Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 50 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 52
Penyucian Ka'bah dan Shalat di Dalamnya:
Setelah selesai thawaf, Rasulullah ﷺ memanggil Utsman bin Thalhah, lalu mengambil kunci Ka'bah darinya dan memerintahkan agar pintunya dibuka. Kemudian beliau memerintahkan agar semua berhala yang ada di dalam Ka'bah dikeluarkan dan dihancurkan. Beliau juga memerintahkan agar semua gambar yang ada di dalamnya dihapus.
Setelah itu, beliau masuk ke dalam Ka'bah bersama Usamah bin Zaid dan Bilal, lalu pintu ditutup.
Beliau menghadap ke dinding yang berada tepat di depannya, yang berjarak tiga hasta, dan di sebelah kirinya ada satu tiang, di sebelah kanannya dua tiang, dan di belakangnya ada tiga tiang.
Beliau lalu shalat dua rakaat, kemudian berkeliling di dalam Ka'bah, bertakbir di setiap sudutnya, dan mengesakan Allah (mengucapkan tauhid).
Tidak ada celaan atas kalian:
Setelah itu Rasulullah ﷺ membuka pintu Ka'bah, sementara kaum Quraisy telah memenuhi Masjidil Haram dalam barisan-barisan.
Beliau memegang kedua sisi pintu Ka'bah lalu berkhutbah dengan khutbah yang fasih dan menyentuh, yang di dalamnya beliau menjelaskan banyak hukum Islam, menghapus berbagai kebiasaan jahiliah, dan menyatakan berakhirnya kesombongan mereka di masa lalu.
Kemudian beliau bersabda: "Wahai kaum Quraisy! Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?"
Mereka menjawab: "Kebaikan. Engkau adalah saudara yang mulia dan anak dari saudara yang mulia."
Maka beliau berkata: “Tidak ada celaan atas kalian hari ini.”
"Pergilah, kalian semua bebas (dimerdekakan)!"
ثم نزل وجلس في المسجد الحرام، ورد المفتاح إلى عثمان بن طلحة، وقال : خذوها خالدة تالدة، ولا ينزعها منكم إلا ظالم .
Lalu beliau turun dan duduk di Masjidil Haram, kemudian mengembalikan kunci Ka'bah kepada Utsman bin Thalhah, sambil bersabda:
"Ambillah kunci ini, sebagai warisan yang kekal turun-temurun. Tidak ada yang akan mencabutnya dari kalian kecuali orang yang zalim."
Bai'at (Sumpah Setia):
Kemudian Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa, dari tempat yang dapat melihat langsung ke arah Ka'bah. Beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa, kemudian menerima bai'at (sumpah setia) dari orang-orang atas keislaman mereka.
Di antara yang masuk Islam pada hari itu adalah Abu Quhafah, ayah dari Abu Bakar as-Shiddiq – radhiyallahu ‘anhuma –. Rasulullah ﷺ sangat bergembira dengan keislamannya.
Setelah membai'at para lelaki, beliau membai'at para wanita, atas dasar firman Allah:
أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلا يَسْرِقْنَ وَلا يَزْنِينَ وَلا يَقْتُلْنَ أَوْلادَهُنَّ وَلا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ
"Bahwa mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak mengada-adakan kebohongan yang mereka buat-buat antara tangan dan kaki mereka, dan tidak mendurhakaimu dalam perkara yang ma’ruf." (QS. Al-Mumtahanah: 12)
Salah satu wanita yang turut bai'at saat itu adalah Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan. Ia datang dalam keadaan bercadar dan menyamar, karena takut atas apa yang pernah ia lakukan terhadap jasad Hamzah (paman Nabi ﷺ).
Namun setelah bai'at selesai, ia berkata: "Wahai Rasulullah! Dahulu tidak ada satu pun keluarga di muka bumi ini yang aku harapkan agar terhina melebihi keluargamu. Tapi hari ini, tidak ada satu pun keluarga di bumi ini yang lebih aku cintai untuk dimuliakan daripada keluargamu."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Dan (engkau akan mendapatkan) lebih dari itu, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya."
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu saat itu duduk di tempat yang lebih rendah dari posisi Rasulullah ﷺ, menyampaikan dan menyuarakan bai'at kepada orang-orang atas nama Nabi ﷺ.
Bai'at para wanita dilakukan secara lisan tanpa berjabat tangan.
Ada pula sebagian orang yang datang untuk membai'at Nabi ﷺ atas niat hijrah, namun beliau bersabda:
"Orang-orang yang telah hijrah sebelumnya telah meraih keutamaannya. Tidak ada hijrah setelah penaklukan Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat. Dan apabila kalian dimobilisasi, maka berangkatlah."
Orang-Orang yang Darahnya Dihalalkan (Dihukum Mati):
Pada hari itu, Rasulullah ﷺ telah menetapkan bahwa darah beberapa orang halal (boleh ditumpahkan) karena dosa dan kejahatan besar yang telah mereka lakukan. Beliau memerintahkan agar mereka dibunuh, meskipun mereka berlindung di balik tirai Ka'bah (yang biasanya menjadi tempat suci dan aman).
Maka bumi terasa sempit bagi mereka, meskipun luas, karena rasa takut dan gentar. Sebagian dari mereka benar-benar ditimpa azab dan dibunuh, sedangkan sebagian lainnya mendapatkan kasih sayang Allah dan akhirnya masuk Islam.
Adapun yang benar-benar dibunuh, mereka adalah: Ibnu Khathal, Miqyas bin Subabah, Al-Harits bin Nufail, Seorang penyanyi (budak perempuan) milik Ibnu Khathal, (Diduga juga) Al-Harits bin Talatil al-Khuza‘i, Ummu Sa‘d – yang mungkin merupakan budak perempuan Ibnu Khathal juga.
Maka jumlah mereka antara lima hingga enam orang.
Adapun yang masuk Islam setelah sebelumnya lari atau bersembunyi, lalu kemudian mendapat jaminan keamanan dan datang menyatakan keislaman mereka, yaitu: Abdullah bin Sa‘d bin Abi Sarh, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, Hubar bin al-Aswad, Budak perempuan lain milik Ibnu Khathal, Ada juga yang disebutkan: Ka‘b bin Zuhair, Wahsyi bin Harb, Hindun binti ‘Utbah istri Abu Sufyan, Maka jumlah mereka tujuh orang.
Ada pula orang-orang lain yang bersembunyi karena takut, meskipun tidak termasuk yang darahnya dihalalkan, seperti: Shafwan bin Umayyah, Zuhair bin Abi Umayyah, Suhail bin ‘Amr, Kemudian mereka semua akhirnya masuk Islam, alhamdulillah.
Shalat Fathu Makkah (Shalat Kemenangan):
Rasulullah ﷺ memasuki rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib – ra – pada waktu Dhuha, lalu beliau mandi dan shalat delapan rakaat Shalat Fath (shalat kemenangan), dengan salam setiap dua rakaat.
Ummu Hani’ saat itu telah memberikan perlindungan kepada dua kerabat suaminya, namun Ali bin Abi Thalib ra ingin membunuh keduanya. Maka Ummu Hani’ meminta perlindungan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:
"Kami juga melindungi siapa yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’."
Bilal Mengumandangkan Adzan di Atas Ka'bah:
Ketika masuk waktu shalat Zuhur, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dari atas Ka'bah.
Ini merupakan pengumuman terbuka akan tegaknya Islam. Hal ini sangat membahagiakan kaum Muslimin, sekaligus mengguncang keras kaum musyrikin.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Kekhawatiran Kaum Anshar & Kepastian Rasulullah ﷺ:
Setelah Makkah ditaklukkan, kaum Anshar merasa khawatir bahwa Rasulullah ﷺ akan menetap di Makkah, karena di sanalah tempat kelahiran beliau, tanah air beliau, dan kampung halaman keluarganya.
Itu terjadi saat Rasulullah ﷺ berdiri di atas Shafa, mengangkat kedua tangannya dan berdoa.
Setelah selesai berdoa, beliau bersabda:
"A'ūdzu billāh (Aku berlindung kepada Allah)! Hidupku bersama kalian, dan matiku juga bersama kalian."
Maka kaum Anshar pun merasa tenang, hilanglah rasa khawatir mereka, dan mereka sangat bergembira.
Ya. Rasulullah ﷺ tinggal di Makkah selama sembilan belas hari, untuk memperbarui syiar-syiar Islam dan membersihkannya dari jejak-jejak jahiliah.
Beliau juga memperbarui batas-batas tanah haram, dan seorang penyeru beliau mengumumkan:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia membiarkan satu pun berhala di rumahnya, kecuali ia hancurkan."
Kembali ke bagian 50 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 52
Tidak ada komentar:
Posting Komentar