خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 27 | IndeX | Lanjut 29
بابُ صلاةِ الكسوفِ
Bab Shalat Gerhana
Hadist ke Seratus Empat Puluh Tiga:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، (( أنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: الصَّلاةُ جامِعَةٌ، فَاجْتَمَعُوا، وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَينِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ )) .
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bahwa matahari pernah mengalami gerhana pada masa Rasulullah ﷺ. Maka beliau mengutus seorang penyeru untuk menyerukan: ‘Ash-shalātu jāmi‘ah (shalat akan didirikan secara berjamaah)’. Lalu orang-orang pun berkumpul, beliau maju, bertakbir, kemudian shalat empat rakaat dalam dua rakaat, dan empat sujud.”
Kosakata:
Lafadz [الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ] "Ash-shalātu jāmi‘ah” : Boleh dibaca dengan rafa‘ (marfū‘) sebagai mubtada’ dan khabar, dan boleh juga dibaca dengan nashab. Bacaan nashab lebih utama: yang pertama dengan makna ighrā’ (ajakan/perintah), yang kedua dengan makna hāl (keadaan).
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Terjadinya gerhana matahari pada masa Nabi ﷺ.
Kedua: Dianjurkannya melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana.
Ketiga: Disyariatkannya berkumpul untuk shalat gerhana, memperbanyak doa, shalat sunnah, dan istighfar.
Keempat: Tidak ada adzan untuk shalat gerhana, tetapi diseru dengan kalimat “Ash-shalātu jāmi‘ah”.
Kelima: Shalat gerhana dilakukan dengan empat rakaat (bacaan dan rukuk) dalam dua rakaat, serta empat sujud.
#. Maksudnya, dalam shalat gerhana (shalātul-kusūf) setiap rakaat terdapat dua kali rukuk (berarti totalnya empat rukuk dalam dua rakaat).
#. Jadi, tata cara ringkasnya:
- Rakaat pertama: takbir, membaca Al-Fatihah dan bacaan panjang, rukuk pertama, bangkit berdiri, membaca lagi Al-Fatihah dan bacaan panjang, rukuk kedua, lalu sujud dua kali.
- Rakaat kedua: sama seperti rakaat pertama.
(Dengan demikian, seluruh shalat terdiri dari: 2 rakaat, 4 rukuk, dan 4 sujud.)
Hadist ke Seratus Empat Puluh Empat:
عنْ أبِي مَسعودٍ -عُقْبةَ بنِ عمرٍو- الأنصاريِّ البدريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِن النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ، حتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ )) .
Dari Abu Mas‘ūd—‘Uqbah bin ‘Amrin al-Anshārī al-Badrī radhiyallāhu ‘anhu—ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dari manusia. Maka apabila kalian melihat sesuatu darinya (gerhana), maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah hingga hilang apa yang menimpa kalian.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkan shalat dan berdoa ketika terjadi gerhana matahari atau bulan.
Kedua: Shalat gerhana berakhir ketika gerhana itu selesai/terangkat.
Ketiga: Dari lahiriah hadist, shalat gerhana tetap dilakukan walaupun bertepatan dengan waktu yang terlarang untuk shalat.
Keempat: Hikmah dari terjadinya gerhana matahari maupun bulan adalah untuk menakut-nakuti hamba agar takut kepada siksa Allah.
Hadist ke Seratus Empat Puluh Lima:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: (( خَسَفَتِ الشَّمْسُ في عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِالنَّاسِ، فأَطَالَ القِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ، فأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فأَطَالَ الْقِيَامَ- وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ- ثُمَّ رَكَعَ، فأَطَالَ الرُّكُوعَ- وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ. ثُمَّ سَجَدَ، فأَطَالَ السُّجَودَ، ثُمَّ فَعَلَ في الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ مَا فَعَلَ في الأُولى، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدْ تَجَلَّت الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ. فَحمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: (( إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وتَصَدَّقُوا )) ثُمَّ قالَ: (( يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِن اللَّهِ، مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ، أَو تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ لَو تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا )) .
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
“Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ shalat bersama manusia, beliau memperlama berdiri, kemudian rukuk dan memperlama rukuknya. Lalu beliau berdiri kembali dan memperlama berdirinya—namun lebih singkat dari berdiri yang pertama—kemudian rukuk lagi dan memperlama rukuknya—namun lebih singkat dari rukuk yang pertama. Lalu beliau sujud dan memperlama sujudnya. Kemudian beliau melakukan pada rakaat kedua sebagaimana yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Lalu beliau selesai (shalat), sementara matahari telah terang kembali. Setelah itu beliau berkhutbah kepada manusia, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka apabila kalian melihat hal itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.’ Lalu beliau bersabda: ‘Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah ketika hamba laki-laki atau hamba perempuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’”
وفي لفظٍ: (( فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ )) .
Dalam satu riwayat disebutkan: “Beliau menyempurnakan empat rukuk dan empat sujud.”
Hadist ke Seratus Empat Puluh Enam:
Dari Abu Musa al-Asy‘arī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah ﷺ. Maka beliau bangkit dengan rasa cemas, khawatir jangan-jangan itu adalah kiamat, hingga beliau mendatangi masjid. Lalu beliau berdiri dan shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud yang paling panjang yang pernah aku lihat beliau lakukan dalam suatu shalat. Setelah itu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya tanda-tanda (ayat-ayat) yang Allah kirimkan itu tidak terjadi karena kematian seseorang atau kehidupannya. Akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla mengirimkannya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Maka apabila kalian melihat sesuatu darinya, maka larilah kepada dzikir kepada Allah, doa, dan istighfar.’”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Disyariatkan melaksanakan shalat gerhana sebagaimana disebutkan dalam hadist.
Kedua: Disyariatkan memperpanjang (bacaan, rukuk, dan sujud) dalam shalat gerhana.
Ketiga: Setiap rakaat lebih pendek dari rakaat sebelumnya.
Keempat: Waktu shalat gerhana dimulai dengan terjadinya gerhana dan berakhir ketika terang kembali.
Kelima: Disyariatkan adanya khutbah setelah shalat jika diperlukan.
Keenam: Khutbah dimulai dengan memuji dan menyanjung Allah.
Ketujuh: Matahari adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan kebesaran dan hikmah-Nya.
Kedelapan: Terjadinya gerhana matahari atau bulan sebagai sarana menakut-nakuti hamba tidak menafikan adanya sebab-sebab alami. Allah Ta‘ala menjadikan sebab-sebab itu terjadi ketika Dia menghendaki adanya peringatan dan ancaman.
Kesembilan: Peringatan keras dari zina dan perbuatan keji, karena beratnya azab yang Allah siapkan bagi pelakunya.
Kembali 27 | IndeX | Lanjut 29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar