Kamis, 25 September 2025

Umdatul Ahkam : 36 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 35 | IndeX | Lanjut 37

 

 

كتابُ الصيامِ

Catatan Tentang Puasa

 

 

Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Tujuh:

عنْ عائشةَ، وأُمُّ سَلَمةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anhumā, bahwasanya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mendapati waktu fajar dalam keadaan junub karena jima‘ dengan istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Sah puasanya orang yang masuk waktu Subuh dalam keadaan junub karena jima‘ di malam hari, demikian juga orang yang junub karena mimpi basah.

Kedua: Diperbolehkan melakukan jima‘ di malam Ramadhan, sekalipun menjelang terbit fajar.

Ketiga: Tidak ada perbedaan dalam hukum puasa bagi orang yang junub, baik puasanya wajib maupun sunnah, baik puasa Ramadhan maupun selainnya.

 

 

Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Delapan:

عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، عَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( مَنْ نَسِيَ -وَهُوَ صَائِمٌ- فأَكَلَ أَو شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ )) .

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barang siapa lupa ketika sedang berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allāh-lah yang telah memberinya makan dan minum.”

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Sah puasanya orang yang makan, minum, atau berjima‘ karena lupa.

Kedua: Tidak ada dosa bagi orang yang batal puasanya karena lupa, sebab ia dimaafkan; bukan atas pilihannya sendiri. Inilah maksud dari sabda Nabi bahwa itu adalah makanan dan minuman dari Allah.

 

 

Hadist ke Seratus Tujuh Puluh Sembilan:

عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ. فَقَالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكْتُ، قالَ: (( مَا لَكَ؟ )) قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي في رَمَضَانَ، وَأَنَا صَائِمٌ- وفي روايَةٍ: أَصَبْتُ أَهْلِي في رَمَضَانَ- فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ )) قالَ: لَا، قَالَ: (( فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ )) قالَ: لَا، قَالَ: (( فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟ )) قَالَ: لَا، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ على ذَلِكَ أُتِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعِرْقٍ فِيه تَمْرٌ- وَالْعِرْقُ: المِكْتَلُ- قالَ: (( أَيْنَ السَّائِلُ؟ )) قالَ: أنَا، قالَ: (( خُذْ هَذَا فَتَصَدَّقْ بِهِ )) فقالَ الرَّجُلُ: على أفْقَرَ مِنِّي يا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا- يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ- أهلُ بَيْتٍ أفْقَرُ مِنْ أهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حتَّى بَدَتْ أنْيابُهُ، ثُمَّ قالَ: (( أَطْعِمْهُ أهْلَكَ )) . الحَرَّةُ: أَرْضٌ تَرْكَبُهَا حِجَارَةٌ سُودٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, celakalah aku!’ Nabi bersabda: ‘Apa yang menimpamu?’ Ia menjawab: ‘Aku telah menggauli istriku di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa.’—dalam riwayat lain: ‘Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan.’

Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apakah engkau mendapatkan seorang budak untuk engkau merdekakan?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’

Beliau bersabda: ‘Apakah engkau sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’

Beliau bersabda: ‘Apakah engkau mendapatkan (kemampuan) memberi makan 60 orang miskin?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun tetap duduk. Tiba-tiba beliau diberi sebuah keranjang berisi kurma—(keranjang disebut [الْعِرْقُ] ‘irq, yaitu wadah besar dari anyaman). Maka beliau bersabda: ‘Di mana orang yang tadi bertanya?’ Ia menjawab: ‘Saya.’ Beliau bersabda: ‘Ambillah ini lalu bersedekahlah dengannya.’

Laki-laki itu berkata: ‘Apakah ada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di antara dua lava hitam (maksudnya dua daerah berbatu hitam di Madinah) rumah tangga yang lebih miskin daripada keluargaku.’

Maka Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun tertawa hingga tampak gigi taring beliau, lalu bersabda: ‘(Kalau begitu) berikanlah kurma itu kepada keluargamu.’

(Catatan: [الحَرَّةُ] al-Ḥarrah adalah tanah yang ditutupi batu-batu hitam.) 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Menggauli istri di siang hari Ramadhan termasuk perbuatan dosa besar.

Kedua: Orang yang sengaja berjima‘ wajib menunaikan kafarah secara berurutan: memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak sanggup maka memberi makan 60 orang miskin.

Ketiga: Kafarah tidak gugur meskipun seseorang dalam keadaan miskin (tetap ada tanggungan hingga ada jalan untuk menunaikannya).

Keempat: Boleh orang lain menunaikan kafarah atas nama pelaku, dan dalam kondisi itu ia boleh ikut makan dari kafarah tersebut.

Kelima: Hadist ini menunjukkan kesempurnaan akhlak Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan kedermawanan beliau terhadap orang yang datang meminta fatwa. 

 

Kembali 35 | IndeX | Lanjut 37

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar