خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 23 | IndeX | Lanjut 25
بابُ الوترِ
Bab Witir
Hadist ke Seratus Dua Puluh Satu:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ- مَا تَرَى فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ؟ قالَ: (( مَثْنَى مَثْنَى، فإذا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ: صَلَّى وَاحِدَةً، فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا صَلَّى )) ، وَأَنَّهُ كانَ يَقُولُ: (( اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِترًا )) .
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumā, ia berkata:
Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ, sementara beliau berada di atas mimbar:
"Bagaimana pendapatmu tentang shalat malam?"
Beliau ﷺ menjawab: "Dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu subuh, maka hendaklah ia shalat satu rakaat, yang dengan itu ia mengganjilkan (witir) shalat yang telah ia lakukan."
Dan beliau ﷺ juga bersabda: "Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari sebagai witir."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, tidak lebih dan tidak kurang dalam satu salam.
Kedua: shalat witir dilakukan di akhir shalat malam, dan waktunya berakhir dengan terbit fajar.
Ketiga: Yang lebih utama, witir dilakukan setelah shalat syaf‘ [شَفْعٍ] (rakaat genap sebelumnya).
keempat: Hukum witir adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), termasuk amalan sunnah yang ditekankan.
Hadist ke Seratus Dua Puluh Dua:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ، وَأَوْسَطِهِ، وَآخِرِهِ. فانْتَهى وِتْرُهُ إلى السَّحَرِ.
Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ pernah berwitir pada seluruh bagian malam; di awal malam, pertengahan, dan akhirnya. Dan witir beliau berakhir pada waktu sahur."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Boleh melaksanakan witir pada awal, pertengahan, maupun akhir malam. Namun yang lebih utama adalah di akhir malam, bagi orang yang yakin mampu bangun untuk shalat.
Hadist ke Seratus Dua Puluh Tiga:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِن اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ، لا يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إلَّا في آخِرِهَا.
Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ biasa shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Beliau berwitir dari jumlah itu dengan lima rakaat, dan beliau tidak duduk pada rakaat-rakaatnya kecuali pada yang akhir."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: shalat malam Nabi ﷺ terkadang berjumlah tiga belas rakaat.
Kedua: Witir beliau kadang lima rakaat sekaligus, dan beliau tidak duduk tasyahhud kecuali pada rakaat terakhir.
Ketiga: shalat witir boleh dilakukan tidak selalu dengan pola dua rakaat-dua rakaat, meskipun tetap termasuk shalat malam.
بابُ الذِّكْرِ عَقِبَ الصلاةِ
Bab Dzikir Setelah shalat
Hadist ke Seratus Dua Puluh Empat:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، (( أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ -حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِن المَكْتُوبَةِ -كانَ عَلَى عَهْدِ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )) .
Dari Abdullah bin Abbas ra., ia berkata:
“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardu adalah sesuatu yang ada pada masa Rasulullah ﷺ.”
قالَ ابنُ عَبَّاسٍ: كنتُ أعلمُ إذا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ، إِذَا سَمِعْتُهُ.
Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui bila mereka telah selesai (shalat) dari hal itu, yaitu ketika aku mendengarnya.”
وفي لفظٍ: مَا كنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُوِلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَّا بالتَّكْبِيرِ.
Dan dalam satu lafaz: “Kami tidaklah mengetahui selesainya shalat Rasulullah ﷺ kecuali dengan (suara) takbir.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Dianjurkan (disenanginya) berdzikir setelah shalat.
Kedua: Dianjurkan (disenanginya) mengeraskan suara dalam berdzikir.
Hadist ke Seratus Dua Puluh Lima:
عنْ وَرَّادٍ مولى المُغِيرِةِ بنِ شُعْبةَ قالَ: أَمْلَى عَلَيَّ المُغِيرَةُ بنُ شُعْبَةَ في كِتَابٍ إلَى مُعَاوِيةَ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ: (( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِما أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ )) .
Dari Warrād, bekas budaknya Mughirah bin Syu‘bah, ia berkata:
Mughirah bin Syu‘bah pernah mendiktekan kepadaku sebuah surat untuk Mu‘awiyah, berisi bahwa Nabi ﷺ biasa mengucapkan pada akhir setiap shalat fardu:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِما أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, serta tidak bermanfaat bagi orang yang memiliki kekayaan dan kedudukan sesuatu pun di hadapan-Mu.”
ثُمَّ وفَدْتُ بَعْدُ على مُعَاوِيَةَ فَسَمِعْتُهُ يَأْمُرُ النَّاسَ بذلكَ.
Kemudian aku berkunjung setelah itu kepada Mu‘awiyah, lalu aku mendengarnya memerintahkan orang-orang untuk mengucapkan doa tersebut.
وفي لفظٍ: (( وكانَ يَنْهَى عَنْ قيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةِ المَالِ، وكَثْرَةِ السُّؤَالِ، وَكانَ يَنْهَى عَنْ عُقُوقِ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدِ البَنَاتِ، وَمَنَعَ وَهَاتِ )) .
Dan dalam lafadz disebutkan:
“Dan beliau ﷺ melarang dari perkataan sia-sia (قيلَ وَقَالَ), menyia-nyiakan harta, terlalu banyak bertanya, durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, sifat kikir, dan sifat tamak serakah terhadap harta.”
Kosakata:
Pada lafadz [دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ] "Dubur kulli shalāh" → artinya akhir shalat.
Pada lafadz [مَكْتُوبَةٍ] "Maktūbah" → Maksudnya [مَفْرُوضَةٍ] shalat fardu.
Pada lafadz [الجَدُّ] "Al-jaddu" dengan fathah jim → maksudnya kekayaan atau keberuntungan.
Pada lafadz [وَوَأْدِ البَنَاتِ] "Wa wa’dil banāti" → maksudnya mengubur anak perempuan hidup-hidup.
Pada lafadz [وَمَنَعَ] "Wa manaa‘" → maksudnya kikir terhadap harta.
Pada lafadz [وَهَاتِ] "Wa haati" → maksudnya tamak dan sangat rakus terhadap harta.
Pada lafadz [عنْ قِيلَ وَقَالَ] "‘An qiila wa qaala" → maksudnya larangan tenggelam dalam perkataan sia-sia atau gosip.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Dianjurkan (disenanginya) membaca doa ini setelah shalat fardu, karena mengandung tauhid, penolakan sekutu bagi Allah, penetapan kerajaan, pujian, dan kekuasaan bagi-Nya, serta pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya.
Kedua: Larangan terhadap sifat-sifat tercela karena keburukannya di dunia maupun akhirat.
Ketiga: Kewajiban menggantungkan hati hanya kepada Allah, karena Dialah yang Maha Memberi dan Maha Menghalangi.
Hadist ke Seratus Dua Puluh Enam:
وعنْ سُمَيٍّ- مولى أبِي بكرِ بنِ عبدِ الرَّحْمَنِ بنِ الحارثِ بنِ هشامٍ- عنْ أبِي صالحٍ السَّمَّانِ، عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ فُقَرَاءَ المهاجرينَ أتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فقَالُوا: قدْ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثورِ بالدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَالنَّعيمِ المُقيمِ، فَقَالَ: (( وَمَا ذَاكَ )) قَالُوا: يُصَلُّونَ كمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَما نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ، وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ، فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ، وتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ، إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ؟ )) قَالُوا: بَلَى، يا رَسُولَ اللَّهِ، قالَ: (( تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً )) .
Dari Sumayyin – bekas budaknya Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam – dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah ra., bahwa para fakir miskin dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah ﷺ. Mereka berkata:
“Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.”
Beliau ﷺ bertanya: “Apa maksud kalian?”
Mereka menjawab: “Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak bisa bersedekah, dan mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak bisa memerdekakan.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang dengannya kalian dapat menyusul orang-orang yang telah mendahului kalian, dan kalian akan mendahului orang-orang yang datang setelah kalian, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang melakukan sebagaimana yang kalian lakukan?”
Mereka menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau ﷺ bersabda:
“Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai shalat, masing-masing sebanyak 33 kali.”
قالَ أبو صَالِحٍ: فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إلى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقَالُوا: يا رَسُولَ اللَّهِ، سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا، فَفَعَلُوا مِثْلَهُ؟ فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مِنْ يَشَاءُ} .
Abu Shalih berkata: Lalu orang-orang fakir Muhajirin kembali kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata:
“Wahai Rasulullah, saudara-saudara kami yang kaya mendengar apa yang kami lakukan, lalu mereka pun melakukan hal yang sama.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Itulah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Hadid: 21).
قالَ سُمَيٌّ: فحدَّثْتُ بعضَ أَهْلِي هذَا الحديثَ، فقالَ: وَهِمْتَ، إنَّمَا قالَ: (( تُسَبِّحُ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدُ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُكَبِّرُ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثلاثينَ )) .
Sumayyin berkata: Aku menceritakan hadistt ini kepada sebagian keluargaku, lalu ia berkata: “Engkau keliru. Sesungguhnya beliau ﷺ bersabda: ‘Bertasbih kepada Allah 33 kali, bertahmid kepada Allah 33 kali, dan bertakbir kepada Allah 33 kali.’”
فَرَجَعْتُ إلى أبِي صالحٍ، فقلتُ لهُ ذلكَ، فقالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ للَّهِ، حتَّى تَبْلُغَ مِنْ جَمِيعِهِنَّ، ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ.
Maka aku kembali kepada Abu Shalih dan menyampaikan hal itu kepadanya. Ia pun berkata: “Allahu akbar, Subhānallāh, walhamdulillāh hingga semuanya berjumlah 33 kali.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadistt:
Pertama: Semangat para sahabat dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam amal saleh.
Kedua: Keutamaan dzikir yang disebutkan dalam hadist ini, karena menjadi sebab mendahului orang lain dalam pahala.
Ketiga: Keutamaan berinfak di jalan Allah, karena menjadi sebab ditinggikannya derajat.
Kembali 23 | IndeX | Lanjut 25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar