TARIKH KHULAFA
Kembali 18 | IndeX | Lanjut 20
قتال أهل الرده
Memerangi Orang-Orang Murtad
Imam Adz-Dzahabi berkata:
“Ketika berita wafatnya Nabi ﷺ telah tersebar ke berbagai wilayah, banyak kelompok dari bangsa Arab yang murtad dari Islam, dan mereka menolak untuk membayar zakat. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq pun bangkit untuk memerangi mereka. Namun Umar dan sebagian sahabat lainnya menyarankan agar ia menahan diri dari memerangi mereka. Tetapi Abu Bakar berkata:
‘Demi Allah, seandainya mereka menolak memberikan tali unta (‘iqāl*) atau seekor anak kambing betina (‘anāq) yang dulunya biasa mereka serahkan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan tetap memerangi mereka karena penolakan itu!’”*
Lalu Umar berkata:
“Bagaimana engkau akan memerangi orang-orang itu, padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan: Lā ilāha illallāh dan Muhammadur Rasūlullāh. Maka barang siapa yang telah mengucapkannya, maka harta dan darahnya terlindungi dariku, kecuali dengan hak Islam, dan urusannya diserahkan kepada Allah.’
Maka Abu Bakar berkata:
“Demi Allah, sungguh aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan antara salat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah hak dari harta, dan Nabi ﷺ telah bersabda: ‘kecuali dengan haknya.’”
Umar pun berkata: “Demi Allah, tidak ada keraguan lagi setelah aku melihat bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang, maka aku pun yakin bahwa itu adalah kebenaran.”
(Riwayat ini diriwayatkan oleh... [nama perawi tidak disebut dalam kutipan])
Diriwayatkan dari ‘Urwah: “Abu Bakar keluar bersama kaum Muhajirin dan Anshar hingga mereka tiba di Naq‘an, suatu tempat yang sejajar dengan wilayah Najd. Maka orang-orang Arab (yang memberontak) lari bersama anak-anak mereka.
Lalu orang-orang berkata kepada Abu Bakar: ‘Kembalilah ke Madinah, kepada kaum wanita dan anak-anak. Angkat saja seorang pemimpin atas pasukan ini.’
Mereka terus mendesaknya hingga ia pun kembali ke Madinah, dan mengangkat Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin pasukan.
Ia (Abu Bakar) berkata kepada Khalid:
‘Jika mereka masuk Islam dan membayar zakat, maka siapa pun di antara kalian yang ingin kembali (ke Madinah), silakan.’
Maka Abu Bakar pun kembali ke Madinah.”
Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dari Ibnu Umar, ia berkata:
“Ketika Abu Bakar telah keluar dan menaiki tunggangannya, Ali bin Abi Thalib memegang kendalinya dan berkata:
‘Ke mana engkau hendak pergi, wahai Khalifah Rasulullah?
Aku akan mengatakan kepadamu seperti yang pernah dikatakan Rasulullah ﷺ kepadamu pada hari Uhud:
"Sarungkan pedangmu, dan jangan buat kami berduka karena kehilanganmu.”
Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika engkau wafat, maka Islam tidak akan memiliki sistem yang kokoh selamanya.’
Dari Hanzhalah bin ‘Ali al-Laytsi: Sesungguhnya Abu Bakar telah mengutus Khalid bin al-Walid, dan memerintahkannya untuk memerangi manusia karena lima perkara.
Barang siapa meninggalkan salah satu dari kelima hal tersebut, maka ia akan diperangi sebagaimana orang yang meninggalkan seluruhnya:
yaitu (1) bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah, dan (2) bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (3) mendirikan salat, (4) menunaikan zakat, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”
Kemudian Khalid bin al-Walid dan pasukannya berangkat pada bulan Jumadil Akhir, lalu ia memerangi Bani Asad dan Ghatafan, membunuh sebagian dari mereka, menawan sebagian lainnya, dan sisanya kembali masuk Islam.
Dalam pertempuran itu, dua sahabat gugur sebagai syuhada: ‘Ukkasyah bin Mihshan
Tsabit bin Aqram
Pada bulan Ramadhan tahun yang sama, wafatlah Fathimah, putri Rasulullah ﷺ, pemimpin wanita seluruh dunia, dalam usia dua puluh empat tahun.
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Tidak ada keturunan (nasab) Rasulullah ﷺ yang berlanjut kecuali melalui Fathimah, karena anak-anak dari putrinya yang lain, yaitu Zainab, tidak memiliki keturunan yang berlanjut.” (Dinyatakan oleh Az-Zubayr bin Bakkār)
Satu bulan sebelum wafatnya Fathimah, meninggal pula Ummu Ayman.
Dan pada bulan Syawwal, wafat Abdullah bin Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
قتال مسيلمة وموته وذكر بعض من مات في اليمامة
Perang Melawan Musailamah dan Wafatnya Serta Sebagian Nama Syuhada dalam Perang Yamamah
Kemudian Khalid bin al-Walid bersama pasukannya bergerak menuju Yamamah untuk memerangi Musailamah al-Kazzāb (si pendusta), pada akhir tahun itu.
Kedua pasukan pun bertemu, dan pengepungan berlangsung selama beberapa hari. Lalu Musailamah si pendusta – semoga laknat Allah menimpanya – terbunuh. Yang membunuhnya adalah Wahsyi, pembunuh Hamzah (paman Nabi ﷺ) di masa lalu.
Dalam pertempuran itu gugur banyak sahabat sebagai syuhada, di antaranya:
Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, Sālim, maula (mantan budak yang dimerdekakan) Abu Hudzaifah, Syujā‘ bin Wahb, Zayd bin al-Khattāb (saudara Umar bin al-Khattab), ‘Abdullah bin Sahl, Mālik bin ‘Amr, At-Tufayl bin ‘Amr ad-Dawsī, Yazīd bin Qays, ‘Āmir bin al-Bukayr, ‘Abdullah bin Mukhramah, As-Sā’ib bin ‘Uthmān bin Maz‘ūn, ‘Abbād bin Bisyr, Ma‘n bin ‘Adī, Tsābit bin Qays bin Syammās, Abū Dujānah (Samāk bin Khurasyah)
Dan sejumlah sahabat lainnya, hingga jumlah syuhada mencapai 70 orang.
Adapun usia Musailamah saat terbunuh adalah 150 tahun, dan ia dilahirkan sebelum kelahiran Abdullah, ayah Nabi Muhammad ﷺ.
Peristiwa yang Terjadi pada Tahun ke-12 Hijriyah:
Abu Bakar Ash-Shiddiq mengutus Al-‘Alā’ bin Al-Hadhramī ke wilayah Bahrain, karena penduduknya telah murtad. Mereka bertemu di daerah Jawātsā, dan kaum Muslimin meraih kemenangan.
Ia juga mengutus ‘Ikrimah bin Abī Jahl ke wilayah ‘Umān, karena penduduknya juga murtad.
Dan mengutus Al-Muhājir bin Abī Umayyah kepada penduduk Najīr, karena mereka pun telah murtad.
Serta mengutus Ziyād bin Labīd Al-Anshārī untuk memerangi sekelompok orang murtad lainnya.
Wafatnya Tokoh-tokoh Mulia di Tahun yang Sama:
Abu Al-‘Āṣ bin Ar-Rabī‘, suami dari Zaynab binti Rasulullah ﷺ, Ash-Sha‘b bin Juthāmah Al-Laythī, Abū Marthad Al-Ghanawī.
Penaklukan di Irak:
Setelah selesai dari perang melawan kaum murtad, Abu Bakar mengutus Khalid bin Al-Walīd ke wilayah Basrah.
Ia pun menyerang Al-Ubullah (sebuah kota pelabuhan penting), dan berhasil membebaskannya.
Khalid juga berhasil membuka kota-kota utama kekuasaan Kisra (raja Persia) di wilayah Irak, baik dengan perdamaian maupun peperangan.
Abu Bakar sendiri memimpin pelaksanaan ibadah haji, lalu kembali ke Madinah.
Setelah itu, ia mengirim ‘Amr bin Al-‘Āṣ dan pasukan ke wilayah Syam (Levant).
Maka terjadilah Perang Ajnādayn [أجنادين], pada bulan Jumādil-Ūlā tahun 13 H, dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin.
Kabar kemenangan itu sampai kepada Abu Bakar saat ia dalam keadaan sekarat.
Dalam pertempuran itu gugur sebagai syahid:
‘Ikrimah bin Abī Jahl, Hisyām bin Al-‘Āṣ bersama sekelompok sahabat lainnya.
Terjadi juga pertempuran Marj As-Sufar [مرج الصفر], di mana kaum musyrikin dikalahkan, dan
Al-Faḍl bin ‘Abbās gugur sebagai syahid bersama sekelompok sahabat lainnya.
Kembali 18 | IndeX | Lanjut 20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar