Selasa, 01 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 44

 

 Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 43 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 45

 

 

Perang Khaybar

 

Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriyah, Rasulullah ﷺ berangkat menuju Khaybar. Orang-orang yang dulu tidak ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah datang meminta izin untuk ikut, namun Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada manusia bahwa tidak boleh ada yang keluar bersamanya kecuali yang benar-benar menginginkan jihad. Adapun bagian dari rampasan perang (ghanimah), mereka tidak akan mendapatkan apa pun darinya.

Maka yang keluar bersama beliau hanyalah para sahabat Bai‘at al-Riḍwān (ashḥāb al-shajarah), jumlah mereka 1.400 orang. Rasulullah ﷺ menunjuk Siba‘ bin ‘Arfathah al-Ghifārī sebagai gubernur sementara di Madinah selama beliau keluar.

 

Kemudian beliau menempuh jalan utama yang dikenal menuju Khaybar, hingga ketika telah berada di pertengahan perjalanan kurang lebih, beliau memilih jalan lain yang membawanya ke Khaybar dari arah Syam (utara), agar dapat menghalangi mereka dari melarikan diri ke wilayah Syam.

 

Pada malam terakhir, Rasulullah ﷺ bermalam dekat Khaybar, dan kaum Yahudi tidak menyadari kehadirannya. Ketika pagi tiba, beliau melaksanakan salat Subuh dalam keadaan masih gelap, lalu beliau dan kaum Muslimin menaiki kendaraan mereka dan menuju ke permukiman Khaybar.

Adapun orang-orang Yahudi, mereka keluar membawa cangkul dan keranjang mereka, hendak bekerja di ladang mereka tanpa mengetahui (kedatangan pasukan Muslimin). Ketika mereka melihat pasukan (Islam), mereka lari ketakutan sambil berkata: 'Muhammad! Demi Allah, itu Muhammad dan pasukannya!'

 فَإِذَا نزلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Allāhu Akbar! Khaybar telah hancur! Sungguh, apabila kami turun di halaman suatu kaum, maka buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan.' (Qur’an, QS. Ash-Shaffat: 177)

#. Lafadz [بغلس] : Artinya sangat pagi sebelum terang benar, yaitu waktu fajar yang masih gelap — menandakan kesiapsiagaan beliau dan pasukan.

#. Lafadz [الخميس] : Maksudnya pasukan besar yang terorganisir, sering digunakan dalam konteks militer Arab.

#. Lafadz [خربت خيبر] : Seruan Nabi ﷺ yang artinya "Khaybar telah hancur!", menunjukkan keyakinannya akan kemenangan.

 

Khaybar terletak sekitar 171 kilometer di sebelah utara Madinah, dan permukiman-permukimannya terbagi menjadi tiga bagian: al-Naṭāh [النطاة], al-Katībah [الكتيبة], dan al-Syaqq [الشق].

Al-Naṭāh terdiri dari tiga benteng: Benteng Nā‘im [ناعم], Benteng al-Ṣa‘ab bin Mu‘ādh [الصعب بن معاذ], dan Benteng Qal‘at al-Zubair [قلعة الزبير].

Al-Syaqq memiliki dua benteng: Benteng Abī [أبي] dan Benteng al-Nazzār [النزار].

Al-Katībah juga memiliki tiga benteng: Benteng al-Qamūṣ [القموص], Benteng al-Waṭīḥ [الوطيح], dan Benteng al-Salālim [السلالم].

 

Di Khaybar juga terdapat benteng-benteng dan menara pertahanan lain yang lebih kecil, namun tidak sekuat dan sekuat pertahanan benteng-benteng utama.

 

Penaklukan Al-Naṭāh:

#. Lafadz al-Naṭāh [النطاة] adalah salah satu dari tiga wilayah utama Khaybar yang memiliki benteng-benteng kuat milik kaum Yahudi. 


Rasulullah ﷺ mendirikan perkemahan di sebelah timur benteng-benteng al-Naṭāh, cukup jauh dari jangkauan panah. Lalu beliau memulai pertempuran dengan mengepung Benteng Nā‘im. Benteng itu sangat kokoh, tinggi, dan sulit dipanjat. Ia merupakan lini pertahanan pertama kaum Yahudi, dan di dalamnya ada jagoan mereka, 'Marḥab', yang dikenal setara dengan seribu prajurit.

Terjadilah saling serang (tembak-menembak dan lempar-melempar senjata) antara kedua belah pihak selama beberapa hari. Kemudian Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada pasukan akan datangnya kemenangan. Beliau bersabda:

'Besok aku akan memberikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya.'

Malam itu, seluruh kaum Muhajirin dan Anṣār berharap merekalah yang akan diberi panji itu.

Ketika pagi tiba, beliau bersabda: 'Di mana ‘Alī?' Mereka menjawab: 'Ia sedang sakit matanya.' Maka Rasulullah ﷺ mengutus orang untuk memanggilnya, dan ketika ‘Alī datang, beliau meludahi matanya dan mendoakannya, lalu sembuhlah ‘Alī seakan-akan tidak pernah sakit sebelumnya. Maka beliau pun memberikan panji itu kepadanya, dan memerintahkannya agar mengajak musuh masuk Islam sebelum memulai pertempuran.

 

Kaum Yahudi telah memindahkan para wanita dan anak-anak mereka ke Benteng al-Syaqq pada malam hari, dan mereka memutuskan untuk keluar menghadapi pertempuran pada pagi harinya.

Ketika ‘Alī رضي الله عنه mendatangi mereka, ia mendapati mereka telah siap untuk bertempur. Maka ia mengajak mereka kepada Islam, namun mereka menolak dan enggan menerimanya. Lalu Marḥab keluar menantang untuk duel sambil melangkah dengan pedangnya dan bersyair:

 

قد علمت خيبر أني مرحب ، شاكي السلاح بطل مجرب، إذا الحـروب أقبلت تلـهب 


'Khaybar sungguh telah tahu bahwa akulah Marḥab,

Seorang bersenjata lengkap, pejuang berpengalaman,

Saat perang menyala, akulah yang paling berani.'

 

#. Lafadz [رفضوا ودعا مرحب إلى المبارزة]: Penolakan terhadap dakwah Islam langsung diikuti oleh tantangan duel — menunjukkan bahwa pertempuran sudah tak terhindarkan.

#. Lafadz [مرحب]: Seorang petarung terkenal dari Yahudi Khaybar, yang disebut-sebut memiliki kekuatan setara seribu orang.

 

Maka muncullah ‘Āmir bin al-Akwa‘ menantangnya (Marḥab), sambil berkata:

'Khaybar sungguh telah tahu bahwa akulah ‘Āmir,

Seorang bersenjata lengkap, pemberani yang siap bertaruh nyawa.'

 

#. Lafadz [شاكي السلاح]: Secara harfiah "bersenjata lengkap", menunjukkan kesiapan penuh dalam peperangan.

#. Lafadz [بطل مغامر]: "Pahlawan petualang/pemberani" — menunjukkan sikap berani menghadapi bahaya meskipun risikonya tinggi.

 

Maka keduanya (yaitu 'Amir dan Marhab) saling menyerang dua kali. Pedang Marhab mengenai perisai 'Amir, lalu 'Amir hendak membalas dengan menebas kaki orang Yahudi itu (Marhab) menggunakan pedangnya. Namun pedangnya pendek, sehingga tidak sampai mengenainya. Bahkan pedang itu malah kembali mengenai 'Amir sendiri dan melukai lututnya, yang menyebabkan ia wafat kemudian karena luka itu. Maka Nabi ﷺ bersabda tentangnya: "Sesungguhnya ia mendapat dua pahala. Sungguh ia adalah seorang pejuang yang benar-benar berjihad. Sedikit sekali orang Arab yang berjalan di muka bumi ini seperti dia."

 

Adapun Marhab, maka ia maju ke medan tanding dan dihadapi oleh ‘Ali. Saat itu ‘Ali bersyair (berlagu sambil maju ke medan perang):

 أنا الذي سمتني أمي حيدره ، كليث غابات كريه المنظره ، أوفيهم بالصاع كيل السندره

Akulah orang yang ibuku menamainya Haidarah (singa),

Seperti singa liar di hutan yang menakutkan rupanya,

Aku balas mereka dengan takaran yang sepadan, seperti takaran as-sandarah.

 

#. Lafadz Haidarah [حيدرة] adalah salah satu nama panggilan Sayyidina ‘Ali yang berarti singa.

#. Lafadz [كريه المنظره] :  (menakutkan rupanya) menggambarkan kegagahan dan ketangguhan.

#. Lafadz "as-sandarah"[السندرة] : merujuk pada sebuah jenis timbangan atau takaran yang besar dan adil, kadang dipahami juga sebagai balasan setimpal.

 

Lalu (Ali) menebas kepala Marhab dan membunuhnya. Kemudian saudaranya, Yasir, keluar menantang untuk duel. Maka Zubair bin al-‘Awwam maju menemuinya dan membunuhnya seperti nasib saudaranya. 

Setelah itu terjadilah pertempuran sengit yang menewaskan sejumlah tokoh terkemuka Yahudi. Semangat mereka pun runtuh, sehingga mereka meninggalkan posisi-posisi mereka. 

Kaum muslimin pun mengejar mereka hingga berhasil memasuki benteng dengan kekuatan senjata. Kaum Yahudi pun mundur ke benteng berikutnya, yaitu benteng al-Sa'ab. Kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang dari benteng Na’im, berupa makanan, kurma, dan senjata.

 

Kemudian kaum muslimin mengepung benteng al-Sa'ab di bawah pimpinan al-Hubab bin al-Mundzir. Pengepungan berlangsung selama tiga hari. Pada hari ketiga, Rasulullah ﷺ berdoa memohon kemenangan dan harta rampasan. 

Setelah itu, beliau menyerukan kaum muslimin untuk menyerang. Maka mereka pun menyerang dengan hebat, terjadi duel dan pertempuran, dan berlangsunglah pertempuran sengit yang berakhir dengan kekalahan pihak Yahudi. 

Kaum muslimin berhasil merebut benteng sebelum matahari terbenam. Di dalamnya mereka menemukan banyak harta rampasan berupa makanan. Itu adalah benteng yang paling banyak menyimpan makanan dan lemak, serta paling bermanfaat bagi kaum muslimin. 

Sebelumnya, kaum muslimin berada dalam kondisi kelaparan yang parah, hingga sebagian orang menyembelih keledai untuk dimakan. Maka Rasulullah ﷺ melarang memakan daging keledai dan memerintahkan agar periuk-periuk yang sedang didirikan di atas api untuk memasak daging tersebut ditumpahkan dan dibalik.

 

Orang-orang Yahudi berlindung di benteng az-Zubair dan bertahan di dalamnya. Itu adalah benteng ketiga dan yang terakhir di wilayah Natha'. 

Sementara kaum muslimin mengepung mereka. Pada hari keempat, seorang Yahudi menunjukkan saluran air yang digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk mengambil air. Maka kaum muslimin memotong pasokan air tersebut dari mereka. Lalu orang-orang Yahudi keluar dan bertempur dengan sengit, namun akhirnya mereka mundur ke wilayah asy-Syaqq dan berlindung di benteng Abay.

 

Kembali ke bagian 43 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 45

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar