Senin, 13 Oktober 2025

Umdatul Ahkam : 48 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 47IndeX | Lanjut 49

 

 

بابُ الغُسْلِ للمُحْرِمِ 

Bab Mandi bagi Orang yang Ihram



Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Tiga:

 

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ حُنَيْنٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بنَ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، وَالْمِسوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ اخْتَلَفَا بِالأَبْوَاءِ، فقَالَ ابنُ عبَّاسٍ: يَغْسِلُ المُحْرِمُ رَأْسَهُ، وَقالَ الْمِسْوَرُ: لَا يَغْسِلُ المُحْرِمُ رَأْسَهُ، قالَ: فأَرْسَلَنِي ابنُ عَبَّاسٍ إلى أَبي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ بَيْنَ الْقَرْنَيْنِ وَهُوَ يُسْتَرُ بِثَوْبٍ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ. فقالَ: مَنْ هذَا؟ قُلْتُ: أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بنُ حُنَيْنٍ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ ابنُ عَبَّاسٍ يَسْأَلُكَ: كَيْفَ كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ رَأسَهُ وَهُوَ مُحْرِمٌ؟ فَوَضَعَ أبو أَيُّوبَ يَدَهُ عَلَى الثَّوْبِ، فَطأْطَأَهُ، حتَّى بَدَا لِي رَأْسُهُ، ثُمَّ قالَ لإِنْسَانٍ يَصُبُّ عَلَيْهَا المَاءَ: اصْبُبْ. فَصَبَّ عَلَى رَأْسِهِ، ثُمَّ حَرَّكَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ، فأقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، ثُمَّ قالَ: هكَذَا رَأَيْتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ )) . 

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Hunain, bahwa Abdullah bin Abbas ra. dan al-Miswar bin Makhramah berselisih pendapat di al-Abwā’.

Ibnu Abbas berkata: “Orang yang sedang ihram boleh membasuh kepalanya.”

Sedangkan al-Miswar berkata: “Orang yang sedang ihram tidak boleh membasuh kepalanya.”

Ibnu Abbas lalu mengutusku kepada Abu Ayyub al-Anshari. Aku mendapatinya sedang mandi di antara dua tiang (al-qarnain) dan ia tertutup dengan sehelai kain. Aku pun memberi salam kepadanya.

Ia berkata, “Siapa ini?”

Aku menjawab, “Aku Abdullah bin Hunain. Ibnu Abbas mengutusku kepadamu untuk bertanya: Bagaimana Rasulullah ﷺ membasuh kepalanya ketika beliau dalam keadaan ihram?”

Lalu Abu Ayyub meletakkan tangannya di atas kain dan menundukkannya hingga tampak kepalanya, kemudian berkata kepada seseorang yang menuangkan air: “Tuangkanlah.”

Orang itu pun menuangkan air ke kepalanya. Abu Ayyub menggerakkan kedua tangannya pada kepalanya, mengusap ke depan dan ke belakang, lalu berkata:

“Seperti inilah aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya.”


وفي روايَةٍ، فقالَ المِسْوَرُ لابنِ عَبَّاسٍ: لَا أُمَارِيكَ أَبْدًا، الْقَرْنَانِ: الْعَمُودَانِ اللَّذَانِ تُشَدُّ فِيهِمَا الْخَشَبَةُ التي تُعَلَّقُ عَلَيْهَا بَكَرةُ البِئْرِ. 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa al-Miswar berkata kepada Ibnu Abbas:

“Aku tidak akan membantahmu lagi untuk selamanya.”

Adapun yang dimaksud al-qarnān (dua tiang) ialah dua batang tiang tempat diikatkan kayu yang digantung padanya katrol sumur.


Kosakata:

Lafadz (الأبواء) : Suatu tempat antara Makkah dan Madinah, dekat daerah Suturah, kira-kira tiga kilometer di sebelah timurnya.

Lafadz (طَأْطَأَهُ) : Artinya, ia menundukkan kainnya agar kepala Abu Ayyub terlihat saat ia mandi.

Lafadz (أُمَارِيكَ) : Artinya, aku membantah atau berdebat denganmu.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Bolehnya orang yang sedang ihram membasuh kepalanya, sekalipun dengan bantuan orang lain, selama tidak mencabut rambutnya.

Kedua: Diterimanya hadis atau berita dari satu orang (khabar al-wāhid) dalam masalah-masalah agama.

Ketiga: Kembalinya para ulama kepada dalil-dalil syar‘i ketika terjadi perbedaan pendapat.

Keempat: Bolehnya memberi salam kepada orang yang sedang mandi atau berwudu.

Kelima: Disunnahkan menutup aurat (menjaga kesopanan) ketika mandi.

