Rabu, 11 Juni 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 32

 

 Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 31 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 33

 

Dialog dan Keputusan:

Ketika kaum musyrikin bersiap-siap untuk benar-benar kembali, Abu Sufyan naik ke atas gunung dan berseru: "Apakah Muhammad ada di antara kalian?" Tapi mereka tidak menjawab.

Kemudian dia berkata: "Apakah Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar) ada di antara kalian?" Tapi mereka tetap tidak menjawab.

Lalu dia bertanya: "Apakah Umar bin Khattab ada di antara kalian?" 

Dan mereka tetap tidak menjawab.

Sebenarnya Nabi ﷺ yang melarang mereka untuk menjawab.

Lalu Abu Sufyan berkata: "Kalau begitu, mereka telah terbunuh."

Namun Umar tidak bisa menahan diri dan berkata: "Wahai musuh Allah! Orang-orang yang engkau sebutkan itu masih hidup, dan Allah telah menyisakan sesuatu yang menyakitimu."

Abu Sufyan lalu berkata: "Telah terjadi tindakan mutilasi pada pihak kalian, tapi aku tidak memerintahkannya dan aku pun tidak merasa senang karenanya."

Kemudian ia berseru: "Tinggikanlah Hubal (berhala)!"

Lalu Nabi ﷺ mengajarkan kepada mereka jawaban yang benar, maka mereka pun menjawab: "Allah Maha tinggi dan Maha mulia!"

Kemudian Abu Sufyan berkata: "Kami memiliki ‘Uzza (berhala), sedangkan kalian tidak memiliki ‘Uzza."

Lalu Nabi ﷺ mengajarkan kepada mereka jawaban, maka mereka pun menjawab: "Allah adalah pelindung kami, dan kalian tidak memiliki pelindung."

Kemudian Abu Sufyan berkata: "Hari ini adalah balasan untuk hari (perang) Badar. Perang itu silih berganti (kadang menang, kadang kalah).”

Lalu Umar رضي الله عنه berkata: "Tidaklah sama! Orang-orang yang terbunuh dari pihak kami masuk surga, sedangkan orang-orang yang terbunuh dari pihak kalian masuk neraka."

Abu Sufyan berkata: "Kalian benar-benar mengklaim demikian (bahwa yang terbunuh dari kalian masuk surga dan dari kami masuk neraka). Jika benar begitu, maka sungguh kita telah merugi dan celaka."

Lalu Abu Sufyan memanggil Umar dan berkata: "Aku bersumpah kepadamu demi Allah, wahai Umar! Apakah Muhammad telah terbunuh?"

Umar رضي الله عنه menjawab: "Tidak, bahkan dia sedang mendengarkan perkataanmu sekarang."

Abu Sufyan berkata:"Engkau lebih jujur dan lebih dapat dipercaya menurutku daripada Ibnu Qumiah."

Kemudian Abu Sufyan berseru: "Tempat pertemuan kita adalah di Badar, tahun depan!"

Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk menjawab: "Ya, itu adalah janji antara kami dan kamu."

 

Kembalinya Kaum Musyrikin dan Upaya Kaum Muslimin dalam Memeriksa yang Terluka serta Menguburkan Para Syuhada:

Kemudian Abu Sufyan kembali kepada pasukannya, dan pasukan pun mulai bergerak untuk pergi. Mereka menunggangi unta dan menempatkan pasukan berkuda di sisi, yang merupakan tanda bahwa tujuan mereka adalah kembali ke Makkah. Ini adalah karunia dari Allah kepada kaum Muslimin, karena sebenarnya tidak ada penghalang antara kaum musyrikin dan Kota Madinah untuk masuk dan menyerangnya, namun Allah telah memalingkan mereka, Dia-lah yang membalikkan hati manusia.

Lalu kaum Muslimin turun ke medan pertempuran untuk memeriksa para korban luka dan yang terbunuh. Sebagian dari mereka membawa jenazah para syuhada ke Madinah, namun Rasulullah ﷺ memerintahkan agar mereka dikembalikan ke tempat mereka gugur dan dimakamkan di sana dengan pakaian mereka, tanpa dimandikan dan tanpa dishalatkan. Beliau memakamkan dua atau tiga orang dalam satu kubur, dan terkadang menyatukan dua orang dalam satu kain kafan, meletakkan tanaman idzkhir (sejenis rerumputan) di antara keduanya. Beliau mendahulukan orang yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya untuk diletakkan lebih dekat ke arah kiblat di liang lahad, dan beliau bersabda:"Aku akan menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat."

Mereka menemukan jenazah Hanzhalah bin Abi 'Amir di suatu tempat di atas tanah, dan dari tubuhnya meneteskan air. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya para malaikat yang memandikannya."

Kisahnya adalah bahwa ia baru saja menikah, dan sedang bersama istrinya ketika ia mendengar seruan untuk berjihad. Ia pun meninggalkan istrinya dan langsung pergi ke medan perang, lalu berperang hingga gugur dalam keadaan junub. Maka para malaikatlah yang memandikannya, dan karena itulah ia disebut [غسيل الملائكة] "Ghasil al-Malāʾikah" (yang dimandikan oleh malaikat).

Dan Hamzah dikafani dengan sehelai kain; jika ditutupkan ke kepalanya, kakinya terlihat, dan jika ditutupkan ke kakinya, kepalanya terlihat. Maka mereka menutup kakinya dengan [الإذخر] idzkhir (sejenis rumput harum), demikian pula yang dilakukan terhadap jenazah Mus'ab bin 'Umair.

 

Ke Kota Madinah dan Di Madinah:

Ketika Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin telah selesai menguburkan para syuhada dan mendoakan mereka, mereka kembali ke Madinah. Beberapa wanita yang anggota keluarganya gugur keluar menyambut mereka, dan mereka bertemu Rasulullah ﷺ di jalan. Beliau menghibur mereka dan mendoakan mereka.

Seorang wanita dari Bani Dinar yang suaminya, saudaranya, dan ayahnya gugur juga datang. Ketika orang-orang memberitahukan musibah yang menimpanya, ia bertanya tentang keadaan Rasulullah ﷺ. Mereka menjawab, “Beliau, alhamdulillah, dalam keadaan seperti yang engkau harapkan.”

Wanita itu berkata, “Perlihatkan dia kepadaku.”

Maka mereka menunjukkannya kepadanya. Ketika ia melihat Nabi ﷺ, ia berkata : "Setiap musibah setelah engkau adalah ringan (kecil)."

Dan kaum Muslimin bermalam dalam keadaan darurat, berjaga-jaga menjaga kota Madinah dan menjaga Rasulullah ﷺ, sementara mereka dalam keadaan sangat letih karena luka-luka, kelelahan, kesedihan, dan penderitaan.

Dan Rasulullah ﷺ melihat bahwa perlu untuk terus memantau pergerakan musuh, agar dapat menghadapi mereka di medan perang jika mereka mencoba kembali menyerang Madinah.

 

Perang Hamrā’ al-Asad:

Maka ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ menyerukan kepada kaum Muslimin untuk keluar menghadapi musuh, dan beliau menetapkan bahwa yang boleh keluar hanyalah mereka yang telah ikut bertempur di Perang Uhud.

Mereka menjawab : “Kami mendengar dan taat.”

Lalu mereka berangkat hingga sampai di Hamrā’ al-Asad, yang berjarak sekitar delapan mil dari Madinah, dan mereka berkemah di sana.

Adapun kaum musyrikin, mereka sedang berada di ar-Rawḥā’ [الروحاء], yang berjarak tiga puluh enam mil dari Madinah. Mereka sedang memikirkan dan bermusyawarah tentang kemungkinan untuk kembali menyerang Madinah, sambil menyesali kesempatan emas yang telah terlewat dari tangan mereka.

Dan Ma‘bad bin Abī Ma‘bad al-Khuzā‘ī, yang termasuk orang-orang yang setia dan memberi nasihat kepada Rasulullah ﷺ, datang menemuinya di Hamrā’ al-Asad dan menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa beliau dalam Perang Uhud.

Maka Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk mengejar Abu Sufyan dan melemahkan semangatnya.

Ma‘bad pun menyusul mereka hingga sampai di ar-Rawḥā’, saat mereka sedang bersiap-siap untuk kembali menyerang Madinah.

Ia menakut-nakuti mereka dengan ancaman yang sangat keras, seraya berkata:

“Sesungguhnya Muhammad telah keluar bersama pasukan yang belum pernah aku lihat serupa dengannya, mereka sangat bersemangat menyerang kalian, dan di dada mereka ada rasa marah terhadap kalian yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku tidak mengira kalian sempat berangkat sebelum pasukan itu muncul dari balik bukit ini.”

Adapun kaum Muslimin, peringatan itu tidak mempengaruhi mereka sedikit pun, bahkan:

“... justru hal itu menambah keimanan mereka dan mereka berkata: Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS Ali 'Imran: 173)

Dan mereka tetap tinggal di Hamrā’ al-Asad hingga hari Rabu, kemudian mereka kembali ke Madinah dalam keadaan:

“... maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak sedikit pun mendapat keburukan, dan mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah adalah pemilik karunia yang agung.” (QS Ali 'Imran: 174)

 

Kembali ke bagian 31 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 33

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar