Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 62 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 64
Haji Wada’ (Haji Perpisahan)
Setelah dakwah Islam tersebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab, dan Allah menciptakan sekelompok kaum mukminin yang siap menjaga serta menyampaikan risalah ini ke seluruh pelosok bumi-Nya, Allah pun menetapkan agar Rasul-Nya ﷺ melihat sendiri buah dari jerih payah dakwahnya yang terus-menerus, sebelum beliau kembali kepada-Nya.
Maka Allah memuliakan beliau dengan kesempatan menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang mulia pada bulan Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriah.
Ketika Rasulullah ﷺ hendak menunaikan haji, beliau mengumumkannya kepada masyarakat. Maka banyak orang berkumpul di Madinah. Pada hari Sabtu, lima hari menjelang akhir bulan Dzulqa’dah — yaitu tanggal 26 Dzulqa’dah — beliau menyisir rambut, memakai minyak wangi, mengenakan kain ihram dan rida’-nya, lalu berangkat dari Madinah setelah salat Zuhur, hingga tiba di Dzul Hulaifah sebelum salat Asar. Di sana beliau melaksanakan salat Asar dua rakaat, kemudian bermalam di tempat itu.
Keesokan paginya, beliau bersabda: “Tadi malam, seseorang datang kepadaku dari Tuhanku dan berkata: ‘Shalatlah di lembah yang diberkahi ini, dan ucapkan: Umrah dalam Haji.’”
Hal ini merupakan pembolehan untuk menggabungkan umrah dalam haji (tamattu’), yang sebelumnya dianggap sebagai perbuatan paling keji dalam pandangan orang-orang jahiliah.
#. Rida' [رداءه] artinya "selendang" atau "kain bagian atas", dalam berpakaian ihram, [الرداء] ridā’ adalah kain yang dikenakan di bagian tubuh atas (dada dan punggung) oleh laki-laki yang sedang berihram. Biasanya dipakai dengan cara diselempangkan atau disampirkan di kedua bahu, atau salah satunya saat thawaf.
Kemudian Rasulullah ﷺ mandi sebelum salat Zuhur, lalu memakai wewangian di kepala dan badannya, berupa wewangian yang mengandung kesturi. Setelah itu, beliau mengenakan izār [إزاره] "kain bawah" dan ridā’ [رداءه] "kain atas", lalu menunaikan salat Zuhur dua rakaat.
Di tempat salatnya itu, beliau mulai berihram untuk haji dan umrah secara bersamaan "qirān" [قرن], lalu mengucapkan: [اللهم لبيك عمرة وحجًّا] “Ya Allah, aku sambut panggilan-Mu untuk umrah dan haji.”
Kemudian beliau melanjutkan bacaan talbiyah: [لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك. إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك] “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, laa syarika lak.”
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Kadang-kadang beliau juga menambahkan: [لبيك إله الحق] “Labbaika ilāhal-ḥaqq”
“Aku penuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan yang Maha Benar.”
Setelah itu, beliau keluar dari tempat salat dan menaiki unta beliau yang bernama al-Qashwā’, lalu sekali lagi melantunkan talbiyah. Ketika unta itu telah membawanya sampai di al-Baidā’, beliau mengucapkan talbiyah sekali lagi.
Beliau juga menandai hewan [هديه] hadyu (hewan kurban untuk haji) setelah salat, dengan memberi tanda [أشعر] "isy'ār" dan mengalungkan kalung (taqlīd) padanya di tempat miqat, yaitu di Dzul Hulaifah.
Kemudian beliau (Rasulullah ﷺ) melanjutkan perjalanannya hingga mendekati Mekah, lalu bermalam di Dzi Thuwa, dan salat Subuh di sana. Kemudian beliau mandi dan berjalan hingga masuk ke Masjidil Haram pada pagi hari Ahad, tanggal 4 Dzulhijjah.
Beliau thawaf di Ka'bah dan sa'i antara Shafa dan Marwah, lalu tinggal di bagian atas Mekah, di daerah Al-Hujun [الحجون], dan tidak lagi melakukan thawaf setelah itu. Beliau tetap dalam keadaan ihram karena beliau melakukan qiran, yakni menggabungkan ihram haji dan umrah, karena beliau telah membawa hewan kurban. Beliau memerintahkan setiap orang yang membawa hewan kurban bersamanya untuk tetap dalam keadaan ihram.
Adapun orang yang tidak membawa hewan kurban, beliau memerintahkan mereka untuk memendekkan rambut setelah thawaf dan sa’i, lalu bertahallul secara sempurna dan menjadikan amalan itu sebagai umrah, baik mereka telah berniat haji, umrah, atau keduanya sekaligus. Beliau bersabda: 'Seandainya aku mengetahui sebelumnya apa yang aku ketahui sekarang, tentu aku tidak akan membawa hewan kurban dan akan menjadikannya sebagai umrah, dan aku akan bertahallul.' Maka siapa pun yang tidak membawa hewan kurban, ia pun bertahallul.
#. Haji Qirān [القِران] adalah Menggabungkan antara ibadah umrah dan haji dalam satu ihram sekaligus.
#. Bertahallul adalah Keluar dari keadaan ihram, yaitu dengan melakukan perbuatan yang menandai berakhirnya larangan-larangan ihram, seperti mencukur atau memendekkan rambut.
#. Ketika seseorang berihram untuk haji atau umrah, ia wajib meninggalkan hal-hal yang diharamkan selama ihram, seperti: Memotong rambut atau kuku, Menggunakan wewangian, Berhubungan suami istri, Berburu hewan darat, dll.
Kemudian Rasulullah ﷺ berangkat pada hari Tarwiyah – yaitu hari kedelapan Dzulhijjah – menuju Mina. Orang-orang yang sebelumnya telah bertahallul pun berihram kembali untuk haji. Beliau salat di Mina sebanyak lima waktu: Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Salat yang empat rakaat beliau ringkas (qashar) menjadi dua rakaat.
Setelah matahari terbit, beliau melanjutkan perjalanan dari Mina hingga tiba di Arafah. Di sana beliau mendapati kemah telah didirikan untuknya di tempat bernama Namirah, maka beliau singgah di dalamnya. Ketika matahari telah tergelincir (masuk waktu Dzuhur), beliau menaiki unta al-Qashwa’, lalu pergi ke Wadi 'Uranah, di mana orang-orang telah berkumpul di sekelilingnya. Di sana beliau berdiri dan menyampaikan khutbah kepada mereka.
Beliau memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bersyahadat dan berwasiat agar bertakwa kepada Allah. Kemudian beliau bersabda dalam khutbahnya:
“Wahai manusia! Dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak tahu, barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selama-lamanya.
Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.
Ketahuilah, segala perkara jahiliah telah diletakkan di bawah telapak kakiku. Darah jahiliah pun telah dibatalkan. Dan darah pertama yang aku batalkan adalah darah Ibnu Rabi’ah bin Harist – yang sedang disusukan di Bani Sa’ad lalu dibunuh oleh Hudzail [هذيل].
Riba jahiliah juga telah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapus adalah riba Abbas bin Abdul Muththalib – seluruhnya telah dihapuskan.
Bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita, karena kalian telah mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah.
Kewajiban mereka terhadap kalian adalah tidak memperbolehkan seorang pun yang kalian benci untuk menginjak tempat tidur kalian. Jika mereka melakukannya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan.
Dan mereka memiliki hak atas kalian, yaitu mendapat nafkah dan pakaian dengan cara yang baik.
Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitab Allah (Al Qur'an).
Kemudian beliau berkata: "Kalian akan ditanya tentang diriku, maka apa yang akan kalian katakan?"
Mereka menjawab: "Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberi nasihat."
Lalu beliau mengangkat jari telunjuknya ke langit, dan menunjuk kepada orang-orang seraya berkata: “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!
Dan dalam khutbah ini, beliau telah menjelaskan beberapa hal lainnya. Setelah beliau selesai dari khutbah tersebut, turunlah firman Allah Ta‘ala:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian." (QS. Al-Mā'idah: 3)
(Maka) hari itu pun menjadi hari kenikmatan, kebahagiaan, dan syukur."
Kemudian Bilal mengumandangkan azan setelah khutbah, lalu iqamah, kemudian Rasulullah ﷺ salat Zuhur bersama manusia dua rakaat. Setelah itu iqamah dikumandangkan lagi, lalu beliau salat Ashar dua rakaat, dan beliau menggabungkan keduanya pada waktu Zuhur (jamak taqdim). Beliau tidak melaksanakan salat sunnah di antara keduanya.
Kemudian beliau menuju ke tempat wukuf (di Arafah), lalu menjadikan bagian perut untanya menghadap ke arah batu-batu besar, dan beliau menghadap kiblat. Beliau tetap berdiri (berwukuf) hingga matahari terbenam dan warna kekuningan sedikit hilang.
Kemudian beliau berangkat hingga tiba di Muzdalifah. Di sana beliau melaksanakan salat Magrib dan Isya dengan satu azan dan dua iqamah, dan tidak melakukan salat sunnah di antara keduanya. Setelah itu beliau berbaring hingga fajar terbit.
Kemudian beliau salat Subuh dengan cepat (di awal waktu), lalu pergi ke Masy‘ar Ḥarām [المشعر الحرام] "tempat di Muzdalifah", menghadap kiblat, lalu berdoa, bertakbir, bertahlil, dan bertauhid hingga cahaya pagi mulai terang sekali.
Kemudian beliau berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit, hingga tiba di Jamrah Kubra (Jamrah Aqabah). Lalu beliau melemparnya dengan tujuh batu kerikil, bertakbir setiap kali melempar satu batu.
Beliau terus bertalbiyah hingga melempar jamrah tersebut. Setelah melempar, beliau menghentikan talbiyah, lalu berhenti di dekat jamrah itu dan bersabda:
'Ambillah dariku manasik (tata cara ibadah) haji kalian, karena boleh jadi aku tidak akan berhaji lagi setelah tahun ini.'
Kemudian beliau datang ke tempat tinggalnya di Mina, lalu menyembelih 63 unta kurban dengan tangannya sendiri. Setelah itu, ‘Ali menyembelih sisanya hingga genap 100 unta, yaitu 37 unta.
Kemudian beliau memerintahkan agar diambil potongan dari setiap unta, lalu dikumpulkan dalam satu periuk dan dimasak. Maka mereka pun memakan dagingnya dan meminum kuahnya.
Setelah selesai menyembelih hewan kurban, beliau memanggil tukang cukur, lalu memberikan sisi kanan kepalanya untuk dicukur. Kemudian beliau membagikan rambutnya kepada orang-orang, sehelai demi sehelai. Setelah itu, beliau mencukur sisi kiri kepalanya dan memberikannya kepada Abu Thalhah.
Kemudian beliau mengenakan pakaiannya dan memakai wewangian sebelum melakukan thawaf. Lalu beliau menaiki kendaraannya hingga tiba di Ka'bah, kemudian melakukan thawaf ifadhah. Beliau tidak melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Setelah itu beliau melaksanakan salat Zuhur.
Lalu beliau mendatangi Bani ‘Abd al-Muththalib yang sedang memberikan air minum dari sumur Zamzam. Maka beliau bersabda: 'Ambillah air, wahai Bani Abdul Muththalib! Seandainya orang-orang tidak akan mengalahkan kalian dalam tugas pemberian minum ini, niscaya aku juga akan ikut mengambil air bersama kalian.' Lalu mereka memberikan beliau satu ember air, dan beliau pun meminumnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ kembali ke Mina dan tinggal di sana selama hari-hari Tasyriq – yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Beliau melempar tiga jamrah setiap hari setelah matahari tergelincir. Beliau memulai dengan Jamrah Shughra (jamrah kecil), melemparnya dengan tujuh batu kerikil, bertakbir setiap kali melempar satu batu, kemudian Jamrah Wustha (tengah), lalu Jamrah Kubra (besar), dengan cara yang sama.
Rasulullah ﷺ telah menyampaikan khutbah pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah), kemudian menyampaikan khutbah lagi pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Dalam khutbah itu, beliau menegaskan kembali apa yang telah disampaikan dalam khutbah Arafah, dan menambahkan hal-hal di atasnya.
Surat An-Naṣr pun telah diturunkan kepadanya pada pertengahan hari-hari Tasyriq, sebelum khutbah tersebut.
Pada hari ketiga belas – yaitu hari Nafr Tsani, hari ketiga dari hari-hari Tasyriq, yang bertepatan dengan hari Selasa – Rasulullah ﷺ meninggalkan Mina setelah melempar jumrah. Beliau singgah di Al-Abṭaḥ, dan salat di sana Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.
Beliau mengutus ‘Aisyah Ummul Mukminin bersama saudaranya, Abdurrahman bin Abi Bakar, agar menunaikan umrah dari Tan‘im. Maka ‘Aisyah pun berihram dan menyelesaikan umrahnya, lalu datang kepada Nabi ﷺ di Al-Abṭaḥ pada waktu sahur. Saat itu, Rasulullah ﷺ sedang tidur sebentar di sana. Ketika ‘Aisyah datang, ia memberitahukan bahwa ia telah selesai, maka beliau bersiap-siap untuk berangkat.
Beliau lalu menaiki kendaraannya menuju Ka‘bah dan melakukan Thawaf Wada‘, kemudian salat Subuh, lalu berangkat menuju Madinah. Beliau keluar dari sisi bawah kota Makkah. Ketika beliau sudah dekat dengan Madinah dan tampak tanda-tandanya, beliau bertakbir tiga kali, lalu bersabda:
لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد، وهو على كل شئ قدير، آيبون، تائبون، عابدون، ساجدون، لربنا حامدون، صدق الله وعده، ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده
"Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, bertobat, beribadah, bersujud, dan memuji Rabb kami. Allah telah membenarkan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (musuh) seorang diri"
Kembali ke bagian 62 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar