خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 75 | IndeX | Lanjut 77
كتابُ الرَّضَاعِ
Catatan tentang Saudara Sesusuan
Hadist ke Tiga Ratus Dua Puluh Sembilan :
عنْ عقبةَ بنِ الحارثِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، قالَ: (( تَزَوَّجْتُ أُمَّ يَحْيى بنْتَ أَبي إِهَابٍ، فَجَاءَتْ أَمَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ: قَدْ أَرْضَعْتُكُمَا، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ للنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فأَعْرَضَ عَنِّي، قالَ: فَتَنَحَّيْتُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ، فقالَ: (( وَكَيْفَ؟ وَقَدْ زَعَمَتْ أَنْ قَدْ أَرْضَعَتْكُمَا )) .
Diriwayatkan Dari ‘Uqbah bin Ḥārist radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Aku menikahi Ummu Yaḥyā binti Abī Ihāb. Lalu datang seorang budak perempuan berkulit hitam dan berkata: ‘Aku telah menyusui kalian berdua.’
Aku pun menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, tetapi beliau berpaling dariku. Maka aku menjauh sejenak dan kembali menyebutkannya lagi kepada beliau.
Beliau bersabda: ‘Bagaimana mungkin (kamu tetap bersama), sedangkan perempuan itu mengaku telah menyusui kalian berdua?’”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Apabila telah terbukti adanya penyusuan yang menyebabkan keharaman antara suami-istri, maka pernikahan keduanya batal (harus dipisahkan).
Kedua: Tetapnya (sahnya) penyusuan dan hukum-hukumnya dengan kesaksian satu orang perempuan saja.
Ketiga: Diterimanya kesaksian seorang hamba (budak) apabila ia adil, dan bahwa seluruh saksi harus memiliki sifat adil.
Keempat: Bahwa hubungan intim karena syubhat tidak mewajibkan hukuman had maupun ta‘zīr, dan pelakunya dimaafkan dari hukuman di dunia maupun siksa di akhirat.
Hadist ke Tiga Ratus Tiga Puluh :
عن البَرَاءِ بنِ عازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -يَعنِي مِنْ مَكَّةَ- فَتَبِعَتْهُم ابْنَةُ حَمْزَةَ، تُنَادِي: يا عمُّ! فَتَنَاوَلَهَا عَلِيٌّ، فأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَالَ لِفَاطِمَةَ: دُونَكِ ابْنَةَ عَمِّكِ، فَاحْتَمَلَها، فَاخْتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ، وَزَيْدٌ، وَجَعْفَرٌ فقالَ عَلِيٌّ: أَنَا أَحَقُّ بِهَا، وَهِيَ ابْنَةُ عَمِّي، وَقَالَ جَعْفَرٌ: ابْنَةُ عَمِّي، وَخَالَتُهَا تَحْتِي، وَقالَ زَيْدٌ: ابْنَةُ أَخِي، فَقَضَى بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَالَتِهَا، وَقالَ: (( الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ )) وَقالَ لِعَلِيٍّ: (( أَنْتَ مِنِّي، وَأَنَا مِنْكَ )) وَقالَ لجعْفَرٍ: (( أَشْبَهْتَ خَلَقِي وَخُلُقِي )) وقالَ لِزَيْدٍ: (( أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا )) .
Diriwayatkan Dari Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ berangkat (yakni keluar dari Makkah), lalu putri Ḥamzah mengikuti mereka sambil memanggil: ‘Wahai paman!’
Ali pun mengambilnya, memegang tangannya, dan berkata kepada Fāṭimah: ‘Ambillah anak perempuan pamanmu!’ Lalu Fāṭimah membawanya.
Kemudian Ali, Zaid, dan Ja‘far berselisih tentang siapa yang paling berhak mengasuhnya.
Ali berkata: ‘Aku lebih berhak atasnya; dia adalah putri pamanku.’
Ja‘far berkata: ‘Dia putri pamanku, dan bibinya berada di bawah tanggunganku (istriku).’
Zaid berkata: ‘Dia putri saudaraku.’
Maka Nabi ﷺ memutuskan agar ia diasuh oleh bibinya, dan beliau bersabda: ‘Bibi (dari pihak ibu) menempati kedudukan seperti ibu.’
Beliau berkata kepada Ali: ‘Engkau dariku, dan aku darimu.’
#. Engkau sangat dekat denganku, dan aku sangat dekat denganmu. Engkau termasuk bagian dari keluargaku dan pendukungku, serta aku pun mendukungmu.
Dan kepada Ja‘far beliau bersabda: ‘Engkau menyerupai bentuk dan akhlakku.’
#. Engkau menyerupai penampilanku dan akhlakku
Serta kepada Zaid beliau bersabda: ‘Engkau adalah saudara kami dan maulā kami.’
#. Engkau adalah saudara kami dalam Islam, dan engkau adalah orang yang kami muliakan dan kami merdekakan.
Kosakata:
لفظ (دُونَكِ) : بكسرِ الكافِ، خطابٌ لأُنْثَى أيْ: خُذِيهَا.
Lafadz (دُونَكِ): dengan memecah huruf kāf (kasrah pada kāf), merupakan seruan kepada perempuan, dan maknanya: “Ambillah dia.”
لفظ (خَلَقِي) : بفتحِ الخاءِ واللَّامِ، الصِّفَاتُ الظَّاهِرَةُ.
Lafadz (خَلَقِي): dengan membuka huruf khā’ dan lām, maknanya adalah sifat-sifat lahiriah.
لفظ (خُلُقِي) : بِضَمِّ الخاءِ واللَّامِ، الصِّفَاتُ البَاطِنَةُ.
Lafadz (خُلُقِي): dengan men-dhammah-kan huruf khā’ dan lām, maknanya adalah sifat-sifat batin (akhlak).
لفظ (مَوْلَانَا) : أيْ عَتِيقُنَا، فالمَوْلَى يُطْلَقُ على المُعْتِقِ والعَتِيقِ.
Lafadz (مَوْلَانَا): yakni orang yang telah dimerdekakan oleh kami (ʿatīqunā). Kata mawlā digunakan untuk menyebut orang yang memerdekakan dan orang yang dimerdekakan.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Tetapnya hak hadhanah (pengasuhan) demi kepentingan anak kecil dan orang yang tidak berakal (bodoh), sebagai bentuk penjagaan, perlindungan, dan pemenuhan urusan-urusan mereka.
Kedua: Bahwa para kerabat laki-laki dari jalur ‘aṣabah memiliki hak dalam hadhanah selama tidak ada orang yang lebih berhak daripada mereka.
Ketiga: Mendahulukan ibu dalam hak hadhanah karena sempurnanya kasih sayangnya. Setelah ibu, yang didahulukan adalah bibi (dari pihak ibu), karena kedudukannya seperti ibu.
Keempat: Bahwa seorang wanita yang telah menikah tidak gugur hak hadhanahnya apabila suaminya ridha (mengizinkan) ia tetap melaksanakan pengasuhan.
Kelima: Baiknya akhlak Nabi ﷺ dan kebijaksanaan beliau, di mana beliau membuat semua pihak yang berselisih merasa puas.
Kembali 75 | IndeX | Lanjut 77
Tidak ada komentar:
Posting Komentar