedudukan kalian dan banyaknya kesibukan kalian.

وهذا معنى قول الإمام الشافعي رضي الله عنه : تفقه قبل أن ترأس. فإذا رأست فلا سبيل إلى التفقه. 

Dan inilah makna perkataan Imam Syafi‘i: ‘Pelajarilah ilmu sebelum engkau menjadi pemimpin. Maka apabila engkau telah menjadi pemimpin, tidak ada lagi jalan untuk bertafaqquh (belajar dengan leluasa seperti sebelumnya).’

 

 [فصل] وينبغي أن يبكر بقراءته على الشيخ أول النهار لحديث النبي ﷺ : اللهم بارك لأمتي في بكورها .

[Sub bab] Dan hendaknya seorang pelajar menyegerakan membaca (belajar/mengaji) kepada guru pada awal waktu siang, berdasarkan hadis Nabi ﷺ:

“Ya Allah, berikanlah keberkahan bagi umatku pada waktu pagi mereka.”

وينبغي أن يحافظ على قراءة محفوظه، وينبغي أن لا يؤثر بنوبته غيره؛ فإن الإيثار مكروه في القرب، بخلاف الإيثار بحظوظ النفس، فإنه محبوب، فإن رأى الشيخ المصلحة في الإيثار في بعض الأوقات لمعنى شرعي، فأشار عليه بذلك امتثل أمره.

Dan hendaknya seorang pelajar menjaga pengulangan bacaan hafalannya (agar tetap terpelihara dan tidak lupa).

Dan hendaknya ia tidak mendahulukan orang lain pada gilirannya (untuk membaca atau belajar di hadapan guru), karena mengutamakan orang lain dalam perkara ibadah dan pendekatan diri kepada Allah (al-qurab) hukumnya makruh.
Berbeda dengan mengutamakan orang lain dalam urusan kepentingan pribadi atau hak duniawi, maka hal itu terpuji dan dianjurkan.

Namun, apabila guru memandang bahwa mengutamakan orang lain pada sebagian keadaan mengandung maslahat karena alasan syar‘i, lalu guru mengarahkan pelajar untuk melakukannya, maka hendaknya ia menaati arahan gurunya.

[نوبته → giliran belajar, membaca, atau mendapat kesempatan di majelis guru]

ومما يجب عليه ويتأكد الوصية به ألا يحسد أحدا من رفقته  أو غيرهم على فضيلة رزقه الله إياها.

Dan termasuk perkara yang wajib diperhatikan dan sangat ditekankan untuk diwasiatkan kepada seorang pelajar adalah: janganlah ia dengki (hasad) kepada siapa pun, baik kepada teman-temannya maupun selain mereka, atas suatu keutamaan yang Allah karuniakan kepadanya.

[الحسد (hasad) ialah menginginkan hilangnya nikmat atau kelebihan yang dimiliki orang lain]

وأن لا يعجب بنفسه بما خصه الله، وقد قدمنا إيضاح هذا في آداب الشيخ.

Dan hendaknya ia tidak merasa kagum terhadap dirinya sendiri (ujub) karena kelebihan yang Allah berikan kepadanya. Dan sebelumnya telah kami jelaskan hal ini dalam adab-adab guru.

[يعجب بنفسه → merasa bangga, takjub, atau tinggi hati terhadap diri sendiri]

وطريقه في نفي العجب، أن يذكر نفسه أنه لم يحصل ما حصله بحوله وقوته، وإنما هو فضل من الله.

Dan cara untuk menghilangkan rasa ujub (bangga terhadap diri sendiri) adalah dengan mengingatkan dirinya bahwa apa yang ia peroleh bukanlah hasil dari daya dan kekuatannya sendiri, melainkan semata-mata karunia dari Allah.

[نفي العجب → menolak dan menghilangkan rasa ujub dari hati

ولا ينبغي أن يعجب بشيء لم يخترعه، بل أودعه الله تعالى فيه.

Dan tidak sepantasnya seseorang merasa ujub (kagum terhadap dirinya sendiri) karena sesuatu yang bukan ia ciptakan sendiri, tetapi Allah Ta‘ala yang menanamkan dan mengaruniakannya pada dirinya.

[لم يخترعه → bukan sesuatu yang ia ciptakan atau hasilkan secara mandiri]

[أودعه الله فيه → Allah yang menaruh, memberikan, dan menitipkan kelebihan itu pada dirinya]

وطريقه في نفي الحسد أن يعلم أن حكمة الله تعالى اقتضت جعل هذه الفضيلة في هذا.

Dan cara untuk menghilangkan rasa hasad (dengki) adalah dengan mengetahui bahwa hikmah Allah Ta‘ala menghendaki untuk menjadikan keutamaan itu pada orang tersebut.

[نفي الحسد → menghilangkan dan membersihkan hati dari rasa dengki]

فينبغي أن لا يعترض عليها ولا يكره حكمة أرادها الله تعالى ولم يكرهها. 

Maka hendaknya seseorang tidak menentang keputusan tersebut dan tidak membenci hikmah yang Allah Ta‘ala kehendaki, karena Allah sendiri tidak membencinya.

[لا يعترض عليها → tidak memprotes, menolak, atau merasa keberatan terhadap ketetapan Allah]

[لا يعترض عليها → tidak memprotes, menolak, atau merasa keberatan terhadap ketetapan Allah


 

Kembali 4dIndeX | Lanjut 5a

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar