خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 25 | IndeX | Lanjut 27
بابُ الجُمُعَةِ
Bab: Shalat Jumat
Hadist ke Seratus Tiga Puluh:
عنْ سَهْلِ بنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُما، أَنَّ نَفَرًا تَمَارَوْا في المِنْبَرِ، مِنْ أَيِّ عُودٍ هُوَ؟ فقالَ سَهْلُ بنُ سعدٍ: مِنْ طَرْفَاءِ الْغَابَةِ، ولَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ، فَكَبَّرَ، وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، ثُمَّ رَفَعَ، فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى، حتَّى سَجَدَ فِي أصْلِ الْمِنْبَرِ، ثُمَّ عَادَ حتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فقالَ: (( أَيُّهَا النَّاسُ، إنَّما صَنَعْتُ هذَا لتَأْتَمُّوا بِي، وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتي )) .
Dari Sahli bin Sa’din As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhuma, bahwa sekelompok orang pernah berselisih pendapat tentang mimbar, terbuat dari kayu apa ia sebenarnya. Lalu Sahli bin Sa’din berkata: “Mimbar itu dibuat dari kayu pohon tharfa’ (sejenis pohon mirip ats-tsal) dari daerah Al-Ghâbah. Aku sendiri pernah melihat Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar tersebut, lalu beliau bertakbir, dan orang-orang di belakang beliau pun bertakbir. Beliau masih berada di atas mimbar ketika itu, kemudian beliau mengangkat diri lalu turun mundur ke belakang hingga sujud di kaki mimbar. Setelah itu, beliau kembali (naik lagi) hingga menyelesaikan shalatnya. Setelah selesai, beliau menghadap kepada orang-orang dan bersabda: ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikutiku (menjadikan aku imam), dan agar kalian mempelajari shalatku.’”
وفي لفظٍ: (( صَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ كَبَّرَ عَلَيْهَا، ثُمَّ رَكَعَ وَهُوَ عَلَيْهَا، ثُمَّ نَزَلَ الْقَهْقَرَى )) .
Dalam riwayat lain disebutkan: “Beliau shalat di atasnya, lalu bertakbir di atasnya, kemudian beliau ruku di atasnya, lalu turun mundur ke belakang.”
Kosakata:
Lafadz [تَمَارَوْا] "tamaaraw" : saling berdebat atau berselisih, dari bahan apa mimbar itu dibuat.
Lafadz [طَرْفَاءِ] "tharfa’": sejenis pohon yang menyerupai pohon ats-tsal [الأَثْلَ].
Lafadz [الغابةِ] "al-Ghâbah": hutan atau pepohonan yang rapat; yang dimaksud di sini adalah sebuah tempat di daerah atas Kota Madinah.
Lafadz [القَهْقَرَى] "al-qahqarâ": mundur ke belakang (dengan berjalan surut).
Lafadz [وَلِتَعَلَّمُوا] "walita‘allamū": dengan tasydid pada huruf lam; asal katanya [تَتَعَلَّمُوا] "tata‘allamū" (agar kalian belajar/mempelajari).
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Diperbolehkan bagi imam berada di tempat yang lebih tinggi daripada makmum dalam shalat apabila ada kebutuhan.
Kedua: Diperbolehkan melakukan gerakan dalam shalat selama untuk kepentingan shalat.
Ketiga: Baiknya metode pengajaran Nabi ﷺ dan wajibnya mengikuti beliau.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Satu:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ )) .
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian mendatangi shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Secara lahiriah hadist ini menunjukkan wajibnya mandi untuk shalat Jumat.
Kedua: Mandi ini dilakukan dengan tujuan untuk shalat, yaitu sebelum melaksanakannya, agar orang yang hendak shalat berada dalam keadaan paling baik dan rapi.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Dua:
عنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: جاءَ رَجُلٌ والنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمعَةِ، فقالَ: (( صَلَّيْتَ يَا فُلَانُ؟ )) قالَ: لَا، قالَ: (( قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتيْنِ )) وفي روايَةٍ: (( فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ )) .
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Seorang laki-laki datang ketika Nabi ﷺ sedang berkhutbah kepada manusia pada hari Jumat. Maka beliau bersabda: ‘Apakah engkau sudah shalat, wahai fulan?’ Ia menjawab: ‘Belum.’ Beliau bersabda: ‘Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.’
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Maka shalatlah dua rakaat.’
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib adanya dua khutbah dalam shalat Jumat.
Kedua: Disunnahkan melaksanakan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid.
Ketiga: Duduk sebentar saja di masjid sudah menghilangkan waktu dan kesunnahan shalat tahiyyatul masjid.
Keempat: Boleh berbicara ketika khutbah, baik bagi khatib maupun bagi orang yang diajak bicara.
Kelima: Tidak boleh menambah shalat lebih dari dua rakaat ketika khutbah berlangsung, karena mendengarkan khutbah lebih utama.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Tiga:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ، وَهُوَ قَائِمٌ، يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ )) .
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Nabi ﷺ biasa berkhutbah dua khutbah dalam keadaan berdiri, dan beliau memisahkan keduanya dengan duduk.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib adanya dua khutbah dalam shalat Jumat.
Kedua: Disunnahkan khatib berdiri ketika berkhutbah, serta memisahkan keduanya dengan duduk sejenak.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Empat:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ - يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ- فَقَد لَغَوْتَ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila engkau berkata kepada temanmu: ‘Diamlah,’ pada hari Jumat ketika imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib mendengarkan khutbah Jumat, dan diharamkan berbicara ketika khutbah sedang berlangsung.
Kedua: Dikecualikan orang yang berbicara dengan imam, atau imam berbicara kepadanya.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Lima:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( مَن اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً , وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكأنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكأنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكأنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ، فَكأنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَت المَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa mandi pada hari Jumat kemudian berangkat (lebih awal), maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor unta. Barangsiapa berangkat pada jam kedua, seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada jam ketiga, seakan-akan ia berkurban dengan seekor domba bertanduk. Barangsiapa berangkat pada jam keempat, seakan-akan ia berkurban dengan seekor ayam. Barangsiapa berangkat pada jam kelima, seakan-akan ia berkurban dengan sebutir telur. Maka apabila imam keluar (untuk khutbah), para malaikat pun hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Keutamaan mandi pada hari Jumat dan berangkat lebih awal ke masjid.
Kedua: Unta lebih utama daripada sapi dalam kurban atau hadiah, dan sapi lebih utama daripada kambing.
Ketiga: Sedekah diterima walaupun sedikit.
Keempat: Para malaikat berada di pintu-pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang lebih dulu, lalu mereka pergi setelah imam keluar. Maka orang yang datang setelah itu tidak mendapatkan keutamaan berangkat lebih awal.
Kelima: Pembagian waktu-waktu tersebut dimulai dari terbitnya matahari hingga datangnya khatib, dengan bagian yang sama. Orang-orang yang datang pada waktu yang sama tetap berbeda derajat keutamaannya berdasarkan siapa yang lebih dahulu.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Enam:
عنْ سَلَمةَ بنِ الأكْوَعِ- وكانَ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ- قالَ: (( كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ نَنْصَرِفُ، وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ بِهِ )) .
Dari Salamah bin Akwa’ radhiyallahu ‘anhu – dan ia termasuk sahabat yang berbaiat di bawah pohon – ia berkata:
“Kami dahulu melaksanakan shalat Jumat bersama Nabi ﷺ, lalu kami pulang, dan belum ada tembok yang memiliki bayangan untuk kami berteduh di bawahnya.”
وفي لفظٍ: (( كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ نَرجِعُ فَنَتَتبَّعُ الْفَيءَ )) .
Dalam riwayat lain: “Kami melaksanakan Jumat bersama Rasulullah ﷺ ketika matahari sudah tergelincir, kemudian kami pulang dan kami masih mencari-cari bayangan.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkan melaksanakan shalat Jumat lebih awal, baik di musim panas maupun musim dingin.
Kedua: Diperbolehkan melaksanakan shalat Jumat sebelum matahari tergelincir [زوالِ] "zawal", dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad.
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Tujuh:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( كَانَُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ في صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ {الم تَنْزِيلُ} السَّجْدَةَ وَ {هَلْ أتَى عَلَى الإِنْسَانِ} .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Nabi ﷺ biasa membaca dalam shalat Subuh pada hari Jumat surat Alif Lām Mīm Tanzīl (As-Sajdah) dan Hal Atā ‘ala Al-Insān (Al-Insān/Ad-Dahr).”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disunnahkan membaca kedua surat ini dalam shalat Subuh pada hari Jumat, Kebiasaan Nabi ﷺ membaca keduanya dipahami sebagai kebiasaan mayoritas (sering dilakukan), bukan kewajiban, dan bahwasanya dianjurkan untuk tidak membacanya, agar masyarakat awam tidak mengira bahwa keduanya wajib dibaca setiap Subuh Jumat.
Kembali 25 | IndeX | Lanjut 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar