Selasa, 29 Juli 2025

Umdatul Ahkam : 3 (Kitab Thaharah "Bersuci")

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatil-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 2 | IndeX | Lanjut 4

  

  

 

بَابُ دُخُولِ الْخَلَاءِ وَالِاسْتِطَابَةِ

Bab Masuk WC dan Bersuci Setelah Buang Hajat

 

Hadist kesebelas:

عنْ أَنَسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ إذا دَخَلَ الْخَلَاءَ قالَ: (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ )) .

Dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ apabila masuk ke kamar kecil (toilet), beliau berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) jin jantan dan jin betina."

[الْخُبُثُ بِضَمِّ الْخَاءِ والباءِ جَمْعُ خَبِيثٍ، والْخَبَائِثُ: جَمْعُ خَبِيثَةٍ. اسْتَعَاذَ مِنْ ذُكْرَانِ الشَّيَاطِينِ وإِنَاثِهِمْ] .

"Al-Khubutsu" [الْخُبُثُ] dengan dammah (harakat u) pada huruf khā’ dan bā’, adalah jamak dari khabīth [خَبِيثٍ] (yang jahat atau najis), sedangkan al-khabā’its [الْخَبَائِثُ] adalah jamak dari khabīthah [خَبِيثَةٍ] (yang jahat dari kalangan betina). Beliau berlindung dari jin jantan dan jin betina."

 

Kosakata:

Lafal (الخَلَاءَ) dengan madd (panjangan satu alif), artinya tempat yang kosong, dan yang dimaksud adalah tempat yang digunakan untuk buang hajat.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disunnahkan membaca doa ini ketika hendak masuk ke kamar kecil. 

Kedua: Wajib menghindari najis dan menjaga diri darinya.

 

 

Hadist ke Dua Belas:

عنْ أبِي أَيُّوبَ الأنصارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا أَتَيْتُم الغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ، وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا. وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَو غَرِّبُوا )) .

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jika kalian pergi ke tempat buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dalam buang air besar maupun buang air kecil, dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat." 

قالَ أبُو أيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّامَ، فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَد بُنِيتْ نَحْوَ الكَعْبَةِ، فنَنْحَرِفُ عنهَا، ونَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ. قالَ المُصَنِّفُ: الْغَائِطُ: الْمَوْضِعُ الْمُطْمَئِنُّ مِن الأرضِ كانُوا يَنْتَابُونَهُ لِلْحَاجَةِ فَكَنَّوا بهِ عنْ نَفْسِ الْحَدَثِ كَرَاهَةً لِذِكْرِهِ بِخَاصِّ اسْمِهِ , والمَرَاحِيضُ جَمْعُ مِرْحَاضٍ , وهو المُغْتَسَلُ, وهو أَيْضًا عن مَوْضِعِ التَّخَلِّي. 

Abu Ayyub berkata: "Ketika kami datang ke negeri Syam, kami mendapati toilet-toilet yang dibangun menghadap ke arah Ka'bah. Maka kami pun berpaling darinya (mengubah arah saat buang hajat), dan kami memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla."

Penjelasan dari al-Muṣannif (penyusun): Al-ghā’iṭ [الْغَائِطُ] adalah tempat yang rendah dari permukaan tanah yang biasa mereka datangi untuk buang hajat. Kemudian kata ini dijadikan kiasan untuk menyebut aktivitas buang hajat itu sendiri, karena mereka tidak suka menyebutnya secara langsung dengan istilah khususnya (seperti buang air besar).

Al-marāḥīḍ [المَرَاحِيضُ] adalah bentuk jamak dari mirḥāḍ [مِرْحَاضٍ], yaitu tempat mandi, dan juga digunakan untuk menyebut tempat buang hajat. 

 

 

Hadist ke Tiga Belas:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ بنِ الخطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: رَقِيتُ يومًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ، فرأَيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُستَقْبِلَ الشَّامِ، مُسْتَدبِرَ الْكَعْبَةِ.

Dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

"Suatu hari aku naik ke atap rumah Hafshah, lalu aku melihat Nabi ﷺ sedang buang hajat menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka'bah."  

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Dua hadis yang tampak bertentangan ini dapat dikompromikan dengan cara Hadis Abu Ayyub dipahami sebagai larangan menghadap atau membelakangi  kiblat saat buang hajat di tempat terbuka, sedangkan hadis Ibnu Umar dipahami sebagai bolehnya hal itu jika berada di dalam bangunan atau tempat tertutup semacamnya.

Kedua: Perintah untuk menghadap ke arah timur atau barat saat buang hajat berlaku jika arah tersebut tidak sejalan dengan arah kiblat — seperti penduduk Madinah dan orang-orang yang searah dengan mereka.

 

 

Hadist ke Empat Belas:

عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ؛ قالَ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الخَلاءَ، فأَحْمِلُ أَنَا- وَغُلَامٌ نَحْوِي- إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ، وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالمَاءِ.

Dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

"Rasulullah ﷺ biasa masuk ke kamar kecil (untuk buang hajat), lalu aku dan seorang anak kecil seumuranku membawakan air dalam wadah "idāwah" [إِدَاوَةً] dan sebuah tombak kecil "anazah" [عَنَزَةً], lalu beliau bersuci (cebok) dengan air." 

الْعَنَزَةُ: الحَرْبةُ.

"anazah" [الْعَنَزَةُ] : adalah tombak kecil. 

 

Kosakata: 

Lafal (الغُلَامُ): adalah anak kecil yang sudah bisa membedakan (antara baik dan buruk), namun belum baligh.

Lafal (نَحْوِي): artinya seumuranku atau mendekati usiaku.

Lafal (إِدَاوَةً): dengan harakat kasrah pada hamzah, yaitu wadah kecil dari kulit (untuk membawa air).

Lafal (العَنَزَة): adalah tongkat yang pada ujungnya terdapat besi (semacam tombak kecil). 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist: 

Pertama: Boleh bersuci (cebok) hanya dengan menggunakan air.

Kedua: Dianjurkan mempersiapkan air untuk bersuci sebelum buang hajat.

Ketiga: Menjaga diri dari melihat aurat (baik aurat sendiri maupun orang lain). 

 

 

Hadist ke Lima Belas:

عنْ أبِي قتادةَ الحارثِ بنِ رِبْعِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( لَا يُمْسِكَنَّ أَحدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ. وَلَا يَتَمَسَّحْ مِن الْخَلَاءِ بَيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ )) .

Dari Abu Qatadah Harits bin Rib‘i radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Janganlah salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya saat buang air kecil. Dan jangan pula bersuci (cebok) dengan tangan kanannya, serta jangan bernafas ke dalam bejana (wadah minum)."

  

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist: 

Pertama: Larangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan saat buang air kecil.

Kedua: Larangan bersuci (cebok) dengan tangan kanan.

Ketiga: Larangan bernafas di dalam bejana (wadah), sebagai bentuk perhatian terhadap kebersihan dan kesehatan.

 

 

Hadist ke Enam Belas:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بقَبْرَيْنِ، فقالَ: (( إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ في كَبِيرٍ، أَمَّا أحَدُهُمَا، فَكانَ لا يَسْتتِرُ مِن البَوْلِ، وأَمَّا الآخرُ فَكانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ )) فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، فَقَالُوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قالَ: (( لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا )) .

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

Nabi ﷺ pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: "Keduanya sungguh sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena perkara besar (menurut anggapan manusia). Adapun yang satu, ia tidak menjaga diri dari (percikan) air kencing. Sedangkan yang lain, ia suka menyebarkan namimah (adu domba) [النَّمِيمَةِ]."

Kemudian beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah, membelahnya menjadi dua, lalu menancapkan masing-masing bagian pada satu kubur. Maka para sahabat bertanya:

"Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?"

Beliau menjawab: "Semoga keduanya diringankan siksaannya selama pelepah ini belum kering." 

 

Kosakata: 

Lafal (لا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ): artinya tidak menjaga diri dari air kencing dengan sesuatu yang dapat melindunginya dari terkena percikan.

Lafal (يَمْشِي بالنَّمِيمَةِ): artinya menyampaikan perkataan orang lain dengan tujuan menimbulkan kerusakan atau saling menyakiti (adu domba).

Lafal (جَرِيدَةً): artinya pelepah kurma yang tidak ada daunnya (safarnya).

Lafal (فَغَرَزَ): artinya menancapkan atau menanamkan. 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Penetapan adanya azab kubur.

Kedua: Tidak membersihkan diri dengan sempurna dari najis adalah sebab azab tersebut; maka wajib untuk membersihkan diri darinya.

Ketiga: Diharamkannya mengadu domba (namimah) di antara manusia, dan bahwa itu termasuk sebab azab kubur.

Keempat: Kasih sayang Nabi ﷺ terhadap para sahabatnya, dan kepeduliannya dalam menjauhkan keburukan dari mereka.

Kelima: Menutupi dosa dan aib (orang lain)
 

 

Kembali 2 | IndeX | Lanjut 4

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar