التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 4b | IndeX | Lanjut 4d
الباب الرابع
Bab keempat
تأديب المتعلّم
Mendidik dan membina adab (akhlak) penuntut ilmu
[فصل] وينبغي أن يؤدب المتعلم على التدريج بالآداب السنية، والشيم المرضية ، ورياضة نفسه بالدقائق الخفية، ويعوده الصيانة في جميع أموره الباطنة والجلية، ويحرّضه بأقواله وأفعاله المتكررات على الإخلاص، والصدق، وحسن النيات، ومراقبة الله تعالى في جميع اللحظات، ويعرّفه أن لذلك تتفتح عليه أنوار المعارف، وينشرح صدره، ويتفجر من قلبه ينابيع الحكم واللطائف، ويبارك له في علمه وحاله، ويوفق في أفعاله وأقواله.
[Sub bab] Seorang pendidik hendaknya mendidik penuntut ilmu secara bertahap dengan adab-adab yang mulia dan akhlak yang diridhai, serta melatih jiwanya pada perkara-perkara halus yang tersembunyi (yakni memperbaiki batin dan akhlak yang tidak tampak).
Ia juga membiasakannya untuk menjaga kehormatan diri dan memelihara adab dalam seluruh urusannya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak.
Dan hendaknya ia terus mendorongnya melalui ucapan dan perbuatan yang berulang-ulang untuk memiliki keikhlasan, kejujuran, niat yang baik, serta merasa diawasi oleh Allah Ta‘ala pada setiap waktu.
Ia juga mengenalkannya bahwa dengan sebab itu cahaya-cahaya ma‘rifat (ilmu dan pemahaman yang benar) akan terbuka baginya, dadanya akan dilapangkan, dan dari hatinya akan memancar sumber-sumber hikmah dan kelembutan ilmu.
Serta akan diberkahi ilmu dan keadaannya, dan diberi taufik dalam perbuatan dan ucapannya.
حكم التعليم
Hukum mengajar
[فصل]
تعليم المتعلمين فرض كفاية، فإن لم يكن من يصلح إلا واحد تعيّن، وإن كان
هناك جماعة يحصل التعليم ببعضهم، فإن امتنعوا كلهم أثموا، وإن قام به
بعضهم، سقط الحرج عن الباقين، وإن طلب من أحدهم وامتنع، فأظهر الوجهين أنه
لا يأثم لكنه يكره له ذلك إن لم يكن عذر.
[Sub Bab] Mengajarkan ilmu kepada para penuntut ilmu hukumnya fardu kifayah. Apabila tidak ada orang yang layak mengajar kecuali satu orang, maka hukum itu menjadi fardu ‘ain baginya (wajib secara pribadi).
Namun jika ada beberapa orang yang dengan sebagian dari mereka tujuan pengajaran sudah dapat terlaksana, lalu semuanya menolak mengajar, maka mereka semua berdosa. Tetapi jika sebagian dari mereka telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban dan dosa dari yang lainnya.
Dan apabila seseorang dari mereka diminta untuk mengajar lalu ia menolak, maka menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat, ia tidak berdosa, akan tetapi hukumnya makruh baginya untuk menolak, selama tidak ada uzur (alasan yang dibenarkan).
إخلاص المعلّم
Keikhlasan seorang pengajar
[فصل] يستحب للمعلم أن يكون حريصا على تعليمهم، مؤثرا ذلك على مصالح نفسه الدنيوية التي ليست بضرورية .
[Sub bab]
Disunnahkan bagi seorang pengajar untuk bersungguh-sungguh dan
bersemangat dalam mengajar para penuntut ilmu, serta lebih mengutamakan
kegiatan mengajar itu daripada kepentingan-kepentingan duniawinya yang
tidak bersifat darurat (tidak mendesak).
وأن يفرغ قلبه في حال جلوسه لإقرائهم من الأسباب الشاغلة كلّها، وهي كثيرة معروفة .
Dan
hendaknya ia mengosongkan hatinya (memusatkan perhatian) ketika duduk
untuk mengajar atau membacakan pelajaran kepada mereka, dari semua hal
yang menyibukkan, yang jumlahnya banyak dan sudah dikenal.
وأن يكون حريصا على تفهيمهم، وأن يعطي كلّ إنسان منهم ما يليق به .
Dan
hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk membuat mereka memahami
pelajaran, serta memberikan kepada setiap orang dari mereka apa yang
sesuai dengannya.
فلا يكثر على من لا يحتمل الإكثار، ولا يقصر لمن يحتمل الزيادة .
Maka
janganlah ia memberikan terlalu banyak (pelajaran) kepada orang yang
tidak mampu menanggung banyaknya pelajaran, dan jangan pula mengurangi
(pelajaran) bagi orang yang mampu menerima tambahan.
ويأخذهم بإعادة محفوظاتهم، ويثني على من ظهرت نجابته ما لم يخش عليه فتنة بإعجاب أو غيره.
Dan
hendaknya ia membiasakan mereka untuk mengulang hafalan-hafalan mereka,
serta memberikan pujian kepada orang yang tampak kecerdasan dan
keunggulannya, selama tidak dikhawatirkan timbul fitnah berupa rasa
bangga diri (ujub) atau selainnya.
ومن قصر عنّفه تعنيفا لطيفا ما لم يخش عليه تنفيره.
Dan
siapa yang lalai atau kurang sungguh-sungguh, maka hendaknya ia ditegur
dengan teguran yang lembut, selama tidak dikhawatirkan hal itu akan
membuatnya menjauh atau merasa enggan.
ولا يحسد أحدا منه لبراعة تظهر منه، ولا يستكثر فيه ما أنعم الله به عليه.
Dan
janganlah ia hasad kepada salah seorang dari muridnya karena keunggulan
atau kecerdasan yang tampak padanya, dan jangan pula ia menganggap
banyak atau merasa berat terhadap nikmat yang Allah karuniakan
kepadanya.
فإن
الحسد للأجانب حرام شديد التحريم، فكيف للمتعلم الذي هو بمنزلة الولد؟
ويعود من فضيلته إلى معلمه في الآخرة الثواب الجزيل، وفي الدنيا الثناء
الجميل. والله الموفق.
Karena sesungguhnya hasad kepada orang lain (yang tidak memiliki hubungan khusus sekalipun) adalah haram dan sangat keras larangannya, maka bagaimana lagi terhadap penuntut ilmu yang kedudukannya seperti seorang anak?
Dan keutamaan serta keberhasilan murid itu akan kembali kepada gurunya berupa pahala yang besar di akhirat, dan di dunia berupa pujian yang baik. Dan Allah-lah Yang memberi taufik.
[فصل] ويقدم في تعليمهم إذا ازدحموا الأول فالأوّل، فإن رضي الأول بتقديم غيره قدّمه.
[Sub bab]
Dan apabila para penuntut ilmu berdesakan (banyak yang ingin belajar
pada waktu yang sama), maka hendaknya ia mendahulukan yang datang lebih
dahulu. Namun jika orang yang lebih dahulu itu rela untuk mendahulukan
orang lain, maka guru boleh mendahulukannya.
وينبغي أن يظهر لهم البشر وطلاقة الوجه، ويتفقد أحوالهم، ويسأل عمن غاب منهم.
Dan hendaknya ia menampakkan wajah yang ceria dan ramah kepada mereka, memperhatikan keadaan-keadaan mereka, serta menanyakan tentang orang yang tidak hadir di antara mereka.
[فصل] قال العلماء رضي الله عنهم : ولا يمتنع من تعليم أحد لكونه غير صحيح النية ، فقد قال سفيان وغيره: طلبهم للعلم نية.
[Sub bab] Para ulama — semoga Allah meridhai mereka — berkata:
Janganlah
seorang pengajar menolak mengajari seseorang hanya karena niatnya belum
benar, karena Sufyan dan selain beliau berkata: ‘Usaha mereka dalam
menuntut ilmu itu sendiri merupakan niat.’
قالوا: طلبنا العلم لغير الله، فأبى أن يكون إلا لله.
Mereka berkata: Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu itu enggan kecuali akhirnya menjadi untuk Allah.
معناه: كانت غايته أن صار لله تعالى.
Maknanya: akhir dan hasil akhirnya adalah bahwa ilmu tersebut menjadi karena Allah Ta‘ala.
أدب المعلّم
Adab (etika/tata krama) seorang pengajar (guru)
[فصل] ومن آدابه المتأكدة وما يعتنى به: أن يصون يديه في حال الإقراء عن العبث، وعينيه عن تفريق نظرهما من غير حاجة، ويقعد على طهارة، مستقبل القبلة، ويجلس بوقار، وتكون ثيابه بيضا نظيفة.
[Sub bab] Di antara adab seorang pengajar yang sangat ditekankan dan perlu diperhatikan ialah: menjaga kedua tangannya ketika mengajarkan bacaan (Al-Qur’an) dari perbuatan sia-sia atau banyak bergerak tanpa keperluan, serta menjaga kedua matanya dari memandang ke sana-sini tanpa kebutuhan. Hendaknya ia duduk dalam keadaan suci, menghadap kiblat, duduk dengan penuh kewibawaan dan ketenangan, serta mengenakan pakaian berwarna putih yang bersih.
[ومن آدابه المتأكدة → di antara adab yang sangat dianjurkan dan ditekankan]
[العبث → bermain-main, gerakan yang tidak perlu, atau sikap yang mengurangi kehormatan majelis]
[بوقار → dengan wibawa, tenang, dan tidak tergesa-gesa]
[ثيابه بيضا نظيفة → memakai pakaian putih yang bersih; ini termasuk anjuran adab, bukan kewajiban]
وإذا وصل إلى موضع جلوسه صلى ركعتين قبل الجلوس، سواء كان الموضع مسجدا أو غيره.
Dan
apabila ia sampai ke tempat duduknya, hendaklah ia melaksanakan dua
rakaat sebelum duduk, baik tempat itu masjid maupun selain masjid.
فإن كان مسجدا كان آكد، فإنه يكره الجلوس فيه قبل أن يصلي ركعتين .
Jika
tempat itu adalah masjid, maka (hal itu) lebih ditekankan lagi, karena
dimakruhkan duduk di dalamnya sebelum ia melaksanakan dua rakaat (shalat
tahiyyatul masjid).
ويجلس متربعا إن شاء أو غير متربع.
Dan hendaklah ia duduk dengan posisi bersila (mutarabbian) jika ia mau, atau dengan posisi duduk yang lain selain bersila.
روى أبو بكر بن أبي داود السجستاني بإسناده، عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه كان يقرئ الناس في المسجد جاثيا على ركبتيه .
Diriwayatkan
oleh Abu Bakar bin Abi Dawud al-Sijistani dengan sanadnya, dari
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau (Ibnu Mas‘ud)
mengajarkan/membacakan kepada para manusia di dalam masjid dalam keadaan
duduk bersimpuh di atas kedua lututnya.
[فصل]
ومن آدابه المتأكدة وما يعتنى بحفظه أن لا يذل العلم ، فيذهب إلى مكان
ينسب إلى من يتعلم منه، ليتعلم منه فيه، وإن كان المتعلم خليفة فمن دونه،
بل يصون العلم عن ذلك كما صانه عنه السلف رضي الله عنهم وحكاياتهم في هذا
كثيرة مشهورة.
[Sub
bab] Di antara adab yang sangat ditekankan dan perlu dijaga ialah:
seorang pengajar tidak boleh merendahkan ilmu, yaitu dengan pergi ke
tempat yang dinisbatkan kepada orang yang belajar darinya untuk
mengajarinya di tempat itu. Hal ini tidak boleh dilakukan meskipun yang
belajar darinya adalah seorang khalifah atau orang yang kedudukannya di
bawahnya. Bahkan hendaknya ia menjaga ilmu dari hal tersebut,
sebagaimana para salaf radhiyallahu ‘anhum telah menjaganya. Dan
kisah-kisah mereka dalam hal ini sangat banyak dan terkenal.
[فصل] وينبغي أن يكون مجلسه واسعا ليتمكن جلساؤه فيه.
[Sub bab] Hendaknya majelis (tempat duduk)nya luas, agar para hadirin dapat duduk dengan leluasa di dalamnya.
ففي الحديث عن النبي ﷺ : خير المجالس أوسعها .
Dalam hadis dari Nabi ﷺ: “Sebaik-baik majelis adalah yang paling luas.
رواه أبو داود في سنته في أوائل كتاب الآداب بإسناد صحيح من رواية أبي سعيد الخدري رضي الله عنه .
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya pada awal Kitab al-Adab dengan sanad yang sahih, dari riwayat Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.
في آداب المتعلم
Tentang adab-adab penuntut ilmu
[فصل] جميع ما ذكرناه من آداب المعلم في نفسه آداب للمتعلم.
[Sub bab] Semua adab yang telah kami sebutkan tentang adab seorang guru terhadap dirinya sendiri juga merupakan adab bagi seorang pelajar.
ومن آدابه : أن يجتنب الأسباب الشاغلة عن التحصيل، إلا سببا لا بد منه للحاجة.
Dan
di antara adab-adabnya (seorang pelajar) adalah: hendaknya ia menjauhi
sebab-sebab yang mengganggu dari proses belajar, kecuali sebab yang
tidak bisa dihindari karena kebutuhan.
وينبغي
أن يطهر قلبه من الأدناس، ليصلح لقبول القرآن، وحفظه، واستثماره؛ فقد صح
عن رسول الله ﷺ أنه قال: «ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله،
وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب» وقد أحسن القائل بقوله: «يطيب
القلب للعلم كما تطيب الأرض للزراعة».
Dan
hendaknya ia membersihkan hatinya dari segala kotoran (akhlak yang
buruk), agar hatinya menjadi layak untuk menerima Al-Qur’an,
menghafalnya, dan mengambil manfaat darinya. Sungguh telah sahih dari
Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada
segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia
rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.’ Dan
sungguh baik perkataan seorang penyair: ‘Hati menjadi baik untuk ilmu
sebagaimana tanah menjadi baik untuk pertanian.’
وينبغي
أن يتواضع لمعلمه، ويتأدب معه، وإن كان أصغر منه سنا، وأقلّ شهرة ونسبا،
وصلاحا، وغير ذلك، ويتواضع للعلم فبتواضعه يدركه وقد قالوا نظما:
Dan
hendaknya ia bersikap rendah hati kepada gurunya, serta beradab
terhadapnya, meskipun guru itu lebih muda darinya, atau lebih rendah
dalam ketenaran, nasab, maupun kesalehan, dan hal-hal lainnya. Dan
hendaknya ia juga bersikap tawadhu’ terhadap ilmu; karena dengan
kerendahan hatinya ia akan meraihnya. Dan mereka (para ulama) telah
mengatakan dalam bentuk syair: …
العلم حرب للفتىٰ المتعالي - كالسيل حرب للمكان العالي
Ilmu itu adalah peperangan bagi pemuda yang sombong / meninggi diri,
sebagaimana banjir adalah peperangan bagi tempat yang tinggi.
وينبغي أن ينقاد لمعلمه، ويشاوره في أموره، ويقبل قوله: كالمريض العاقل يقبل قول الطبيب الناصح الحاذق. وهذا أولى.
Dan hendaknya ia patuh kepada gurunya, bermusyawarah dengannya dalam urusannya, serta menerima ucapannya seperti seorang pasien yang berakal menerima nasihat dokter yang tulus dan ahli. Dan ini lebih utama (untuk dilakukan).
Kembali 4b | IndeX | Lanjut 4d
Tidak ada komentar:
Posting Komentar