Keenam: Bolehnya meminta bantuan orang lain dalam urusan bersuci. 

 

 

 

بابُ فَسْخِ الحجِّ إلى العمرةِ 

Bab: Mengganti (memfasakh) niat haji menjadi umrah



Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Empat:

عنْ جابرِ بن عبدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُما قالَ: أَهَلَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ بِالحَجِّ، وَلَيْسَ مَعَ أَحَدٍ مِنْهُمْ هَدْيٌ، غَيْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَلْحَةَ، وَقَدِمَ عَليٌّ مِن الْيَمَنِ، فَقَالَ: أَهْلَلْتُ بِمَا أَهَلَّ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ أَنْ يَجْعَلُوهَا عُمْرَةً. فَيَطُوفُوا، ثُمَّ يُقَصِّرُوا وَيَحِلُّوا، إلَّا مَنْ كانَ مَعَهُ الهَدْيُ، فقَالُوا: نَنْطَلِقُ إلى مِنًى، وَذَكَرُ أَحَدِنَا يَقْطُرُ! فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقالَ: (( لَو اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ، مَا أَهْدَيْتُ، وَلَوْلَا أَنَّ مَعِيَ الهَدْيَ لأَحْلَلْتُ )) . 

Diriwayatkan Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Nabi ﷺ dan para sahabatnya berniat ihram untuk haji (tamattu‘ atau qirān), dan tidak ada seorang pun dari mereka yang membawa hewan hadyu (hewan sembelihan), kecuali Nabi ﷺ dan Thalhah. Lalu datanglah Ali dari Yaman dan berkata: “Aku berniat ihram sebagaimana niat Rasulullah ﷺ.” Maka Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya yang tidak membawa hadyu untuk menjadikan ihram mereka sebagai umrah, agar mereka thawaf, kemudian memendekkan rambut, lalu bertahallul (keluar dari ihram), kecuali bagi orang yang membawa hadyu.

Para sahabat berkata:

“Apakah kami akan berangkat ke Mina sementara salah seorang dari kami masih menetes (mani)?” (yakni karena telah bertahallul dan boleh berhubungan).

Maka berita itu sampai kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda:

“Seandainya aku mengetahui sebelumnya apa yang aku ketahui sekarang, tentu aku tidak akan membawa hadyu, dan kalau bukan karena aku membawa hadyu, niscaya aku juga sudah bertahallul.”


وَحَاضَتْ عائِشَةُ، فَنَسَكَتِ المَنَاسِكَ كُلَّهَا، غَيْرَ أَنَّهَا لَمْ تَطُفْ بِالْبَيْتِ، فَلَمَّا طَهُرَتْ طَافَتْ بِالْبَيْتِ، قَالَتْ: يا رَسُولَ اللَّهِ، تَنْطَلِقُونَ بِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ وَأَنْطَلِقُ بِحَجٍّ؟ فأَمَرَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا إلى التَّنْعِيمِ، فَاعْتَمَرَتْ بَعْدَ الحَجِّ. 

Kemudian Aisyah ra. mengalami haid, maka ia tetap melaksanakan seluruh manasik (amalan) haji, kecuali thawaf di Ka‘bah. Setelah ia suci, ia melakukan thawaf di Baitullah.

Ia berkata:

“Wahai Rasulullah, kalian semua kembali dengan membawa haji dan umrah, sedangkan aku hanya dengan haji?”

Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar untuk menemaninya ke Tan‘im, lalu Aisyah melaksanakan umrah setelah haji.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Rasulullah ﷺ berihram dengan membawa hadyu, dan meninggalkannya (tidak membawa) adalah boleh.

Kedua: Dibolehkan menggantungkan niat ihram pada niat orang lain, seperti ucapan Ali: “Aku berihram sebagaimana ihram Rasulullah ﷺ.”

Ketiga: Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hadyu untuk mengganti hajinya menjadi umrah, kemudian setelah selesai umrah mereka kembali berihram untuk haji. Adapun yang membawa hadyu tetap dalam ihramnya.

Keempat: Bolehnya menyesali hal-hal baik yang terlewat, apabila hal itu berkaitan dengan urusan agama.

Kelima: Seorang wanita haid boleh melakukan semua manasik haji, kecuali thawaf di Ka‘bah, karena hal itu dilarang bagi yang haid.

Keenam: Syarat sah sa‘i adalah harus dilakukan setelah thawaf yang merupakan bagian dari ibadah (thawaf nusuk).

Ketujuh: Bolehnya melaksanakan umrah dari tempat paling dekat di luar Tanah Haram, seperti dari Tan‘im.

Kedelapan: Umrah harus dilakukan dari luar wilayah Haram, tidak boleh dari dalamnya. 

 

Kembali 47IndeX | Lanjut 49

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar