Sabtu, 07 Juni 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 14

  TARIKH KHULAFA


Kembali 13IndeX | Lanjut 15

 

 

[رضيه لديننا أفلا نرضاه لدنيانا]

Ridha padanya untuk urusan agama kami, mengapa kami tidak ridha padanya untuk urusan dunia kami?"


وأخرج الشيخان عن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - قال: مرض النبي صلى الله عليه وسلم فاشتد مرضه، فقال: «مروا أبا بكر فليصل بالناس» قالت عائشة : يا رسول الله، إنه رجل رقيق، إذا قام مقامك... لم يستطع أن يصلي بالناس، قال: «مري أبا بكر فليصل بالناس»، فعادت فقال: «مري أبا بكر فليصل بالناس، فإنكن صواحب يوسف»، فأتاه الرسول، فصلى بالناس في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم، هذا الحديث متواتر.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Nabi ﷺ sakit, dan sakitnya semakin berat. Maka beliau bersabda:

"Perintahkan Abu Bakar agar menjadi imam shalat untuk manusia."

Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang berhati lembut. Jika dia berdiri di tempatmu, dia tidak akan mampu (menahan tangis) untuk shalat bersama manusia."

Namun Nabi ﷺ tetap bersabda: "Perintahkan Abu Bakar agar shalat bersama manusia."

Aisyah kembali mengulangi (permintaannya), lalu Nabi ﷺ bersabda: "Perintahkan Abu Bakar agar shalat bersama manusia, karena sesungguhnya kalian (para wanita) adalah seperti wanita-wanita Yusuf."

Lalu utusan itu pun mendatangi Abu Bakar, dan dia pun shalat mengimami manusia di masa hidup Rasulullah ﷺ.

Hadis ini diriwayatkan secara mutawatir (dengan banyak jalur periwayatan yang mustahil dianggap dusta).

ورد أيضا من حديث عائشة، وابن مسعود، وابن عباس، وابن عمر، وعبد الله بن زمعة، وأبي سعيد، وعلي بن أبي طالب، وحفصة - رضي الله عنهم -، وقد سقت طرقهم في «الأحاديث المتواترة».

Juga diriwayatkan melalui jalur Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abdullah bin Zam’ah, Abu Sa’id, Ali bin Abi Thalib, dan Hafshah radhiyallahu ‘anhum.

Aku (penulis kitab) telah menyebutkan semua jalur periwayatannya dalam kitab al-Ahadits al-Mutawatirah.

وفي بعضها عن عائشة - رضي الله عنها -: ( لقد راجعت رسول الله صلى الله عليه وسلم في ذلك، وما حملني على كثرة مراجعته... إلا أنه لم يقع في قلبي أن يحب الناس بعده رجلا قام مقامه أبدا، وإلا أني كنت أرى أنه لن يقوم أحد مقامه.. إلا تشاءم الناس به، فأردت أن يعدل ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أبي بكر ).

Dan dalam sebagian riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"Sungguh, aku telah berulang kali membicarakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Dan yang mendorongku untuk terus membicarakannya… tidak lain karena aku tidak merasa tenang dalam hatiku bahwa manusia setelah beliau akan mencintai seorang laki-laki yang berdiri menggantikan posisinya selamanya. Aku juga khawatir, tidak ada seorang pun yang berdiri di tempatnya kecuali orang-orang akan merasa tidak senang (beranggapan buruk, bersikap pesimis) terhadapnya. Maka aku ingin agar Rasulullah ﷺ mengalihkan hal itu dari Abu Bakar."

وفي حديث ابن زمعة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرهم بالصلاة وكان أبو بكر غائبا فتقدم عمر فصلى، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا، لا، لا، يأبى الله والمسلمون إلا أبا بكر ، يصلي بالناس أبو بكر ».

Dan dalam hadis Ibnu Zam’ah radhiyallahu ‘anhu:

Bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk shalat, sementara Abu Bakar tidak hadir, lalu Umar pun maju mengimami shalat. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak, tidak, tidak! Allah dan kaum muslimin tidak akan ridha kecuali (imamnya adalah) Abu Bakar. Biarlah Abu Bakar yang shalat bersama manusia.”

وفي حديث ابن عمر : كبر عمر، فسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم تكبيره، فأطلع رأسه مغضبا فقال: «أين ابن أبي قحافة؟ !».

Dan dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

Umar bertakbir, lalu Rasulullah ﷺ mendengar suara takbirnya. Maka beliau menyingkap kepalanya dalam keadaan marah dan bersabda:
“Di mana Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)?!”

قال العلماء: في هذا الحديث أوضح دلالة على أن الصديق أفضل الصحابة على الإطلاق، وأحقهم بالخلافة، وأولاهم بالإمامة.

Para ulama berkata:

Dalam hadis ini terdapat dalil yang paling jelas bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling utama secara mutlak, orang yang paling berhak atas kekhalifahan, dan yang paling utama menjadi imam.

قال الأشعري : (قد علم بالضرورة: أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أمر الصديق أن يصلي بالناس مع حضور المهاجرين والأنصار، مع قوله: يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله» ، فدل على أنه كان أقرأهم: أي أعلمهم بالقرآن).انتهى.

Al-Asy’ari berkata:

"Telah diketahui secara pasti bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan Ash-Shiddiq untuk mengimami shalat bersama manusia, sementara saat itu para Muhajirin dan Anshar hadir, padahal Nabi ﷺ bersabda: ‘Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling pandai membaca Kitabullah di antara mereka.’ Maka hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling pandai membaca (dan paling memahami) Al-Qur'an di antara mereka.” — selesai.

وقد استدل الصحابة أنفسهم بهذا على أنه أحق بالخلافة، منهم: عمر، وسيأتي قوله في (فصل المبايعة).

Para sahabat sendiri menjadikan hal ini sebagai dalil bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak atas kekhalifahan, di antaranya adalah Umar radhiyallahu ‘anhu — dan akan disebutkan perkataannya nanti dalam Bab Bai’at (Sumpah Setia).

ومنهم: علي، وأخرج ابن عساكر عنه قال: لقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر أن يصلي بالناس وإني لشاهد، وما أنا بغائب وما بي مرض، فرضينا لدنيانا ما رضي به النبي صلى الله عليه وسلم لديننا ).

Di antara mereka adalah Ali radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir darinya, bahwa ia berkata:

"Sungguh, Nabi ﷺ telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami shalat bersama manusia, dan aku saat itu hadir, bukan dalam keadaan tidak ada, dan aku juga tidak sedang sakit. Maka kami pun meridhai untuk urusan dunia kami, orang yang telah diridhai oleh Nabi ﷺ untuk urusan agama kami."

قال العلماء: وقد كان معروفا بأهلية الإمامة في زمان النبي صلى الله عليه وسلم.

Para ulama berkata: Dan memang telah dikenal bahwa Abu Bakar layak untuk menjadi imam di masa hidup Nabi ﷺ.

وأخرج أحمد وأبو داود وغيرهما عن سهل بن سعد قال: كان قتال بين بني عمرو بن عوف، فبلغ النبي صلى الله عليه وسلم فأتاهم بعد الظهر، ليصلح بينهم وقال: «يا بلال، إن حضرت الصلاة ولم آت.. فمر أبا بكر فليصل بالناس» فلما حضرت صلاة العصر.. أقام بلال الصلاة، ثم أمر أبا بكر فصلى .

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya dari Sahal bin Sa’d:

Pernah terjadi perselisihan di kalangan Bani ‘Amr bin ‘Auf, lalu berita itu sampai kepada Nabi ﷺ. Maka beliau datang kepada mereka setelah waktu Zuhur untuk mendamaikan mereka. Dan beliau bersabda:

“Wahai Bilal, bila waktu shalat tiba sementara aku belum datang, perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat bersama manusia.”

Lalu ketika tiba waktu shalat Ashar, Bilal pun mengumandangkan iqamah, kemudian memerintahkan Abu Bakar untuk maju mengimami shalat.

وأخرج أبو بكر الشافعي في « الغيلانيات»، وابن عساكر عن حفصة رضي الله عنها: أنها قالت لرسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا أنت مرضت... قدمت أبا بكر ؟ قال: «لست أنا أقدمه، ولكن الله يقدمه».

Diriwayatkan pula oleh Abu Bakar asy-Syafi’i dalam kitab al-Ghailaniyyat dan oleh Ibnu ‘Asakir dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ:

"Jika engkau sakit, apakah engkau akan mengedepankan Abu Bakar (sebagai imam)?"

Maka beliau ﷺ bersabda:

“Bukan aku yang mengedepankannya, tetapi Allah-lah yang mengedepankannya.”

وأخرج الدارقطني في «الأفراد»، والخطيب، وابن عساكر عن علي رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سألت الله أن يقدمك ثلاثا، فأبى علي إلا تقديم أبي بكر ».

Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dalam kitab al-Afraad, al-Khatib, dan Ibnu ‘Asakir dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:

“Aku telah meminta kepada Allah agar menjadikanmu sebagai pemimpin (imam) sebanyak tiga kali, namun Allah tidak mengizinkan kecuali untuk mendahulukan Abu Bakar.”

وأخرج ابن سعد عن الحسن قال: قال أبو بكر : يا رسول الله، ما أزال أراني أطأ في عذرات الناس؟ قال: «لتكونن من الناس بسبيل» قال: ورأيت في صدري كالرقمتين؟ قال: «سنتين».

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari al-Hasan:

Bahwa Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, aku terus saja merasa seakan-akan menginjak kotoran manusia."

Maka beliau ﷺ bersabda: “Kamu akan bersama manusia dalam satu jalan (yakni akan memimpin mereka).”

Abu Bakar berkata: “Aku merasa di dadaku seperti dua garis kecil (isyarat sesuatu).”

Beliau ﷺ bersabda: “Selama dua tahun.”

وأخرج ابن عساكر عن أبي بكرة قال: ( أتيت عمر وبين يديه قوم يأكلون، فرمى ببصره في مؤخر القوم إلى رجل، فقال: ما تجد فيما تقرأ قبلك من الكتب؟ قال: خليفة النبي صلى الله عليه وسلم صديقه .

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Bakrah:

"Aku pernah datang menemui Umar, sementara di depannya ada sekelompok orang yang sedang makan. Maka Umar melemparkan pandangannya ke bagian belakang majelis kepada seorang laki-laki, lalu bertanya kepadanya:

‘Apa yang kamu dapati dalam kitab-kitab yang ada sebelum kamu?’

Dia menjawab: ‘Khalifah Nabi ﷺ adalah sahabat karibnya (ash-shiddiq).’”

وأخرج ابن عساكر عن محمد بن الزبير قال: (أرسلني عمر بن عبد العزيز إلى الحسن البصري أسأله عن أشياء، فجئته، فقلت له: اشفني فيما اختلف فيه الناس، هل كان رسول الله صلى الله عليه وسلم استخلف أبا بكر ؟ فاستوى الحسن قاعدا فقال: أوفي شك هو لا أبا لك؟ ! إي والله الذي لا إله إلا هو لقد استخلفه، ولهو كان أعلم بالله، وأتقى له، وأشد له مخافة من أن يموت عليها لو لم يؤمره).

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Muhammad bin az-Zubair:

"Umar bin Abdul Aziz pernah mengutusku kepada al-Hasan al-Bashri untuk menanyakan beberapa hal. Maka aku pun datang kepadanya dan berkata:

‘Tolong jelaskan kepadaku tentang perkara yang diperselisihkan oleh manusia: Apakah benar Rasulullah ﷺ telah menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti)?’

Maka al-Hasan segera duduk tegak lalu berkata:

‘Apakah kamu masih ragu tentang itu? Celakalah kamu! Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, sungguh beliau ﷺ telah mengangkatnya! Dan sungguh, beliau adalah orang yang paling tahu tentang Allah, paling bertakwa kepada-Nya, dan paling takut kepada-Nya, sehingga beliau tidak mungkin meninggal dan membiarkan urusan itu tanpa orang yang diperintahkannya.’”

وأخرج ابن عدي عن أبي بكر بن عياش قال: (قال لي الرشيد: يا أبا بكر ، كيف استخلف الناس أبا بكر الصديق ؟ قلت: يا أمير المؤمنين، سكت الله، وسكت رسوله، وسكت المؤمنون، قال: والله، ما زدتني إلا غما!!

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dari Abu Bakr bin ‘Ayyasy, ia berkata: 
"Suatu ketika, Harun ar-Rasyid berkata kepadaku:

‘Wahai Abu Bakr, bagaimana manusia bisa bersepakat membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah?’

Aku menjawab: ‘Wahai Amirul Mukminin, Allah diam, Rasul-Nya pun diam, dan kaum mukminin pun diam.’

Lalu Harun berkata: ‘Demi Allah, kamu justru membuatku semakin resah!’

قلت: يا أمير المؤمنين، مرض النبي صلى الله عليه وسلم ثمانية أيام، فدخل عليه بلال فقال: يا رسول الله، من يصلي بالناس؟ قال: «مر أبا بكر يصلي بالناس» فصلى أبو بكر بالناس ثمانية أيام، والوحي ينزل، فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم لسكوت الله، وسكت المؤمنون لسكوت رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعجبه فقال: بارك الله فيك.

Aku berkata lagi: ‘Wahai Amirul Mukminin, Nabi ﷺ sakit selama delapan hari. Lalu Bilal datang dan berkata:

"Wahai Rasulullah, siapa yang akan mengimami manusia dalam shalat?"

Maka beliau bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk shalat bersama manusia.’

Maka Abu Bakar pun shalat mengimami mereka selama delapan hari, sementara wahyu masih turun kepada Nabi ﷺ.

Lalu Rasulullah ﷺ diam karena Allah diam, dan kaum mukminin pun diam karena Rasulullah ﷺ diam.’

Maka Harun ar-Rasyid pun kagum lalu berkata: ‘Semoga Allah memberkahimu.’”

 

Kembali 13IndeX | Lanjut 15

 

Hal. 144 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar