خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 42 | IndeX | Lanjut 44
بابُ حُرْمَةِ مكَّةَ
Bab Kehormatan Kota Mekah
Hadist ke Dua Ratus Tiga Belas:
عنْ أبِي شُريحٍ- خُوَيْلِدِ بنِ عمرٍو الخُزَاعِيِّ العَدَوِيِّ- رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: أنَّهُ قالَ لعمرِو بنِ سعيدِ بنِ العاصِ -وهوَ يَبْعَثُ البُعوثَ إِلى مَكَّةَ-: ائْذَنْ لِي، أَيُّهَا الأَميرُ، أَنْ أُحَدِّثَكَ قَوْلًا قَامَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَدَ مِنْ يَوْمِ الْفَتْحِ، فَسَمِعَتْهُ أُذُنَايَ، وَوَعَاهُ قَلْبِي، وَأَبْصَرَتْهُ عَيْنَايَ، حِينَ تَكَلَّمَ بِهِ، أَنَّهُ حَمِدَ اللَّهَ، وَأَثْنَى عَلَيهِ، ثُمَّ قالَ: (( إِنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا اللَّهُ، وَلَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ، فَلَا يَحِلُّ لامْرِئٍ يُؤْمنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْفِكَ بِهَا دَمًا، وَلَا يَعْضِدَ بِهَا شَجَرَةً، فإنْ أَحَدٌ تَرَخَّصَ بِقِتَالِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُولُوا: إِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ. وَإنَّمَا أَذِنَ لِرَسُولِه سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَقَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ، فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَقِيلَ لأَبِي شُرَيْحٍ: مَا قالَ لَكَ؟ قالَ: أَنَا أَعْلَمُ بِذَلِكَ مِنْكَ، يَا أَبَا شُرَيْحٍ، إِنَّ الْحَرَمَ لَا يُعِيذُ عَاصِيًا، وَلَا فَارًّا بِدَمٍ وَلَا فَارًّا بَخَرْبَةٍ.
Diriwayatkan dari Abu Syuraih (Khuwailid bin ‘Amrin al-Khuza‘i al-‘Adawi) ra., ia berkata:
Ia pernah berkata kepada ‘Amru bin Sa‘id bin ‘Ash — ketika ia sedang mengirim pasukan ke Mekah —:
"Izinkan aku, wahai amir (pemimpin), untuk menyampaikan kepadamu sebuah sabda yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ pada hari setelah penaklukan (Fathu Makkah). Aku mendengarnya dengan telingaku, kusimpan dalam hatiku, dan mataku sendiri menyaksikannya saat beliau menyampaikan sabda itu."
Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda:
“Sesungguhnya Allah-lah yang menjadikan Mekah sebagai tanah haram (suci), bukan manusia yang menjadikannya haram. Maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah di dalamnya atau menebang pohonnya. Jika ada seseorang yang beralasan dengan (peristiwa) peperangan Rasulullah ﷺ di dalamnya, maka katakanlah kepadanya: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan (peperangan itu) hanya bagi Rasul-Nya ﷺ, dan tidak mengizinkan bagi kalian. Allah hanya mengizinkan (hal itu) bagi Rasul-Nya pada satu waktu dari siang hari saja, dan sekarang kehormatan Mekah telah kembali seperti kehormatannya kemarin. Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.’”
Kemudian dikatakan kepada Abu Syuraih: "Apa jawaban ‘Amr bin Sa‘id kepadamu?"
Ia menjawab: "Ia berkata kepadaku: ‘Aku lebih tahu tentang hal itu darimu, wahai Abu Syuraih. Sesungguhnya Tanah Haram tidak melindungi orang yang berbuat maksiat, tidak juga orang yang melarikan diri karena telah menumpahkan darah, dan tidak pula orang yang melarikan diri karena kejahatan (kerusakan).’”
الخَرْبَةُ: بالخَاءِ المُعْجَمَةِ والرَّاءِ الْمُهْمَلَةِ، قيلَ: الجِنَايَةُ، وقيلَ: البَلِيَّةُ، وقيلَ: التُّهْمَةُ، أَصْلُهَا في سَرِقَةِ الإِبِلِ، قالَ الشُّاعِرُ:
Lafadz [الخَرْبَةُ] : (dengan huruf kha’ dan ra’) — maknanya: Kejahatan atau pelanggaran, Musibah atau keburukan, atau tuduhan dosa besar. Asalnya digunakan untuk menyebut pencurian unta. Seorang penyair berkata:
(( وَالْخَارِبُ: اللِّصُّ يُحِبُّ الْخَارِبَا ))
“Al-khārib adalah pencuri yang mencintai perbuatan kharab (kerusakan).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Menasehati para pemimpin (penguasa) adalah hal yang dianjurkan, namun hendaknya dilakukan dengan kelembutan dan sikap santun.
Kedua: Sunnah memulai khutbah atau nasihat dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Ta‘ala.
Ketiga: Kota Mekah telah disucikan (diharamkan) oleh Allah sejak penciptaan langit dan bumi, maka haram di dalamnya: menumpahkan darah, dan menebang pohon-pohonnya.
Keempat: Keringanan berperang di Mekah hanya diberikan kepada Nabi ﷺ secara khusus, dan hanya berlaku sesaat dari waktu siang saat penaklukan Mekah.
Kelima: Wajib menyampaikan ilmu kepada orang yang belum mengetahuinya, sebagaimana perintah Nabi ﷺ: “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”
Hadist ke Dua Ratus Empat Belas:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ- (( لَا هِجْرَةَ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيِّةٌ. وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا )) ، وَقَالَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ: (( إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَواتِ وَالأرْضَ، فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَنَّهُ لَمْ يَحِلَّ الْقِتَالُ فِيهِ لأحَدٍ قَبْلِي، وَلَمْ يَحِلَّ لي إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ- فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ، وَلَا يُلْتَقَطُ لُقَطَتُهُ إِلَّا مَنْ عَرَّفَهَا، وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ )) فقالَ العبَّاسُ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِلَّا الإِذْخِرَ، فَإِنَّهُ لِقَيْنِهِمْ وبُيُوتِهِمْ، فقالَ: (( إِلَّا الإِذْخِرَ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin ‘Abbas ra. berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan Mekah:
“Tidak ada lagi hijrah (dari Mekah ke Madinah), tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan apabila kalian diminta untuk berangkat (berjihad), maka berangkatlah.”
Beliau juga bersabda pada hari penaklukan Mekah:
“Sesungguhnya negeri (Mekah) ini telah Allah jadikan sebagai tanah haram sejak hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Maka ia tetap haram dengan kehormatan dari Allah hingga hari Kiamat. Tidak pernah dihalalkan berperang di dalamnya bagi siapa pun sebelumku, dan tidak dihalalkan bagiku kecuali hanya satu saat dari siang hari. Maka negeri ini tetap haram dengan kehormatan Allah sampai hari Kiamat: durinya tidak boleh dipotong, binatang buruannya tidak boleh diusir, barang temuan (luqathah)-nya tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang akan mengumumkannya, dan rumput hijaunya tidak boleh dicabut.”
Lalu al-‘Abbas (paman Nabi) berkata:
"Wahai Rasulullah, kecuali rumput idzkhir, karena itu digunakan oleh pandai besi dan untuk keperluan rumah mereka."
Beliau pun bersabda:
“Kecuali rumput idzkhir.”
القَيْنُ: الحَدَّادُ.
Lafadz [القَيْنُ] : pandai besi.
Kosakata:
Lafadz (إذا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا) : Artinya: Apabila kalian diminta keluar (untuk berjihad) dengan segera, maka berangkatlah dengan segera pula.
Lafadz (لا يُعْضَدُ) : Artinya: Tidak boleh dipotong (pohon atau durinya).
Lafadz (لا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ) : Artinya: Binatang buruannya tidak boleh diusir dari tempatnya.
Lafadz (لا يُخْتَلَى خَلَاهُ) : Artinya: Rumput hijaunya tidak boleh dicabut.
Lafadz (الإِذْخِرَ) : Artinya: Tumbuhan yang berakar kuat dan memiliki batang-batang kecil, beraroma harum.
Lafadz (لِقَيْنِهِمْ) : Artinya: Untuk keperluan para pandai besi yang menyalakan api dengannya.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Hijrah dari Mekah telah terhenti, karena Mekah telah menjadi negeri Islam; namun hijrah dari negeri lain (yang bukan negeri Islam) masih tetap berlaku.
Kedua: Jihad tetap berlaku apabila terdapat musuh yang harus diperangi, dan niat berjihad tetap berpahala ketika jihad tidak sedang berlangsung.
Ketiga: Wajib berangkat (berjihad) apabila imam (pemimpin) memerintahkan untuk memerangi musuh.
Keempat: Haram berperang di Mekah sampai hari Kiamat, karena keterbolehan berperang di Mekah hanya berlaku khusus bagi Nabi ﷺ.
Kelima: Haram menebang duri, pohon, atau rumput, serta mengusir atau menangkap hewan buruan di Tanah Haram Mekah.
Keenam: Haram mengambil barang temuan (luqathah) di Tanah Haram kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya terus-menerus (hingga diketahui pemiliknya).
Ketujuh: Mekah ditaklukkan dengan cara perang (‘anwatan) — yakni melalui kekuatan dan penaklukan, bukan dengan perdamaian.
Kembali 42 | IndeX | Lanjut 44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar