Senin, 28 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 68

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 67 | IndeX | Selesai.

 

 

Anak-anak Nabi ﷺ:

Telah disebutkan sebelumnya bahwa semua anak Nabi ﷺ berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim. Mereka adalah: 

 

1. Qasim: Ia adalah anak pertama Rasulullah ﷺ, dan Nabi ﷺ diberi kuniyah (julukan) dengan namanya (Abul Qasim). Ia hidup sampai bisa berjalan, kemudian wafat saat usianya sekitar dua tahun. 

 

2. Zainab: Ia adalah putri tertua Nabi ﷺ. Ia mengalami ujian karena Allah, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Itulah putriku yang paling utama.” Ia dilahirkan setelah Qasim. Ia menikah dengan Abul-‘Ash bin Rabi‘, yang merupakan anak dari bibi Zainab, yaitu Halah binti Khuwailid. 

Zainab melahirkan seorang anak laki-laki bernama ‘Ali dan seorang anak perempuan bernama Umamah. Umamah inilah yang pernah dipangku oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang salat. Zainab wafat pada awal tahun kedelapan Hijriah di Madinah. 

 

3. Ruqayyah: Ia dinikahi oleh Utsman bin ‘Affan – raḍiyallāhu ‘anhu –, dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama ‘Abdullah. Anak itu sempat hidup sampai usia enam tahun, lalu dipatuk ayam jantan di matanya hingga meninggal dunia. Ruqayyah wafat saat Rasulullah ﷺ berada di Perang Badar. 

Zaid bin Haritsah datang ke Madinah membawa kabar kemenangan, lalu mendapati mereka telah meratakan tanah di atas kuburannya. 

 

4. Ummu Kultsum: Rasulullah ﷺ menikahkannya dengan Utsman bin ‘Affan – raḍiyallāhu ‘anhu – setelah wafatnya Ruqayyah, sepulang dari Perang Badar. Ia tidak melahirkan anak darinya. 

Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 H dan dimakamkan di Baqi‘. 

 

5. Fathimah: Ia adalah putri termuda Nabi ﷺ dan yang paling beliau cintai. Ia adalah pemimpin wanita penghuni surga. Ia menikah dengan ‘Ali bin Abi Ṭalib – raḍiyallāhu ‘anhu – setelah Perang Badar, dan melahirkan dua putra: Ḥasan dan Ḥusain, serta dua putri: Zainab dan Ummu Kultsum. 

Ummu Kultsum ini dinikahi oleh ‘Umar bin Khaṭṭāb – raḍiyallāhu ‘anhu –, dan melahirkan anak bernama Zaid. Setelah ‘Umar wafat, ia dinikahi oleh ‘Aun, putra dari pamannya, Ja‘far. Setelah Aun meninggal, ia dinikahi oleh saudaranya, Muhammad. Setelah Muhammad wafat, ia dinikahi oleh saudaranya lagi, yaitu ‘Abdullah. 

Ummu Kultsum wafat ketika masih menjadi istri ‘Abdullah.

Fathimah – raḍiyallāhu ‘anhā – wafat enam bulan setelah wafatnya Nabi ﷺ. 

 

[Kelima anak Nabi ﷺ yang disebutkan ini semuanya lahir sebelum beliau diangkat oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul.] 

 

6. ‘Abdullah: Dikatakan bahwa ia lahir setelah Nabi ﷺ menerima Islam (setelah kenabian), dan ada juga yang mengatakan sebelum itu. Ia wafat saat masih kecil, dan merupakan anak terakhir Nabi ﷺ dari Khadijah. 

 

7. Ibrahim: Ia lahir di Madinah dari budak wanita Nabi ﷺ, Māriyah al-Qibṭiyyah, pada bulan Jumadil Ula atau Jumadil Akhir tahun 9 H. 

Ia wafat pada tanggal 29 Syawwal tahun 10 H, pada hari terjadi gerhana matahari di Madinah, dalam usia bayi – enam belas atau delapan belas bulan. 

Ia dimakamkan di Baqi‘. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya ia memiliki seorang wanita penyusu yang akan menyempurnakan susuannya di surga.” 

 

 

Sifat dan Akhlak 


Rasulullah ﷺ memiliki keistimewaan dalam keindahan fisik dan kesempurnaan akhlak. Dalam bab ini terdapat banyak hadis yang agung dan mulia. Di sini akan kami ringkas makna-makna dan kandungan hadis-hadis tersebut secara ringkas. 

 

Wajah dan Apa yang Ada pada Wajah Nabi ﷺ: 

Wajah Rasulullah ﷺ berwarna putih nan tampan, berbentuk bulat, cerah bercahaya dengan semburat kemerahan. 

Wajah beliau bersinar seperti bulan purnama. Ketika beliau senang, wajahnya bercahaya seakan-akan potongan bulan; raut wajah beliau bersinar seperti awan cerah yang memancarkan kilat. Seolah-olah matahari mengalir di wajahnya—bahkan jika engkau melihatnya, seakan-akan engkau melihat matahari terbit.

Keringat di wajah beliau laksana butiran mutiara, dan aroma keringatnya lebih harum daripada minyak kesturi yang paling wangi. Bila beliau marah, wajahnya memerah seakan-akan dua pipinya ditetesi biji delima yang pecah. 

 

Beliau memiliki pipi yang lembut (tidak menonjol), dahi yang lebar, alis melengkung rapi, panjang dan halus, serta tidak bersambung—meskipun ada riwayat yang mengatakan bahwa alis beliau bersambung. 

Mata beliau lebar, dengan bagian putihnya bercampur sedikit kemerahan, dan bagian hitam matanya sangat hitam. 

Bulu mata beliau lebat dan panjang—jika engkau melihatnya, engkau akan menyangka beliau memakai celak, padahal beliau tidak bercelak. 

 

Beliau memiliki hidung yang mancung [أقنى] "aqnā", di atasnya tampak cahaya; orang yang tidak memperhatikan dengan saksama akan mengira beliau berhidung tinggi [أشم] "asham". 

Kedua telinganya sempurna. Mulut beliau indah dan agak besar, gigi serinya renggang [أفلج الثنيتين] "aflaj al-tsanayyat", giginya terpisah dan berkilau cemerlang. Ketika tersenyum, giginya tampak seperti butiran embun. 

Pada gigi beliau terdapat [شنب] "shanab"—yaitu sejenis kilau bercahaya. Jika beliau berbicara, seakan-akan cahaya keluar dari antara giginya. Beliau adalah orang yang paling indah senyumannya. 

 

Janggut beliau indah dan lebat, memenuhi dari pelipis ke pelipis, dan menutupi bagian leher. Warnanya sangat hitam, namun pada kedua pelipis dan bagian bawah bibir [العنفقة] "‘anfaqah" terdapat beberapa helai uban yang bisa dihitung jumlahnya. 

 

Kepala, leher, dan rambut: 

Beliau ﷺ memiliki kepala yang besar dan bagian atas kepala yang lebar. Lehernya panjang, seakan-akan seperti teko dari perak, atau seperti leher boneka yang indah. Rambut beliau lebat dan panjangnya mencapai pertengahan telinga atau sampai ke daun telinga, terkadang lebih panjang dari itu, bahkan bisa sampai menyentuh kedua pundaknya.

Pada bagian depan rambut (ubun-ubun) terdapat sedikit uban, tetapi sangat sedikit, sehingga jumlah uban di kepala dan janggut beliau tidak mencapai dua puluh helai. Rambut kepala beliau memiliki sedikit gelombang (keriting ringan). Beliau biasa menyisir rambut kepala dan janggutnya secara berkala (tidak setiap hari), dan membelah rambut dari bagian tengah kepala. 

 

Anggota tubuh dan bagian-bagian badan: 

Beliau ﷺ memiliki tulang-tulang besar pada persendian, seperti pada siku, bahu, dan lutut. Lengan bawahnya panjang, dan lengan atasnya pun besar. Telapak tangan dan kaki beliau lebar. Bagian telapak kaki beliau rata (tidak cekung). Tangan beliau halus lembut, bahkan lebih lembut dari sutra dan kain halus, lebih sejuk dari salju, dan lebih harum dari bau kasturi.

Beliau memiliki lengan atas, lengan bawah, dan bagian bawah tubuh yang kekar. Tumit dan betisnya ramping. Jarak antara kedua pundaknya lebar. Anggota tubuhnya seimbang dan proporsional. Dada beliau bidang, dan tubuh bagian depan (dada hingga perut) tidak ditumbuhi banyak rambut. Hanya terdapat satu jalur rambut dari pangkal leher (leher bawah) hingga pusar, seperti garis lurus. Tidak ada rambut di perut maupun dada selain jalur tersebut.

Namun beliau memiliki rambut lebat pada lengan dan pundak. Dada dan perut beliau rata. Di kedua ketiaknya tampak warna putih cerah. Punggung beliau tampak seperti kepingan perak yang mengkilap. 

 

Postur dan tubuh: 

Beliau ﷺ memiliki postur tubuh yang tampan dan proporsional. Tinggi badan beliau sedang, tidak terlalu pendek yang mendekati kekurangan, dan tidak pula terlalu tinggi mencolok. Namun, beliau lebih cenderung ke tinggi, sehingga bila berjalan bersama seseorang yang dianggap tinggi, beliaulah ﷺ yang tampak lebih tinggi darinya.

Tubuh beliau seimbang dan padat, tidak gemuk berlebihan dan tidak pula kurus lemah, melainkan seperti batang pohon yang indah—bahkan seperti dua batang yang selaras. Di antara tiga orang yang berjalan bersamanya, beliaulah yang paling menarik dipandang dan paling bagus posturnya. 

 

Bau tubuh beliau ﷺ: 

Tubuh, keringat, dan seluruh anggota badan beliau ﷺ memiliki aroma yang lebih wangi dari segala jenis wewangian. Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: “Aku belum pernah mencium ambar, atau misk (kasturi), atau sesuatu pun yang lebih harum dari aroma Rasulullah ﷺ.”

Jabir رضي الله عنه juga berkata: “Tidaklah Nabi ﷺ melewati suatu jalan, lalu seseorang lewat setelahnya, melainkan orang itu mengetahui bahwa beliau telah melewati jalan itu, karena harumnya.”

Beliau juga biasa berjabat tangan dengan seseorang, dan orang itu bisa mencium wanginya sepanjang hari. Ketika beliau meletakkan tangannya di kepala seorang anak, anak itu bisa dikenali dari antara anak-anak lainnya karena keharuman tangan beliau ﷺ.

Ummu Sulaim رضي الله عنها bahkan pernah menyimpan keringat beliau dalam sebuah botol kecil untuk dicampur dalam minyak wangi, karena keringat beliau adalah sebaik-baik wangi. 

 

Sifat Berjalan: 

Rasulullah ﷺ berjalan dengan cepat, langkahnya tegas seperti orang yang sedang turun ke pasar (berjalan penuh semangat dan serius), bukan seperti orang lemah atau malas. Tidak ada seorang pun yang bisa menyusul beliau saat berjalan. 

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih cepat jalannya dari Rasulullah ﷺ. Seakan-akan bumi dilipat untuk beliau. Kami harus berusaha keras mengejarnya, sementara beliau tidak tampak bersusah payah sama sekali.” 

 

Saat melangkah, beliau menginjakkan seluruh telapak kakinya (tidak hanya sebagian), dan telapak kakinya tidak memiliki lengkungan (rata). Bila beliau menoleh, beliau menoleh seluruh tubuhnya, bukan hanya memutar kepala. Jika beliau menghadap, maka menghadap dengan seluruh tubuh; jika membelakangi, maka membelakangi dengan seluruh tubuh juga.

Bila bergerak dari tempat, beliau bergerak dengan mantap seperti orang yang mencabut kakinya dari tanah. Saat berjalan, seakan-akan beliau turun dari tempat yang tinggi (cepat, ringan, dan penuh semangat). Langkah beliau condong sedikit ke depan, dan beliau berjalan dengan tenang dan penuh wibawa. 

 

Suara dan Cara Berbicara: 

Dalam suara beliau ﷺ terdapat sedikit serak (baha), yang justru menambah keindahan. Ucapannya manis dan penuh wibawa. Jika diam, wajah beliau dipenuhi ketenangan dan kewibawaan. Jika berbicara, tampak pesona dan keagungan dalam tutur katanya.

Ucapan beliau mengalir seperti butiran mutiara yang tersusun rapi dan mengalir satu per satu. Beliau memulai dan mengakhiri pembicaraan dengan jelas, berbicara dengan kalimat yang teratur, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kurang. Setiap huruf terdengar jelas.

Beliau sangat fasih dan memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa. Ucapannya mudah dipahami, kata-katanya bersih dan terang. Tak ada seorang pun, meskipun paling fasih sekalipun, yang bisa menandingi kefasihan dan kelugasan beliau.

Allah telah menganugerahi beliau [جوامع الكلم] "jawāmi‘ al-kalim" — yakni kemampuan mengucapkan sedikit kata yang mengandung makna luas — serta hikmah dan kefasihan dalam menyampaikan segala urusan. 

 

Sekilas tentang Akhlak Rasulullah ﷺ: 

Rasulullah ﷺ selalu tampak ceria, berwajah berseri, dan mudah bergaul. Beliau memiliki akhlak yang lembut dan santun. Beliau bukan orang yang kasar, keras, atau suka berteriak-teriak di pasar.

Beliau adalah orang yang paling banyak tersenyum, paling jauh dari sifat pemarah, dan paling cepat dalam meredakan amarah serta kembali ridha. Dalam setiap urusan, beliau selalu memilih jalan yang paling mudah selama itu bukan dosa. Namun, jika suatu perkara mengandung dosa, maka beliaulah orang yang paling menjauhinya.

Beliau tidak pernah membalas dendam untuk kepentingan pribadi. Namun, jika kehormatan dan hukum-hukum Allah dilanggar, barulah beliau bersikap tegas dan membela kebenaran demi Allah semata. 

 

Beliau ﷺ adalah orang yang paling dermawan, paling mulia, paling berani, dan paling tangguh. Beliau juga paling sabar dalam menghadapi gangguan, paling tenang dan berwibawa, serta paling besar rasa malunya.

Jika beliau tidak menyukai sesuatu, hal itu tampak dari raut wajahnya. Beliau tidak pernah menatap wajah seseorang dengan tajam atau lama, dan tidak pernah menghadapkan kata-kata yang menyakitkan secara langsung kepada siapa pun. 

 

Beliau ﷺ adalah orang yang paling adil, paling menjaga kehormatan, paling jujur dalam ucapannya, dan paling besar amanahnya. Bahkan sebelum kenabian pun beliau sudah diberi gelar al-Amīn (yang terpercaya).

Beliau adalah orang yang paling rendah hati, paling jauh dari sifat sombong, paling setia dalam menepati janji, paling menyambung tali silaturahmi, paling penyayang dan penuh kasih, serta paling baik dalam pergaulan dan paling sopan dalam adab.

Beliau memiliki akhlak yang paling luas, paling jauh dari ucapan atau perbuatan keji, tidak suka berkata kotor atau melaknat.

Beliau menghadiri jenazah, duduk bersama orang-orang miskin dan fakir, menerima undangan para budak, dan tidak pernah menyombongkan diri dalam hal makanan maupun pakaian.

Beliau juga membantu pekerjaan orang yang melayaninya, dan tidak pernah mencela atau menegur keras pelayannya—bahkan tidak pernah berkata "ah" (ungkapan kesal) sekalipun. 

 

Demikianlah, dan sesungguhnya tidak mungkin menggambarkan seluruh sifat-sifat Rasulullah ﷺ secara sempurna dengan kata-kata. Maka cukuplah kami sampaikan uraian yang sedikit ini, seraya memohon kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā agar menerima amal yang sederhana ini dari kami, dan memberikan taufik kepada kami untuk mengikuti jalan Sayyid al-Mursalin (Pemimpin para Rasul), Imam para nabi dan orang-orang bertakwa, Muhammad ﷺ, sebaik-baik ciptaan seluruh alam.


Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya yang mulia lagi dimuliakan. Dan jadikanlah kami berada di bawah panji beliau pada Hari Kiamat. Āmīn, ya Rabb al-‘Ālamīn. 

 

Kembali ke bagian 67 | IndeX | Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar