خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 24 | IndeX | Lanjut 26
بابُ الخشوعِ في الصلاةِ
Bab: Kekhusyukan dalam Shalat
Hadist ke Seratus Dua Puluh Tujuh:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أعْلَامٌ. فَنَظَرَ إلى أَعْلَامِهَا نَظْرَةً، فَلَمَّا انْصَرَفَ قالَ: (( اذْهَبُوا بخَمِيصَتي هَذِهِ إلى أبِي جَهْمٍ، وَائتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي )) الخَمِيصَةُ: كِسَاءٌ مُرَبَّعٌ لَهُ أَعْلَامٌ , والْأَنْبِجَانِيَّةُ: كِسَاءٌ غَلِيظٌ.
Dari ‘Aisyah ra., bahwa Nabi ﷺ pernah shalat dengan memakai khamiṣah (pakaian) miliknya yang memiliki hiasan garis-garis. Lalu beliau menoleh pada hiasan itu sekali pandang. Setelah selesai shalat beliau bersabda:
“Bawalah khamiṣah ini kepada Abu Jahm, dan bawakan kepadaku anbijāniyyah milik Abu Jahmin, karena sesungguhnya (hiasan) itu tadi telah melalaikanku dari shalatku.”
Kosakata:
Lafadz [خَمِيصَةٌ] "Khamiṣhah": maksudnya kain berbentuk segi empat yang memiliki hiasan atau garis-garis warna.
Lafadz [الأَنْبِجَانِيَّةِ] "Anbijāniyyah": maksudnya kain tebal yang dinisbatkan kepada negeri bernama Anbijān [أَنْبِجَانَ].
Lafadz [آنِفًا] "Ānifan": maksudnya sekarang, baru saja.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkan untuk khusyuk dalam shalat, melakukan sebab-sebab yang mendatangkannya, serta menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu, kecuali bila hati sesekali tersibukkan maka itu tidak mengapa.
Kedua: Makruh (tidak disukainya) menghias atau memberi ornamen berlebihan pada masjid, karena dapat mengganggu kekhusyukan orang shalat.
Ketiga: Boleh bagi laki-laki memakai pakaian yang bergaris atau berhias.
Keempat: Boleh menerima hadiah demi menjaga hati si pemberi, dan juga boleh mengembalikannya apabila ada alasan yang jelas.
بابُ الجمعِ بينَ الصلاتَيْنِ في السفرِ
Bab: Menggabungkan Dua shalat dalam Perjalanan
Hadist ke Seratus Dua Puluh Delapan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ في السَّفَرِ بَيْنَ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ إِذَا كانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ ))
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ menggabungkan shalat Zuhur dan Asar ketika beliau sedang dalam perjalanan di atas kendaraan, dan beliau juga menggabungkan shalat Magrib dan Isya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Boleh menggabungkan shalat Zuhur dengan Asar, dan Magrib dengan Isya dalam perjalanan.
Kedua: Hadist ini menunjukkan bolehnya melakukan jamak taqdim maupun jamak ta’khir antara dua shalat tersebut.
Ketiga: Secara lahiriah, hadist ini mengaitkan diperbolehkannya menjamak dengan kondisi bila seseorang sedang menempuh perjalanan yang berat (tergesa-gesa). Ini adalah pendapat sebagian ulama, sedangkan jumhur (mayoritas) ulama membolehkan jamak dalam safar (berpergian), sekalipun perjalanan tidak dalam kondisi tergesa.
بابُ قصرِ الصلاةِ في السفرِ
Bab: MengQashar Shalat dalam Perjalanan
Hadist ke Seratus Dua Puluh Sembilan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ لَا يَزِيدُ في السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ كَذلِكَ.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Aku pernah menyertai Rasulullah ﷺ dalam perjalanan, dan beliau tidak pernah menambah (shalat fardhu) lebih dari dua rakaat. Demikian juga Abu Bakar, Umar, dan Utsman (radhiyallahu ‘anhum).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkan mengqashar shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat ketika dalam perjalanan, baik dalam perjalanan ibadah maupun perjalanan yang mubah.
Kedua: Qashar adalah sunnah Nabi ﷺ dan juga sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk (khulafaur rasyidin) dalam perjalanan mereka.
Ketiga: Hikmah disyariatkannya qashar adalah untuk memberi keringanan dan kemudahan bagi para musafir.
Keempat: Pendapat yang lebih kuat (ash-shahih) adalah bahwa jarak dan waktu perjalanan tidak membatasi kebolehan qashar. Selama suatu perjalanan dianggap sebagai safar (berpergian) menurut kebiasaan, maka rukhsah (keringanan) qashar boleh dilakukan.
Kembali 24 | IndeX | Lanjut 26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar