Rabu, 03 September 2025

Umdatul Ahkam : 23 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 22 | IndeX | Lanjut 24

 

 

بابُ كيفيَّةِ الصلاةِ على النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bab Tata Cara Shalawat kepada Nabi ﷺ



Hadist ke Seratus Tujuh Belas:

عنْ عبدِ الرحمنِ بنِ أبِي ليْلَى قالَ: لَقِيَنِي كَعْبُ بنُ عُجْرَةَ، فقالَ: أَلَا أُهْدِي لكَ هَدِيَّةً؟ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَيْنَا، فَقُلْنَا: يا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا: كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قالَ: قُولُوا: (( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ على إبراهيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ )) .
Dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: Ka‘b bin ‘Ujrah menemuiku, lalu berkata: “Maukah aku hadiahkan kepadamu sebuah hadiah? Sesungguhnya Nabi ﷺ keluar menemui kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana cara memberi salam kepadamu, maka bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?” 

قالَ: قُولُوا: ( اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ على إبراهيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ )

Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat atas Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan atas Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Wajib bershalawat kepada Nabi ﷺ dalam tasyahhud akhir di dalam shalat, dan yang paling utama adalah dengan lafadz shalawat ini.

Kedua: Termasuk hak Nabi ﷺ atas umatnya adalah mendoakan beliau, dan di antara sebab meninggikan kedudukan serta derajat beliau adalah doa dari umatnya untuknya.

Ketiga: Perhatian para salaf (orang terdahulu) terhadap masalah-masalah ilmu yang bermanfaat. 

 

 

بابُ الدعاءِ بعدَ التَّشَهُّدِ الأخيرِ

Bab Doa Setelah Tasyahhud Akhir


Hadist ke Seratus Delapan Belas:

 عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو: (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ )) .

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnah al-Masih ad-Dajjal.”


وفي لفظٍ لِمسلمٍ: (( إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبعٍ. يقولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ... )) ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَهُ.

Dan dalam riwayat Muslim: “Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca tasyahhud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam...’,” kemudian beliau menyebutkan yang semisalnya.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Dianjurkan membaca doa ini setelah tasyahhud akhir, karena mencakup permohonan perlindungan dari berbagai keburukan dunia dan akhirat.

Kedua: Adanya kepastian adanya azab kubur, serta kewajiban berhati-hati dari syubhat dunia dan hawa nafsunya.

Ketiga: Pentingnya mengenali para penyeru keburukan dan penyebar ilhad (kekafiran/ateisme), agar waspada dari fitnah mereka. 

 

 

Hadist ke Seratus Sembilan Belas:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرِو بنِ العاصِ، عنْ أبِي بكرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا: أنَّهُ قالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ في صَلَاتِي. قالَ: (( قُل: اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلا يَغفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إنَّكَ أَنتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ )) .

Dari Abdullah bin ‘Amer bin ‘Ash, dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., bahwa ia berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa yang bisa aku panjatkan dalam shalatku.” Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Dianjurkan membaca doa ini dalam shalat karena indah lafaznya dan sesuai dengan keadaan hamba.

Kedua: Sepatutnya setiap orang yang berdoa memulai dengan mengakui kelemahan dan kezalimannya, lalu memuji Allah sesuai dengan keagungan-Nya, kemudian menyampaikan kebutuhannya, dan menutup doanya dengan menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan permohonannya.

Ketiga: Akhir shalat merupakan salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. 

 

 

Hadist ke Seratus Dua Puluh:

عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: مَا صَلَّى رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً -بَعْدَ أَنْ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ: {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّه وَالْفَتْحُ} - إلَّا يقُولُ فِيهَا: (( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي )) .

Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata: “Sejak diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat {Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan}, beliau tidak pernah menunaikan shalat melainkan membaca doa di dalamnya: [سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي] "Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami, dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku”.


وفي لفظٍ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ في رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: (( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي )) .

Dan dalam riwayat lain: “Rasulullah ﷺ banyak membaca doa ketika rukuk dan sujudnya: lafadz [سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي].

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Dianjurkan memperbanyak doa ini ketika rukuk dan sujud.

Kedua: Ibadah, khususnya shalat, sebaiknya ditutup dengan istighfar agar dapat menutupi kekurangan yang mungkin terjadi di dalamnya.

Ketiga: Cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah agar doa diterima adalah dengan memuji dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan serta memperbanyak istighfar. 

 

Kembali 22 | IndeX | Lanjut 24

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar