Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 64 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 66
Pengangkatan Abu Bakar – semoga Allah meridainya – sebagai imam salat:
Nabi ﷺ, meskipun sedang sakit parah, tetap memimpin salat bersama para sahabat. Namun, pada hari itu – hari Kamis – ketika waktu salat Isya tiba, beliau ﷺ mandi di sebuah bejana untuk meringankan tubuhnya, lalu mencoba berdiri namun pingsan. Setelah sadar, beliau mandi untuk kedua kalinya dan kembali mencoba berdiri, namun pingsan lagi.
Lalu beliau sadar dan mandi untuk ketiga kalinya, tetapi saat mencoba berdiri, beliau kembali pingsan. Maka beliau pun mengirim utusan kepada Abu Bakar untuk mengimami salat.
Abu Bakar pun memimpin salat pada hari-hari itu, dan jumlah salat yang beliau imami bersama kaum muslimin adalah sebanyak tujuh belas salat.
Dan pada hari Sabtu atau Ahad, Rasulullah ﷺ merasa sedikit ringan (dari sakitnya), maka beliau keluar (ke masjid) dipapah oleh dua orang untuk salat Zuhur, sementara Abu Bakar sedang mengimami salat bersama orang-orang.
Lalu mereka mendudukkan beliau ﷺ di sebelah kiri Abu Bakar. Maka Abu Bakar pun mengikuti salat Rasulullah ﷺ, dan orang-orang mengikuti salat Abu Bakar. Abu Bakar yang menyampaikan takbir kepada mereka sehingga mereka dapat mendengarnya.
Menyedekahkan apa yang beliau miliki:
Pada hari Ahad, Nabi ﷺ membebaskan para budaknya, bersedekah dengan tujuh dinar yang ada padanya, dan menghadiahkan senjata-senjatanya kepada kaum Muslimin. Ketika malam tiba, Aisyah – semoga Allah meridainya – mengirim lampu penerang kepada seorang wanita dan berkata, “Teteskanlah sedikit minyak samin dari tempat simpananmu ke lampu penerang kami.” Sementara baju besi Nabi ﷺ saat itu masih tergadaikan pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha‘ (ukuran takaran) gandum.
#. Mushabaha [مصباح] artinya lampu atau pelita, yaitu alat penerang yang menggunakan minyak, lilin, atau bahan bakar lain untuk menghasilkan cahaya. Pada zaman Nabi ﷺ, pelita biasanya diisi dengan minyak (seperti minyak samin atau minyak zaitun) dan disulut dengan sumbu.
Hari Terakhirnya di Dunia :
Ketika tiba pagi hari Senin – dan hari itu adalah giliran Aisyah – Abu Bakar bangun untuk mengimami salat Subuh bersama orang-orang. Maka Rasulullah ﷺ menyingkap tirai kamar Aisyah dan memandang mereka (para sahabat), lalu beliau tersenyum sambil tertawa kecil.
Abu Bakar pun mundur ke belakang, mengira bahwa Rasulullah ﷺ akan keluar untuk mengimami salat. Kaum muslimin pun hampir terpecah konsentrasi dalam salat mereka karena sangat gembira melihat Rasulullah ﷺ.
Namun, beliau memberi isyarat dengan tangannya agar mereka menyempurnakan salat mereka. Lalu beliau masuk kembali ke kamar dan menurunkan tirainya.
Pada hari itu – atau dalam pekan itu – Rasulullah ﷺ memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu kepadanya, lalu ia pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lagi, maka ia pun tertawa.
Aisyah menanyakannya tentang hal itu, namun Fatimah tidak mau memberitahukannya sampai Rasulullah ﷺ wafat. Setelah beliau wafat, barulah Fatimah menceritakan bahwa pada bisikan pertama, beliau ﷺ memberitahunya bahwa beliau akan wafat karena sakit yang dideritanya itu, maka ia pun menangis.
Dan pada bisikan kedua, beliau ﷺ memberitahunya bahwa ia (Fatimah) akan menjadi anggota keluarganya yang pertama menyusul beliau, maka ia pun tertawa. Rasulullah ﷺ juga memberi kabar gembira kepadanya bahwa ia adalah pemimpin wanita-wanita seluruh dunia.
Ketika Fatimah melihat penderitaan yang sangat berat yang dialami Rasulullah ﷺ, ia berkata: “Wahai betapa beratnya penderitaan ayahku!” Maka beliau ﷺ bersabda: “Tidak akan ada lagi penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.”
Beliau pun memanggil Hasan dan Husain lalu mencium keduanya. Kemudian beliau memanggil istri-istrinya, memberi mereka nasihat dan mengingatkan mereka (tentang agama dan akhirat).
Rasa sakit pun semakin berat dan terus bertambah, dan racun yang pernah beliau makan di Khaibar pun kembali bereaksi, sehingga beliau merasakan sakit yang sangat.
Beliau meletakkan kain tebal (selimut kecil) di wajahnya, dan setiap kali merasa sesak, beliau menyingkapnya dari wajahnya.
Dalam keadaan seperti itu, beliau bersabda: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
(Beliau memperingatkan umat agar tidak melakukan seperti yang mereka lakukan).
Beliau juga bersabda: “Jangan sampai ada dua agama yang tersisa di Jazirah Arab.”
Ini termasuk wasiat terakhir yang beliau sampaikan kepada manusia, dan beliau terus mengulang-ulang: “Salat, salat, dan (perhatikan) apa yang dimiliki oleh tangan kanan kalian (yakni para hamba sahaya).”
Sakaratul Maut dan Wafatnya :
Saat sakaratul maut mulai terjadi, Aisyah – semoga Allah meridainya – menyandarkan Rasulullah ﷺ ke dadanya, di antara dada dan lehernya.
Lalu datang saudara laki-lakinya, Abdurrahman, membawa siwak dari ranting yang masih basah. Rasulullah ﷺ memandang siwak itu, maka Aisyah pun memahami bahwa beliau menginginkannya.
Ia pun bertanya, dan beliau mengisyaratkan dengan kepala: "Ya." Maka Aisyah mengambil siwak itu, mengunyah dan melunakkannya, lalu Rasulullah ﷺ bersiwak dengannya sebagus-bagusnya cara beliau bersiwak.
Di hadapan beliau ada bejana berisi air, maka beliau memasukkan tangannya ke dalam air, membasuh wajahnya sambil bersabda: [لا إله إلا الله] "tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (rasa sakit yang luar biasa)."
Kemudian beliau mengangkat tangannya atau jarinya dan menatap ke arah langit, lalu bibirnya mulai bergerak. Aisyah pun mendekatkan telinganya kepadanya, dan ia mendengarnya berkata:
"Bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan [الرفيق الأعلى] (Tempat yang tinggi / luhur [para nabi]). Ya Allah, [الرفيق الأعلى] (Tempat yang tinggi / luhur [para nabi])."
Beliau mengulang kata terakhir itu sebanyak tiga kali, lalu ruhnya pun keluar, tangannya terkulai, dan beliau bergabung dengan [الرفيق الأعلى] (Tempat yang tinggi / luhur [para nabi]).
Itu terjadi pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal tahun ke-11 Hijriah, ketika matahari telah meninggi. Saat itu, usia beliau telah genap 63 tahun.
"Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali" [إنا إليه راجعون].
Kembali ke bagian 64 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 66
Tidak ada komentar:
Posting Komentar