Rabu, 29 Oktober 2025

Umdatul Ahkam : 60 (Catatan Tentang Jual Beli)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 59 | IndeX | Lanjut 61

 

 

بابُ الوَقْفِ

Bab tentang Wakaf


Hadist ke Dua Ratus Delpan Puluh Dua:


عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فقالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ؟ قَال: (( إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا )) قالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا، وَلَا يُوْرَثُ، وَلَا يُوْهَبُ، قالَ: فَتَصَدَّقَ عُمَرُ في الْفُقَرَاءِ، وَفِي الْقُرْبَى، وفي الرِّقَابِ وَفي سبِيلِ اللَّهِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالضَّيْفِ، لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيهَا، أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، أَو يُطْعِمَ صَدِيقًا، غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ )) .

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Umar mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Ia lalu datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta pendapat beliau tentang tanah itu. Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, dan aku belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga bagiku daripada tanah ini. Maka apa yang engkau perintahkan kepadaku untuk aku perbuat dengannya?’

Beliau ﷺ bersabda: ‘Jika engkau mau, tahanlah pokoknya dan sedekahkan hasilnya.’

Maka Umar pun menyedekahkannya, dengan syarat bahwa tanah itu tidak boleh dijual, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dihibahkan.

Lalu Umar menyedekahkannya untuk (kepentingan) fakir miskin, kerabat, memerdekakan budak, jalan Allah, orang yang kehabisan bekal di perjalanan, dan tamu.

Tidak berdosa bagi orang yang mengelolanya (nadzīr wakaf) untuk memakan (manfaat) darinya dengan cara yang baik, atau memberi makan sahabatnya, tanpa bermaksud menjadikannya sebagai harta (untuk dimiliki).”

وفي لفظٍ: (( غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ )) .

Dalam satu riwayat disebutkan: “tanpa bermaksud menumpuk harta.” 

 

Kosakata:

Lafadz Khaibar (خَيْبَرَ): daerah di utara Madinah yang hingga kini masih subur dengan pertaniannya. Dulu merupakan tempat tinggal orang-orang Yahudi hingga Umar mengusir mereka pada masa kekhalifahannya.

Lafadz Yasta’miruhu (يَسْتَأْمِرُهُ): meminta pendapat dan nasihat dalam mengelola harta tersebut.

Lafadz Qaṭṭu (قَطُّ): keterangan waktu untuk masa lampau; artinya “tidak pernah sama sekali.”

Lafadz Anfasu minhu (أَنْفَسُ منهُ): yang paling berharga dan paling baik.

Lafadz Lā junāḥa (لَا جُنَاحَ): tidak berdosa dan tidak ada larangan.

Lafadz Ghaira mutamawwilin (غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ): tidak bermaksud mengambil lebih dari kebutuhannya; tidak menjadikannya sebagai sarana memperkaya diri.

Lafadz Ghaira muta’aththilin (غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ): tidak bermaksud mengumpulkan atau menimbun harta pokok. 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Makna wakaf: menahan pokok harta dan menjadikan manfaatnya untuk kepentingan umum atau kebaikan.

Kedua: Hukum harta wakaf: tidak boleh diperjualbelikan, digadaikan, atau diwariskan; statusnya tetap sebagai milik Allah untuk tujuan amal.

Ketiga: Penyaluran wakaf: diarahkan kepada bidang-bidang kebajikan seperti membantu fakir miskin, kerabat, jihad, dan ilmu pengetahuan.

Keempat: Kekuatan syarat wakif: syarat yang dibuat oleh orang yang mewakafkan harta selama tidak bertentangan dengan syariat harus dijalankan.

Kelima: Hak pengelola wakaf: boleh memanfaatkan hasil wakaf sekadar untuk kebutuhan sewajarnya tanpa mengambil keuntungan pribadi.

Keenam: Keutamaan wakaf: wakaf termasuk amal saleh yang besar pahalanya, dan lebih utama bila berasal dari harta yang paling berharga serta disalurkan kepada hal-hal yang paling bermanfaat. 

 

 

بابُ الهِبَةِ

Bab tentang Hibah (Pemberian)


Hadist ke Dua Ratus Delpan Puluh Tiga:


وعنْ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( حَمَلْتُ عَلَى فَرَسٍ في سَبِيلِ اللَّهِ، فَأَضَاعَهُ الَّذِي كانَ عِنْدَهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِيَهُ، وَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَبِيعُهُ بِرُخْصٍ، فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فقالَ: (( لَا تَشْتَرِه، وَلَا تَعُدْ في صَدَقَتِكَ، وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍح فإِنَّ الْعَائِدَ في هِبَتِهِ كالعَائِدِ في قَيْئِهِ )) .

Diriwayatkan Dari Umar r.a. berkata:

“Aku pernah memberikan seekor kuda di jalan Allah (sebagai sedekah). Namun orang yang menerimanya menyia-nyiakannya. Aku ingin membelinya kembali dan mengira ia akan menjualnya dengan harga murah. Lalu aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu. Beliau bersabda:

‘Jangan engkau membelinya kembali, dan janganlah engkau mengambil kembali sedekahmu, sekalipun ia memberikannya kepadamu hanya dengan satu dirham. Sesungguhnya orang yang menarik kembali pemberiannya seperti orang yang menjilat muntahnya sendiri.’”


وفى لَفْظٍ: فَإِنَّ الذى يَعُودُ فى صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فى قَيْئِهِ.

Dalam riwayat lain disebut:

“Sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya seperti anjing yang kembali memakan muntahnya.”


Hadist ke Dua Ratus Delpan Puluh Empat:


وعن ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا: أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( العَائِدُ في هِبَتِهِ، كالعَائِدِ في قَيْئِهِ )) .

Diriwayatkan Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang menarik kembali hibahnya seperti orang yang menjilat muntahnya sendiri.”


Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Anjuran membantu jihad di jalan Allah, karena hal itu termasuk bentuk sedekah yang paling mulia.

Kedua: Larangan membeli kembali harta yang telah disedekahkan, sebab setelah diserahkan, kepemilikannya telah berpindah dan tidak ada hak lagi bagi pemberi atasnya.

Ketiga: Haram hukumnya menarik kembali sedekah atau hibah, dan perbuatan itu sangat tercela, sebagaimana diumpamakan Nabi ﷺ dengan gambaran yang menjijikkan — seperti anjing yang menjilat kembali muntahnya sendiri. 

 

Kembali 59 | IndeX | Lanjut 61

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar