Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 65 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 67
Kebingungan Para Sahabat dan Sikap Abu Bakar :
Berita wafatnya Rasulullah ﷺ pun menyebar di kalangan para sahabat hanya dalam hitungan saat. Dunia seakan menjadi gelap bagi mereka, dan mereka hampir kehilangan kesadaran.
Tidak ada hari yang lebih indah dan bercahaya daripada hari ketika Rasulullah ﷺ memasuki kota Madinah, dan tidak ada hari yang lebih gelap dan lebih menyakitkan daripada hari ketika beliau wafat.
Suara tangisan pun menggema seperti suara tangisan para jamaah haji.
Umar bin Khattab – semoga Allah meridainya – bangkit di masjid dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ belum wafat dan tidak akan wafat, sampai Allah membinasakan orang-orang munafik.”
Ia bahkan mengancam akan memotong tangan dan membunuh siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.
Sementara itu, para sahabat di dalam masjid berada dalam keadaan bingung dan sangat terkejut.
Abu Bakar – semoga Allah meridainya – pada pagi hari itu sempat pergi ke rumahnya di As-Sunḥ [السنح] "pinggiran Madinah", karena melihat kondisi Nabi ﷺ tampak agak membaik.
Namun ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar datang dengan menunggangi hewan tunggangannya hingga tiba, lalu turun dan masuk ke masjid. Ia tidak berbicara kepada siapa pun, tetapi langsung masuk ke rumah Aisyah.
Ia mendatangi Rasulullah ﷺ yang sudah ditutupi dengan kain bergaris bernama ḥibrah, lalu membuka wajah beliau, menciumnya, dan menangis.
Kemudian ia berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Allah tidak akan mengumpulkan dua kematian atasmu.
Adapun kematian yang telah ditetapkan untukmu, maka sungguh engkau telah mengalaminya.”
Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata: “Duduklah, wahai Umar.”
Namun Umar menolak duduk. Maka Abu Bakar membiarkannya dan langsung menuju mimbar, berdiri di sampingnya.
Orang-orang pun meninggalkan Umar dan menghadap kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar memulai dengan membaca syahadat, kemudian berkata:
“Adapun setelah itu: Barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Kemudian ia membacakan firman Allah Ta‘ala:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللّٰهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللّٰهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan membahayakan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Surah Āli ‘Imrān: 144)
Ibnu Abbas berkata: "Demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sampai Abu Bakar membacakannya.
Maka orang-orang pun menerimanya darinya, dan tidaklah aku mendengar seseorang dari kalangan manusia melainkan mereka membacanya."
Umar berkata: "Demi Allah! Tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu kecuali aku langsung menyadari bahwa itulah kebenaran.
Maka kakiku seakan lumpuh, tak mampu lagi menahanku, hingga aku tersungkur ke tanah, dan aku pun yakin bahwa beliau (Rasulullah ﷺ) benar-benar telah wafat."
Pemilihan Abu Bakar sebagai Penggantinya ﷺ:
Masalah terpenting setelah wafatnya Rasulullah ﷺ adalah memilih seorang pemimpin (amir) yang menggantikan beliau ﷺ dalam mengatur urusan umat dan negara. Ali bin Abi Thalib – raḍiyallāhu ‘anhu – memandang bahwa dirinya lebih berhak atas kekhilafahan karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi ﷺ. Maka, ia bersama Zubair dan sejumlah tokoh dari Bani Hasyim berkumpul di rumah Fathimah – raḍiyallāhu ‘anhā.
Sementara itu, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah untuk memilih seorang pemimpin dari kalangan mereka. Para Muhajirin pun berkumpul bersama Abu Bakar dan Umar – raḍiyallāhu ‘anhumā.
Abu Bakar dan Umar – raḍiyallāhu ‘anhumā – bersama Abu Ubaidah bin Jarrah dan para Muhajirin pergi menuju Saqifah Bani Sa’idah. Di sana terjadi perdebatan dan dialog antara mereka dan kaum Anshar, di mana kaum Anshar menyebutkan keutamaan serta hak mereka dalam kepemimpinan.
Maka Abu Bakar berkata: "Apa yang kalian sebutkan tentang kebaikan, maka kalian memang layak untuk itu. Akan tetapi, bangsa Arab tidak mengenal kepemimpinan ini kecuali dari golongan Quraisy" – maksudnya, mereka tidak akan tunduk kepada kepemimpinan dari selain Quraisy – "karena mereka adalah kaum yang paling tengah (terbaik) dalam nasab dan tempat tinggal."
Kemudian Abu Bakar memegang tangan Umar dan tangan Abu Ubaidah, lalu berkata: "Aku telah ridha kepemimpinan ini untuk salah satu dari dua orang ini." Lalu seorang dari kaum Anshar berkata: "Dari kami seorang amir, dan dari kalian seorang amir." Maka perdebatan dan suara-suara pun semakin ramai, dan mereka khawatir akan terjadi perpecahan.
Lalu Umar berkata kepada Abu Bakar: "Ulurkan tanganmu!" Maka Abu Bakar mengulurkan tangannya, lalu Umar membaiatnya, diikuti oleh para Muhajirin dan Anshar.
Proses mempersiapkan dan mengantar jenazah mulia Rasulullah ﷺ ke liang lahat (tanah kubur) :
Pada hari Selasa, mereka memandikan Rasulullah ﷺ tanpa melepaskan pakaian beliau. Yang memandikan beliau adalah ‘Abbas, Ali, Fadh'l dan Qutsam — dua putra ‘Abbas — serta Syuqran (mantan budak Rasulullah ﷺ), Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khawli.
‘Abbas dan kedua putranya membalikkan tubuh beliau, Usamah dan Syuqran menuangkan air, Ali yang memandikannya, dan Aus yang menyandarkan beliau ke dadanya.
Mereka memandikannya sebanyak tiga kali dengan air yang dicampur daun bidara [سدر]. Air itu diambil dari sebuah sumur milik Sa‘ad bin Khaytsamah di Qubā’, yang disebut dengan Sumur Al-Ghars [الغرس], dan Rasulullah ﷺ dahulu biasa minum dari sumur itu.
Beliau ﷺ dikafani dengan tiga lembar kain putih dari jenis sahūliyyah [سحولية] yang terbuat dari kapas, tanpa memakai baju (kemeja) dan tanpa sorban. Jenazah beliau dibungkus dalam kain kafan itu secara langsung (tanpa dililit terpisah satu per satu).
Abu Thalhah menggali kubur beliau di tempat di mana beliau wafat, dan kuburnya dibuat dengan model lahdan [لحدًا] "lubang yang digali ke samping arah kiblat di dasar liang". Kemudian dipasang ranjang beliau di tepi liang kubur.
Orang-orang masuk bergiliran, sepuluh demi sepuluh, dan mereka menshalatkannya secara bergantian, tanpa ada seorang imam pun yang memimpin mereka. Yang pertama kali menshalatinya adalah keluarga dekat beliau, kemudian kaum Muhajirin, lalu kaum Anshar, setelah itu anak-anak, lalu perempuan – atau ada yang meriwayatkan: perempuan lebih dahulu, baru anak-anak.
Semua proses itu selesai pada hari Selasa dan sebagian besar malam Rabu. Kemudian mereka menurunkan beliau ﷺ ke dalam kubur dan memakamkannya di akhir malam tersebut ﷺ.
Kembali ke bagian 65 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar