خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 48 | IndeX | Lanjut 50
بابُ فَسْخِ الحجِّ إلى العمرةِ
Bab: Mengganti (memfasakh) niat haji menjadi umrah
Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Lima:
عنْ جابرٍ قالَ: (( قَدِمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ نَقُولُ: لَبَّيْكَ بِالْحَجِّ، فأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلْنَاهَا عُمْرَةً )) .
Diriwayatkan Dari Jabir ra. berkata:
Kami datang bersama Rasulullah ﷺ, dan kami berniat ihram untuk haji. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kami agar menjadikannya sebagai umrah.
Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Enam:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأَصْحَابُهُ صَبِيحَةَ رَابِعَةٍ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَجْعَلُوهَا عُمْرَةً، فقَالُوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الحِلِّ؟ قالَ: (( الحِلُّ كُلُّهُ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin Abbas ra. berkata:
Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tiba (di Makkah) pada pagi hari tanggal empat (Dzulhijjah). Maka beliau memerintahkan mereka untuk menjadikan ihram mereka sebagai umrah. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami sudah boleh bertahallul sepenuhnya (bebas dari ihram)?” Beliau menjawab: “Ya, semua bentuk halal (dibolehkan bagi kalian seluruhnya).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Kedua hadis ini menunjukkan disyariatkannya mengganti niat haji menjadi umrah (fasakh haji ke umrah) bagi orang yang tidak membawa hewan hadyu (sembelihan).
Kedua: Setelah menyelesaikan umrah, mereka diperbolehkan bertahallul sepenuhnya, kemudian memulai kembali ihram haji pada hari kedelapan (Dzulhijjah).
Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Tujuh:
عنْ عُرْوَةَ بنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( سُئِلَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، وَأَنَّا جَالِسٌ: كَيْفَ كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ حِينَ دَفَعَ؟ فقَالَ: كانَ يَسِيرُ الْعَنَقَ. فإِذَا وَجَدَ فَجْوَةً نَصَّ )) .
Diriwayatkan Dari ‘Urwah bin az-Zubair ra., ia berkata:
Usamah bin Zaid pernah ditanya — sementara aku duduk di dekatnya —: “Bagaimana cara Rasulullah ﷺ berjalan (berkendara) ketika beliau berangkat dari Arafah (menuju Muzdalifah)?”
Ia menjawab: “Beliau berjalan dengan kecepatan sedang (al-‘anaq). Namun, apabila menemukan tempat yang lapang (fajwah), beliau mempercepat sedikit (nasṣ).”
العَنَقُ: انْبِسَاطُ السَّيْرِ , والنَّصُّ مَعْنَاهَا: فَوْقَ ذَلِكَ
Al-‘anaq: berjalan dengan kecepatan sedang (tidak lambat dan tidak tergesa-gesa), sedangkan an-naṣṣ artinya: lebih cepat sedikit dari itu.
Kosakata:
Lafadz (العَنَق) dan (النَّصّ) : Dua jenis kecepatan berjalan; an-naṣṣ lebih cepat daripada al-‘anaq. Kata al-‘anaq dibaca dengan fatḥah pada huruf ‘ain dan nun.
Lafadz (الفَجْوَة) : Tempat yang luas atau lapang.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Cara Rasulullah ﷺ berjalan saat meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah adalah dengan kecepatan sedang — tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat — disertai ketenangan, kerendahan hati, dan kekhusyukan.
Kedua: Jika menemukan tempat yang luas, beliau mempercepat sedikit lajunya, baik beliau sendiri maupun hewan tunggangannya.
Ketiga: Kebiasaan sebagian orang saat ini yang tergesa-gesa dan ceroboh dalam perjalanan haji adalah bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ.
بابُ حُكْمِ تقديمِ الرمْيِ والنحرِ والحلقِ والإفاضةِ، بعضِهَا على بعضٍ
Bab: Hukum mendahulukan antara lempar jumrah, menyembelih, mencukur rambut, dan thawaf ifadhah — sebagian atas yang lain
Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Delapan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرٍو رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ في حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَجَعلُوا يَسْأَلُونَهُ، فقالَ رَجُلٌ: لَمْ أَشْعُرْ، فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ؟ قالَ: (( اذْبَحْ، وَلَا حَرَجَ )) فَجاءَ آخَرُ فقالَ: لَمْ أَشْعُرْ، فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ؟ فقالَ: (( ارْمِ، وَلَا حَرَجَ )) فمَا سُئِلَ يَوْمَئِذٍ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلَا أُخِّرَ إِلَّا قالَ: افْعَلْ، وَلَا حَرَجَ )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin ‘Amr ra., bahwa Rasulullah ﷺ berhenti (berdiri) pada Haji Wada‘ (haji perpisahan), lalu orang-orang datang bertanya kepadanya.
Seorang laki-laki berkata:
“Wahai Rasulullah, aku tidak tahu (keliru), maka aku mencukur rambut sebelum menyembelih.”
Beliau menjawab:
“Sembelihlah, dan tidak mengapa.”
Kemudian datang yang lain dan berkata:
“Aku tidak tahu, lalu aku menyembelih sebelum melempar jumrah.”
Beliau menjawab:
“Lemparlah, dan tidak mengapa.”
Pada hari itu, tidak ada satu pun hal yang ditanya kepada beliau tentang mendahulukan atau mengakhirkan suatu amalan, kecuali beliau menjawab:
“Lakukanlah, dan tidak mengapa.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Seorang alim (ulama) dianjurkan untuk berdiri dan menjelaskan manasik haji kepada jamaah, agar mereka mengetahui tata cara ibadahnya dengan benar.
Kedua: Boleh mendahulukan salah satu dari amalan hari Nahr (Idul Adha) — seperti melempar jumrah, menyembelih hewan, mencukur atau memendekkan rambut, dan thawaf ifadhah — tanpa urutan tertentu, semuanya tidak mengapa.
بابُ: كيفَ تَرْمِي جمرةَ العقبةِ؟
Bab: Cara melempar Jumrah ‘Aqabah
Hadist ke Dua Ratus Tiga Puluh Sembilan:
عنْ عبدِ الرَّحْمَنِ بنِ يزيدَ النَّخَعِيِّ، (( أنَّهُ حَجَّ مَعَ ابنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، فَرَآهُ يَرْمِي الْجَمْرَةَ الْكُبْرَى بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، فَجَعَلَ الْبَيْتَ عَنْ يَسَارِهِ، وَمِنًى عَنْ يَمِينِهِ، ثُمَّ قَالَ: هذَا مَقَامُ الَّذِي أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )) .
Diriwayatkan Dari Abdurrahman bin Yazid an-Nakha‘i,
Bahwa ia menunaikan haji bersama Ibnu Mas‘ud ra. Lalu ia melihat Ibnu Mas‘ud melempar Jumrah al-Kubra (Jumrah ‘Aqabah) dengan tujuh batu kecil, satu per satu. Ia menjadikan Ka‘bah di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya, kemudian ia berkata:
“Inilah tempat berdiri orang yang telah diturunkan kepadanya surah al-Baqarah (yakni Rasulullah ﷺ).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib melempar hanya Jumrah ‘Aqabah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).
Kedua: Dilempar dengan tujuh batu kecil, secara berturut-turut (satu per satu).
Ketiga: Yang paling utama (sunnah) saat melempar adalah menjadikan Mina di sebelah kanan, Makkah di sebelah kiri, dan menghadap ke arah jumrah.
Kembali 48 | IndeX | Lanjut 50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar