خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 34 | IndeX | Lanjut 36
بابُ صدقةِ الفطرِ
Bab Zakat Fitrah
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Satu:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ- أوْ قالَ: رَمَضَانَ- عَلَى الذَّكَرِ وَالأُنْثى وَالْحُرِّ وَالمَمْلُوكِ: صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَو صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ قالَ: فَعَدلَ النَّاسُ بِهِ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ عَلَى الصَّغيرِ وَالكَبيرِ.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah—atau beliau berkata: zakat Ramadan—atas setiap laki-laki dan perempuan, orang merdeka maupun hamba sahaya: satu sha‘ kurma atau satu sha‘ gandum kasar [شَعِيرٍ] "syair". Lalu orang-orang menilai bahwa setengah sha‘ gandum halus [بُرٍّ] "bur" sebanding dengannya, baik untuk anak kecil maupun orang dewasa.”
وفي لفظٍ: (( أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاةِ )) .
Dalam satu riwayat: “Agar ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju salat (Id).”
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Dua:
وعنْ أبِي سعيدٍ الخدريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَو صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَو صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَو صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَو صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ، فَلَمَّا جَاءَ مُعَاوِيَةُ، وَجَاءَتِ السَّمْرَاءُ، قَالَ: أُرَى مُدًّا مِنْ هَذا يَعْدِلُ مُدَّيْنِ. قالَ أبو سعيدٍ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَما كُنْتُ أُخْرِجُهُ )) .
Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Kami menunaikannya (zakat fitrah) pada masa Nabi ﷺ berupa satu sha‘ makanan, atau satu sha‘ kurma, atau satu sha‘ gandum kasar, atau satu sha‘ [أَقِطٍ] "aqith" (susu kering), atau satu sha‘ kismis. Ketika Mu‘awiyah datang, dan datang pula gandum halus (as-samra’), ia berkata: ‘Aku melihat bahwa satu mud dari ini setara dengan dua mud.’ Abu Sa‘id berkata: ‘Adapun aku, maka aku akan terus menunaikannya sebagaimana dahulu aku menunaikannya (di masa Nabi ﷺ).’”
Pelajaran yang dapat diambil dari Kedua hadist:
Pertama: Wajibnya zakat fitrah atas setiap muslim, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya. Tidak wajib atas janin.
Kedua: Zakat fitrah menurut teks hadis dikeluarkan dari bahan-bahan makanan yang disebutkan. Namun, Ibnu Taimiyah memilih pendapat bolehnya mengeluarkan dari makanan pokok negeri setempat, meskipun mampu mengeluarkan dari jenis yang disebutkan, dan yang lebih utama adalah yang lebih bermanfaat bagi penerima.
Ketiga: Waktu terbaik untuk menunaikannya adalah pada fajar hari raya sebelum salat Id. Namun boleh ditunaikan sehari atau dua hari sebelumnya.
كتابُ الصيامِ
Catatan Tentang Puasa
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Tiga:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ، وَلَا يَوْمَيْنِ، إِلَّا رَجُلٌ كانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian mendahului (puasa) Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang memiliki kebiasaan puasa, maka hendaklah ia tetap berpuasa.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Larangan mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari, sebagai bentuk pembeda antara puasa wajib dengan puasa sunnah.
Kedua: Boleh berpuasa sebelum Ramadan bagi yang kebetulan sesuai dengan kebiasaan puasanya, seperti puasa Senin-Kamis.
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Empat:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: سمعتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقولُ: (( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ )) .
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila kalian melihat hilal (bulan sabit Ramadan), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (hilal Syawwal), maka berbukalah. Jika terhalang dari kalian (mendung), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya‘ban menjadi tiga puluh hari.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajibnya puasa Ramadan dikaitkan dengan terlihatnya hilal, demikian juga berbuka (Idul Fitri).
Kedua: Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya‘ban disempurnakan menjadi 30 hari sebelum memasuki Ramadan.
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Lima:
عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (( تَسَحَّرُوا فَإِنَّ في السَّحُورِ بَرَكَةً )) .
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.”
Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Enam:
عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، عنْ زيدِ بنِ ثابتٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاةِ. قَالَ أَنَسٌ: قلتُ لِزَيْدٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً )) .
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Kami makan sahur bersama Rasulullah ﷺ, kemudian beliau berdiri untuk shalat (Subuh).”
Anas berkata: *“Aku bertanya kepada Zaid: Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Ia menjawab: “Sekitar (membaca) lima puluh ayat.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Dianjurkannya sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan, baik secara agama maupun dunia.
Kedua: Keutamaan mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu fajar, karena waktu imsak adalah terbitnya fajar.
Ketiga: Keutamaan menyegerakan shalat Subuh di awal waktunya.
Kembali 34 | IndeX | Lanjut 36
Tidak ada komentar:
Posting Komentar