Minggu, 20 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 60

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 59 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 61

 

 

Delegasi (Utusan) dari kabilah Tujīb: 

Tujīb [تجيب] adalah cabang dari kabilah Kindah.

Mereka datang kepada Nabi ﷺ membawa zakat dari kaum mereka, yaitu dari kelebihan harta setelah kebutuhan orang-orang fakir mereka terpenuhi.

Rasulullah ﷺ sangat senang dengan kedatangan mereka, memuliakan tempat tinggal mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik.

Abu Bakar ra. berkata: “Tidak ada delegasi dari Arab yang datang kepada kami seperti delegasi ini.”

Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya petunjuk itu di tangan Allah. Maka barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima iman.” 

 

Mereka (delegasi Tujīb) biasa bertanya tentang Al-Qur’an dan sunnah untuk mempelajarinya.

Kemudian, ketika mereka hendak kembali, Rasulullah ﷺ memberi mereka hadiah (pemberian) yang paling baik dibanding hadiah yang biasa beliau berikan kepada delegasi-delegasi lainnya.

Beliau ﷺ lalu bertanya kepada mereka: “Apakah masih ada yang tertinggal dari kalian?”

Mereka menjawab: “Ada seorang pemuda yang kami tinggalkan di tempat peristirahatan kami. Ia adalah yang termuda di antara kami.”

Beliau bersabda: “Panggillah dia ke sini.”

Maka pemuda itu pun datang dan berkata: “Wahai Rasulullah! Aku termasuk dari rombongan yang datang kepadamu tadi. Engkau telah memenuhi kebutuhan mereka, maka penuhilah kebutuhanku juga.”

Beliau bertanya: “Apa kebutuhanmu?”

Ia menjawab: “Mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuniku, merahmatiku, dan menjadikan kekayaanku di dalam hatiku (rasa cukup).”

Maka Nabi ﷺ pun mendoakannya dengan permintaan itu, dan memberinya hadiah seperti yang diberikan kepada rekan-rekannya.

Ia pun menjadi orang yang paling merasa cukup, tetap teguh dalam Islam saat terjadinya kemurtadan, dan menasihati kaumnya hingga mereka pun tetap berpegang teguh pada Islam. 

 

Delegasi (Utusan) Bani Fazarah: 

Delegasi ini datang setelah Nabi ﷺ kembali dari Perang Tabuk, terdiri dari belasan orang, mereka mengakui keislaman mereka, dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.

Nabi ﷺ bertanya kepada mereka tentang negeri mereka, maka mereka mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah mereka, dan berkata: “Maka mohonlah kepada Tuhanmu agar menurunkan hujan bagi kami, dan berilah syafaat kepada Tuhanmu untuk kami, dan biarlah Tuhanmu memberi syafaat kepada engkau juga.”

Maka Nabi ﷺ bersabda: “Subḥānallāh! Celaka kamu, apa ini? Aku-lah yang memberi syafaat kepada Tuhanku, lalu siapa yang bisa memberi syafaat kepada Tuhanku?

Tiada ilah (tuhan) selain Dia, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan keduanya berderit karena keagungan dan keperkasaan-Nya, sebagaimana berderitnya pelana unta karena beban yang berat.”

Kemudian Nabi ﷺ naik ke atas mimbar dan berdoa kepada Allah, hingga Allah menurunkan hujan lebat dan rahmat yang menyeluruh bagi mereka. 

 

Delegasi (Utusan) Najran [نجــران]:

Najran adalah sebuah wilayah besar di perbatasan Yaman, panjang wilayahnya seukuran perjalanan sehari bagi pengendara cepat. Wilayah ini terdiri dari tujuh puluh tiga desa, dan memiliki seratus dua puluh ribu pasukan siap tempur, semuanya menganut agama Nasrani (Kristen). Maka Rasulullah ﷺ mengirim surat kepada uskup mereka untuk mengajak mereka masuk Islam.

Ketika uskup membaca surat itu, ia merasa cemas, lalu bermusyawarah dengan para pembesar khusus, kemudian dengan kalangan umum. Akhirnya mereka sepakat untuk mengirimkan utusan guna menyelesaikan persoalan tersebut. Maka mereka mengirim delegasi yang terdiri dari enam puluh orang, dan mereka pun datang menemui Nabi ﷺ. Mereka memakai pakaian mewah dari kain hibrah (kain bergaris-garis khas Yaman) yang menjuntai, mantel dari sutra, dan cincin dari emas.

Rasulullah ﷺ tidak berbicara kepada mereka. Maka sebagian sahabat senior menyarankan agar mereka mengganti pakaian mereka dan melepas cincin-cincin mereka. Mereka pun melakukannya. Setelah itu Rasulullah ﷺ berbicara kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam, namun mereka menolak seraya berkata: "Kami telah memeluk Islam sebelum engkau."

Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: "Yang menghalangi kalian dari Islam ada tiga hal: penyembahan kalian terhadap salib, memakan daging babi, dan pengakuan kalian bahwa Allah mempunyai anak." 

 

Mereka (delegasi Najran) berkata: "Lalu siapa yang sebanding dengan Isa? Ia diciptakan tanpa ayah."

Maka Allah menurunkan ayat mengenai hal itu:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ، الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ، فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ 

"Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: 'Jadilah!' maka jadilah ia. Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Siapa yang membantahmu tentang Isa setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah: 'Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian, lalu kita bermohon (kepada Allah) agar laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta.'" (QS. Ali ‘Imran: 59–61) 

 

Maka Rasulullah ﷺ membacakan ayat-ayat itu kepada mereka dan mengajak mereka untuk melakukan mubahalah (saling berdoa agar laknat Allah menimpa pihak yang berdusta). Mereka pun meminta waktu untuk berpikir, lalu bermusyawarah di antara mereka sendiri. Mereka berkata:

"Jika dia benar-benar seorang nabi, lalu kita melakukan mubahalah dengannya, maka tidak akan tersisa satu helai rambut pun atau satu kuku pun dari kita melainkan pasti binasa."

Akhirnya, mereka sepakat untuk membayar jizyah (pajak perlindungan). Mereka menyanggupi untuk memberikan seribu setel pakaian (jubah) pada bulan Shafar, dan seribu setel lagi pada bulan Rajab, bersama dengan setiap setel pakaian disertai satu uqiyah (ukuran berat, ± 40 gram). Rasulullah ﷺ pun memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi mereka, serta kebebasan dalam menjalankan agama mereka.

Kemudian mereka berkata: "Utuslah bersama kami seorang laki-laki yang terpercaya."

Maka Rasulullah ﷺ mengutus Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin Jurrah bersama mereka, dan beliau pun dijuluki [أمين هذه الأمة] (orang terpercaya umat ini). 

 

Dalam perjalanan mereka kembali ke Najran, dua orang dari mereka memeluk Islam, lalu Islam mulai menyebar di kalangan mereka hingga akhirnya banyak di antara mereka yang masuk Islam.

 

 

Delegasi (Utusan) dari Thaif : 

Sebelumnya, Nabi ﷺ pernah mengepung penduduk Thaif setelah Perang Hunain, lalu beliau meninggalkan mereka di tempat mereka dan kembali ke Madinah. Ketika beliau dalam perjalanan pulang, ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi menyusul beliau dan berhasil menemui beliau sebelum sampai di Madinah. Ia pun masuk Islam.

Setelah itu, ia kembali ke kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam — dan dia adalah orang yang paling mereka cintai, lebih mereka cintai daripada gadis-gadis mereka sendiri, sehingga ia mengira mereka akan menaatinya. Namun ternyata mereka memanahnya dari segala arah hingga ia terbunuh.

Kemudian mereka bermusyawarah dan menyadari bahwa mereka tidak sanggup berperang melawan bangsa Arab di sekitar mereka. Maka mereka mengutus ‘Abdu Yalil bin ‘Amr bersama lima orang lainnya dari kalangan bangsawan mereka. Hal ini terjadi pada bulan Ramadan tahun 9 Hijriah.

Ketika mereka tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar didirikan tenda (kemah) untuk mereka di salah satu sudut masjid, agar mereka bisa mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan melihat umat Islam ketika shalat. 

 

Mereka (delegasi Thaif) terus-menerus datang menemui Rasulullah ﷺ, sementara beliau terus mengajak mereka masuk Islam, namun mereka belum juga bersedia memeluk Islam. Hingga akhirnya mereka mengajukan permintaan agar diizinkan berzina, meminum khamar, memakan riba, agar tidak dihancurkan berhala mereka (al-Lātta), agar dibebaskan dari kewajiban shalat, dan agar tidak dipaksa menghancurkan berhala-berhala mereka dengan tangan mereka sendiri.

Namun Rasulullah ﷺ menolak semua permintaan itu.
Akhirnya, mereka pun tunduk dan menerima ajaran Islam. Mereka masuk Islam dengan syarat bahwa penghancuran al-Lātta dilakukan oleh Rasulullah ﷺ sendiri, dan bahwa suku Tsaqif tidak akan menghancurkannya dengan tangan mereka sendiri. Maka Rasulullah ﷺ menerima syarat tersebut. 

 

‘Utsman bin Abi ‘Ash ats-Tsaqafi adalah yang termuda di antara mereka. Ketika rombongan mereka berada di perkemahan, mereka sering menyuruhnya pergi untuk suatu keperluan. Maka setiap kali mereka kembali, ia pergi menemui Nabi ﷺ untuk belajar dan membaca Al-Qur’an. Jika ia mendapati Nabi ﷺ sedang tidur, ia belajar kepada Abu Bakar.

Dengan cara itu, ia berhasil menghafal banyak dari Al-Qur’an, dan ia merahasiakan hal itu dari rekan-rekannya.

Setelah mereka semua masuk Islam, Rasulullah ﷺ mengangkatnya sebagai pemimpin (amir) mereka, karena semangatnya dalam mempelajari Islam, membaca Al-Qur’an, dan mendalami agama. 

 

Delegasi itu pun kembali kepada kaumnya dan menyampaikan kepada mereka tentang keimanan mereka, serta memperingatkan mereka akan bahaya perang dan pertempuran. 

Mereka berkata: "Kami datang kepada seorang lelaki yang keras dan tegas, yang telah tampil dengan pedang, dan manusia telah tunduk kepadanya. Ia menawarkan kepada kami perkara-perkara yang berat," 

lalu mereka menyebutkan hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, seperti larangan berzina, meminum khamar, memakan riba, dan lainnya — "Jika tidak, maka ia akan memerangi kita."

Semangat keberanian pun membuncah dalam diri mereka (kaum Tsaqif), dan mereka bersiap untuk berperang selama dua atau tiga hari. Namun kemudian Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Maka mereka berkata kepada delegasi: "Kembalilah kalian dan berikan apa yang dia minta."

Delegasi pun menjawab: "Kami sudah berdamai dengannya dan telah masuk Islam."

Akhirnya, suku Tsaqif pun masuk Islam. 

 

Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid dan Mughirah bin Syu‘bah ats-Tsaqafi bersama sekelompok orang menuju Thaif untuk menghancurkan berhala al-Lātta. Maka mereka pun menghancurkannya dan merobohkan bangunannya. 

 

Kembali ke bagian 59 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 61

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar