Selasa, 16 September 2025

Umdatul Ahkam : 30 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 29IndeX | Lanjut 31

 

 

بابُ صلاةِ الخوفِ

Bab Shalat Khauf (shalat dalam Keadaan Takut/Perang)

 


Hadist ke Seratus Empat Puluh Sembilan:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ بنِ الخطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْخَوْفِ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ، فَقَامَتْ طَائِفَةٌ مَعَهُ، وَطَائِفةٌ بِإزَاءِ الْعَدُوِّ، فَصَلَّى بِالَّذِينَ مَعَهُ رَكْعَةً، ثُمَّ ذَهَبُوا، وَجَاءَ الآخَرُونَ، فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَةً، وَقَضَت الطَّائِفَتَانِ رَكْعَةً رَكْعَةً.

Dari Abdullah bin Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat khauf pada suatu hari. Lalu ada satu kelompok berdiri bersamanya, sementara kelompok lain berhadapan dengan musuh. Maka beliau shalat bersama kelompok yang bersamanya satu rakaat, kemudian mereka pergi. Lalu datang kelompok yang lain, dan beliau shalat bersama mereka satu rakaat. Kemudian kedua kelompok itu masing-masing menyempurnakan satu rakaat.”

  

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Disyariatkannya shalat khauf ketika ada sebabnya, baik dalam keadaan bermukim maupun safar.

Kedua: Tata cara pelaksanaannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ini.

Ketiga: Gerakan yang banyak, apabila untuk kepentingan shalat atau karena darurat, tidak membatalkannya.

Keempat: Terdapat dorongan kuat untuk menunaikan shalat tepat pada waktunya dan dengan berjamaah.

Kelima: Kewajiban mengambil persiapan dan kesiagaan menghadapi musuh-musuh agama.

 

 


Hadist ke Seratus Lima Puluh:

عنْ يزيدَ بنِ رُومَانَ، عنْ صالحِ بنِ خَوَّاتِ بنِ جُبَيْرٍ، عَمَّنْ صَلَّى مَع رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاةَ ذَاتِ الرِّقَاعِ، صَلاةَ الخَوْفِ، أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتْ مَعَهُ، وَطَائِفَةً وِجَاهَ الْعَدُوِّ، فَصَلَّى بِالَّذِينَ مَعَهُ ركْعَةً، ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا، وأَتمُّوا لأَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ انْصَرَفُوا، فَصَفُّوا وِجَاهَ الْعَدُوِّ، وَجَاءَتِ الطَّائِفَةُ الأُخْرَى، فَصَلَّى بِهِمُ الرَّكْعَةَ الَّتي بَقِيَتْ، ثُمَّ ثَبَتَ جالِسًا، وَأَتَمُّوا لأَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ )) .

Dari Yazid bin Ruman, dari Shalih bin Khawwat bin Jubair, dari seseorang yang shalat bersama Rasulullah ﷺ pada shalat Dzātur-Riqā‘ (shalat khauf), bahwa ada satu kelompok yang berbaris bersama beliau, dan kelompok lain berhadapan dengan musuh. Maka beliau shalat bersama kelompok yang bersamanya satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri, dan mereka menyempurnakan (sisa rakaat) untuk diri mereka sendiri, lalu mereka pergi dan menghadapi musuh. Kemudian datang kelompok yang lain, lalu beliau shalat bersama mereka satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk, dan mereka menyempurnakan (sisa rakaat) untuk diri mereka sendiri, lalu beliau salam bersama mereka.”


الذي صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هوَ سَهْلُ بنُ أبِي حَثْمَةَ.

Orang yang shalat bersama Rasulullah ﷺ itu adalah Sahl bin Abi Huthmah.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: shalat dengan tata cara seperti ini sesuai untuk kondisi musuh berada di arah yang berbeda dengan kiblat.

Kedua: Diperbolehkan makmum meninggalkan imam karena adanya uzur seperti ini.

 

 

Hadist ke Seratus Lima Puluh Satu:

عنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ الأنصاريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْخَوْفِ، فَصَفَفْنا صَفَّيْنِ، صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ، فَكَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَبَّرْنَا جَميعًا، ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِن الرُّكُوعِ، وَرَفَعْنَا جَمِيعًا. ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الذي يَلِيهِ. وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ في نَحْرِ الْعَدُوِّ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّجُودَ، وَقَامَ الصَّفُّ الذي يلِيهِ، انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ وَقَامُوا، ثُمَّ تَقَدَّمَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ وَتَأَخَّرَ الصَّفُّ الْمُقَدَّمُ، ثُمَّ رَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِن الرُّكوعِ، وَرَفَعْنَا جَمِيعًا، ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الذي يَلِيهِ -الذي كانَ مُؤَخَّرًا فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى -وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ في نُحُورِ الْعَدُوِّ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّجُودَ والصَّفُّ الذي يَلِيهِ، انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ، فَسَجَدُوا، ثُمَّ سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وسَلَّمْنَا جَمِيعًا )) .

Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku ikut bersama Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat khauf. Maka kami berbaris dalam dua saf; satu saf berada di belakang Rasulullah ﷺ dan musuh berada di antara kami dengan arah kiblat. Nabi ﷺ bertakbir, dan kami semua pun bertakbir. Lalu beliau rukuk, dan kami semua rukuk. Kemudian beliau bangkit dari rukuk, dan kami pun bangkit semuanya. Lalu beliau turun untuk sujud bersama saf yang berada dekat dengannya, sedangkan saf yang di belakang tetap berdiri menghadapi musuh. Setelah Nabi ﷺ selesai dari sujud dan saf yang bersamanya berdiri, saf yang berada di belakang pun turun untuk sujud, lalu mereka bangkit. Kemudian saf yang di belakang maju, dan saf yang di depan mundur.

Lalu Nabi ﷺ rukuk, dan kami semua rukuk. Kemudian beliau bangkit dari rukuk, dan kami pun bangkit semuanya. Lalu beliau turun untuk sujud bersama saf yang berada dekat dengannya – yaitu saf yang tadinya di belakang pada rakaat pertama – sedangkan saf yang lain berdiri menghadapi musuh. Setelah Nabi ﷺ selesai sujud bersama saf yang bersamanya, saf yang di belakang pun turun untuk sujud. Setelah itu Nabi ﷺ salam, dan kami semua salam bersama beliau.”

 

قالَ جابِرٌ: (( كَمَا يَصْنعُ حَرَسُكُمْ هؤلاءِ بِأُمَرَائِهِمْ )) ، ذَكَرَهُ مُسْلِمٌ بِتَمَامِهِ.

“Sebagaimana yang dilakukan para pengawal kalian terhadap para pemimpin mereka.” (HR. Muslim secara lengkap).


وذكرَ البخاريُّ طَرَفًا منهُ، (( وَأَنَّهُ صَلَّى صَلاةَ الخَوْفِ معَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الغَزْوَةِ السَّابِعَةِ؛ غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ )) .

Al-Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadis ini, bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat khauf bersama para sahabat dalam perang ketujuh, yaitu perang Dzātur-Riqā‘.


Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Tata cara shalat seperti ini sesuai untuk kondisi musuh berada di arah kiblat.

Kedua: Tergambar jelas keadilan Nabi ﷺ, di mana beliau mengatur para sahabat untuk bergantian antara shalat dan menjaga.

Ketiga: Gerakan yang banyak, jika memang dibutuhkan dalam shalat, tidak merusak sahnya shalat.

Keempat: Tercermin kepemimpinan yang baik, pengaturan pasukan yang rapi, serta usaha menghindarkan mereka dari bahaya dan serangan mendadak musuh.


Kembali 29IndeX | Lanjut 31


Tidak ada komentar:

Posting Komentar