التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 4c | IndeX | Lanjut 4e
الباب الرابع
Bab keempat
في آداب المتعلم
Tentang adab-adab penuntut ilmu
[فصل] ولا يتعلم إلا ممن تكملت أهليته وظهرت ديانته، وتحققت معرفته، واشتهرت صيانته.
[Sub bab]
Dan hendaknya ia tidak belajar kecuali dari orang yang telah sempurna
kelayakannya, tampak keberagamaannya, terbukti pengetahuannya, dan
terkenal penjagaannya (terhadap ilmu dan kehormatan).
فقد قال محمد بن سيرين، ومالك بن أنس وغيرهما من السلف: هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم .
Karena
Muhammad bin Sirin, Malik bin Anas, dan selain keduanya dari kalangan
salaf telah berkata: ‘Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari
siapa kalian mengambil agama kalian.’
وعليه أن ينظر إلى معلمه بعين الاحترام ، ويعتقد كمال أهليته، ورجحانه على طبقته، فإنه أقرب إلى انتفاعه به.
Dan
hendaknya ia memandang gurunya dengan pandangan penuh penghormatan,
serta meyakini kesempurnaan kelayakannya dan kelebihannya dibandingkan
orang-orang yang setingkat dengannya. Karena itu lebih dekat (lebih
besar peluangnya) untuk ia mendapatkan manfaat darinya.
وكان بعض المتقدمين، إذا ذهب إلى معلمه تصدّق بشيء وقال: اللهم استر عيب معلمي، ولا تذهب بركة علمه مني.
Dan
sebagian ulama terdahulu, apabila mereka pergi kepada gurunya, mereka
bersedekah dengan sesuatu dan berkata: ‘Ya Allah, tutupilah aib guruku,
dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.’
وقال الربيع صاحب الشافعي رحمهما الله : ما اجترأت أن أشرب الماء والشافعي ينظر إلي هيبة له.
Dan
ar-Rabi’ sahabat Imam asy-Syafi’i rahimahumallâh berkata: “Aku tidak
berani minum air sementara Imam Syafi‘i melihatku, karena rasa hormat
dan wibawa kepadanya.
وروينا عن أمير المؤمنين علي بن أبي طالب - رضي الله عنه – قال: من حق المعلم عليك، أن تسلم على الناس عامة، وتخصّه دونهم بتحية.
Dan
telah diriwayatkan dari Ali ibn Abi Talib radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata: “Di antara hak seorang guru atas dirimu adalah engkau memberi
salam kepada manusia secara umum, namun engkau mengkhususkannya dengan
penghormatan (salam dan perhatian) yang lebih daripada mereka.”
وأن تجلس أمامه، ولا تشيرن عنده بيدك ولا تغمزنّ بعينيك، ولا تقولن: قال فلان خلاف ما تقول.
Dan
hendaknya engkau duduk di hadapannya (guru), serta janganlah engkau
memberi isyarat dengan tanganmu di sisinya, dan jangan pula mengedipkan
mata (sebagai isyarat), dan jangan engkau berkata: ‘Fulan berkata
berbeda dengan apa yang engkau katakan.’
ولا
تغتابن عنده أحدا، ولا تشاور جليسك في مجلسه، ولا تأخذ بثوبه إذا قام، ولا
تلح عليه إذا كسل، ولا تعرض - أي تشبع - من طول صحبته، وينبغي أن يتأدب
بهذه الخصال التي أرشد إليها علي كرم الله وجهه، وأن يرد غيبة شيخه إن قدر،
فإن تعذر عليه ردّها فارق ذلك المجلس اهـ.
Dan janganlah engkau menggunjing (ghibah) seseorang di hadapannya, jangan pula engkau bermusyawarah dengan teman dudukmu di majelisnya, jangan menarik pakaiannya jika ia berdiri, jangan mendesaknya ketika ia sedang malas (atau lelah), dan jangan engkau merasa bosan—yakni merasa jenuh—karena lama bersamanya. Dan hendaknya ia beradab dengan sifat-sifat ini yang telah diarahkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu. Hendaklah ia menolak (menghalangi) ghibah terhadap gurunya jika ia mampu, dan jika ia tidak mampu menolaknya maka hendaklah ia meninggalkan majelis tersebut.
[فصل] ويدخل على الشيخ كامل الخصال متصفا بما ذكرناه في المعلم، متطهرا، مستعملا للسواك، فارغ القلب من الأمور الشاغلة.
[Sub
bab] Dan hendaknya ia (murid) masuk kepada guru dengan keadaan sempurna
dalam sifat-sifatnya, berhias dengan adab-adab yang telah kami sebutkan
tentang seorang pengajar, dalam keadaan suci (berwudu), bersiwak, serta
kosong hatinya dari perkara-perkara yang mengganggu.
وأن لا يدخل بغير استئذان إذا كان الشيخ في مكان يحتاج فيه إلى استئذان.
Dan hendaknya ia tidak masuk (menemui guru) tanpa izin jika guru berada di tempat yang membutuhkan izin (untuk masuk).
وأن يسلم على الحاضرين إذا دخل، ويخصه دونهم بالتحية.
Dan
hendaknya ia memberi salam kepada orang-orang yang hadir ketika ia
masuk, lalu mengkhususkan gurunya dengan salam penghormatan yang lebih
khusus dibanding mereka.
وأن يسلم عليه وعليهم إذا انصرف كما جاء في الحديث: فليست الأولى أحقّ من الثانية.
Dan
hendaknya ia memberi salam kepadanya (guru) dan kepada mereka
(orang-orang yang hadir) ketika ia pergi (meninggalkan majelis),
sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Salam yang pertama tidak lebih
berhak daripada salam yang kedua."
ولا
يتخطىٰ رقاب الناس، بل يجلس حيث ينتهي به المجلس، إلا أن يأذن له الشيخ في
التقدم أو يعلم من حالهم إيثار ذلك، ولا يقيم أحدا من موضعه، فإن آثره
غيره لم يقبل اقتداء بابن عمر - رضي الله عنهما - إلا أن يكون في تقديمه
مصلحة للحاضرين، أو أمره الشيخ بذلك.
Dan
hendaknya ia tidak melangkahi leher-leher orang (yang duduk), tetapi
duduk di tempat yang berakhir padanya majelis, kecuali jika guru
mengizinkannya untuk maju atau ia mengetahui dari keadaan mereka bahwa
mereka memang lebih mengutamakannya (untuk maju). Dan hendaknya ia tidak
mengusir seseorang dari tempat duduknya. Jika ada orang lain yang
mengutamakannya (memberikan tempatnya), maka ia tidak menerimanya,
mengikuti (contoh) Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, kecuali jika dalam
mendahulukannya terdapat maslahat bagi para hadirin, atau guru
memerintahkannya demikian.
ولا يجلس في وسط الحلقة إلا لضرورة.
Dan hendaknya ia tidak duduk di tengah halaqah (lingkaran majelis) kecuali karena kebutuhan (darurat).
ولا يجلس بين صاحبين بغير إذنهما وإن فسحا له قعد وضم نفسه.
Dan hendaknya ia tidak duduk di antara dua orang teman tanpa izin keduanya. Jika keduanya memberi kelapangan kepadanya, maka ia boleh duduk dan merapatkan dirinya (agar tidak mengganggu).
أدبه مع رفاقه
Adabnya terhadap teman-temannya
[فصل]
وينبغي أيضا أن يتأدب مع رفقته وحاضري مجلس الشيخ، فإن ذلك تأدب مع الشيخ،
وصيانة لمجلسه، ويقعد بين يدي الشيخ قعدة المتعلمين، لا قعدة المعلمين،
ولا يرفع صوته رفعا بليغا من غير حاجة، ولا يضحك، ولا يكثر الكلام من غير
حاجة، ولا يعبث بيده ولا بغيرها، ولا يلتفت يمينا ولا شمالا من غير حاجة،
بل يكون متوجها إلى الشيخ، مصغيا إلى كلامه.
[Sub bab]Dan hendaknya ia juga beradab kepada teman-temannya dan orang-orang yang hadir di majelis guru, karena hal itu termasuk bentuk adab kepada guru dan menjaga kehormatan majelisnya. Hendaknya ia duduk di hadapan guru dengan duduknya para pelajar, bukan duduknya para pengajar. Dan hendaknya ia tidak meninggikan suaranya dengan keras tanpa kebutuhan, tidak banyak tertawa, tidak banyak berbicara tanpa keperluan, tidak bermain-main dengan tangan atau selainnya, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa kebutuhan, tetapi hendaknya ia menghadap kepada guru dan mendengarkan ucapannya dengan penuh perhatian.”
أدبه مع شيخه
Adab (etika) seorang murid terhadap gurunya
[فصل]
ومما يتأكد الاعتناء به، أن لا يقرأ على الشيخ في حال شغل قلب الشيخ
وملله، واستفزازه، وروعه، وغمه، وفرحه، وعطشه، ونعاسه، وقلقه، ونحو ذلك مما
يشق عليه، أو يمنعه من كمال حضور القلب والنشاط، وأن يغتنم أوقات نشاطه.
[Sub bab] Dan termasuk adab yang sangat perlu diperhatikan adalah: jangan membaca (belajar atau menyetorkan pelajaran) di hadapan guru ketika hati guru sedang sibuk, sedang bosan, terganggu, terkejut, bersedih, sangat gembira, haus, mengantuk, gelisah, dan keadaan-keadaan lain yang memberatkannya atau menghalanginya dari kesempurnaan hadirnya hati dan semangatnya. Hendaknya seorang murid memanfaatkan waktu-waktu ketika gurunya sedang bersemangat dan siap mengajar.
[ملله
→ rasa bosan, استفزازه → keadaan terganggu atau terusik, روعه → keadaan
terkejut atau cemas, غمه → kesedihan atau kegundahan, نعاسه → rasa
mengantuk, قلقه → kegelisahan]
ومن
آدابه أن يتحمل جفوة الشيخ، وسوء خلقه، ولا يصده ذلك عن ملازمته واعتقاد
كماله، ويتأول لأفعاله وأقواله التي ظاهرها الفساد تأويلات صحيحة، فما يعجز
عن ذلك إلا قليل التوفيق أو عديمه.
Dan
termasuk adab seorang murid adalah hendaknya ia bersabar menghadapi
sikap keras (kekakuan) gurunya dan akhlaknya yang kurang baik, dan
jangan sampai hal itu membuatnya berhenti mendampingi gurunya atau
menghilangkan keyakinannya terhadap keutamaan dan kesempurnaan (keilmuan
dan kelayakan) gurunya. Hendaknya ia berusaha memahami perbuatan dan
ucapan guru yang secara lahir tampak kurang baik dengan penafsiran yang
benar. Dan yang tidak mampu melakukan hal itu biasanya hanyalah orang
yang sedikit taufiknya atau tidak mendapat taufik sama sekali.
وإن جفاه الشيخ ابتدأ هو بالاعتذار إلى الشيخ، وأظهر أن الذنب له، والعتب عليه، فذلك أنفع له في الدنيا والآخرة، وأنقى لقلب الشيخ.
Dan
apabila guru bersikap keras atau menjaga jarak terhadapnya, maka
hendaknya murid memulai dengan meminta maaf kepada gurunya, dan
menampakkan bahwa kesalahan ada pada dirinya serta sebab teguran itu
berasal darinya. Karena sikap demikian lebih bermanfaat baginya di dunia
dan akhirat, serta lebih membersihkan hati guru.
وقد قالوا: من لم يصبر على ذل التعليم بقي عمره في عماية الجهالة، ومن صبر عليه آل أمره إلى عز الآخرة والدنيا.
Dan
para ulama berkata: Barang siapa tidak sabar menghadapi kerendahan
(beratnya proses) belajar, maka sepanjang hidupnya ia akan tetap berada
dalam kebingungan dan kegelapan kebodohan. Dan barang siapa bersabar
menjalaninya, maka akhirnya urusannya akan berujung kepada kemuliaan
dunia dan akhirat.
ومنه
الأثر المشهور عن ابن عباس - رضي الله عنهما -: ذللت طالبا فعززت مطلوبا،
وقد أحسن من قال: من لم يذق طعم المذلة ساعة، قطع الزمان بأسره مذلولا.
Dan termasuk dalam hal itu adalah atsar yang masyhur dari Ibn Abbas: ‘Aku merendahkan diri sebagai penuntut ilmu, maka aku dimuliakan ketika menjadi orang yang dicari (untuk dimintai ilmu).’ Dan sungguh bagus perkataan orang yang mengatakan: ‘Barang siapa tidak merasakan pahitnya kerendahan hati sesaat, maka ia akan menjalani seluruh waktunya dalam keadaan hina.’
Kembali 4c | IndeX | Lanjut 4e
Tidak ada komentar:
Posting Komentar