خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 26 | IndeX | Lanjut 28
بابُ صلاةِ العيدَيْنِ
Bab Shalat 2 Hari Raya (Idulfitri dan Iduladha)
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Delapan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ )) .
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Dahulu Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar – mereka melaksanakan shalat id (2 hari raya) sebelum khutbah.”
Hadist ke Seratus Tiga Puluh Sembilan:
عن البَرَاءِ بنِ عازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: خَطَبَنا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الأَضْحَى بَعْدَ الصَّلَاةِ، فقالَ: (( مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَنَسَكَ نُسُكَنَا، فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاةِ فَلَا نُسُكَ لَهُ )) ، فقالَ أبو بُرْدةَ بنُ نِيَارٍ- خالُ البَرَاءِ بنِ عَازِبٍ- يا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي نَسَكْتُ شَاتِي قَبْلَ الصَّلاةِ، وَعَرَفْتُ أَنَّ اليَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ، وأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِي أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِي بَيْتِي، فَذَبَحْتُ شَاتِي، وَتَغَذَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِيَ الصَّلَاةَ. قالَ: (( شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ )) . قالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ عِنْدَنَا عَنَاقًا، هِيَ أَحَبُّ إِلَيْنَا مِنْ شَاتَيْنِ، أَفَتجْزِي عَنِّي؟ قالَ (( نَعَمْ، وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحْدٍ بَعْدَكَ )) .
Dari Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Nabi ﷺ berkhutbah kepada kami pada hari Idul adha setelah shalat, lalu bersabda:
‘Barang siapa yang shalat seperti shalat kami, dan berkurban seperti kurban kami, maka ia telah melaksanakan ibadah kurban dengan benar. Namun barang siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka itu bukan kurban baginya.’
Lalu Abu Burdah bin Niyar – paman Barra’ bin ‘Azib – berkata:
‘Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat. Aku tahu bahwa hari ini adalah hari makan dan minum, dan aku ingin kambingku menjadi yang pertama disembelih di rumahku, maka aku pun menyembelih kambingku dan sempat makan pagi sebelum datang ke shalat.’
Beliau ﷺ bersabda:
‘Kambingmu hanyalah kambing daging (bukan kurban).’
Abu Burdah berkata:
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami punya seekor anak kambing betina (عناق) yang lebih kami cintai daripada dua ekor kambing biasa, apakah itu cukup sebagai kurban bagiku?’
Beliau ﷺ menjawab:
‘Ya, (cukup bagimu) tetapi tidak akan mencukupi bagi seorang pun setelahmu.’”
Hadist ke Seratus Empat Puluh:
عنْ جُنْدُبِ بنِ عبدِ اللَّهِ البَجْلِي رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ، ثُمَّ خَطَبَ، ثُمَّ ذَبَحَ، وقال: (( مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ )) .
Dari Jundub bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Nabi ﷺ melaksanakan shalat pada hari Nahr (Iduladha), kemudian beliau berkhutbah, lalu menyembelih (hewan kurban). Beliau bersabda:
‘Barang siapa menyembelih sebelum shalat, maka hendaklah ia menyembelih lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah.’”
Kosakata:
Lafadz (النَّسُكُ) "Annasuku" : penyembelihan.
Lafadz (النَّسِيكَةُ) "Annasiikatu" : hewan yang disembelih.
Lafadz (العَنَاقُ) "Al 'anaaqu" : anak kambing betina yang belum genap setahun.
Pelajaran yang diambil dari tiga hadis:
Pertama: Mendahulukan shalat daripada khutbah dalam shalat Id.
Kedua: Barangsiapa yang menghadiri shalat lalu menyembelih setelah shalat, maka ia telah sesuai dengan sunnah.
Ketiga: Waktu penyembelihan adalah setelah selesai shalat; adapun menyembelih sebelumnya, maka tidak sah.
Keempat: Kehadiran dalam shalat merupakan tanda diterimanya ibadah penyembelihan (annusuki).
Kelima: Tidak sah untuk kurban dan hadyu dari kambing kecuali yang telah genap berusia satu tahun.
Hadist ke Seratus Empat Puluh Satu:
عنْ جَابِرٍ قالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِلَا أذَانٍ وَلَا إقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بَتَقْوى اللَّهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ؛ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حتَّى أتَى النِّساءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، وقال: (( تَصَدَّقْنَ؛ فَإِنَّكُنَّ أَكْثَرُ حَطَبِ جَهَنَّمَ )) فَقَامَت امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يا رَسُولَ اللَّهِ؟ فقالَ: (( لأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ )) . قالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ في ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِيمِهِنَّ .
Dari Jabir ia berkata: “Aku menghadiri shalat bersama Rasulullah ﷺ pada hari raya. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, tanpa azan dan tanpa iqamah. Setelah itu beliau berdiri dengan bersandar pada Bilal, lalu memerintahkan agar bertakwa kepada Allah, mengajak untuk taat kepada-Nya, menasihati manusia, dan mengingatkan mereka. Kemudian beliau berjalan hingga mendatangi kaum wanita, lalu menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda: ‘Bersedekahlah kalian, karena kalian adalah mayoritas bahan bakar Neraka Jahannam.’ Lalu berdirilah seorang wanita dari kalangan wanita yang biasa (tidak terpandang), pipinya hitam kemerah-merahan, dan berkata: ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.’ Maka mereka pun mulai bersedekah dari perhiasan mereka, melemparkannya ke kain Bilal berupa anting-anting dan cincin-cincin mereka.”
Kosakata:
Lafadz [سِطَةِ النِّسَاءِ] "sithatinnisaa'i": dengan kasrah pada sīn, artinya duduk di tengah-tengah mereka.
Lafadz [سَفْعَاءَ الخَدَّيْنِ] "saf'aa'a khaddayni" : [السَّفْعُ] "as-saf‘u" artinya hitam keabu-abuan dan pucat pada pipi.
Lafadz [الشَّكَاةَ] "asy-syakata" : dengan fathah pada syin, artinya banyak mengeluh.
Lafadz [أَقْرِطَتِهِنَّ] "aqrithatihinna" : jamak dari [قِرْطٍ] "qirṭh", yaitu perhiasan yang digantung di cuping telinga (anting).
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Dimulainya shalat Id sebelum khutbah.
Kedua: Tidak ada azan dan iqamah pada shalat Id.
Ketiga: Dianjurkan khatib berdiri saat menyampaikan khutbah.
Keempat: Hendaknya khatib memerintahkan takwa dan mengingatkan akan kewajiban taat kepada Allah.
Kelima: Kaum wanita diberi nasihat tersendiri jika mereka tidak mendengar nasihat yang disampaikan kepada laki-laki.
Keenam: Wanita dianjurkan keluar menghadiri shalat Id, tetapi dengan menghindari perhiasan (tabarruj) dan bercampur dengan laki-laki.
Ketujuh: Wanita merupakan golongan terbanyak penghuni neraka, sebab kebiasaan mencaci dan mengingkari nikmat. Maka siapa pun yang melakukan perbuatan itu mendapat ancaman yang sama.
Kedelapan: Sedekah merupakan sebab keselamatan dari siksa.
Kesembilan: Wanita yang berakal dan baligh boleh bersedekah dari hartanya tanpa perlu izin suami.
Hadist ke Seratus Empat Puluh Dua:
عنْ أمِّ عَطِيَّةَ- نُسَيْبَةَ الأنصاريَّةِ- قالَتْ: (( أَمَرَنَا -تَعنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ نُخْرِجَ في الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى المسْلِمِينَ )) .
Dari Ummu ‘Athiyyah – Nusaybah al-Anshariyyah – ia berkata: “Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk mengeluarkan pada dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) para gadis remaja [الْعَوَاتِقَ] dan wanita-wanita yang dipingit [ذَوَاتِ الْخُدُورِ]. Beliau juga memerintahkan para wanita haid agar menjauhi tempat salat kaum muslimin.”
وفي لفظٍ: (( كُنَّا نُؤْمَرُ، أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، وَحَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ، يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ )) .
Dalam riwayat lain: “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya, sampai-sampai kami mengeluarkan gadis perawan dari tempat pingitannya, dan juga para wanita haid. Lalu mereka bertakbir bersama takbir kaum muslimin, berdoa bersama doa mereka, dengan harapan memperoleh keberkahan hari itu dan kesuciannya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: shalat Id hukumnya wajib, dan ia adalah [فَرْضُ عَيْنٍ] "fardhu ‘ain". yaitu wajib bagi orang yang sudah baligh
Kedua: Wanita haid wajib menjauhi masjid, demikian pula tempat shalat Id.
Ketiga: Wanita haid tidak dilarang dari zikir kepada Allah dan berdoa.
Keempat: Hari raya memiliki keutamaan besar, dan diharapkan doa pada hari itu dikabulkan.
Kembali 26 | IndeX | Lanjut 28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar