Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 63 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 65
Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid :
Rasulullah ﷺ menetap di Madinah, bertasbih dan memuji Tuhannya atas apa yang telah Dia perlihatkan berupa masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, serta keberhasilan dakwah yang telah beliau jalankan selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.
Setelah kembali ke Madinah, beliau ﷺ menerima beberapa delegasi (utusan kaum). Beliau mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid yang berjumlah tujuh ratus prajurit, dan memerintahkannya untuk menyerbu wilayah Balkā' [البلقاء] dan Dārum [الداروم] di tanah Palestina dengan menunggangi kuda.
Pasukan ini mulai bergerak dan singgah di daerah Jurf [الجرف], sekitar tiga mil dari Madinah. Namun, berita yang mengkhawatirkan mengenai sakitnya Rasulullah ﷺ sampai kepada mereka, sehingga Usamah menunda pergerakan pasukan untuk menunggu perkembangan. Kemudian datanglah takdir Allah dengan wafatnya Rasulullah ﷺ. Maka pengiriman pasukan ini menjadi ekspedisi militer pertama pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq raḍiyallāhu ‘anhu.
Menuju tempat yang tinggi (luhur)
Tanda-tanda Perpisahan:
Setelah Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberi nasihat kepada umat, mulailah tampak tanda-tanda perpisahan dari dunia dalam ucapan dan perbuatannya.
Pada bulan Ramadan tahun kesepuluh Hijriyah, beliau beri‘tikaf selama dua puluh hari, dan malaikat Jibril menyimak bacaan Al-Qur’an dari beliau sebanyak dua kali. Lalu beliau berkata kepada putrinya Fāṭimah: “Aku tidak melihat hal ini kecuali sebagai tanda bahwa ajalku telah dekat.”
Beliau juga berpamitan kepada Mu‘ādz ketika mengutusnya ke Yaman, memberi wasiat kepadanya, kemudian berkata: “Wahai Mu‘ādz! Barangkali engkau tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini, dan barangkali engkau akan melewati masjidku ini dan kuburanku.” Maka menangislah Mu‘ādz karena sedih akan berpisah dengan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ dalam Haji Wada‘ (Haji Perpisahan) berulang kali bersabda: “Barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahunku ini, dan barangkali aku tidak akan berhaji lagi setelah tahunku ini.”
Dan turunnya firman Allah Ta‘ala:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian..." (QS. al-Mā’idah: 3)
Serta turunnya Surah an-Naṣr, menjadi isyarat bahwa beliau telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Oleh karena itu, haji tersebut dinamakan Haji Wada‘ (Haji Perpisahan), yaitu karena beliau berpamitan kepada umat untuk berpindah (kembali) kepada Tuhannya – Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Pada awal bulan Ṣafar, beliau keluar menuju Uhud, lalu menshalatkan para syuhada seperti orang yang berpamitan kepada yang hidup dan yang telah wafat. Kemudian beliau kembali dan naik ke atas mimbar, lalu bersabda:
“Aku adalah pendahulu kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sungguh aku sekarang sedang melihat telagaku (di surga). Dan sungguh aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi – atau kunci-kunci bumi. Dan demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan menyekutukan (Allah) setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan saling berlomba dalam dunia (harta dan kekuasaan).”
Dan pada akhir bulan Ṣafar, beliau keluar menuju Baqī‘ al-Gharqad (kuburan kaum muslimin di Madinah) pada tengah malam, lalu memohonkan ampunan untuk mereka dan bersabda: “Sesungguhnya kami akan segera menyusul kalian.”
Permulaan Sakit (Rasulullah ﷺ) :
Pada hari Senin terakhir di bulan Shafar, Rasulullah ﷺ menghadiri jenazah di Baqī‘ [البقيع] "kuburan kaum Muslimin di Madinah".
Aisyah berkata: "Beliau kembali dari Baqī‘ sementara aku sedang merasakan sakit kepala, lalu aku berkata: ‘Wah, sakit kepalaku.’ Maka beliau bersabda: ‘Bahkan aku — demi Allah wahai Aisyah — wah, sakit kepalaku.’”
Itulah awal mula sakitnya Rasulullah ﷺ. Meskipun dalam kondisi sakit, beliau tetap berkeliling ke rumah istri-istrinya (sesuai gilirannya). Hingga ketika sakit beliau semakin parah dan beliau berada di rumah Maimunah, beliau mulai bertanya: "Di mana aku besok? Di mana aku besok?" — maksudnya adalah hari giliran Aisyah.
Akhirnya, para istri beliau mengizinkan agar beliau tinggal di mana saja beliau kehendaki. Maka beliau keluar (dari rumah Maimunah) dengan berjalan dipapah oleh Faḍ'l bin ‘Abbās dan ‘Alī bin Abī Ṭālib, sedangkan kedua kakinya menyeret di tanah karena lemahnya tubuh beliau, hingga akhirnya beliau pindah ke rumah Aisyah.
Wasiat dan Pesan Terakhir (Rasulullah ﷺ):
Aisyah – raḍiyallāhu ‘anhā – berkata: “Ketika Rasulullah ﷺ masuk ke rumahku dan rasa sakitnya semakin berat,
Beliau bersabda: ‘Siramlah aku dengan tujuh kantong air yang belum dibuka talinya, agar aku dapat memberi wasiat kepada manusia.’”
Lalu kami mendudukkan beliau di dalam bejana milik Ḥafṣah, istri Nabi ﷺ. Kemudian kami mulai menyiramkan air dari kantong-kantong tersebut ke atas beliau, hingga beliau memberi isyarat kepada kami bahwa itu sudah cukup.
Lalu beliau keluar menemui para sahabat, kemudian shalat bersama mereka dan menyampaikan khutbah.
Rasulullah ﷺ menawarkan dirinya untuk ditegakkan qishash (jika ada hak orang yang belum ditunaikan), dan beliau memberikan wasiat agar berbuat baik kepada kaum Anshar.
Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara diberi sebagian bunga kehidupan dunia sekehendaknya, atau (memilih) apa yang ada di sisi-Nya, maka ia memilih apa yang ada di sisi-Nya."
Abu Sa‘id al-Khudri berkata: Maka menangislah Abu Bakar, dan berkata: “Kami menebusmu dengan ayah dan ibu kami.”
Orang-orang pun berkata (heran): "Lihatlah orang tua ini, Rasulullah ﷺ hanya mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan antara dunia dan akhirat, tapi dia malah berkata: Kami menebusmu dengan ayah dan ibu kami."
Padahal, yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ dengan "seorang hamba" itu adalah dirinya sendiri, dan Abu Bakar adalah orang yang paling mengerti di antara kami.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ memuji Abu Bakar dan bersabda bahwa seluruh pintu yang terbuka menuju masjid harus ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.
Itu terjadi pada hari Rabu. Lalu ketika hari Kamis tiba dan sakit Rasulullah ﷺ semakin parah, beliau bersabda: "Kemarilah, akan kutuliskan untuk kalian suatu tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahnya."
Namun ‘Umar berkata: "Sakitnya telah menguasainya, dan kalian telah memiliki Al-Qur’an; cukuplah bagi kalian Kitab Allah (Al-Qur'an)."
Maka terjadi perselisihan dan perdebatan di antara mereka. Ketika keributan dan perbedaan pendapat semakin banyak, Rasulullah ﷺ bersabda: "Tinggalkan aku (keluarlah dari sisiku)!"
Pada hari itu juga, beliau memberi wasiat agar: Mengusir orang-orang Yahudi, Nasrani, dan musyrik dari Jazirah Arab.
Memberi penghormatan kepada para utusan (delegasi/rombongan) sebagaimana yang biasa beliau lakukan sebelumnya.
Menjaga shalat, dan Memperlakukan budak atau hamba sahaya dengan baik.
Beliau juga bersabda: "Aku tinggalkan pada kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku."
Kembali ke bagian 63 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 65
Tidak ada komentar:
Posting Komentar